Touching Heart

Touching Heart
Dua puluh


__ADS_3

Love yahhh


HAPPY READING


.


.


.


Di


dalam mobil, Ellard melingkupkan kepala pada setir kemudi. Pukul satu malam,


mobilnya baru berhenti di spot parkir


mansion. Lima belas menit dia dalam keadaan begitu. Kepalanya terasa berat


akibat meminum sampanye berkadar tinggi. Ia baru saja kembali dari pesta


perayaan ulang tahunnya yang diadakan di salah satu club yang ia sewa mendadak untuk meyambut teman-temannya. Selama


menemani Oma dan Clarissa berbelanja tadi, secara diam-diam gadis itu telah


mengatur rencana ini. Ia mengumumkan pada semua teman semasa kuliahnya dulu jika


dirinya akan mengadakan night party. Ellard


hanya bisa menghela nafas, lagi-lagi Clarissa bertindak semaunya.


Ellard


keluar dari mobil, menghela langkahnya yang sedikit sempoyongan ketika memasuki


rumah.


“Anda


baru pulang tuan?” Bi desi yang membuka pintu


Ellard


menggangguk, tersenyum kecil. “Istriku sudah tidur?” tanyanya sambil memijat


kepala yang masih terasa sakit


“Sepertinya


sudah tuan” Bi Desi menjawab ragu. Tadi ia memang melihat Ara masuk kedalam


kamar, tapi sewaktu melintasi kamar mereka, samar-samar ia mendengar isakan


tertahan dari dalam kamar.


“Baiklah,


kalau begitu saya ke kamar” pamit Ellard


“Tuan—


sejak tadi nona menunggu anda pulang. Beliau duduk diluar selama empat jam“ Bi


Desi berucap pelan


Langkah


Ellard seketika terhenti. Ia membalikkan badan, “menungguku?” dahinya


mengernyit


Bi


Desi mengangguk. “Seharian kemarin nona memasak banyak makanan dan menghias


gazebo belakang. Nona bilang katanya tuan ulang tahun. Jadi beliau


mempersiapkan kejutan kecil untuk merayakan ulang tahun anda bersama,”


“A-apa?”


Ellard terbata. Lidahnya terasa keluh. Tidak pernah menyangka jika Ara ternyata


mengingat ulang tahunnya.


“Nona


juga sejak tadi sudah berusaha menghubungi anda tapi tidak aktif” Bi Desi


menceritakan semuanya.


Ellard


membulatkan mata, baru sadar jika sejak tadi siang ia tidak ada mengecek ponselnya.


Dengan cepat ia segera mengambil benda pipih itu dari dalam saku. Lowbat. Pantas saja ia tidak mendapat


panggilan apapun. Ponselnya mati total.


Sial!


Tanpa


mengucap sepatah kata pun lagi, Ellard langsung memasuki lift menujuh kamar


mereka. Saat pintu dibuka, suasana ruangan di dalam kamar tamaran. Penerangan


hanya berasal dari lampu kamar tidur, sementara diatas kasur, Aurora terbaring


tidur menyamping. Pelan, ia melangkah masuk— menaiki kasur dan langsung


membaringkan tubuh disamping Ara. Perlahan, ia membalikkan tubuh Ara ke arahnya.


Jantungnya seperti jatuh ke perut saat mendapati jejak air mata di wajah mungil


istrinya. Hidung Ara merah, matanya bengkak. Astaga, jangan bilang kalau sejak tadi wanitanya ini menangis?


Ellard


mendekatkan wajahnya, dengan perasaan campur aduk ia mengecup kedua mata Ara


yang tertutup bergantian, lalu menghisap bibir ranumnya. Seperti godam yang


menghantam, ia merasa perih ketika untuk kedua kalinya setelah tiga bulan tidak


bertemu, Ara-nya kembali menangis— dan itu semua karna dirinya.


Ellard


merapatkan tubuh mereka hingga tidak berjarak. Tangannya merangkul erat


pinggang istrinya, sementara kepalanya ia rebahkan pada ceruk leher Ara.


“Maafkan


aku sayang. Maaf” Ellard bergumam parau. Ia menangis tanpa suara disana. Sungguh


ia tidak tahan berlama-lama mendiamkan Ara begini. Baru sehari, tapi ia sudah


tidak sanggup. Pikirannya kacau, apapun yang dilakukannya terasa memuakkan.


Bahkan saat di club tadi, ia sama


sekali tidak menikmatinya. Wanitanya ini telah berhasil mengambil seluruh


semangat hidupnya.


****


Ellard


menggeliat kecil dan membuka mata perlahan. Seolah sudah menjadi suatu


kebiasaan, tangannya secara otomatis akan meraba sisi kasur disebelahnya. Seingatnya


semalam tangannya melingkari posesif di perut Ara tapi kini sudah tidak ada. Ia


menoleh ke samping, tempat itu sudah kosong.


Kemana dia?


Ellard


meluruskan tubuh seraya melirik jam dinding yang baru saja menunjukkan pukul


tujuh pagi. Hari minggu. Biasanya ia dan Ara di hari libur begini masih


bergelung dibawah selimut sambil berpelukan, meskipun istrinya itu sudah bangun


duluan dan hendak turun ke bawah, dengan cepat dia akan menahan Ara lalu


membelitnya seperti ular sampai berjam-jam.


Setelah


merasa kesadarannya telah terkumpul, Ellard bangkit dari ranjang. Dia memilih


masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, mengingat semalam


ia langsung tidur memeluk istrinya tanpa membersihkan tubuh lebih dulu.


Setengah


jam kemudian, Ellard keluar dari kamar memakai pakaian santai, kaos polo biasa


dan celana cargo pendek. Sementara rambut hitamnya masih sayup basah dan


disisir asal menggunakan jari. Ia menghampiri meja makan yang diatasnya sudah


tersedia beberapa makanan untuk sarapan. Dahinya mengerut ketika sosok yang


sejak tadi dicarinya tidak ada.


“Ara


kemana bi?” tanya Ellard langsung menyapu pandangan ke seluruh ruangan.


“Nona


ada di depan tuan. Sedang berbicara dengan temannya” sahut Bi Desi


“Teman?”


alisnya naik sebelah. Tidak biasanya Ara membawa temannya datang ke rumah


sepagi ini.


“Iya


tuan. Kalau tidak salah nona tadi memanggilnya kak Le—“


Kalimat


Bi Desi mengambang diudara ketika Ellard meninggalkannya begitu saja. Dengan


nafas yang mulai memburu dan langkah yang panjang, lelaki itu segera berhambur


keluar. Tanpa menunggu kalimat pelayannya selesai pun dia sudah tahu siapa


lelaki yang tengah bercakap-cakap dengan istrinya sekarang. Matanya menajam


ketika ia melihat istrinya tersenyum begitu hangat pada Leo.


“Untuk


apa sepagi ini kau datang kemari?” tanya Ellard dingin. Ia berusaha tetap


tenang meski dadanya terasa panas. Lelaki inilah yang menjadi penyebab dia dan


Ara bertengkar.


Sementara


Ara dan Leo sedikit terperanjat ketika melihat kedatangan Ellard yang


tiba-tiba. Ellard berdiri di samping Ara dan langsung merangkul pinggang istrinya


posesif. Seolah menunjukkan kepemilikan yang begitu kentara.


“Cuma


mengantarkan barang Ara yang tertinggal kemarin di mall. Angel sibuk, jadi yang memintaku untuk mengantarkan benda


itu” sahut Leo ringan sambil menunjuk dengan dagunya paper bag yang di pegang


Ara. Selain Ara, Leo akan berinteraksi datar dengan orang lain.


“El,


kamu uda bangun,” Ara menyapa singkat, kepalanya menoleh lagi pada Leo. “Kak,


terimakasih banyak sudah mau direpotkan sama Angel, hanya untuk mengantar


barang ini”

__ADS_1


“Sama-sama,


Ara. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan.” Leo tersenyum manis


“Kak


Leo mau masuk dulu?” Ara seakan  mengabaikan wajah Ellard yang terlihat keras disampingnya. “Kita sarapan


bersama”


“Tidak


perlu. Dia harus pulang!” Ellard yang menjawab, sarat akan pengusiran


“El…”


Ara mendesah jengah “kak—“


Leo


tersenyum miring, sambil menatap Ara lagi— mengabaikan tatapan membunuh Ellard


“Tidak


apa-apa, Ara. Aku pulang saja. Istirahat yang baik ya. Sampai ketemu lagi”


“Iya,


hati-hati kak”


Leo


berlalu, dan Ara langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Ia masih marah pada


lelaki itu. Ara terus menghela langkah masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan


panggilan Ellard dibelakangnya. Ia baru bangun saat Leo meneleponnya tadi,


mengatakan ia sudah berada di depan rumah menunggunya. Bahkan ia saja masih


memakai piyama saat turun kebawah. Dan ketika hendak turun


dari ranjang tadi, ia sedikit terkejut saat mendapati lengan Ellard yang


melingkar di perutnya begitu erat. Suaminya itu masih terlelap dengan pakaian lengkapnya


semalam. Ah, melihat pakaian itu


mengingatkan dirinya pada postingan gambar yang diunggah Clarissa. Ellard


benar-benar merayakan party bersama  gadis itu.


Ara


langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah sebelumnya meletakkan paper bag


tersebut di nakas, memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu. Dan saat ia baru selesai dari ritual mandinya, ia


membuka pintu kamar mandi, hampir mengumpat ketika mendapati Ellard yang


berdiri menjulang di depan pintu dengan rahangnya yang masih mengeras. Ia


mengeratkan tali bathrobenya


Sekali


lagi, dengan sikap tidak acuh, Ara melewati tubuh Ellard begitu saja.


“Tunggu,


aku perlu bicara,” Ellard mencekal lengan Ara


Ara


menghembuskan nafas panjang tanpa membalikkan tubuh. Ia sedang tidak ingin


berdebat sepagi ini lagi “Nanti saja. Aku perlu memakai baju”


Ellard


tidak peduli. Dengan sekali hentakan dia membalik tubuh Ara menghadapnya. Ia meraih


pinggang ramping wanita itu.


“Aku


tidak bisa menunggu lagi” ucapnya dingin, menatap lekat mata bulat Ara “kenapa


******** itu datang kemari? Apa yang dia berikan?”


“Namanya


Axcel Leonard, bukan bajingan” Ara mendecak pelan. “seperti yang dikatakannya


tadi, dia mengantar barangku yang tertinggal kemarin”


“Kenapa


harus dia? Kurir bisa mengantarkan barang itu” Ellard masih menyulut


“Angel


yang meminta bantuannya” Ara menyahut malas, membuang pandangannya ke samping


“Tetap


saja dia tidak boleh datang kesini tanpa seijinku— atau kalian memang sengaja,


mulai menunjukkan hubungan kalian secara terang-terangan didepanku, eh” sarkas Ellard seraya meraih dagu


Ara— mendongakkan.


Ara


menajamkan sorot matanya, tangannya mengepal. Lagi-lagi tuduhan itu.


“Kamu


serius tidak ingin mengakhiri perdebatan kita? Berapa kali aku harus mengatakan


kalau semua yang kamu lihat tidak sejauh yang kamu pikirkan. Lalu aku harus


apa?”


“Aku


cemburu padanya, Ara. Aku tidak suka kamu dekat dengannya!” sentak Ellard


bagaimana denganku?!” Ara ikut meninggikan suara “kamu cemburu pada kak Leo,


dan apa aku berhak melarangmu juga berdekatan dengan sahabat terbaikmu itu?


kamu pikir aku tidak cemburu?!”


“Maksud


kamu Clarissa?” Ellard memastikan, Ara diam “kamu tahu, dia sekretarisku. Dan


dia—“


“Apa?


Kak Leo juga kakak sekaligus sahabatku. Kamu tidak bisa melarangku berdekatan


dengannya!”


Ellard


terdiam. Kalimat itu nyaris membuatnya meledak lagi. Matanya memerah, sejak


tadi Ara selalu menentangnya. Ara-nya tidak pernah begini.


Ara


juga sempat diam, ia berusaha menetralkan deruan nafasnya. “kamu dikelilingi


banyak perempuan, apa kamu pikir aku tidak cemburu? Mengapa hal seperti ini kamu


permasalahkan sekali?” ia memelankan nadanya lebih lembut


“Jadi,


aku tidak bisa melarangmu lagi?” rendah, parau Ellard bertanya. Sementara


matanya menatap kosong ke arah ranjang.


“El…”


suara Ara serak. Matanya mulai turut berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus berkata


apa lagi.


“Kamu


istriku dan aku berhak sepenuhnya atas dirimu. Dengan siapa kamu berhubungan,


aku berhak memutuskannya.” Ellard mulai berbicara lagi, pelan namun penuh


penekanan “mengenai Clarissa, aku sudah berulang kali menjelaskan padamu. Dia


tidak lebih dari sahabat. Sementara Leo— kamu jelas-jelas memiliki perasaan


lebih padanya”


Ellard


melepaskan tangannya dari pinggang Ara. Ia menghela beberapa langkah kedepan—


membelakangi Ara.


“Apa


kamu pernah menganggap pernikahan ini ada?” tanya Ellard sendu “sejak kita


menikah kamu selalu berusaha menutupi status kita. Kamu menghindar,


berpura-pura tidak saling mengenal. Kamu lebih mendengarkan perkataan orang lain


daripada fokus dengan rumah tangga kita. Dan sialnya aku malah menurutimu. Apa


kamu pernah menyadari betapa inginnya aku membuat dunia tahu bahwa kamu adalah


istriku. Membawamu kemana pun aku pergi tanpa harus bersembunyi,


memperkenalkanmu pada semua rekan bisnisku. Tapi tidak— kamu tidak tahu itu. Sampai akhirnya aku sendiri yang


mengumumkan status kita, dan itu pun dengan cara yang memalukan!”


Bulir


bening itu akhirnya jatuh membasahi wajah Ara. Semua yang dikatakan Ellard adalah


benar. Dia tidak menyangkal.


“Terakhir


kamu minta ingin mengubah penampilanmu karna tidak percaya diri dengan bentuk


tubuhmu. Kamu bilang dengan melakukan ini maka kamu tidak akan malu lagi tampil


bersamaku dimanapun. Dan kali ini pun aku menurutimu. Dengan berat hati aku


melepasmu. Tapi apa yang kamu tunjukkan di depanku kemarin? Kamu istriku, tapi


membiarkan lelaki lain memeluk dan menciummu begitu saja? Dan gilanya kalian


melakukannya didepan orang banyak!”


Hening,


Ara maju mendekati Ellard yang masih setia membelakanginya. Pelan, ia mendekap


tubuh tegap suaminya dari belakang, menyandarkan kepalanya pada punggung lebar


itu. Mereka tidak bisa terus saling salah paham begini.


“Aku


salah. Aku minta maaf atas kejadian waktu itu,” lirih Ara serak, lingkaran


tangannya pada pinggang Ellard mengencang. “Tapi untuk semalam aku juga marah. kamu


mendiamiku tapi diluar sana kamu juga bersenang-senang menghabiskan waktu


dengan Clarissa. Sementara aku menunggumu dirumah— menyiapkan kejutan kecil


untuk merayakan ulang tahunmu bersama. Aku… cemburu. Clarissa selalu berhasil


merebut perhatianmu” aku Ara, mengungkapkan bahwa dia juga terluka


“Kami


tidak menghabiskan waktu berdua. Cla mengatur party itu dan mengundang semua

__ADS_1


teman-teman kuliahku. Aku hanya mencoba menghargai kedatangan semua temanku,


namun sama sekali tidak menikmati pesta kecil itu. Dan lagi— saat itu ponselku benar-benar


mati” tampik Ellard jujur, masih setia dengan posisinya


Ara


diam. Lagi, mereka hanya saling salah


paham.


“Terserah


kalau kamu mau percaya atau tidak” ucap Ellard setelah dirasa sejak tadi


menunggu tanggapan istrinya, namun hanya dibalas dengan keheningan “aku tidak


akan melarangmu berdekatan dengan siapapun lagi— terserah. Maaf, sudah


meributkan hal yang tidak penting ini” tekannya di akhir kalimat, seraya melepaskan lingkaran tangan Ara yang


justru kian mengerat. Wanita itu seolah enggan  melepaskannya.


“Aku mencintaimu”


DEG!!


Ellard


benar-benar membeku ditempatnya. Ia bahkan sangat terkejut, Ara bisa merasakan


jika suaminya menegang. Keduanya terdiam cukup lama sebelum Ellard mengurai


belitan tangannya— membalikkan tubuh menghadap istrinya. Jantungnya bertaluan


nyaring hebat.


 “Apa?” mata Ellard terpicing, memastikan


kalimat asing yang baru saja Ara lontarkan. Dalam hati ia  berharap pendengarannya sedang tidak bermasalah.


“Kamu


pikir kenapa tiga bulan ini aku berjuang memperbaiki diriku agar dianggap layak


berdampingan denganmu di depan umum? Sedangkan sebelumnya aku selalu bersikap


masa bodoh. Tidak peduli jika orang lain membully dan menghujatku karna bentuk


tubuhku. Bahkan pada kak Leo— lelaki yang menjadi cinta pertamaku sekalipun,


aku tidak pernah berjuang sampai sejauh ini. Aku mundur dan lebih merelakannya


begitu saja dimiliki orang lain. Tapi… tidak denganmu. Aku tidak bisa bersikap


seperti pengecut lagi. Siapa sangka kamu bisa membuat hatiku berpaling secepat


ini, sedang sebelumnya aku berusaha mati-matian menutup hatiku.”


Ellard


diam, masih berusaha menggali kesadaran tentang apa yang dikatakan Ara barusan.


“Maaf,


baru mampu mengatakannya sekarang”


“Ka-kamu


tidak sedang membohongiku kan?” Ellard terbata, matanya mengerjap berulang kali


Ara


menggeleng. Ia berjinjit— melingkarkan tangan di leher kemudian mengecup lama


sudut bibir suaminya “I love you Ellard O’Neill Miller, suamiku”


Mata


Ellard berkaca-kaca, ia menangkup wajah Ara dan menciumnya begitu dalam. Dia


menghisap, menyatukan lidahnya ke mulut Ara sambil mendorong maju tengkuknya. Emosi,


kemarahan dan kekecewaannya meluruh begitu saja. Hanya kenyamanan dan rasa


bahagia yang melingkupi dirinya. Sejak lama dia menanti Ara-nya mengucapkan


kalimat keramat tersebut.


“I love you too, more than anything and more


than you’ll ever know!” balas Ellard disela-sela hisapannya. Bulir bening berhasil


jatuh dari sudut matanya.


Berciuman


lama, saling menjelajah mulut satu dengan yang lain dengan belitan lidah yang


terasa hangat dan menyenangkan. Tiga bulan tidak bertemu, ditambah pertengkaran


hebat keduanya, kini mereka menyalurkan seluruh rasa rindu yang mengebu-gebu.


Dalam sekali hentakan, Ellard mengangkat tubuh Ara didepan dan membaringkannya


ditengah ranjang.


“Aku


pastikan, kali ini Ellard junior akan tertanam di rahimmu— anak kita akan hadir


dalam perutmu.” bisik Ellard serak tepat ditelinga Ara. Matanya telah dipenuhi


oleh kabut gairah.


****


“Apa


ini?” tanya Ellard mengerut dahi, menatap paper bag yang diserahkan Ara ke


tangannya


“makanya


buka dulu biar tahu” sahut Ara, menaikkan selimut yang sedikit melorot dari


tubuh polosnya.


Ellard


duduk bersandar di kepala ranjang dengan Ara yang berada dalam pelukannya.


Percintaan panas mereka berakhir sejak lima belas menit lalu. Masih tanpa


sehelai benang pun, mereka sama-sama saling menikmati sentuhan-sentuhan kecil


dengan ketenangan yang membungkus. Jemari Ara bermain diatas otot keras perut


Ellard, menggambar pola-pola abstrak disana.


Ellard


menurut, mengeluarkan kotak kecil dari dalam paper bag tersebut lalu membukanya


“Jam?”


Ara


mendongak, ia mengangguk semangat. “Happy birthday husband, maaf baru


mengucapkannya. Dan ini hanya sedikit hadia kecil dariku.” Ara nyengir “Jujur


saja, sebenarnya itu jam hasil pilihan dari Angel. Aku bingung harus memberikan


apa— sementara kamu uda punya semuanya” aku Ara “tapi tenang saja, itu jam


mahal kok! Tabunganku saja sampai habis buat beli itu” Ara meringis ketika


mengingat tabungannya, bibirnya mengerucut


Ellard


terkekeh, ia mengigit gemas bahu telanjang Ara


“kamu


mau tahu apa yang benar-benar aku inginkan?” Ellard meletakkan kembali kotak


dan paper bag tersebut di atas nakas.


“Apa?”


Ara menatap antusias


“Kamu”


jawab Ellard tersenyum begitu manis sembari memainkan jemari di atas surai


rambut Ara. Ia menciumi gemas puncak kepala wanita itu.


“Ha?”


Ara cengoh “ih aku serius El. Apaan sih?” tuntutnya sedikit kesal, dia meninju


pelan bisep Ellard


“Emang


aku kelihatan lagi becanda?” Ellard memiringkan kepala menatapnya


Ara


diam, memandang serius iris tegas suaminya— mencoba mencari kebohongan disana tapi


tak berhasil ia dapatkan.


“Hadiah


yang benar-benar kuinginkan adalah dirimu. Selain itu tidak ada lagi.” Ellard


menatap intens wajah Ara. “aku enggak mau kita saling membelakangi dan


bertengkar lagi. Rasanya seluruh semangat hidupku lenyap begitu saja


saat kita bertengkar. Maafkan aku sayang, atas sikap kasarku kemarin— sungguh


waktu itu aku benar-benar sangat takut kehilanganmu. Aku takut kamu akan


kembali pada si ******** itu. Cause i love


you fucking so much, Ara” lirih Ellard


Ara mengangkat


tangannya, merangkum wajah Ellard dan mengecup dahinya cukup lama. “I love you too El” Ara tersenyum haru,


tidak menyangka kalau dirinya diinginkan sebanyak ini oleh suaminya “Maafkan


aku jika kejadian kemarin membuatmu marah dan kecewa. I don’t mean to hurt you, El”


Ellard


tersenyum, ia menarik Ara kembali masuk dalam dekapannya. Dagunya ia tumpukan pada kepala Ara


“Aku


begitu bahagia hari ini. Tuhan telah memberiku hadia yang terbaik di ulang


tahunku kali ini, dan hadia itu adalah dirimu sayang. Forever, you’ve belong to me”


To be continued


Seperti biasa, spoiler dan info-info penting tentang cerita ini aku bagikan di IG: rianitasitumorangg yahhh


kalo mau tanya2 lebih, cuss langsung aja ke IG-ku...


See you next part ^^


Ellard O'Neill Miller



Aurora Beatrix Louis



Axcel Gabriel Leonard


 


__ADS_1


__ADS_2