
Flashback 2 bulan lalu
Hampir
tengah malam, Ellard masih berada di Club ditemani seorang perempuan asing yang entah sejak kapan berada disana dan
mengerayanginya. Sudah tidak terhitung berapa gelas alkohol yang ia teguk.
Sialan.
Kepulangan Ara yang batal berhasil membuatnya seharian ini bad mood dan
berantakan.
“El,
uda jangan diminum lagi. kau uda mabuk berat sialan!” Arthur tiba-tiba
menginteruspsi. Sudah jengah melihat sohibnya yang satu ini mabuk-mabukan.
Semenjak menikah Ellard sudah tidak pernah datang ke kelab malam beginian—
kalau pun datang ia hanya meminum segelas-dua gelas, setelahnya langsung kabur
pulang.
“Berisik
banget sih lo” Ellard menepis kasar tangan Arthur yang mencoba merebut
gelasnya. Sekali lagi dia meminta tiga botol whiskey lagi pada bartender,
menuangkan ke gelas dengan susah payah.
“Kau
kenapa sih? Berantem sama istri kesayangan lo? Kalau enggak mana mungkin kau
bisa terlantar disini sekarang” Arthur mendengus geli, wajah kusut teman
minumnya ini kentara sekali sedang ada masalah dengan istrinya. Kalau masalah
bisnis atau yang lain, lelaki ini masih bisa mengendalikan dirinya— bersikap
tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
“Cunguk,
singkirin tangan lo!” geram Ellard ketika gelasnya lagi-lagi ditahan.
“Berhenti
minum El. kita pulang”
Itu
bukan suara Arthur— suara perempuan. Ellard mendongak “Cla?”
“Aku
yang telepon dia. Kau uda teller, lebih baik pulang sana. Aku gak bisa antar”
timpal Arthur
“Siapa
yang mau pulang? Aku masih mau minum lagi” racau Ellard menegak kembali whiskey
dari botolnya langsung
Clarissa
memutar mata jengah. Tanpa mempedulikan umpatan Ellard, ia lansgung
merangkulkan tangan Ellard ke bahunya.
“Cla…
aku masih mau minum” gerutu Ellard tidak jelas
“Thur,
bantu aku bawah El ke kamar atas. Gak mungkin aku bopong badan besar begini
sampai kerumah” sungut Cla susah payah menahan beban tubuh besar Ellard yang
sekarang sudah benar-benar hilang kesadaran.
“Ya
sudah,” Arthur menyetujui ide Clarissa. Gadis itu memang tidak mungkin membawa
Ellard dalam keadaan Ellard yang teler begini.
Di
dalam kamar, dengan bantuan Arthur, tubuh tinggi Ellard di hempaskan ke atas
kasur.
“Yaudah,
aku tinggal dulu ya. Kalau ada perlu apa telepon aja,” pamit Arthur dan dibalas
anggukan kecil oleh Clarissa, lalu tidak lama Arthur keluar dari kamar.
Setelah
kepergian Arthur, Clarissa mendudukkan dirinya dipinggir ranjang. Tangannya
membuka sepatu Ellard, kemudian dasi dan selanjutnya kancing kemeja yang
perlahan ditanggalkan. Ia terkesiap saat tangannya di cengkram erat oleh
Ellard, lalu dalam sekali hentakan tubuhnya ambruk di ranjang dengan posisi Ellard
yang menindihnya.
“Sayang…
kamu sudah pulang? Aku sangat merindukanmu” racau Ellard seraya tersenyum tidak
jelas. Suasana kamar tamaran hingga membuatnya tidak dapat lagi mengenali sosok
dibawahnya sekarang. Yang ada di pikirannya hanya istrinya seorang.
Clarissa
gugup, ia menahan dada lelaki dihadapannya “El, ini aku Clarissa. Bukan Ara”
“Akhirnya
kamu pulang sayang, aku sangat senang sekali” Ellard berceloteh tanpa
menghiraukan ucapan Clarissa. Ia mengendus di sepanjang leher jenjang gadis
itu.
Clarissa
mencengkram kuat kemeja Ellard hingga kusut, mati-matian ia menahan desiran
aneh dalam tubuhnya akibat gerakan intim yang dilakukan lelaki diatasnya.
“I miss you so much baby, and I want you”
serak, tatapan Ellard sudah di penuhi kabut gairah.
Jantung
Clarissa berdebar lebih cepat. Tatapan berkabut Ellard seakan menghipnotisnya.
Lelaki ini… ia sangat mencintainya. Sejak dulu bahkan sampai sekarang perasaan
itu sama sekali tidak berubah. Dan kali ini ia akan bersikap egois. Ia ingin
merasakan lelaki pujaannya ini— perlahan-lahan membuat Ellard menjadi miliknya,
seutuhnya. Sekalipun dengan cara kotor seperti ini. Tidak apa-apa, asalkan
dengan ini ia bisa mengikat Ellard bersamanya.
Maaf Ara… Ellard hanya
milikku
Clarissa
menatap wajah rupawan dihadapannya dengan intens dan penuh pemujaan. Ia meraih
tengkuk Ellard, melingkarkan kaki jenjangnya ke pinggulnya yang masih
berbalutkan celana. Pelan, Clarissa mengecupi pipinya, lalu lehernya.
“Do it. I want you too”
Dan
Ellard yang benar-benar hilang kesadaran sepenuhnya, tanpa pikir panjang
membalas ciuman Clarissa dengan liar diatas ranjang.
Flashback off
****
“Aku ingin
bercerai! Aku mundur…”
Kalimat
itu seperti kaset rusak yang berputar berulang-ulang di kepalanya. Ia benci
kalimat itu keluar begitu lancarnya dari
mulut wanita yang dicintainya. Ellard termangu, tubuhnya seakan sulit di
gerakkan kecuali gelegar suara yang berhasil ia dapatkan saat menyadari Ara-nya
terus melangkah pergi meninggalkannya disana. Tidak bisa. Seharusnya tidak
begini. Berpisah dengan Ara adalah hal yang tidak pernah di inginkannya. Sampai
__ADS_1
kapan pun wanita itu harus tetap berada disisinya— Ara tidak boleh pergi
darinya. Dunianya akan hancur. Berada di ujung perpisahan, ia tidak bisa
mendefinisikan sakit seperti apa yang kini tengah mengobrak-abrik hatinya.
Wajah memerah, netranya sudah basah oleh jejak air mata.
Detik
itu juga, Ellard berlari menyusul Ara-nya. Namun saat hendak mencapai handle
pintu, sang Oma mencekal lengannya.
“Oma..
lepaskan” Ellard menggeram marah “Istriku kabur Oma, aku harus menahannya”
“Lalu
bagaimana dengan Clarissa?” ucap Oma tajam “Lihat, kamu tega meninggalkannya
dalam keadaan seperti itu?” Oma menunjuk Clarissa yang tergugu di lantai sambil
memegang perutnya “bagaimanapun dia sedang mengandung anak kamu Ellard!”
“Persetan
Oma! Aku enggak peduli” sentak Ellard dengan kemarahan yang tak terbendung lagi
“Yang kupedulikan hanya istriku. Dia… dia tidak boleh meninggalkanku” tandas
Ellard mengentakkan sedikit kasar cekalan Oma lalu langsung berlari keluar.
Ellard
terus berlari bak kesetanan. Tidak mempedulikan tatapan aneh para karyawan yang
dilewatinya. Sosok yang dicarinya sudah tidak ada di dalam gedung ini.
Bagaimana bisa istrinya itu begitu cepat menghilang sementara dia jelas tahu
kaki wanitanya itu masih dalam proses penyembuhan. Sial, demi tidak dicegat
olehnya Ara pasti memaksakan kakinya berlari kuat.
Dengan
cepat Ellard memasuki mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang begitu
tinggi. Dia tidak peduli berapa banyak umpatan yang dilemparkan padanya dari
pihak kendaraan lain. Yang dipikirannya saat ini hanya Ara seorang, berharap
wanita itu tidak benar-benar pergi meninggalkannya.
Lima
belas kemudian Ellard sampai dan langsung memarkirkan mobilnya serampangan.
Kaki panjangnya terus berlari menujuh kamar dan kontan saja ia langsung disugukan
dengan pemandangan yang membuat jantungnya seperti tercabut dari tempatnya.
Disana, Ara sedang mengeluarkan satu koper besar di salah satu lemari. Sambil
sesekali menyeka kasar air matanya yang seperti tak rela berhenti keluar.
“Sayang,
apa yang kamu lakukan?” tanya Ellard dengan mata membulat tak percaya.
Ara
sempat menegang mendengar suaranya, namun dengan cepat ia dapat menguasainya. Ia
tidak menyahut, memilih untuk membuka koper besar itu. dan melangkah
terseok-seok mengambil satu persatu pakaiannya sambil sesekali terisak.
“Ara…
apa yang sedang kamu lakukan?” ulang Ellard lagi, panik karna melihat Ara
justru melipat pakaiannya dan mulai menyusun dalam koper.
“Seperti
yang kamu lihat. Aku sedang mengemasi barang-barangku karna sebentar lagi,
pemilik yang baru akan menempati ruangan ini”sahut Ara datar tanpa menghentikan
kegiatannya
“OMONG
KOSONG!” bentak Ellard. Merebut beberapa pakaian di tangan Ara dengan kasar,
lalu memasukkannya kedalam lemari.
Ara
terkekeh sinis, menatap nyalang Ellard
“Siapa
Ara tajam seraya mendorong dada Ellard dengan emosi.
Ellard
meraih tangan Ara yang mendorong dadanya. “Kamu tidak akan pergi kemana pun.
Selamanya pemilik tempat ini adalah kamu. Tolong jangan seperti ini,” Ellard menggeleng penuh permohonan. Bulir
mengenang di pelupuk mata. “Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik”
“Untuk
apa?” Ara kembali terkekeh ditengah derai air matanya. “Toh, kalian sudah melakukan
hal yang paling menjijikkan dan enggak berapa lama lagi hasil dari perbuatan
kalian akan lahir ke dunia ini”
Ellard
memejamkan matanya sesaat, istrinya benar-benar tidak bisa diajak berbicara
baik-baik saat ini. Emosinya lebih menguasai sekarang.
“Aku
juga baru tahu kebenaran ini tadi. itu sebabnya aku meminta Blake untuk
melarangmu masuk tadi. Aku tahu kamu dengan pengecutnya akan pergi
meninggalkan. Aku tahu kamu tidak akan menerimaku jika ada anak dari dosaku”
aku Ellard menjambak rambutnya frustasi
Ara
terdiam, ia memalingkan wajahnya kesamping. Sesak semakin menggerogoti hatinya
saat Ellard kini benar-benar mengakui perbuatannya. Hening beberapa saat,
hingga Ara melepaskan genggaman tangan Ellard kasar dam kembali mengambil
pakaiannya di lemari.
“Berhenti
melakukan itu, Ara…” Ellard mengerang kala Ara sama sekali tidak mengubris
ucapannya.
Ellard
kembali meraih siku Ara, lalu menutup kuat pintu lemari, dengan Ara yang
menabrak lemari sampingnya. Ellard bergeser ke hadapan Ara dengan kedua tangan
yang berpegangan pada lemari tepat di kedua sisi kepala Ara. Mengukung tubuh
mungil Ara di balik tubuhnya.
“Berhenti
sebelum aku melakukan hal gila lagi, sayang. Kamu tidak akan berharap
melihatnya” desis Ellard tepat di depan wajahnya
“Bukankah
kamu sudah melakukan hal gila itu?” sinis Ara, sama sekali tidak takut “HAL
GILA YANG KAMU LAKUKAN ADALAH BERCINTA DENGAN CLARISSA DI BELAKANGKU ELLARD
O’NEILL MILLER” jerit Ara yang tiba-tiba histeris, “KAMU MENYAKITIKU DENGAN
KELAKUAN BIADAP KALIAN!!” lanjutnya semakin histeris. Ara berusaha mendorong
tubuh besar Ellard, namun sialnya berakhir sia-sia karna lelaki itu tidak
bergeser sedikit pun
“Ara…”
Napas Ellard tak teratur, ia menunduk putus asa. Rasanya semakin Ara menyatakan
perasaannya semakin sakit hatinya mengingat luka yang ia torehkan.
Ara
menyeka air matanya dengan punggung tangan, ia menarik nafas panjang lalu
menghembuskannya kasar sebelum kembali mengucapkan kalimat yang membuat Ellard
mendongakkan kepala dengan cepat
“Mari
berpisah. Ceraikan ak—“
__ADS_1
BRAKKK!!
Belum
sempat Ara menyelesaikan kalimatnya, ia sudah dikejutkan oleh pukulan Ellard
pada lemari belakang tubuhnya. Sangat keras. Saking kerasnya mampu membuat
tubuh Ara gemetar lantaran terkejut.
“Apa
kamu sadar itu bisa menghancurkan hatiku, sayang? bukankah sering kukatakan,
jika aku tidak pernah menyukai kata itu keluar dari mulut kamu, Ara?” bisik
Ellard dengan raut wajah terluka, tepat di depan wajahnya. Dan raut wajah itu
sanggup membuat Ara bergidik ngeri.
“Kamu
bilang kamu mencintaiku, Ara! Kenapa harus pergi?! Untuk apa kamu mengatakan
itu jika tetap pergi?” sekali lagi, air mata Ellard meluncur jatuh. “Jangan…
kamu akan membuatku semakin hancur” Ellard menggeleng penuh permohonan
“Persetan
El.. persetan!! Aku enggak sanggup lagi,” raung Ara
Tubuhnya
seketika lunglai bersandar di lemari, ia terisak pilu dengan menenggelamkan
kepalanya pada lutut. Tidak tahu lagi harus berkata apa lagi dengan keadaannya
sekarang. Yang jelas semua sudah tampak rusak. Disatu sisi ia juga sangat berat
dengan keputusannya yang meminta bercerai. Dia ingin tetap mempertahankan rumah
tangganya. Tapi bagaimana dengan Clarissa? Gadis itu pun kini tengah mengandung
anak dari suaminya sendiri. Clarissa meminta pertanggung jawaban dari Ellard
atas anak yang dikandungnya. Bukankah itu sama saja dengan meminta Ellard
menikahinya? Tidak. Ia belum sanggup untuk kenyataan itu— membagi suaminya
dengan perempuan lain.
“Sayang…”
parau Ellard, ia turut merosotkan tubunya di depan Ara yang masih beta menangis
dengan posisinya. Pelan, Ellard meraih tubuh ringkih Ara yang kali ini tidak
memberontak— membawanya segera masuk dalam dekapannya. Ia memeluk erat tubuh
istrinya yang masih bergetar. Menciumi puncaknya berkali-kali, dengan air mata
yang meluruh deras, hatinya begitu sakit.
“Maaf…
maafkan aku sayang,” bisik Ellard berkali-kali “Pukul aku, maki aku sampai kamu
puas… tapi jangan pernah meninggalkanku. Sampai mati pun aku tidak akan pernah
mengijinkan kamu pergi dariku”
“Aku
membencimu…Sangat membencimu” racau Ara, memukuli dada Ellard dengan kekuatan
yang melemah.
“Iya,
benar. benci aku kalau itu membuatmu bisa menjadi lebih baik” Ellard semakin
mengeratkan pelukannya. Menyurukkan wajahnya di leher istrinya dan isakan yang
sama pun mulai terdengar. Dia terluka, namun luka yang ia rasakan tidak sebesar
yang diterima oleh istrinya.
Cukup
lama mereka dalam keadaan begitu, sampai akhirnya isakan istrinya tidak
terdengar lagi— digantikan dengan dengkuran halusnya. Ellard tersenyum getir,
hari ini Ara-nya sudah banyak menangis karnanya. Perlahan, Ellard bangkit
berdiri dengan membawa Ara dalam gendongannya. Ia merebahkan tubuh istrinya di
tengah ranjang dengan hati-hati agar tidak mengusik tidurnya.
Setelahnya,
ia turun dari ranjang. Keluar dari kamar dan tidak berapa lama kemudian kembali
dengan wadah berisi air hangat, handuk kecil dan piyama yang ia ambil dari walk
in closet. Pelan-pelan, ia menanggalkan kain yang melekat seharian di tubuh
istrinya— mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk basah lalu memakaikan piyama
tidur. Ellard juga menyisir rambutnya, mengoleskan krim wajah, serta body
lotion ke tubuhnya. Ia sering melihat Ara melakukan hal demikian sebelum tidur.
Terakhir
ia mengambil minyak urut yang kebetulan ada di nakas. Dengan hati-hati ia
mengoleskan minyak tersebut ke tangan lalu di urutkan ke tulang kering Ara yang
cedera. Dalam tidurnya wanita itu tanpa sadar meringis. Cederanya masih terasa sakit,
ditambah lagi tadi wanitanya itu memaksakan diri berlari kuat. Ellard memijit-nya selembut
mungkin hingga perlahan Ara tidak merasakan sakit lagi. Setelah membersihkan
tubuh istrinya, ia melanjutkan dengan membersihkan diri sebelum ikut bergabung
di sisi wanitanya.
Ellard
menarik selimut, menutupi tubuh keduanya sebatas dada. Seperti biasa, tangannya
dijadikan bantalan kepala istrinya lalu berbaring miring dengan tangan yang
melingkar erat di pinggang Ara yang sudah jauh terlelap dengan nyaman. Ellard
membelai lembut pipi Ara dengan ibu jarinya
“Maafkan
aku sayang,” lirihnya dengan mata kembali berkaca-kaca “aku tahu kata maaf saja
tidak akan mengubah keadaan kita kembali hangat seperti sebelumnya. Sungguh,
waktu itu aku tidak sadar sudah melakukannya, sayang. Aku begitu membenci
diriku sekarang. Aku menyakitimu, membuatmu menangis sepanjang hari ini. Tapi
tetap saja… aku tidak akan pernah mengabulkan permintaanmu untuk lepas dariku.
Kamu harus tetap bersamaku, sayang. Bersama-sama kita mempertahankan rumah
tangga kita— jangan tinggalkan aku. Aku akan memperbaiki semua kekacauan yang
telah kuperbuat tanpa adanya kata perpisahan diantara kita. I love you fucking so much baby…”
Ellard
menarik tengkuk Ara, mencium bibirnya begitu dalam disertai deraian air mata
yang jatuh meluncur dari pelupuk mata. Untuk hal apapun dia akan terlihat kuat
dan baik-baik saja. Bahkan disaat menyaksikan tubuh sang mama yang terbujur
kaku dulu, ia masih bisa tetap kuat. Namun tidak jika hal itu menyangkut
Ara-nya, ia akan menjadi sangat lemah, kehilangan kontrol diri dan gampang
mengeluarkan air mata. Wanita ini begitu berarti untuknya. Bahkan ia rela
bersabar menunggu dalam waktu yang cukup lama demi mengikat wanitanya ini dalam
sebuah pernikahan. Tanpa Ara ketahui, sebenarnya sejak lama Ellard sudah
menjadi penguntit dirinya. Mengawasi setiap kegiatan yang dilakukannya dari
jauh.
Dan
semua kegilaannya itu bermula sejak gadis itu berumur sepuluh tahun. Gadis yang
hendak beranjak remaja itu telah melakukan sesuatu yang berhasil membangkitkan ketertarikan
yang tidak wajar dalam dirinya. Ia menggilai Ara seperti orang yang tak waras.
To be continued
*Seperti biasa spoiler dan treaser cerita ini aku post di IG: rianitasitumorang 😉
See youuu
ELLARD O'NEILL MILLER
AURORA BEATRIX MILLER
*
__ADS_1