Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Flashback 2 bulan lalu


Hampir


tengah malam, Ellard masih berada di Club ditemani seorang perempuan asing yang entah sejak kapan berada disana dan


mengerayanginya. Sudah tidak terhitung berapa gelas alkohol yang ia teguk.


Sialan.


Kepulangan Ara yang batal berhasil membuatnya seharian ini bad mood dan


berantakan.


“El,


uda jangan diminum lagi. kau uda mabuk berat sialan!” Arthur tiba-tiba


menginteruspsi. Sudah jengah melihat sohibnya yang satu ini mabuk-mabukan.


Semenjak menikah Ellard sudah tidak pernah datang ke kelab malam beginian—


kalau pun datang ia hanya meminum segelas-dua gelas, setelahnya langsung kabur


pulang.


“Berisik


banget sih lo” Ellard menepis kasar tangan Arthur yang mencoba merebut


gelasnya. Sekali lagi dia meminta tiga botol whiskey lagi pada bartender,


menuangkan ke gelas dengan susah payah.


“Kau


kenapa sih? Berantem sama istri kesayangan lo? Kalau enggak mana mungkin kau


bisa terlantar disini sekarang” Arthur mendengus geli, wajah kusut teman


minumnya ini kentara sekali sedang ada masalah dengan istrinya. Kalau masalah


bisnis atau yang lain, lelaki ini masih bisa mengendalikan dirinya— bersikap


tenang seperti tidak terjadi apa-apa.


“Cunguk,


singkirin tangan lo!” geram Ellard ketika gelasnya lagi-lagi ditahan.


“Berhenti


minum El. kita pulang”


Itu


bukan suara Arthur— suara perempuan. Ellard mendongak “Cla?”


“Aku


yang telepon dia. Kau uda teller, lebih baik pulang sana. Aku gak bisa antar”


timpal Arthur


“Siapa


yang mau pulang? Aku masih mau minum lagi” racau Ellard menegak kembali whiskey


dari botolnya langsung


Clarissa


memutar mata jengah. Tanpa mempedulikan umpatan Ellard, ia lansgung


merangkulkan tangan Ellard ke bahunya.


“Cla…


aku masih mau minum” gerutu Ellard tidak jelas


“Thur,


bantu aku bawah El ke kamar atas. Gak mungkin aku bopong badan besar begini


sampai kerumah” sungut Cla susah payah menahan beban tubuh besar Ellard yang


sekarang sudah benar-benar hilang kesadaran.


“Ya


sudah,” Arthur menyetujui ide Clarissa. Gadis itu memang tidak mungkin membawa


Ellard dalam keadaan Ellard yang teler begini.


Di


dalam kamar, dengan bantuan Arthur, tubuh tinggi Ellard di hempaskan ke atas


kasur.


“Yaudah,


aku tinggal dulu ya. Kalau ada perlu apa telepon aja,” pamit Arthur dan dibalas


anggukan kecil oleh Clarissa, lalu tidak lama Arthur keluar dari kamar.


Setelah


kepergian Arthur, Clarissa mendudukkan dirinya dipinggir ranjang. Tangannya


membuka sepatu Ellard, kemudian dasi dan selanjutnya kancing kemeja yang


perlahan ditanggalkan. Ia terkesiap saat tangannya di cengkram erat oleh


Ellard, lalu dalam sekali hentakan tubuhnya ambruk di ranjang dengan posisi Ellard


yang menindihnya.


“Sayang…


kamu sudah pulang? Aku sangat merindukanmu” racau Ellard seraya tersenyum tidak


jelas. Suasana kamar tamaran hingga membuatnya tidak dapat lagi mengenali sosok


dibawahnya sekarang. Yang ada di pikirannya hanya istrinya seorang.


Clarissa


gugup, ia menahan dada lelaki dihadapannya “El, ini aku Clarissa. Bukan Ara”


“Akhirnya


kamu pulang sayang, aku sangat senang sekali” Ellard berceloteh tanpa


menghiraukan ucapan Clarissa. Ia mengendus di sepanjang leher jenjang gadis


itu.


Clarissa


mencengkram kuat kemeja Ellard hingga kusut, mati-matian ia menahan desiran


aneh dalam tubuhnya akibat gerakan intim yang dilakukan lelaki diatasnya.


“I miss you so much baby, and I want you”


serak, tatapan Ellard sudah di penuhi kabut gairah.


Jantung


Clarissa berdebar lebih cepat. Tatapan berkabut Ellard seakan menghipnotisnya.


Lelaki ini… ia sangat mencintainya. Sejak dulu bahkan sampai sekarang perasaan


itu sama sekali tidak berubah. Dan kali ini ia akan bersikap egois. Ia ingin


merasakan lelaki pujaannya ini— perlahan-lahan membuat Ellard menjadi miliknya,


seutuhnya. Sekalipun dengan cara kotor seperti ini. Tidak apa-apa, asalkan


dengan ini ia bisa mengikat Ellard bersamanya.


Maaf Ara… Ellard hanya


milikku


Clarissa


menatap wajah rupawan dihadapannya dengan intens dan penuh pemujaan. Ia meraih


tengkuk Ellard, melingkarkan kaki jenjangnya ke pinggulnya yang masih


berbalutkan celana. Pelan, Clarissa mengecupi pipinya, lalu lehernya.


“Do it. I want you too”


Dan


Ellard yang benar-benar hilang kesadaran sepenuhnya, tanpa pikir panjang


membalas ciuman Clarissa dengan liar diatas ranjang.


Flashback off


****


“Aku ingin


bercerai! Aku mundur…”


Kalimat


itu seperti kaset rusak yang berputar berulang-ulang di kepalanya. Ia benci


kalimat itu  keluar begitu lancarnya dari


mulut wanita yang dicintainya. Ellard termangu, tubuhnya seakan sulit di


gerakkan kecuali gelegar suara yang berhasil ia dapatkan saat menyadari Ara-nya


terus melangkah pergi meninggalkannya disana. Tidak bisa. Seharusnya tidak


begini. Berpisah dengan Ara adalah hal yang tidak pernah di inginkannya. Sampai

__ADS_1


kapan pun wanita itu harus tetap berada disisinya— Ara tidak boleh pergi


darinya. Dunianya akan hancur. Berada di ujung perpisahan, ia tidak bisa


mendefinisikan sakit seperti apa yang kini tengah mengobrak-abrik hatinya.


Wajah memerah, netranya sudah basah oleh jejak air mata.


Detik


itu juga, Ellard berlari menyusul Ara-nya. Namun saat hendak mencapai handle


pintu, sang Oma mencekal lengannya.


“Oma..


lepaskan” Ellard menggeram marah “Istriku kabur Oma, aku harus menahannya”


“Lalu


bagaimana dengan Clarissa?” ucap Oma tajam “Lihat, kamu tega meninggalkannya


dalam keadaan seperti itu?” Oma menunjuk Clarissa yang tergugu di lantai sambil


memegang perutnya “bagaimanapun dia sedang mengandung anak kamu Ellard!”


“Persetan


Oma! Aku enggak peduli” sentak Ellard dengan kemarahan yang tak terbendung lagi


“Yang kupedulikan hanya istriku. Dia… dia tidak boleh meninggalkanku” tandas


Ellard mengentakkan sedikit kasar cekalan Oma lalu langsung berlari keluar.


Ellard


terus berlari bak kesetanan. Tidak mempedulikan tatapan aneh para karyawan yang


dilewatinya. Sosok yang dicarinya sudah tidak ada di dalam gedung ini.


Bagaimana bisa istrinya itu begitu cepat menghilang sementara dia jelas tahu


kaki wanitanya itu masih dalam proses penyembuhan. Sial, demi tidak dicegat


olehnya Ara pasti memaksakan kakinya berlari kuat.


Dengan


cepat Ellard memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang begitu


tinggi. Dia tidak peduli berapa banyak umpatan yang dilemparkan padanya dari


pihak kendaraan lain. Yang dipikirannya saat ini hanya Ara seorang, berharap


wanita itu tidak benar-benar pergi meninggalkannya.


Lima


belas kemudian Ellard sampai dan langsung memarkirkan mobilnya serampangan.


Kaki panjangnya terus berlari menujuh kamar dan kontan saja ia langsung disugukan


dengan pemandangan yang membuat jantungnya seperti tercabut dari tempatnya.


Disana, Ara sedang mengeluarkan satu koper besar di salah satu lemari. Sambil


sesekali menyeka kasar air matanya yang seperti tak rela berhenti keluar.


“Sayang,


apa yang kamu lakukan?” tanya Ellard dengan mata membulat tak percaya.


Ara


sempat menegang mendengar suaranya, namun dengan cepat ia dapat menguasainya. Ia


tidak menyahut, memilih untuk membuka koper besar itu. dan melangkah


terseok-seok mengambil satu persatu pakaiannya sambil sesekali terisak.


“Ara…


apa yang sedang kamu lakukan?” ulang Ellard lagi, panik karna melihat Ara


justru melipat pakaiannya dan mulai menyusun dalam koper.


“Seperti


yang kamu lihat. Aku sedang mengemasi barang-barangku karna sebentar lagi,


pemilik yang baru akan menempati ruangan ini”sahut Ara datar tanpa menghentikan


kegiatannya


“OMONG


KOSONG!” bentak Ellard. Merebut beberapa pakaian di tangan Ara dengan kasar,


lalu memasukkannya kedalam lemari.


Ara


terkekeh sinis, menatap nyalang Ellard


“Siapa


Ara tajam seraya mendorong dada Ellard dengan emosi.


Ellard


meraih tangan Ara yang mendorong dadanya. “Kamu tidak akan pergi kemana pun.


Selamanya pemilik tempat ini adalah kamu.  Tolong jangan seperti ini,” Ellard menggeleng penuh permohonan. Bulir


mengenang di pelupuk mata. “Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik”


“Untuk


apa?” Ara kembali terkekeh ditengah derai air matanya. “Toh, kalian sudah melakukan


hal yang paling menjijikkan dan enggak berapa lama lagi hasil dari perbuatan


kalian akan lahir ke dunia ini”


Ellard


memejamkan matanya sesaat, istrinya benar-benar tidak bisa diajak berbicara


baik-baik saat ini. Emosinya lebih menguasai sekarang.


“Aku


juga baru tahu kebenaran ini tadi. itu sebabnya aku meminta Blake untuk


melarangmu masuk tadi. Aku tahu kamu dengan pengecutnya akan pergi


meninggalkan. Aku tahu kamu tidak akan menerimaku jika ada anak dari dosaku”


aku Ellard menjambak rambutnya frustasi


Ara


terdiam, ia memalingkan wajahnya kesamping. Sesak semakin menggerogoti hatinya


saat Ellard kini benar-benar mengakui perbuatannya. Hening beberapa saat,


hingga Ara melepaskan genggaman tangan Ellard kasar dam kembali mengambil


pakaiannya di lemari.


“Berhenti


melakukan itu, Ara…” Ellard mengerang kala Ara sama sekali tidak mengubris


ucapannya.


Ellard


kembali meraih siku Ara, lalu menutup kuat pintu lemari, dengan Ara yang


menabrak lemari sampingnya. Ellard bergeser ke hadapan Ara dengan kedua tangan


yang berpegangan pada lemari tepat di kedua sisi kepala Ara. Mengukung tubuh


mungil Ara di balik tubuhnya.


“Berhenti


sebelum aku melakukan hal gila lagi, sayang. Kamu tidak akan berharap


melihatnya” desis Ellard tepat di depan wajahnya


“Bukankah


kamu sudah melakukan hal gila itu?” sinis Ara, sama sekali tidak takut “HAL


GILA YANG KAMU LAKUKAN ADALAH BERCINTA DENGAN CLARISSA DI BELAKANGKU ELLARD


O’NEILL MILLER” jerit Ara yang tiba-tiba histeris, “KAMU MENYAKITIKU DENGAN


KELAKUAN BIADAP KALIAN!!” lanjutnya semakin histeris. Ara berusaha mendorong


tubuh besar Ellard, namun sialnya berakhir sia-sia karna lelaki itu tidak


bergeser sedikit pun


“Ara…”


Napas Ellard tak teratur, ia menunduk putus asa. Rasanya semakin Ara menyatakan


perasaannya semakin sakit hatinya mengingat luka yang ia torehkan.


Ara


menyeka air matanya dengan punggung tangan, ia menarik nafas panjang lalu


menghembuskannya kasar sebelum kembali mengucapkan kalimat yang membuat Ellard


mendongakkan kepala dengan cepat


“Mari


berpisah. Ceraikan ak—“

__ADS_1


BRAKKK!!


Belum


sempat Ara menyelesaikan kalimatnya, ia sudah dikejutkan oleh pukulan Ellard


pada lemari belakang tubuhnya. Sangat keras. Saking kerasnya mampu membuat


tubuh Ara gemetar lantaran terkejut.


“Apa


kamu sadar itu bisa menghancurkan hatiku, sayang? bukankah sering kukatakan,


jika aku tidak pernah menyukai kata itu keluar dari mulut kamu, Ara?” bisik


Ellard dengan raut wajah terluka, tepat di depan wajahnya. Dan raut wajah itu


sanggup membuat Ara bergidik ngeri.


“Kamu


bilang kamu mencintaiku, Ara! Kenapa harus pergi?! Untuk apa kamu mengatakan


itu jika tetap pergi?” sekali lagi, air mata Ellard meluncur jatuh. “Jangan…


kamu akan membuatku semakin hancur” Ellard menggeleng penuh permohonan


“Persetan


El.. persetan!! Aku enggak sanggup lagi,” raung Ara


Tubuhnya


seketika lunglai bersandar di lemari, ia terisak pilu dengan menenggelamkan


kepalanya pada lutut. Tidak tahu lagi harus berkata apa lagi dengan keadaannya


sekarang. Yang jelas semua sudah tampak rusak. Disatu sisi ia juga sangat berat


dengan keputusannya yang meminta bercerai. Dia ingin tetap mempertahankan rumah


tangganya. Tapi bagaimana dengan Clarissa? Gadis itu pun kini tengah mengandung


anak dari suaminya sendiri. Clarissa meminta pertanggung jawaban dari Ellard


atas anak yang dikandungnya. Bukankah itu sama saja dengan meminta Ellard


menikahinya? Tidak. Ia belum sanggup untuk kenyataan itu— membagi suaminya


dengan perempuan lain.


“Sayang…”


parau Ellard, ia turut merosotkan tubunya di depan Ara yang masih beta menangis


dengan posisinya. Pelan, Ellard meraih tubuh ringkih Ara yang kali ini tidak


memberontak— membawanya segera masuk dalam dekapannya. Ia memeluk erat tubuh


istrinya yang masih bergetar. Menciumi puncaknya berkali-kali, dengan air mata


yang meluruh deras, hatinya begitu sakit.


“Maaf…


maafkan aku sayang,” bisik Ellard berkali-kali “Pukul aku, maki aku sampai kamu


puas… tapi jangan pernah meninggalkanku. Sampai mati pun aku tidak akan pernah


mengijinkan kamu pergi dariku”


“Aku


membencimu…Sangat membencimu” racau Ara, memukuli dada Ellard dengan kekuatan


yang melemah.


“Iya,


benar. benci aku kalau itu membuatmu bisa menjadi lebih baik” Ellard semakin


mengeratkan pelukannya. Menyurukkan wajahnya di leher istrinya dan isakan yang


sama pun mulai terdengar. Dia terluka, namun luka yang ia rasakan tidak sebesar


yang diterima oleh istrinya.


Cukup


lama mereka dalam keadaan begitu, sampai akhirnya isakan istrinya tidak


terdengar lagi— digantikan dengan dengkuran halusnya. Ellard tersenyum getir,


hari ini Ara-nya sudah banyak menangis karnanya. Perlahan, Ellard bangkit


berdiri dengan membawa Ara dalam gendongannya. Ia merebahkan tubuh istrinya di


tengah ranjang dengan hati-hati agar tidak mengusik tidurnya.


Setelahnya,


ia turun dari ranjang. Keluar dari kamar dan tidak berapa lama kemudian kembali


dengan wadah berisi air hangat, handuk kecil dan piyama yang ia ambil dari walk


in closet. Pelan-pelan, ia menanggalkan kain yang melekat seharian di tubuh


istrinya— mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk basah lalu memakaikan piyama


tidur. Ellard juga menyisir rambutnya, mengoleskan krim wajah, serta body


lotion ke tubuhnya. Ia sering melihat Ara melakukan hal demikian sebelum tidur.


Terakhir


ia mengambil minyak urut yang kebetulan ada di nakas. Dengan hati-hati ia


mengoleskan minyak tersebut ke tangan lalu di urutkan ke tulang kering Ara yang


cedera. Dalam tidurnya wanita itu tanpa sadar meringis. Cederanya masih terasa sakit,


ditambah lagi tadi wanitanya itu memaksakan diri  berlari kuat. Ellard memijit-nya selembut


mungkin hingga perlahan Ara tidak merasakan sakit lagi. Setelah membersihkan


tubuh istrinya, ia melanjutkan dengan membersihkan diri sebelum ikut bergabung


di sisi wanitanya.


Ellard


menarik selimut, menutupi tubuh keduanya sebatas dada. Seperti biasa, tangannya


dijadikan bantalan kepala istrinya lalu berbaring miring dengan tangan yang


melingkar erat di pinggang Ara yang sudah jauh terlelap dengan nyaman. Ellard


membelai lembut pipi Ara dengan ibu jarinya


“Maafkan


aku sayang,” lirihnya dengan mata kembali berkaca-kaca “aku tahu kata maaf saja


tidak akan mengubah keadaan kita kembali hangat seperti sebelumnya. Sungguh,


waktu itu aku tidak sadar sudah melakukannya, sayang. Aku begitu membenci


diriku sekarang. Aku menyakitimu, membuatmu menangis sepanjang hari ini. Tapi


tetap saja… aku tidak akan pernah mengabulkan permintaanmu untuk lepas dariku.


Kamu harus tetap bersamaku, sayang. Bersama-sama kita mempertahankan rumah


tangga kita— jangan tinggalkan aku. Aku akan memperbaiki semua kekacauan yang


telah kuperbuat tanpa adanya kata perpisahan diantara kita. I love you fucking so much baby…”


Ellard


menarik tengkuk Ara, mencium bibirnya begitu dalam disertai deraian air mata


yang jatuh meluncur dari pelupuk mata. Untuk hal apapun dia akan terlihat kuat


dan baik-baik saja. Bahkan disaat menyaksikan tubuh sang mama yang terbujur


kaku dulu, ia masih bisa tetap kuat. Namun tidak jika hal itu menyangkut


Ara-nya, ia akan menjadi sangat lemah, kehilangan kontrol diri dan gampang


mengeluarkan air mata. Wanita ini begitu berarti untuknya. Bahkan ia rela


bersabar menunggu dalam waktu yang cukup lama demi mengikat wanitanya ini dalam


sebuah pernikahan. Tanpa Ara ketahui, sebenarnya sejak lama Ellard sudah


menjadi penguntit dirinya. Mengawasi setiap kegiatan yang dilakukannya dari


jauh.


Dan


semua kegilaannya itu bermula sejak gadis itu berumur sepuluh tahun. Gadis yang


hendak beranjak remaja itu telah melakukan sesuatu yang berhasil membangkitkan ketertarikan


yang tidak wajar dalam dirinya. Ia menggilai Ara seperti orang yang tak waras.


To be continued


*Seperti biasa spoiler dan treaser cerita ini aku post di IG: rianitasitumorang 😉


See youuu


ELLARD O'NEILL MILLER



AURORA BEATRIX MILLER



*

__ADS_1


__ADS_2