Touching Heart

Touching Heart
Sembilan Belas


__ADS_3

Love yahhh


HAPPY READING


.


.


Suasana


dalam mall hanya sesaat berubah


mencekam. Mereka menjadi tontonan di tengah keramaian kekagetan orang-orang. Ellard


baru saja kembali dari acara makan siangnya bersama seorang client setelah


sebelumnya mengadakan meeting. Client-nya sudah keluar lebih dulu, sementara ia


baru saja kembali dari toilet dan akan segera melanjutkan perjalanan ke kantor.


Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat tanpa sengaja matanya menangkap


tiga sosok yang sudah tidak asing lagi. Ellard menyipitkan matanya untuk


menatap lebih jelas. Namun sesaat kemudian ia membeku ditempat ketika melihat


sosok yang sedang berpelukan erat itu tak lain adalah Ara, istrinya bersama dengan Leo. Dua tangannya terkepal kuat, diiringi


detak jantung yang berdentam nyaring. Ia begitu marah, hingga tidak ada kalimat


yang cukup mampu untuk menggambarkan betapa kini ia dilahap habis oleh amarah.


Jarak


mereka cukup jauh, mata Ellard tersorot tajam dengan kaki yang belum sanggup


dihela kedepan. Ia benar-benar takut hilang kendali sehingga sekuat mungkin


untuk tetap ditempatnya agar tidak meledak dan menyingkirkan tubuh Leo secara


membabi-buta dihadapan Ara.


Sementara


Ara, cepat-cepat ia melepaskan tubuhnya dari Leo. Wajahnya memucat. Lagi-lagi


ia bertindak impulsif jika berada di dekat Leo. Ia takut kali ini Ellard


benar-benar akan salah paham dengan kejadian tadi. Sekuat tenaga, ia


memberanikan diri menghela langkah mendekati Ellard yang masih menatapnya


dengan sorot menggelap.


“El—


El… ak, aku bisa menjelaskan ini semua. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.


Aku—“


“Ayo


Pulang!” potong Ellard penuh penekanan. Ia meraih lengan Ara, mencengkram dan


menariknya keluar dari sana tanpa mempedulikan panggilan dari Angel di


belakang.


Angel


melongo lalu mengerjap beberapa kali setelah sosok suami istri itu tidak


terlihat.


“Buset


dah, seram amat suami si Ara kalo lagi marah,” gumam Angel takjub. Sedetik


kemudian ia menyikut bisep Leo yang sejak tadi hanya diam. “Gara-gara kamu juga


ini,” sambungnya mendengkus


Leo


tidak menyahut, hanya kedua alisnya yang terangkat menatap Angel dengan tatapan


yang sulit diartikan.


“Bisa


enggak, kalian berdua itu kalo ketemu reaksinya biasa aja. Gak pake acara drama


picisan gitu? Orang-orang yang lihat bisa salah paham dan beranggapan kalau


kalian adalah pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta hingga tidak tahu


tempat” Angel membebel panjang lebar “Tuh lihatkan, jadi kacau semuanya. Suami


si Ara udah keburu murka duluan”


Leo


mengedikkan bahu santai. Dengan ringan, ia menghela langkah berjalan keluar—


meninggalkan Angel yang melebarkan mata melihat kepergiannya begitu saja.


“Dasar


beruang kutub” umpat Angel


****


Setengah


jam perjalanan, mereka sampai dirumah. Ellard membanting pintu mobil


meninggalkan Ara di belakang langsung naik ke kamar mereka. Ara cepat-cepat


menyusul, debaran jantungnya bertaluan nyaring. Ellard terlihat begitu


menyeramkan saat ini. Ia sebenarnya takut mendekati Ellard yang begini, namun


dia juga tidak bisa hanya tinggal diam. Semua ini bermula karna kecerobohannya.


Baru saja ia memasuki rumah, langkahnya terhenti— matanya membulat penuh ketika


mendengar suara gaduh pecahan barang yang begitu nyaring, dan tak diragukan


lagi semua suara-suara itu berasal dari kamar mereka. Ara segera berlari, tidak


ingin membiarkan suaminya bertindak semakin jauh.


Dan


benar saja, saat kakinya berhenti di depan pintu kamar— lantai penuh dengan


pecahan benda kaca yang berserakan. Ellard membanting semua barang bak


kesetanan.


“ELLARD


APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU GILA!” Ara berteriak frustasi. Lelaki itu masih


belum berhenti dari aksinya. Bahkan kaca rias telah retak akibat tinjuan


kerasnya. Punggung tangannya banyak mengeluarkan darah segar.


“IYA!


AKU GILA! AKU SUDAH GILA!” Ellard membalas sentakan lebih kencang dan


mengerikan. Matanya memerah, buku-buku jarinya memutih.


Ara


berusaha berjalan semakin mendekat namun…


“Berhenti


disana” Ellard menggeram rendah.


Air


mata Ara akhirnya berjatuhan menatap Ellard. “El, tangan kamu berdarah. Aku


obatin dulu ya” pintanya serak


PRANGG


“Ellard!


Kumohon berhenti” raung Ara membekap mulutnya sendiri. Lelaki itu kembali


meninjuh keras kaca yang sepenuhnya sudah hancur tak berbentuk


“Aku


minta maaf. Aku salah. Jangan menyakiti dirimu lagi” Ara terisak, tubuhnya


luruh di lantai.


Ellard


mengatur nafas, menenangkan diri meski yang terjadi sesak yang merambati uluh


hati malah semakin menjadi-jadi. Sakit saat bayangan Ara yang diam saja ketika


Leo menciumnya tanpa menjauhkan tubuh mereka yang melekat masih berputar liar


di kepalanya.


“Inikah


alasan yang menundah kepulanganmu? Oh


salah, kamu bahkan sudah kembali. Tapi bukan kesisiku— melainkan pada cinta


pertamu itu eh?” ujar Ellard sarkas, ia tersenyum mengerikan


“Bu—bukan


seperti itu—“


“Kamu


membohongiku. Nyatanya kalian bersenang-senang diluar sana tanpa


sepengetahuanku,” Ellard menjedah. Ia terduduk dilantai, punggungnya


disandarkan pada kaki ranjang. Darahnya dibiarkan menetes, seperti tidak


merasakan sakit sama sekali


“Apa


kamu tahu, betapa bodohnya aku mempersiapkan banyak hal sehari sebelum


menyambut kepulanganmu. Aku bahkan tidak tidur karna sanking tidak sabarnya


menunggu hari berganti. Tsk, tapi lihatlah apa yang kudapatkan? Di depan mataku


sendiri istriku bersenang-senang dengan lelaki tercintanya,” Ellard mengepalkan


tangannya— tertawa menyeramkan


Ara


menggeleng-gelang lemah. Air matanya berjatuhan “Kamu salah paham. Please,


kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya”


Ara


merangkak mendekati Ellard. Ia tidak peduli respon yang akan diberikan Ellard.


Tangan lelaki itu tak berhenti mengeluarkan darah. Sungguh ia tidak tahan lagi.


Ellard


memejamkan matanya, “Sudah kubilang jangan mendekat” desisnya mengertakkan gigi

__ADS_1


Ara


tidak peduli. Dengan cepat ia berjalan menujuh kotak First Aid. Kembali berlutut di depan Ellard yang masih bergeming,


memejamkan matanya. Ia mengeluarkan alat dan obat yang diperlukan dari sana lalu


mulai mengoleskan salep antibiotic dengan hati-hati kemudian menutupnya dengan


kain kasa. Ia meringis, luka itu cukup dalam. Tepat saat ia selesai


mengobatinya, Ellard telah jatuh tertidur ditandai dengan dengkuran halus yang


dikeluarkannya. Ara menatapnya dengan nelangsa. Ia tidak pernah membayangkan


Ellard akan bertindak segila ini. Lelaki ini melampiaskan amarahnya dengan


menyakiti dirinya sendiri— bukan terhadapnya.


Lama


Ara terdiam memandangi wajah suaminya, perlahan ia mulai bangkit dan


pelan-pelan membopong tubuh besar Ellard dengan penuh kehati-hatian karna tidak


ingin lelaki ini terbangun dan mengamuk lagi. Ara merebahkan tubuhnya diatas


kasur setelah berjuang dengan susah payah.


Mata


Ara menatap sekeliling ruangan yang sangat berantakan itu. ia kemudian


membersihkan lantai dari pecahan kaca yang berserakan.


Setelah


semuanya selesai, Ara kembali duduk disamping tubuh Ellard yang tengah


tertidur. Dalam tidurnya Ellard tampak gelisah, dahi lelaki itu mengerut


seperti menahan kesakitan. Ara meraba dahi Ellard, dan seketika itu matanya


membulat ketika merasakan hawa panas tubuh Ellard dari telapak tangannya.


“Ya


Tuhan, suhu tubuh kamu tinggi sekali El” gumam Ara cemas.


Dengan


tergesa Ara mengambil termometer digital yang ada di dalam tas. Lalu meletakkan


alat itu pada area axila Ellard. Ara mengerang saat melihat suhu 40 derajat


celcius pada layar monitor termometer tersebut.


Panik,


ia segera berlari keluar mengambil air hangat di pantry dan mengompres dahi


serta lipatan ketiak Ellard dengan handuk kecil, dengan harapan hawa panas pada


tubuh Ellard segera berpindah ke alat kompres.


Ara


kemudian memberanikan diri, sedikit mengguncang tubuh Ellard. “El bangunlah


kamu harus minum obat Antipiretik, demammu


sangat tinggi” Ara mengambil air minum dari atas nakas yang tadi diambilnya di


pantry.


Ellard


mengerang, mencoba membuka matanya perlahan. Tubuhnya sangat lemas dan tak


bertenaga. Selama dua hari ini ia hanya satu atau dua jam beristirahat,


setelahnya kembali kerja marathon. Setengah sadar, ia mencoba duduk lalu


menerima obat dan air minum yang disodorkan Ara. Ia meminum obat itu patuh dan


menghabiskan seluruh air minum. Beberapa menit kemudian lelaki itu kembali


tertidur pulas.


Ara


menatapnya sendu, Ia tidak menyangka lelaki ini akan sebegitu marahnya.


“Maafkan


aku El. Percayalah aku tidak pernah menghianatimu. Semua yang kamu lihat tidak


sampai sejauh itu— ” lirih Ara, ia kembali memperbaiki posisi selimut Ellard


dan membelai lembut rambut hitam legam suaminya. Dan sepanjang hari itu, tak


sedetik pun Ara beranjak dari posisinya. Ia dengan telaten merawat Ellard


sampai memastikan demam suaminya itu benar-benar turun.


****


Ara


menggeliat ketika suara deritan pintu kamar terdengar. Ia membuka mata dan


mengerjap-ngerjap. Selimut menutupi sampai dada, padahal seingatnya dia duduk


di lantai dengan merebahkan kepalanya diatas lipatan tangannya disisi Ellard.


“Nyonya,


anda sudah bangun?” tanya seorang kepala pelayan pada Ara sambil meletakkan


nampan diatas nakas


“Jam


setelah jendela dibuka pada kedua sisi sepenuhnya.


“Jam


delapan. Sebelum Tuan berangkat kerja, beliau meyuruh saya mengantar sarapan


anda ke kamar” ujar kepala pelayan tersebut sambil mengambil pakaian kotor


dirinya dan Ellard yang tersampir di kursi beserta baskom kecil berisi handuk


yang digenangi air di nakas sebelah tempat tidur.


“Kalau


begitu saya kembali kebawah. Selamat menikmati sarapannya nyonya,” pamitnya dan


hanya di balas anggukan oleh Ara.


Setelah


pintu ditutup, Ara bangun dari posisinya dan menyandarkan punggung di kepala


ranjang. Ia bertanya-tanya kenapa Ellard tidak langsung membangunkan tidurnya?


Dan lagi lelaki itu masih belum pulih sepenuhnya tapi sudah kembali bekerja. Ah mungkin Ellard masih marah padanya.


Ia sempat melupakan fakta bahwa ia telah menyakiti hati suaminya. Ara meringis


pedih, kemarahan Ellard yang seperti ini adalah yang terparah selama


pernikahan.


****


Ellard


memasuki perusahaannya dan mendapatkan sapaan hampir dari seluruh karyawan yang


berpapasan dengannya seperti biasa. Ia naik ke lantai dimana ruang kebesarannya


berada. Hari ini ia mengenakan pakaian yang terkesan santai. Pemandangan pagi


yang cukup mengesankan berbeda dari biasanya. Ia tidak terlihat seperti lelaki


matang berusia tiga puluh tahun— tepatnya hari


ini.


Ellard


mendudukkan tubuhnya di kursi dan langsung membuka laptop. Beberapa menit ia mencoba


untuk focus namun...


“Sial!”


Ellard memukul meja, ketika ia sama sekali tidak mampu berkonsentrasi. Pikirannya


selalu tertujuh pada Ara. Masalahnya dengan Ara sudah seperti menelan semangat


hidupnya. Ini sangat menyiksa, dia tidak pernah sekacau ini sebelumnya.


Ellard


menumpukan siku pada meja sembari memijit pangkal hidungnya. Bayangan tentang


kegilaannya semalam kembali terlintas. Ia tidak dapat mengendalikan emosinya


saat itu. Semalam terlihat jelas raut ketakutan Ara, tapi istrinya itu tetap


maju mendekatinya dengan tubuh yang bergetar. Ara merawatnya semalaman, membalut


luka dipunggung tangannya dan mengompres tubuhnya yang demam. Ia baru sadar


saat hari mulai pagi dan melihat wajah letih istrinya yang tertidur di lantai samping


ranjang dengan kepala yang direbahkan di sisinya. Hatinya berdenyut sakit


melihat Ara-nya yang begini— ia tidak pernah ingin menunjukkan sisi gelapnya


pada wanita tersebut namun Ara sendirilah yang telah membangkitkan sisinya yang


lain.


Happy birthday to


you (2x)


Happy


birthday…happy birthday


Happy birthday my


best friend


Ellard


terhenyak dari lamunannya ketika alunan nyanyian merdu itu memasuki gendang


telinganya. Ia mendongak dan mendapati Clarissa serta Omanya sudah berada di depan


mejahnya, Oma bertepuk tangan semanagat, sementara Clarissa memegang sebuah kue


ulang tahun dengan beberapa lilin kecil diatasnya. Oma dan gadis itu tersenyum


manis ke arahnya.


“Oma,


Cla” gumam Ellard, ia bangkit menghampiri kedua perempuan itu


“Supriseeee”


seru Clarissa nyaring “ayo make a wish terus tiup lilinnya”


Ellard


berusaha menampilkan senyumnya yang terasa kakuh. Ia menuruti perintah gadis

__ADS_1


itu. Ellard memejamkan mata beberapa detik, kemudian membukanya kembali dan


meniup lilin tersebut sampai padam.


“Nah,


sekarang potong kuenya!”


Ellard


menurut, ia memotong kue dan menyuapkan potongan pertama pada Oma lalu


Clarissa. Oma memeluknya begitu hangat. “selamat ulang tahun cucu tampan Oma”


“Terimakasih


banyak Oma” balas Ellard lalu mengurai pelukannya


“Happy


birthday El, wish you always be happy” Clarissa langsung menerjang masuk


kedalam pelukan Ellard yang beberapa detik lalu sempat terkejut.


“Thank


you Cla” sahutnya, membalas pelukan dan mengacak gemas rambut Clarissa


“ihh,


suka banget sih berantakin rambut” Clarisa mengerucutkan bibirnya


“Emang”


kekeh Ellard ringan


Oma


hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah kedua cucunya ini.


“Oya,


istrimu dimana?” tanya Oma tiba-tiba “Jangan bilang perempuan itu tidak tahu


kalau hari ini adalah ulang tahunmu?” mata oma memicing


Senyum


Ellard hilang. Ia hanya memilih diam


“Tsk,


sudah Oma duga. Oma sudah katakana, perempuan itu tidak pantas menjadi istrimu.


Bahkan hari ulang tahunmu saja dia tidak tahu sama sekali.” Oma berucap tajam


“Oma…


tolong jangan mulai lagi” peringat Ellard


Oma


mendecih, menunjukkan raut tidak sukanya setiap kali menyangkut Ara.


“Bagaimana


kalau kita merayakan ulang tahunmu El dengan makan diluar. Kamu harus teraktir


aku dan Oma belanja sepuasnya” cetus Clarissa, mengalihkan suasana yang sempat


dingin.


“Oma


setuju” sahut Oma cepat


Ellard


menghela nafas, sebenaranya ia sedang tidak ingin pergi kemana pun hari ini,


tapi— “Baiklah”


“Yayy…


oke let’s go kita berangkat sekarang”


****


Sepanjang


siang hingga sore Ara menghabiskan waktunya di dapur bersama beberapa para


pelayan perempuan. Rencananya untuk membuat suprise


birthday party di restaurant yang sudah di sewah oleh mertua lelakinya terpaksa


dibatalkan. Ia menjadi sedikit tidak enak dengan ayah mertuanya karna


membatalkan secara sepihak. Namun ia menceritakan secara jujur pada ayahnya bahwa


dirinya dan Ellard sedang mengalami sedikit salah paham dan akan


menyelesaikannya malam ini berdua. Dan siapa sangka ayahnya tersebut justru mendukung


perubahan rencananya.


Dan


disinilah ia sekarang berada. Sibuk memasak beberapa makanan dan kue ulang


tahun untuk suaminya. Ara sudah bisa memasak meskipun baru beberapa saja. Selama


tiga bulan di Itali, dia juga mengikuti kursus memasak disana. Ia tidak


berbohong ketika berkata akan belajar banyak hal di Negara tersebut.


Tepat


pukul enam petang semua yang dirancangkannya sudah selesai. Makanan yang ia


masak dengan para maid sudah tertata cantik diatas meja. Ara menempatkan


kejutannya di gazebo. Menyulap tempat tersebut menjadi sangat cantik dan terkesan


romantis dengan beberapa lampu hias. Malam ini ia sangat berharap Ellard akan


memaafkannya dan mengakhiri pertengkaran mereka.


Detik,


menit dan jam pun berlalu— namun sosok yang ditunggunya di depan rumah sejak


pukul tujuh tadi tak kunjung kelihatan. Ara meremas ponselnya. Berulang kali ia


mencoba menghubungi ponsel Ellard tapi tidak aktif sama sekali. Ia juga telah


mengirimkan beberapa pesan dan sampai sekarang tidak mendapat balasan.  Ada apa? Apa yang terjadi? Apakah Ellard masih


sebegitu marah padanya hingga tidak mau untuk menjawab telpon ataupun membalas


pesan singkatnya?


“Nyonya,


sudah jam sepuluh malam, mungkin tuan lembur lagi. Sebaiknya nyonya segera


istirahat” kata bibi Desi, kepala pelayan. Ia kahwatir melihat istri tuannya


itu sejak tadi berdiri di depan pintu mansion mondar mandir dari beberapa jam


yang lalu tanpa ada niat untuk duduk


“Tidak


apa-apa bi. Bibi dan yang lain istirahat saja, biar saya yang menunggu disini”


suruh Ara, menyunggingkan senyum hangatnya


“tapi


nyonya—“


“Masuk


saja bi, sebentar lagi saya menyusul” potong Ara cepat


Para


pelayan tersebut mengangguk dan dengan berat hati meninggalkan nyonya mereka


menunggu sendirian di depan rumah. Ara menghela nafas berat, ia memutuskan


mendudukan dirinya di kursi. Sekali lagi menunggu Ellard sambil menyibukkan


diri dengan berselancar pada sebuah akun social media instagaram di ponselnya. Rasanya


sudah lama ia tidak membuka aplikasi tersebut.


Baru


saja ia membuka akun tersebut, pada berandanya langsung saja ia disugukan oleh


sebuah postingan foto yang langsung membuat jantungnya berdentam nyeri.


Clarissa memposting foto Ellard satu jam yang lalu,



Clarissa_Xander Thank you for today and Night Party baby… I’m so happy. And once


again, Happy birthday to you


Prakk


Ponselnya


terjatuh begitu saja. Tubuhnya mendadak kakuh, sulit untuk digerakkan. Secepat kilat


air matanya lolos dengan mudahnya. Disisi tubuh, tangannya yang dingin terkepal


kuat. Sial, sepanjang hari ia


menghabiskan waktu memasak beraneka jenis makanan dan merias gazebo seindah


mungkin, tempat untuk merayakan ulang tahun lelaki itu. Dan sampai sekarang


dengan bodohnya ia masih duduk menunggu kepulangan Ellard hingga selarut ini. Tapi


lihat, apa yang tengah dilakukan lelaki itu? ia bersenang-senang dengan


Clarissa diluar sana.


Ara


menundukkan wajahnya. Menggigit bibir bagian dalam— berusaha menahan agar


isakannya tidak lolos. Ia menekan-nekan dadanya yang terasa sangat sakit sekali


sekarang. Sekali lagi, Ara menjadi seorang pengecut yang hanya diam dan tak


bisa melakukan apa-apa walau status Ellard adalah suaminya. Ellard marah


padanya dan dia tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sementara seharian


ini lelaki itu menghabiskan waktu berdua dengan perempuan lain, tapi dirinya


hanya berdiam disini. Dengan tubuh bergetar, Ara berjongkok mengambil ponselnya


yang terjatuh.


Sudah cukup. Ia tidak


harus menunggu lagi!


To be continued


Haiii... seperti biasa spoiler cerita ini aku posting di IG: rianitasitumorangg yahh...


Jangan lupa vote, like dan komen yang banyak2 yahhh... hehehe


See you next part ^^

__ADS_1


__ADS_2