Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Sembilan (Seri II)


__ADS_3

Sehari


setelah Ellard membawa kembali Ara dan anak-anaknya pulang, tepatnya di minggu


sore ini— Ara bersikeras ingin bertemu dengan keluarganya. Keluarga yang telah


ia tinggalkan empat tahun lalu begitu saja tanpa pernah pamit maupun memberikan


kabar setelah bertahun-tahun.


Selama


empat tahun Ara dibayangi oleh rasa bersalah yang teramat besar pada


keluarganya. Ia bak  putri yang durhaka


karna tidak pernah memberi kabar pada kedua orangtuanya. Ara sangat menyadari


ia telah berdosa besar, tapi kepergian yang dilakukannya tiba-tiba juga bukan


tanpa alasan. Ia hanya memilih mengalah— merelakan kebahagiaannya dan tidak


ingin membiarkan anak dalam kandungannya mengetahui seberapa berantakannya


kehidupan rumah tangga orangtua mereka.


Kegelisahan


kian menghantui seiring kakinya kian mendekati ruang makan. Mereka hanya kurang


beberapa langkah, percakapan antara Haris, Andin dan Alex juga sudah terdengar


sayup-sayup. Ara menghentikan langkah, keberaniannya menguap. Ara meremas


gaunnya— dalam hati terus bertanya-tanya, Bagaimana reaksi keluarganya nanti


jika melihatnya tiba-tiba berada disini? Apakah mereka akan membencinya karna


telah pergi begitu saja tanpa kabar? Apakah ia akan dimaafkan?


Ellard


ikut berhenti di depannya— membalik tubuh.


“El…


sebaiknya aku tidak—“


“Ayo,”


“Nala


jalan duluan sama kak Nathan dan Clara saja ya?” potong Ellard, tidak


mempedulikan ucapan Ara. Lelaki itu tidak berbicara apapun selain menurunkan


Nala dari gendongannya dan membiarkan ketiga buah hatinya melangkah lebih dulu.


Ellard merangkul pinggang Ara dan menghelanya masuk.


Jantung


Ara memompa keras, terlebih ketika pembicaraan yang sempat Ara dengar


menghilang. Ruangan itu mendadak sunyi. Kini pandangan semua orang sudah


terarah padanya. Ia begitu takut sekarang dan hanya berani menatap lantai—


belum siap melihat tatapan kebencian dari Ayah dan Ibunya. Namun…


PRANG


Gelas


yang tengah dipegang oleh Andin jatuh begitu saja tak kala matanya bersibobrok


dengan putri yang selama ini sangat dirindukannya setengah mati. Wajah Andin


tampak begitu pias, shock… dengan apa yang dilihatnya sekarang.


“Ya,


Tuhan… Nak, itu benar-benar kamu?” serak Andin seraya membekap mulutnya tidak


percaya.


Ara


mengangkat wajah. Wanita parubaya yang terlihat masih muda itu bangkit dari


duduknya— menangis, Andin berjalan tergesah memutari meja makan ke arahnya.


Sementara Haris dan Alex, pun tampak berdiri dari duduknya, menatap Ara dengan


ekspresi serupa.


Andin


merabah wajah Ara dengan tangan bergetar dan wajah yang sudah sipenuhi air


mata.


“Ini…


benar kamu kan, Sayang? Aurora putri Mommy? Katakan, kalo Mommy tidak sedang


berhalusinasi sekarang??” tercekat, nada suara Andin kian menyerak


Ara


menggeleng berulang kali, ia pun turut menangis terseduh. Ara menggenggam


tangan Andin dan menciumnya berkali-kali. “Enggak, Mom. Ini beneran Aurora,


putri Mommy. Maafkan Ara, Mom… maaf…” Ara menundukkan kepala dan terisak hebat.


Tidak


tahan, Andin langsung memeluk kuat putrinya. Keduanya berpelukan diiringi


dengan isakan kecil dari keduanya. Andin juga menciumi puncak kepala Ara berulang


kali.


“Tidak,


Nak. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah. Justru semua ini adalah


kesalahan Mommy yang tidak pernah tahu seberapa banyak penderitaan yang kamu


alami selama ini. Mommy sudah gagal menjadi orangtua, Nak..”

__ADS_1


Dalam


pelukannya, Ara menggeleng kuat. “Enggak. Mommy tidak pernah gagal. Justru


berkat mengingat semua nasihat Mommy, aku bisa kuat dan bertahan. Tolong,


jangan berkata begitu,”


“Nak…”


Sapaan


lembut itu membuat Ara menghentikan suara tangisnya seketika. Ia mengurai


pelukan mereka, menoleh— tak jauh dari hadapannya Haris berdiri dengan kedua


netra yang sudah berkaca-kaca.


“Akhirnya


kamu pulang, Putriku,” serak Haris tersenyum lembut “Give Daddy a hug, please…


I miss you so much,” Haris merentangkan kedua tangannya


“Daddy…”


desah Ara lemah. Air mata Ara kembali merembes, tapi secepat itu pula dia


berlari memeluk Haris. Erat. Terisak disana. Menumpahkan segala kegundahannya.


“I’m


sorry, Dad… I’m sorry… I’m really sorry.”


“Sshhh…,”


Haris mendesah, mengelus punggung Ara satu tangan. “Berhenti meminta maaf


terus. Kamu tidak salah apa-apa,” kata Haris, melepas pelukan mereka— membelai


wajah Ara, tersenyum haru. “malah Daddy yang harusnya berterima kasih. Terima


kasih sudah mau kembali ke rumah, dan terima kasih karna sudah membesarkan


cucu-cucu Daddy dengan sangat baik.”


Ara


menggeleng, menyeka air matanya. “Tidak, Dad… Daddy tidak perlu berteri—“


“Hei,


adik durhaka! Apa kau tidak akan memberikanku pelukan juga?” selah Alex dengan


wajah basah merengut. “Cepat peluk aku juga, Adik nakal” Alex merentangkan


kedua tangannya.


Ara


menghapus kasar air matanya. Ia tersenyum haru dan langsung menerjang masuk


dalam pelukan hangat sang kakak.


“I


miss you so much kak…” gumam Ara di dada Alex


“I


dengan sayang dan semakin mengeratkan pelukannya. “I warn you… don’t you dare


to run away again.”


****


Setelah


makan malam usai, Alex meminta Ellard  mengikutinya ke gazebo belakang untuk


berbicara empat mata. Sepanjang makan malam tadi Alex— seperti biasa selalu


tampak jenaka. Namun ketika kini hanya tinggal keduanya, tampang yang biasa


terlihat jenaka itu dalam seperkian detik kini terlihat menggelap dan kelam. Rahangnya


mengeras sementara tangannya terkepal kuat— dan perubahan itu tak luput dari


pandangan Ellard, yang sekalipun saat ini Alex tengah berdiri membelakanginya.


“Ada


yang ingin kau katakan?” tanya Ellard, sama sekali tidak terpengaruh dengan


perubahan kakak iparnya itu.


“Apa


kau senang sekarang?” rendah, Alex balik bertanya dengan posisi masih


membelakangi


Tanpa


bertanya pun, Ellard sudah mengerti maksud dari pertanyaan Alex. Ellard maju


beberapa langkah hingga kini keduanya berdiri berdampingan. Kedua tangannya


dimasukkan ke dalam saku celana, sementara pandangannya menatap lurus langit


malam.


“Tanpa


kuberitahu pun kau tentunya sudah jelas tahu. Tidak ada hal yang paling


membahagiakan dalam hidupku ketika istri dan anak-anakku kembali kesisiku,”


Alex


menoleh, menatap Ellard sinis. “Tidakkah Tuhan terlalu baik padamu?” sarkas


Alex “setelah semua rasa sakit yang kau torehkan pada Ara… meniduri sahabatmu


sendiri, hendak menikahinya diam-diam lalu membuat adikku semakin hancur hingga


memilih pergi jauh bersama janin dalam kandungannya. Bukan hanya sampai disitu,


kau juga menghasilkan seorang anak dari wanita murahan itu— dan sekarang


meminta Ara untuk menerima anak dari hasil perbuatan kotor kalian— “

__ADS_1


“Jangan


melibatkan Clara.” potong Ellard, sedikit tersulut “dia sama sekali tidak


bersalah”


Alex


tertawa sinis, “kenapa? Kau masih ingin membela anak haram—“


BUGGG


Hanya


dalam hitungan detik, kepala Alex sudah tertoleh ke samping akibat tinjuan kuat


dari Ellard.


“Sudah


kukatakan sebelumnya, jangan pernah menyebut Clara dengan sebutan anak haram. Kau


boleh menghina dan menghajarku, tapi jangan pernah melibatkan putriku,” desis


Ellard dengan mata berkilat


Alex


menyeringai sinis, sementara tangannya mengusap kasar darah dari sudut


bibirnya.


“Lalu


bagaimana dengan kehancuran adikku, SIALAN?!!”


BUG…


BUG… BUG…


Kencang,


Alex membalas berulang kali— melemparkan tinjuan ke wajah Ellard. Tubuh Ellard


terhempas ke tanah dengan Alex yang langsung menduduki tubuhnya lalu kembali


melayangkan tinjuan yang bertubih-tubih. Ellard tidak melawan. Ia membiarkan


Alex melampiaskan semua kemarahannya.


“Apa


kau pikir hatiku tidak sakit? ketika aku terlambat menyadari bahwa, tanpa


sepengetahuanku Ara telah banyak menderita karnamu! For God shake, dia baru berusia dua puluh satu tahun waktu itu,


tapi sudah merasakan penderitaan yang sebesar itu. Dan lebih parahnya, selama


ini Ara telah menyembunyikan rasa sakitnya dari kami keluarganya sendiri.”


Nafas


Alex terengah. Ia begitu kalap ketika menumpahkan semua uneg-unegnya. Ia begitu


kecewa dan merasa gagal sebagai kakak ketika tidak mampu melindungi adik yang


begitu ia sayangi.


Setelah


cukup puas dan berhasil menguasai diri, Alex bangkit dari atas tubuh babak


belur Ellard. Mulut dan hidungnya telah mengeluarkan banyak darah segar—


berceceran di tanah. Ellard tidak lagi bersuara, permohonan maaf pun ia yakin


tidak akan berguna. Alex pantas marah. Alex pantas kecewa. Ia terlalu malu


untuk membela diri dan menjelaskan semuanya.


Alex


mundur beberapa langkah kebelakang, “Aku kecewa padamu, El. Kupikir karna kau


terlalu mencintai adikku, kau tidak akan tega menyakitinya. Kau benar-benar


********. Tidak seharusnya dulu aku mendukungmu untuk menikahi adikku.”


Ellard


membisu, lidahnya kelu. Tinjuan Alex sama sekali tidak dirasakannya sakit, tapi


perkataannya sanggup menembus titik terdalam hatinya. Selain sebagai kakak


ipar, Alex adalah sahabat terbaiknya ketika kuliah bersama dulu di Harvard


hingga sekarang.  Alex-lah yang selama


ini mengetahui betapa ia begitu memuja Ara sejak dulu, hingga turut turun


tangan membantu dirinya dalam mendapatkan Ara.


“Alex…”


lirih Ellard berusaha mengeluarkan suara ditengah sekujur tubuhnya yang


berdenyut nyeri “Maaf… maafkan aku… aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi”


Alex


mengalihkan pandangan ke arah lain, menekan matanya. “Buktikan. Ini kesempatanmu


yang terakhir. Aku tidak akan berpikir dua kali lagi untuk memisahkanmu darinya


jika kau kembali mengulangi kesalahan bodohmu.” Tegas Alex, lalu berlalu masuk kembali


ke dalam rumah begitu saja tanpa mempedulikan Ellard yang kini terkapar


mengenaskan.


To be continued


Follow IG: rianitasitumorangg ya..


See youuuu 😘


Bonus Pic duo Best Friend ^^


Ellard O'Neill Miller


__ADS_1


Alex Abraham Beatrix



__ADS_2