
Haii semuanya...
apa kabar kalian?
Semoga dalam keadaan baik-baik aja ya. hehehe
Seperti
biasa, di part ini aku minta vote dan saran kalian ya dikolom komentar.
Pendapat kalian tentang cerita ini. Biar aku makin semangat nulisnya,
ok cantikk
HAPPY READING GUYS ^^
.
.
.
St. Patrick’s Cathedral, NEW YORK | 10:00 AM
“Pernikahan
adalah sesuatu yang suci. Sebelum semua ini dimulai, jika ada yang
keberatan dengan pernikahan ini, kalian bisa berbicara sekarang atau
diam selamanya.” Ucap pastor kepada kedua mempelai pengantin.
Hening beberapa saat. Tidak ada yang bersuara.
Pastor berkata lagi. “Do
you Ellard O’Neill Miller take Aurora Beatrix Louis to be your wife,
and do you solemnly promise before God and these witnesses to love.
Cherish, honor and protect. Promise to stay to her in good times and in
bad. In sickness and in health and in richer and in poorer. Until death
shall both of you a part?”
“I do.” Ellard menjawab tegas. Matanya tidak sedetikpun lepas dari Ara ketika ia mengulang ucapan pendeta. “ I,
Ellard O’Neill Miller. Before God and the witnesses, take you Aurora
Beatrix Louis to be my wife, to have and hold from this day forward, for
better for worse, in sickness and in health, for richer or poorer, and I
promise to love, cherish and protect you. Until death shall us apart.”
Pastor itu mengangguk, tersenyum dan beralih kepada Aurora. “Do
you Aurora Beatrix Louis take Ellard O’Neill Miller to be your husband,
and do you solemnly promise before God and these witnesses to love.
Cherish, honor and protect. Promise to stay to him in good times and in
bad. In sickness and in health and in richer and in poorer. Until death
shall both of you a part?”
Ara menegang.
Dari balik sarung tangan, jemarinya sudah berkeringat dingin. Dalam hati
dia berulang kali meyakinkan dirinya apakah keputusan yang diambilnya
ini sudah benar? Sebab ketika dia sudah mengucapkan janji pernikahan
maka tidak akan ada jalan untuk kembali. Sedetik kemudian dia memejamkan
kedua matanya. Menarik nafas panjang Tuhan berkati keputusan yang kuambil ini!
Setelah
mengucapkan doa singkat itu didalam hati, Ara membuka kembali matanya
dan menatap tepat di manik Ellard yang juga menatapnya lekat.
“I do.” Dalam satu tarikan nafas, Aurora menjawab. “I,
Aurora Beatrix Louis. Before God and the witnesses, take you Ellard
O’Neill Miller to be my husband, to have and hold from this day forward,
for better for worse, in sickness and in health, for richer or poorer,
and I promise to love, cherish and protect you. Until death shall us
apart.”
Sesuatu yang tegang dalam diri Ara
mencair begitu melihat senyum mempesona Ellard. Begitu hangat dan manis.
Lalu tanpa mengatakan apa-apa, ellard mengambil tangan Ara. Jantung Ara
bergemuruh ketika lelaki itu menyematkan cincin cantik polos namun
sangat elegan di jari manis tangan kanannya. Ara menggigit bibir bawah
ketika tiba gilirannya menyematkan cincin ke jemari manis Ellard. Ara
menatap cincin itu sebelum kemudian dengan gerakan lambat dia
menyematkan cincin yang sama dengannya tersebut ke jemari manis Ellard
hingga melekat disana dengan sempurna.
Pastor
tersenyum ketika melihat kedua cincin itu telah melekat di jari kedua
mempelai. Pastor kembali berucap sambil menatap Ellard dan Aurora
bergantian. “So they are no longer two, but one flesh. Therefore what God has joined together, let no one separate,” katanya lembut.
“Now you may kiss your bride.”
Wajah
Aurora memanas. Jantungnya bertalu kencang. Ketika mengingat ini adalah
ciuman pertamanya dan pada akhirnya lelaki yang berdiri dihadapannya
sekarang ini yang akan menciumnya. Suaminya. Ellard mendekat
dengan nafas tak beraturan, tangan kanannya menyentuh wajah Ara,
sementara tangannya yang lain mendarat dipinggangnya, menarik Ara
__ADS_1
mendekat.
Entah sadar atau tidak, Ara merangkul
bahu Ellard. Memejamkan mata begitu bibir mereka bertemu. Ciuman Ellard
begitu lembut dan halus. Terasa seperti janji untuk saling melindungi. Untuk
saling mendampingi. Tubuh Ara gemetar. Cairan hangat berhasil menetes
dari kedua sudut matanya.Ternyata ada lelaki sesempurna ini yang
bersedia menerimanya, mendampinginya sampai disisa hidupnya nanti tanpa
memperhitungkan ketidaksempurnaannya. Ntah mengapa ada sepercik
kehangatan membuncah didadanya ketika mendapati fakta yang ada.
Sekalipun belum ada cinta untuk lelaki yang bergelar suaminya kini,
namun dalam hati Ara berjanji akan mulai membuka hati untuk mulai
belajar mencintai pendamping hidupnya ini.
****
“Selamat
ya my big beard. You’re so beautiful today sweety” ucap Leo yang baru
saja muncul menghampiri mereka, memberikan ucapan selamat. Seperti biasa
lelaki campuran darah mandarin itu selalu terlihat tampan. Apalagi
dengan kemeja putih dan jas hitam tanpa dasi serta senyum kecil Leo
selalu mampu berhasil membuat Ara terpesona lagi dan lagi.
Leo tidak datang sendiri. Disampingnya juga ada
sosok gadis cantik yang datang menemaninya. Gadis itu memakai gaun
berwarna pastel merah muda, berdada rendah dan sangat manis menempel di
tubuh indahnya. Senyumnya mengembang hingga memunculkan gigi putihnya
yang rata.
Dia Sara Dilmurat. Gadis berdarah asli
mandarin. Kekasih Leo yang berhasil membuat hati Ara sedikit cemburu
ketika gadis itu dengan mudahnya dapat memikat hati Leo.
Sekalipun
ada rasa sakit ketika melihat keduanya datang dengan tangan Leo
menggayut mesra dipinggang ramping gadis itu, Ara berusaha memunculkan
senyum cerianya yang tentu saja palsu.
“Hai
Ara, selamat ya. Wah gak nyangka ternyata kamu juga yang lebih dulu
sold out dari kita-kita” ujar sara tersenyum ramah dan hangat. Sara
“Terimakasih kak Leo dan kak Sara. Aku juga berharap semoga kalian segera menyusul.” balas Ara begitu ceria.
“Hm,
sepertinya rencana untuk menikah, kemungkinan masih akan sangat lama.
Mengingat kami berdua masih sangat sibuk dan fokus mengejar cita-cita
kami.” tutur Sara “apalagi kami tidak seberuntung dirimu, mendapatkan
pasangan yang sangat tampan dan kaya melintir begini” sambung Sara
dengan gurauannya sambil melirik Ellard yang sejak tadi menyunggingkan
senyum menyimak percakapan keduanya.
“Anda
terlalu menyanjung lebih nona. Jangan lupakan pasangan jenius anda juga
sudah sangat berpengaruh di dunia kerajaan bisnis padahal usianya
masih terbilang muda. Bahkan jumlah sahamnya naik pesat,” ungkap Ellard masih
dengan menebar senyumnya.
“Tapi tentu masih
tidak seberpengaruh anda Mr. Ellard,” balas Leo. Dia melepaskan
rangkulan dari kekasihnya kemudian beralih memeluk suami sang sahabat
“Selamat
ya bro. aku titip Ara. Jaga dan sayangi dia. Sekalipun kadang dia masih
kekanakan dan cengeng, tapi dia adalah gadis kecilku yang paling manis.”
“Sure. Dia istriku sekarang dan tanggung jawabku,” sahut Ellard santai namun sengaja menekankan kata istri,
seakan memberi isyarat agar pria dihadapannya ini mulai sekarang bisa
menjaga jarak dari istrinya. Oh ayolah, sebagai seorang pria Ellard bisa
melihat perasaan tidak rela yang begitu jelas dimata Leo ketika Ara sudah
resmi menjadi miliknya. Bahkan Ellard dapat memastikan, sebenarnya Leo
sudah lama memandang Ara bukan sebagai sahabat. Melainkan sebagai
seorang wanita yang dicintai. Hanya saja pria itu dapat menutupinya
dengan baik, berkedokkan kata sahabat. Cih, sejak kapan pria dan wanita bisa bersahabat. It’s just bullshit!
Setelah
pelukan keduanya lepas, Ellard merangkul posesif pinggang Ara semakin
merapat hingga membuat Ara sempat sedikit berjengit dengan sikap
tiba-tiba suaminya itu.
“Oya, dimana Angel? Biasanya gadis itu selalu menempelimu?” Tanya Sara sambil celingak celinguk melihat kesetiap sudut ruangan
“Dia—“ perkataan Ara terpotong oleh seruan suara cempreng yang tak asing lagi ditelinganya
__ADS_1
“Yuhuu…
aku disini my sweet honey, Ara” seru Angel yang baru muncul dari balik
tubuh salah satu pasangan tua. Seperti biasa, Angel tampil
dengan dress glamournya yang tidak pernah jauh-jauh dari kata sexy. Namun demikian dia terlihat sangat menawan.
Dengan santainya Angel langsung memeluk gemas sang
sahabat hingga membuat rangkulan Ellard dipinggang Ara harus lepas
akibat goncanagan dari pelukan gadis itu.
“Hiks, sayangku aku sangat terharu ketika melihat kalian mengucapkan vow di
altar tadi. finally, gadis chubby kesayanganku ini melepas masa
lajangnya. Selamat ya, babe,” kicau Angel serak karna berkata-kata sambil
menangis. Rangkulan tangannya dileher Ara semakin kuat hingga membuat
Ara sesak.
“Hei, gadis bar-bar. Kau membuatnya kesusahan bernafas,” timpal Leo
Angel sontak langsung melepas pelukannya, memeriksa panik keadaan sang sahabat.
“Omo.. benarkah itu, babe? Kau tidak apa-apakan?” tanya Angel heboh sendiri
“It’s ok. I’m fine,” ucap Ara tersenyum sambil membereskan letak gaunnya yang sedikit kusut
Disampingnya,
Ellard terkekeh melihat tingkah konyol Angel yang selalu berlaku
ceroboh. Dia suka melihat sahabat istrinya yang satu ini karna Ellard
dapat melihat seberapa peduli dan sayangnya Angel pada istrinya.
“Oh, syukurlah sayangku. Hampir saja aku mengacaukan acara sakral kalian ini.”
“Bukan hampir. Tapi sudah,” protes Leo.
“Ck, kok jadi manusia kutub ini yang sewot sih” dengus Angel.
Melihat
tingkah keduanya itu Ara mengeleng-gelengkan kepala. Angel dan Leo
memang jarang akur kalau sudah bertemu. Seperti di serial kartun Tom and Jerry. Ada saja yang akan mereka perdebatkan.
“Sudah,
sudah. Kalian berdua jangan mulai lagi. Tidak lihat apa tamu yang lain
pada ngelihatin kesini,” potong Sara ketika Leo hendak membuka mulut hendak
membalas Angel balik. Sara juga baru-baru ini mengetahui kalau
kekasihnya itu akan menjadi sangat cerewet ketika berurusan dengan
Angel.
Ellard kembali mendekat melingkarkan
tangannya dipinggang Ara lalu mengecup hangat puncak kepala istrinya
yang asik memperhatikan ketiga temannya. Ara berjengit, mendongak
bereaksi setelah tindakan manis Ellard.
“Kau
terlalu asik memperhatikan temanmu hingga melupakan keberadaan suamimu
ini” gerutu Ellard sambil tangannya menggamit dagu Ara lalu sedetik
kemudian mengecup mesra bibir merah yang sejak tadi menggodanya itu.
Membuat mata Ara membulat sempurna. Terkejut, jantungnya berdetak dua
kali lebih cepat.
“Hm, rasa strawberry. Aku suka.” Ucapnya terlampau santai
“Aee.. sepertinya pengantin kita ini sudah tidak tahan,” goda Angel dengan seringaian nakalnya.
Ellard tertawa. “Sepertinya begitu” balasnya mengangguk
Wajah Ara memerah menahan malu mendengar setiap ucapan frontal Ellard dengan Angel.
“Ka—kalian bicara apa-apan sih” Ara akhirnya mendapatkan suaranya setelah berhasil menguasai keterkejutannya
“Calm
down my babe, itu pembahasan biasa bagi setiap pasangan pengantin.
Tidak perlu sampai merona begitu, ah,” Angel semakin gencar menggoda Ara
yang memerah
Sahabat tengik! Maki Ara didalam hati.
Semua
orang yang berada disitu tertawa mendengar ucapan Angel yang frontal.
Bahkan sambil terkekeh Ellard mengusap-usap lengan Ara menenangkan
Istrinya yang begitu kentara menahan malu.
Semua prilaku manis Ellard itu tak luput dari pandangan salah seorang dari mereka. Leo menatap kedua pasangan yang sedang berbahagia itu dengan pandangan
yang sulit diartikan. Diantara mereka berlima, hanya Leo yang tidak
tertawa. Dia hanya tersenyum telampau tipis. Satu tangannya mungkin
terlihat mengenggam erat tangan kekasihnya. Namun siapa sangka kalau
sebelah tangannya yang lain, tengah mengepal kuat di balik saku celana.
ketika menyaksikan pemandangan dimana Ara menyembunyikan wajahnya yang
memerah karna malu didada Ellard yang saat itu masih terus mengusap-usap
lengan Ara-nya.
Seharusnya tidak begini. Bukan akhir yang seperti ini yang dia inginkan. Ara-nya
seharusnya tidak berakhir dengan pria lain. Kenapa hatinya menjadi
sangat sakit sekali dengan kenyataan didepannya ini. Dia tidak rela Ara-nya yang selalu bersamanya sedari kecil kini berada dipelukan pria lain. Suaminya. Seharusnya pria itu adalah.... dirinya.
Seharusnya…
__ADS_1
To be continued