
Love yahhh
HAPPY READING
.
.
Suasana
dalam mall hanya sesaat berubah
mencekam. Mereka menjadi tontonan di tengah keramaian kekagetan orang-orang. Ellard
baru saja kembali dari acara makan siangnya bersama seorang client setelah
sebelumnya mengadakan meeting. Client-nya sudah keluar lebih dulu, sementara ia
baru saja kembali dari toilet dan akan segera melanjutkan perjalanan ke kantor.
Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat tanpa sengaja matanya menangkap
tiga sosok yang sudah tidak asing lagi. Ellard menyipitkan matanya untuk
menatap lebih jelas. Namun sesaat kemudian ia membeku ditempat ketika melihat
sosok yang sedang berpelukan erat itu tak lain adalah Ara, istrinya bersama dengan Leo. Dua tangannya terkepal kuat, diiringi
detak jantung yang berdentam nyaring. Ia begitu marah, hingga tidak ada kalimat
yang cukup mampu untuk menggambarkan betapa kini ia dilahap habis oleh amarah.
Jarak
mereka cukup jauh, mata Ellard tersorot tajam dengan kaki yang belum sanggup
dihela kedepan. Ia benar-benar takut hilang kendali sehingga sekuat mungkin
untuk tetap ditempatnya agar tidak meledak dan menyingkirkan tubuh Leo secara
membabi-buta dihadapan Ara.
Sementara
Ara, cepat-cepat ia melepaskan tubuhnya dari Leo. Wajahnya memucat. Lagi-lagi
ia bertindak impulsif jika berada di dekat Leo. Ia takut kali ini Ellard
benar-benar akan salah paham dengan kejadian tadi. Sekuat tenaga, ia
memberanikan diri menghela langkah mendekati Ellard yang masih menatapnya
dengan sorot menggelap.
“El—
El… ak, aku bisa menjelaskan ini semua. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.
Aku—“
“Ayo
Pulang!” potong Ellard penuh penekanan. Ia meraih lengan Ara, mencengkram dan
menariknya keluar dari sana tanpa mempedulikan panggilan dari Angel di
belakang.
Angel
melongo lalu mengerjap beberapa kali setelah sosok suami istri itu tidak
terlihat.
“Buset
dah, seram amat suami si Ara kalo lagi marah,” gumam Angel takjub. Sedetik
kemudian ia menyikut bisep Leo yang sejak tadi hanya diam. “Gara-gara kamu juga
ini,” sambungnya mendengkus
Leo
tidak menyahut, hanya kedua alisnya yang terangkat menatap Angel dengan tatapan
yang sulit diartikan.
“Bisa
enggak, kalian berdua itu kalo ketemu reaksinya biasa aja. Gak pake acara drama
picisan gitu? Orang-orang yang lihat bisa salah paham dan beranggapan kalau
kalian adalah pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta hingga tidak tahu
tempat” Angel membebel panjang lebar “Tuh lihatkan, jadi kacau semuanya. Suami
si Ara udah keburu murka duluan”
Leo
mengedikkan bahu santai. Dengan ringan, ia menghela langkah berjalan keluar—
meninggalkan Angel yang melebarkan mata melihat kepergiannya begitu saja.
“Dasar
beruang kutub” umpat Angel
****
Setengah
jam perjalanan, mereka sampai dirumah. Ellard membanting pintu mobil
meninggalkan Ara di belakang langsung naik ke kamar mereka. Ara cepat-cepat
menyusul, debaran jantungnya bertaluan nyaring. Ellard terlihat begitu
menyeramkan saat ini. Ia sebenarnya takut mendekati Ellard yang begini, namun
dia juga tidak bisa hanya tinggal diam. Semua ini bermula karna kecerobohannya.
Baru saja ia memasuki rumah, langkahnya terhenti— matanya membulat penuh ketika
mendengar suara gaduh pecahan barang yang begitu nyaring, dan tak diragukan
lagi semua suara-suara itu berasal dari kamar mereka. Ara segera berlari, tidak
ingin membiarkan suaminya bertindak semakin jauh.
Dan
benar saja, saat kakinya berhenti di depan pintu kamar— lantai penuh dengan
pecahan benda kaca yang berserakan. Ellard membanting semua barang bak
kesetanan.
“ELLARD
APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU GILA!” Ara berteriak frustasi. Lelaki itu masih
belum berhenti dari aksinya. Bahkan kaca rias telah retak akibat tinjuan
kerasnya. Punggung tangannya banyak mengeluarkan darah segar.
“IYA!
AKU GILA! AKU SUDAH GILA!” Ellard membalas sentakan lebih kencang dan
mengerikan. Matanya memerah, buku-buku jarinya memutih.
Ara
berusaha berjalan semakin mendekat namun…
“Berhenti
disana” Ellard menggeram rendah.
Air
mata Ara akhirnya berjatuhan menatap Ellard. “El, tangan kamu berdarah. Aku
obatin dulu ya” pintanya serak
PRANGG
“Ellard!
Kumohon berhenti” raung Ara membekap mulutnya sendiri. Lelaki itu kembali
meninjuh keras kaca yang sepenuhnya sudah hancur tak berbentuk
“Aku
minta maaf. Aku salah. Jangan menyakiti dirimu lagi” Ara terisak, tubuhnya
luruh di lantai.
Ellard
mengatur nafas, menenangkan diri meski yang terjadi sesak yang merambati uluh
hati malah semakin menjadi-jadi. Sakit saat bayangan Ara yang diam saja ketika
Leo menciumnya tanpa menjauhkan tubuh mereka yang melekat masih berputar liar
di kepalanya.
“Inikah
alasan yang menundah kepulanganmu? Oh
salah, kamu bahkan sudah kembali. Tapi bukan kesisiku— melainkan pada cinta
pertamu itu eh?” ujar Ellard sarkas, ia tersenyum mengerikan
“Bu—bukan
seperti itu—“
“Kamu
membohongiku. Nyatanya kalian bersenang-senang diluar sana tanpa
sepengetahuanku,” Ellard menjedah. Ia terduduk dilantai, punggungnya
disandarkan pada kaki ranjang. Darahnya dibiarkan menetes, seperti tidak
merasakan sakit sama sekali
“Apa
kamu tahu, betapa bodohnya aku mempersiapkan banyak hal sehari sebelum
menyambut kepulanganmu. Aku bahkan tidak tidur karna sanking tidak sabarnya
menunggu hari berganti. Tsk, tapi lihatlah apa yang kudapatkan? Di depan mataku
sendiri istriku bersenang-senang dengan lelaki tercintanya,” Ellard mengepalkan
tangannya— tertawa menyeramkan
Ara
menggeleng-gelang lemah. Air matanya berjatuhan “Kamu salah paham. Please,
kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya”
Ara
merangkak mendekati Ellard. Ia tidak peduli respon yang akan diberikan Ellard.
Tangan lelaki itu tak berhenti mengeluarkan darah. Sungguh ia tidak tahan lagi.
Ellard
memejamkan matanya, “Sudah kubilang jangan mendekat” desisnya mengertakkan gigi
__ADS_1
Ara
tidak peduli. Dengan cepat ia berjalan menujuh kotak First Aid. Kembali berlutut di depan Ellard yang masih bergeming,
memejamkan matanya. Ia mengeluarkan alat dan obat yang diperlukan dari sana lalu
mulai mengoleskan salep antibiotic dengan hati-hati kemudian menutupnya dengan
kain kasa. Ia meringis, luka itu cukup dalam. Tepat saat ia selesai
mengobatinya, Ellard telah jatuh tertidur ditandai dengan dengkuran halus yang
dikeluarkannya. Ara menatapnya dengan nelangsa. Ia tidak pernah membayangkan
Ellard akan bertindak segila ini. Lelaki ini melampiaskan amarahnya dengan
menyakiti dirinya sendiri— bukan terhadapnya.
Lama
Ara terdiam memandangi wajah suaminya, perlahan ia mulai bangkit dan
pelan-pelan membopong tubuh besar Ellard dengan penuh kehati-hatian karna tidak
ingin lelaki ini terbangun dan mengamuk lagi. Ara merebahkan tubuhnya diatas
kasur setelah berjuang dengan susah payah.
Mata
Ara menatap sekeliling ruangan yang sangat berantakan itu. ia kemudian
membersihkan lantai dari pecahan kaca yang berserakan.
Setelah
semuanya selesai, Ara kembali duduk disamping tubuh Ellard yang tengah
tertidur. Dalam tidurnya Ellard tampak gelisah, dahi lelaki itu mengerut
seperti menahan kesakitan. Ara meraba dahi Ellard, dan seketika itu matanya
membulat ketika merasakan hawa panas tubuh Ellard dari telapak tangannya.
“Ya
Tuhan, suhu tubuh kamu tinggi sekali El” gumam Ara cemas.
Dengan
tergesa Ara mengambil termometer digital yang ada di dalam tas. Lalu meletakkan
alat itu pada area axila Ellard. Ara mengerang saat melihat suhu 40 derajat
celcius pada layar monitor termometer tersebut.
Panik,
ia segera berlari keluar mengambil air hangat di pantry dan mengompres dahi
serta lipatan ketiak Ellard dengan handuk kecil, dengan harapan hawa panas pada
tubuh Ellard segera berpindah ke alat kompres.
Ara
kemudian memberanikan diri, sedikit mengguncang tubuh Ellard. “El bangunlah
kamu harus minum obat Antipiretik, demammu
sangat tinggi” Ara mengambil air minum dari atas nakas yang tadi diambilnya di
pantry.
Ellard
mengerang, mencoba membuka matanya perlahan. Tubuhnya sangat lemas dan tak
bertenaga. Selama dua hari ini ia hanya satu atau dua jam beristirahat,
setelahnya kembali kerja marathon. Setengah sadar, ia mencoba duduk lalu
menerima obat dan air minum yang disodorkan Ara. Ia meminum obat itu patuh dan
menghabiskan seluruh air minum. Beberapa menit kemudian lelaki itu kembali
tertidur pulas.
Ara
menatapnya sendu, Ia tidak menyangka lelaki ini akan sebegitu marahnya.
“Maafkan
aku El. Percayalah aku tidak pernah menghianatimu. Semua yang kamu lihat tidak
sampai sejauh itu— ” lirih Ara, ia kembali memperbaiki posisi selimut Ellard
dan membelai lembut rambut hitam legam suaminya. Dan sepanjang hari itu, tak
sedetik pun Ara beranjak dari posisinya. Ia dengan telaten merawat Ellard
sampai memastikan demam suaminya itu benar-benar turun.
****
Ara
menggeliat ketika suara deritan pintu kamar terdengar. Ia membuka mata dan
mengerjap-ngerjap. Selimut menutupi sampai dada, padahal seingatnya dia duduk
di lantai dengan merebahkan kepalanya diatas lipatan tangannya disisi Ellard.
“Nyonya,
anda sudah bangun?” tanya seorang kepala pelayan pada Ara sambil meletakkan
nampan diatas nakas
“Jam
setelah jendela dibuka pada kedua sisi sepenuhnya.
“Jam
delapan. Sebelum Tuan berangkat kerja, beliau meyuruh saya mengantar sarapan
anda ke kamar” ujar kepala pelayan tersebut sambil mengambil pakaian kotor
dirinya dan Ellard yang tersampir di kursi beserta baskom kecil berisi handuk
yang digenangi air di nakas sebelah tempat tidur.
“Kalau
begitu saya kembali kebawah. Selamat menikmati sarapannya nyonya,” pamitnya dan
hanya di balas anggukan oleh Ara.
Setelah
pintu ditutup, Ara bangun dari posisinya dan menyandarkan punggung di kepala
ranjang. Ia bertanya-tanya kenapa Ellard tidak langsung membangunkan tidurnya?
Dan lagi lelaki itu masih belum pulih sepenuhnya tapi sudah kembali bekerja. Ah mungkin Ellard masih marah padanya.
Ia sempat melupakan fakta bahwa ia telah menyakiti hati suaminya. Ara meringis
pedih, kemarahan Ellard yang seperti ini adalah yang terparah selama
pernikahan.
****
Ellard
memasuki perusahaannya dan mendapatkan sapaan hampir dari seluruh karyawan yang
berpapasan dengannya seperti biasa. Ia naik ke lantai dimana ruang kebesarannya
berada. Hari ini ia mengenakan pakaian yang terkesan santai. Pemandangan pagi
yang cukup mengesankan berbeda dari biasanya. Ia tidak terlihat seperti lelaki
matang berusia tiga puluh tahun— tepatnya hari
ini.
Ellard
mendudukkan tubuhnya di kursi dan langsung membuka laptop. Beberapa menit ia mencoba
untuk focus namun...
“Sial!”
Ellard memukul meja, ketika ia sama sekali tidak mampu berkonsentrasi. Pikirannya
selalu tertujuh pada Ara. Masalahnya dengan Ara sudah seperti menelan semangat
hidupnya. Ini sangat menyiksa, dia tidak pernah sekacau ini sebelumnya.
Ellard
menumpukan siku pada meja sembari memijit pangkal hidungnya. Bayangan tentang
kegilaannya semalam kembali terlintas. Ia tidak dapat mengendalikan emosinya
saat itu. Semalam terlihat jelas raut ketakutan Ara, tapi istrinya itu tetap
maju mendekatinya dengan tubuh yang bergetar. Ara merawatnya semalaman, membalut
luka dipunggung tangannya dan mengompres tubuhnya yang demam. Ia baru sadar
saat hari mulai pagi dan melihat wajah letih istrinya yang tertidur di lantai samping
ranjang dengan kepala yang direbahkan di sisinya. Hatinya berdenyut sakit
melihat Ara-nya yang begini— ia tidak pernah ingin menunjukkan sisi gelapnya
pada wanita tersebut namun Ara sendirilah yang telah membangkitkan sisinya yang
lain.
Happy birthday to
you (2x)
Happy
birthday…happy birthday
Happy birthday my
best friend
Ellard
terhenyak dari lamunannya ketika alunan nyanyian merdu itu memasuki gendang
telinganya. Ia mendongak dan mendapati Clarissa serta Omanya sudah berada di depan
mejahnya, Oma bertepuk tangan semanagat, sementara Clarissa memegang sebuah kue
ulang tahun dengan beberapa lilin kecil diatasnya. Oma dan gadis itu tersenyum
manis ke arahnya.
“Oma,
Cla” gumam Ellard, ia bangkit menghampiri kedua perempuan itu
“Supriseeee”
seru Clarissa nyaring “ayo make a wish terus tiup lilinnya”
Ellard
berusaha menampilkan senyumnya yang terasa kakuh. Ia menuruti perintah gadis
__ADS_1
itu. Ellard memejamkan mata beberapa detik, kemudian membukanya kembali dan
meniup lilin tersebut sampai padam.
“Nah,
sekarang potong kuenya!”
Ellard
menurut, ia memotong kue dan menyuapkan potongan pertama pada Oma lalu
Clarissa. Oma memeluknya begitu hangat. “selamat ulang tahun cucu tampan Oma”
“Terimakasih
banyak Oma” balas Ellard lalu mengurai pelukannya
“Happy
birthday El, wish you always be happy” Clarissa langsung menerjang masuk
kedalam pelukan Ellard yang beberapa detik lalu sempat terkejut.
“Thank
you Cla” sahutnya, membalas pelukan dan mengacak gemas rambut Clarissa
“ihh,
suka banget sih berantakin rambut” Clarisa mengerucutkan bibirnya
“Emang”
kekeh Ellard ringan
Oma
hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah kedua cucunya ini.
“Oya,
istrimu dimana?” tanya Oma tiba-tiba “Jangan bilang perempuan itu tidak tahu
kalau hari ini adalah ulang tahunmu?” mata oma memicing
Senyum
Ellard hilang. Ia hanya memilih diam
“Tsk,
sudah Oma duga. Oma sudah katakana, perempuan itu tidak pantas menjadi istrimu.
Bahkan hari ulang tahunmu saja dia tidak tahu sama sekali.” Oma berucap tajam
“Oma…
tolong jangan mulai lagi” peringat Ellard
Oma
mendecih, menunjukkan raut tidak sukanya setiap kali menyangkut Ara.
“Bagaimana
kalau kita merayakan ulang tahunmu El dengan makan diluar. Kamu harus teraktir
aku dan Oma belanja sepuasnya” cetus Clarissa, mengalihkan suasana yang sempat
dingin.
“Oma
setuju” sahut Oma cepat
Ellard
menghela nafas, sebenaranya ia sedang tidak ingin pergi kemana pun hari ini,
tapi— “Baiklah”
“Yayy…
oke let’s go kita berangkat sekarang”
****
Sepanjang
siang hingga sore Ara menghabiskan waktunya di dapur bersama beberapa para
pelayan perempuan. Rencananya untuk membuat suprise
birthday party di restaurant yang sudah di sewah oleh mertua lelakinya terpaksa
dibatalkan. Ia menjadi sedikit tidak enak dengan ayah mertuanya karna
membatalkan secara sepihak. Namun ia menceritakan secara jujur pada ayahnya bahwa
dirinya dan Ellard sedang mengalami sedikit salah paham dan akan
menyelesaikannya malam ini berdua. Dan siapa sangka ayahnya tersebut justru mendukung
perubahan rencananya.
Dan
disinilah ia sekarang berada. Sibuk memasak beberapa makanan dan kue ulang
tahun untuk suaminya. Ara sudah bisa memasak meskipun baru beberapa saja. Selama
tiga bulan di Itali, dia juga mengikuti kursus memasak disana. Ia tidak
berbohong ketika berkata akan belajar banyak hal di Negara tersebut.
Tepat
pukul enam petang semua yang dirancangkannya sudah selesai. Makanan yang ia
masak dengan para maid sudah tertata cantik diatas meja. Ara menempatkan
kejutannya di gazebo. Menyulap tempat tersebut menjadi sangat cantik dan terkesan
romantis dengan beberapa lampu hias. Malam ini ia sangat berharap Ellard akan
memaafkannya dan mengakhiri pertengkaran mereka.
Detik,
menit dan jam pun berlalu— namun sosok yang ditunggunya di depan rumah sejak
pukul tujuh tadi tak kunjung kelihatan. Ara meremas ponselnya. Berulang kali ia
mencoba menghubungi ponsel Ellard tapi tidak aktif sama sekali. Ia juga telah
mengirimkan beberapa pesan dan sampai sekarang tidak mendapat balasan. Ada apa? Apa yang terjadi? Apakah Ellard masih
sebegitu marah padanya hingga tidak mau untuk menjawab telpon ataupun membalas
pesan singkatnya?
“Nyonya,
sudah jam sepuluh malam, mungkin tuan lembur lagi. Sebaiknya nyonya segera
istirahat” kata bibi Desi, kepala pelayan. Ia kahwatir melihat istri tuannya
itu sejak tadi berdiri di depan pintu mansion mondar mandir dari beberapa jam
yang lalu tanpa ada niat untuk duduk
“Tidak
apa-apa bi. Bibi dan yang lain istirahat saja, biar saya yang menunggu disini”
suruh Ara, menyunggingkan senyum hangatnya
“tapi
nyonya—“
“Masuk
saja bi, sebentar lagi saya menyusul” potong Ara cepat
Para
pelayan tersebut mengangguk dan dengan berat hati meninggalkan nyonya mereka
menunggu sendirian di depan rumah. Ara menghela nafas berat, ia memutuskan
mendudukan dirinya di kursi. Sekali lagi menunggu Ellard sambil menyibukkan
diri dengan berselancar pada sebuah akun social media instagaram di ponselnya. Rasanya
sudah lama ia tidak membuka aplikasi tersebut.
Baru
saja ia membuka akun tersebut, pada berandanya langsung saja ia disugukan oleh
sebuah postingan foto yang langsung membuat jantungnya berdentam nyeri.
Clarissa memposting foto Ellard satu jam yang lalu,
Clarissa_Xander Thank you for today and Night Party baby… I’m so happy. And once
again, Happy birthday to you
Prakk
Ponselnya
terjatuh begitu saja. Tubuhnya mendadak kakuh, sulit untuk digerakkan. Secepat kilat
air matanya lolos dengan mudahnya. Disisi tubuh, tangannya yang dingin terkepal
kuat. Sial, sepanjang hari ia
menghabiskan waktu memasak beraneka jenis makanan dan merias gazebo seindah
mungkin, tempat untuk merayakan ulang tahun lelaki itu. Dan sampai sekarang
dengan bodohnya ia masih duduk menunggu kepulangan Ellard hingga selarut ini. Tapi
lihat, apa yang tengah dilakukan lelaki itu? ia bersenang-senang dengan
Clarissa diluar sana.
Ara
menundukkan wajahnya. Menggigit bibir bagian dalam— berusaha menahan agar
isakannya tidak lolos. Ia menekan-nekan dadanya yang terasa sangat sakit sekali
sekarang. Sekali lagi, Ara menjadi seorang pengecut yang hanya diam dan tak
bisa melakukan apa-apa walau status Ellard adalah suaminya. Ellard marah
padanya dan dia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sementara seharian
ini lelaki itu menghabiskan waktu berdua dengan perempuan lain, tapi dirinya
hanya berdiam disini. Dengan tubuh bergetar, Ara berjongkok mengambil ponselnya
yang terjatuh.
Sudah cukup. Ia tidak
harus menunggu lagi!
To be continued
Haiii... seperti biasa spoiler cerita ini aku posting di IG: rianitasitumorangg yahh...
Jangan lupa vote, like dan komen yang banyak2 yahhh... hehehe
See you next part ^^
__ADS_1