Touching Heart

Touching Heart
Tiga Belas


__ADS_3

Ellard langsung memasukkan tubuh Ara ke dalam mobil


disusul olehnya tidak lama kemudian. Tancapan pedal gas yang diinjak


keras, membuat mobil itu melesat kilat. Ara tidak pernah melihat atau


membayangkan Ellard ternyata memiliki sisi gelap yang begitu pekat.


Lelaki itu menyetir mobil bak kesetanan. Tidak ada yang berbicara, bibir


keduanya bungkam seribu bahasa dengan dada yang berdentam cepat.


Sekitar


lebih dari tiga puluh menit, Ellard menghentikan mobilnya secara


serampangan yang hampir saja menabrak para penjaga yang sedang berjaga


disana. Saat Ara masih belum selesai dengan keterkejutannya, Ellard


telah kembali menarik tangannya agar cepat keluar, membawa tubuhnya


masuk ke dalam lift dan menekan lantai lima.


"El—Ellard—"


Ellard


tidak menyahut, ekspresinya terlihat dingin dan kembali menyeret tangan


Ara memasuki sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar mereka. dengan


debam menggelegar, pintu ditendang Ellard sekuat tenaga disusul tubuh


Ara yang dihempaskan ke tengah ranjang.


Ellard


dengan cepat menindih tubuhnya, mengunci segala bentuk perlawanan Ara


yang hendak kabur. Mencengkram rahang Ara, ******* dengan kasar bibirnya


tanpa ampun. Dia sama sekali tidak berbicara, tidak mengatakan apa-apa,


tetapi Ellard yang seperti ini tidak Ara kenali sama sekali. Tidak ada


kelembutan seolah tubuh tinggi yang menindihnya ini telah dirasuki


iblis.


"El, lepas—kan!" Ara melawan, berusaha


menghindari ciuman kasar Ellard. Namun sama sekali tak berhasil. Ara


menangis, air matanya luruh. Isakannya sama sekali tidak di


pedulikannya. Embusan nafas hangat Ellard menerpa tengkuk Ara yang


berkeringat, dan helai rambutnya disingkirkan dan dikumpulkan ke satu


sisi. Ellard menurunkan kepala, mencecap tengkuk Ara dengan deru nafas


yang tersengal pelan. Ara kembali berusaha berontak saat Ellard membuka


satu per satu kemeja navy-nya.


"Ellard, bukan


seperti ini. Tolong, lepaskan, tolong... jangan seperti ini...," Ara


memohon. Terus berusaha mendorong, memukul, menendang serampangan,


tetapi tidak sedikit pun berhasil menghentikan menjamah tubuhnya disemua


bagian. Ia kewalahan. Tubuhnya yang besar tak sedikit pun membantu


untuk lolos dari serangan brutalnya.


"Ak—aku


minta maaf... tolong maafkan aku...," isak Ara berharap suaminya akan


luluh. Dia tahu darimana asal Lelaki ini begitu semurka ini.


Kepergiannya yang tidak meminta ijin lebih dulu ditambah lagi dia pergi


menghadiri acara seorang teman lelaki dan berpelukan disana, itulah


penyebabnya. Ia melupakan satu hal, kenyataan bahwa Ellard adalah pria


yang sangat possessive terhadap dirinya. Yah, suaminya itu pernah mengingatkannya untuk jangan sekalipun bersentuhan dengan lelaki lain.


Ellard menghentikan aksinya. Dia mengangkat wajahnya memandang Ara yang terguguh. Ellard menatapnya dalam diam.


"Aku minta maaf— aku tidak akan melakukannya lagi...," Ara bergetar. Dia sungguh ketakutan dengan sikap Ellard yang begini.


"Aku


akan memaafkanmu—" Ellard mendekat, membisikkan kata yang membuat


jantung Ara seolah berhenti berdetak, "...setelah kau memberikan hak-ku malam ini,"


"El—Ellard, aku mohon bukankah kita sudah sepakat tentang hal ini... sampai aku siap—"


"Persetan


dengan itu Ara! Aku sudah memberimu kesempatan selama tiga bulan ini.


Namun malam ini kau membuktikan betapa tidak berharganya aku sebagai


suamimu. Bisa-bisanya kau pergi menemui lelaki lain tanpa seijinku. How


dare you baby..." tekannya rendah


"Ak—aku bisa


menjelaskan semuanya El, ini tidak seperti yang kau pikirkan," raung Ara


memohon sambil menautkan kedua telapak tangannya.


"aku


tidak bisa," jawab Ellard. Suaranya tak kalah serak. "malam ini kau


harus menjadi milikku seutuhnya, agar kau menyadari jelas status dan


batasanmu kedepannya," tandas Ellard.


Ara menangis, matanya terpejam dan tangannya meremas seprai kuat-kuat. Detik itu juga Ellard melakukan ucapannya.


"Jangan pernah pergi kemana pun Ara. Kau milikku, seutuhnya milikku,"


Ellard


menaikkan dua tangan Ara, mengabaikan sisi apapun dari dirinya kecuali


kenikmatan tiada tara yang terus menggelung hebat. Merasakan tubuh Ara


yang tidak pernah terjamah oleh siapapun . Membuktikan bahwa


satu-satunya pria yang berhasil memasuki Ara adalah dirinya. Air mata


Ellard pun jatuh dengan dentam dada yang nyaris meledak. Disatu sisi ia


bahagia karna telah menjadi yang pertama dan satu-satunya untuk Ara.


Namun disisi lain hatinya terluka karna nyatanya Ara tidak pernah rela


disentuh olehnya. Mungkin setelah malam ini, Ara akan membencinya. Tapi


biarlah. Lebih baik begitu daripada Ara meninggalkan dirinya suatu saat


nanti. Dia akan membuat Ara mengandung anaknya hingga mereka semakin


terikat.


****


Sang


mentari telah naik. Memancarkan sinarnya yang menyilaukan. Sinar itu


berhasil menyelinap masuk melalui celah gorden, membuat dua sosok yang


masih bergelung nyaman dibawah selimut dengan tubuh polos tanpa sehelai


benang pun, merasakan hangatnya sedikit sinar tersebut. Ellard mengerang


pelan, mata coklat madunya perlahan terbuka. Mengerjap beberapa kali


sebelum akhirnya benar-benar sadar sepenuhnya. Ia menurunkan


pandangannya menatap istrinya yang masih terlelap dengan berbantalkan


lengannya.


Sangat...cantik


Ellard


tersenyum menatap lekat, mengagumi wajah putih mulus Ara. Dalam jarak


sedekat ini ia dapat melihat dengan jelas betapa cantiknya gadis itu.


Sekalipun gendut sama sekali tidak berhasil menyamarkan wajah cantik


miliknya. Ellard tidak akan pernah mengijinkan Ara menjadi kurus, dia


harus tetap seperti ini. Karna memiliki bentuk tubuh begini saja, masih


ada saja pria yang berani melirik istrinya, konon lagi kalau Ara-nya


berubah menjadi kurus. Tidak tahu betapa berkali lipat mempesonanya Ara.


Ditambah lagi sikap lemah lembut istrinya ini. Tidak, ia tidak akan


membiarkan Ara berubah. Cukup seperti ini. Tidak akan dibiarkan lebih


banyak lagi pria yang menginginkan istrinya. Sampai saat ini saingan


terbesarnya adalah si Leonard. Karna pria itu masih menduduki tempat


tertinggi dihati Ara. Tapi perlahan dia akan memastikan dapat menggeser


tempat itu dan menggantikan dengan dirinya.


Mengenai


Richard, ia tak menganggapnya suatu ancaman. Hanya saja dia benar-benar


murka semalam ketika melihat lelaki seumuran Ara itu dengan entengnya

__ADS_1


memeluk mesra Ara-nya. Dan Ara, dengan polosnya membiarkan. Karna itu ia


sengajah mengucapkan dengan lantang status hubungan keduanya di depan


para karyawan yang hadir di acara Richard. Ia tidak peduli lagi. Public


harus tahu siapa sebenarnya istrinya. Persetan dengan mereka yang akan


mengeluarkan pendapat apapun.


Telunjuk Ellard


bergerak menelusuri wajah damai Ara. Mulai dari kedua mata yang masih


berjejakkan air mata, turun ke hidung mancung dan terakhir bibir bengkak


rasa strawberry yang semalaman dilahapnya habis-habisan. Dengan


lembut Ellard menyapukan ibu jarinya disana. Semalaman mereka bercinta


gila-gilaan. Ellard meringis ketika mengingat dirinya benar-benar


seperti iblis kelaparan semalam. Nyaris di setiap bagian tubuh Ara


ditinggalkan bekas kepemilikan. Beberapa kali ia menyemburkan banyak


benihnya pada rahim istrinya. Berharap benih itu secepatnya tumbuh


menjadi sesosok janin.


Dalam pelukannya Ara


menggeliat. Mata indah itu perlahan terbuka dan menatap langsung


netranya. Dalam beberapa detik keduanya hanya saling menatap. Ia sudah


siap akan amukan istrinya itu.


"Morning sayang," ucap Ellard mengecup kilat bibir Ara.


Ara


bergeming. Masih menatap lekat iris tegas dihadapannya. Mata itu sudah


tidak semengerikan semalam. Tatapan itu berubah lembut dan ada seulas


senyum yang begitu manis di wajah tampannya. Sekelebat ingatan


percintaan mereka semalam terlintas. Ellard sudah mengambil kesucian


yang selama 21 tahun ini dijaganya. Ingin sekali dia berteriak memaki


lelaki ini, tapi ia tidak bisa. Kenyataan bahwa Ellard adalah suaminya.


Lelaki yang berhak sepenuhnya atas tubuhnya.


Bulir


bening jatuh begitu saja dari kedua sudut matanya. Sedetik kemudian ia


terisak hingga membuat Ellard terpaku. Ellard menangkup wajah Ara,


menyeka air mata itu.


"Shhh.. Apakah sakit" Ellard mengecup kedua mata Ara bergantian begitu lembut.


"I"m sorry, Ara..." Ellard membelai wajah Ara


"Jahat...


egois— kau suami jahat..." isak Ara sambil memukuli lemah dada Ellard


"ka-kau tidak mau mendengarkan penjelasanku..." sambungnya senggugukan


Ellard memilih diam. Membiarkan istrinya melampiaskan semua unek-uneknya.


"Ri—Richard


temanku, dia cuma mengundangku datang ke acara ulang tahunnya. Tapi kau


malah mengacaukannya. Dan bukan hanya itu— kau juga memberitahukan


hubungan kita. kau ingkar janji— aku membencimu..." Ara menunduk terus


memukuli dada Ellard


Ellard menyentuh dagu Ara, mendongakkan,


"untuk


itu aku minta maaf— tapi aku tidak akan menyesali semua yang sudah


kulakukan. Kau istriku, dunia harus tahu itu. dan seperti yang telah kau


katakan tadi Ara— aku suami jahat dan egois. Karna itu aku tidak


mengijinkan Richard atau pemuda manapun untuk berdekatan apalagi


bersentuhan denganmu. Semalam kau sudah melihat sebagian dari diriku


yang lain. Maka dari itu jangan memaksaku untuk masuk terlalu dalam pada


kegelapanku yang sebenarnya. Kau tidak akan berharap melihatnya


sayang,"


Tangan Ara mendingin, Ellard terlihat


Saat ini ia teramat dominan dan menyeramkan. Ellard menyematkan kecupan


pelan di rahang Ara yang masih membeku.


"Dan untuk ini—"


Ara


terkesiap ketika dari balik selimut, tangan Ellard merayap ke area


pribadinya yang masih tidak memakai apapun, membelainya lembut dan


hati-hati.


"Pasti masih sakit. Nanti setelah


mandi akan kuobati biar perinya berkurang," sambungnya begitu santai


disertai rasa kahwatir yang bersamaan.


Ara


menelan salivanya susah payah. Wajahnya memerah menahan malu atas ucapan


vulgar Ellard yang begitu enteng. Tubuhnya memang terasa remuk habis,


pegal, seluruh tulangnya hampir patah. Ellard benar-benar seperti anjing


gila menerkamnya semalam.


"Hentikan, Ak—aku baik-baik saja," sangkalnya tergagap


"Benarkah?"


Ellard menyeringai jahat. Ia benar-benar tidak suka Ara berbohong.


Dengan sengajah dia menekan masuk sedikit kuat dua jarinya pada pusat


tubuh istrinya.


"Akkh!! Ellard sakitttt, hikss"


Ara memekik kuat. Pertahanannya runtuh. Ia menangis tersedu-sedu sambil


menghalau tangan jahil Ellard dari sana.


Ellard


terkekeh gemas, "Makanya jadi istri jangan suka bohongi suami. Udah


jangan nangis lagi. Nanti aku obatin, aku tanggung jawab kok," tangannya


mengusap-usap punggung polos Ara lalu mengecup dahinya hangat.


"Menyingkir dariku—" sembur Ara kesal dengan pundak yang naik turun. Mencoba melepaskan diri dari pelukan Ellard.


"Enggak


mau," Ellard semakin mengeratkan belitannya. "Kita lanjut tidur lagi.


Kau masih butuh istirahat yang banyak," lanjutnya langsung memejamkan


mata


"Tapi kita harus ke kantor—"


"Kita cuti sampai tiga hari kedepan sayang. Sampai kau bisa berjalan dengan baik,"


Ara menatap Ellard horror. Memangnya siapa pelaku yang membuatnya sampai begini "Kau—"


"Tidur atau kutidurin lagi? Pilih mana?" ancamnya memotong


Ellard


tersenyum kecil ketika tidak merasakan lagi rontaan Ara. Seperti biasa,


istrinya itu akan langsung menurut begitu mendengar ancamannya. Ck, menggemaskan sekali.


Ia menarik kembali selimut yang sedikit melorot hingga tubuh polos


keduanya tertutupi dengan sempurna. Ia menumpuhkan dagunya pada puncak


kepala Ara lalu tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Ara, memancing


kantuk istrinya itu kembali.


****


Tepat


setelah tiga hari berlalu Ellard dan Ara kembali bekerja. Mobil mereka


kini berhenti tepat di depan gedung perusahaan. Ellard langsung keluar


begitu seorang bodyguard membukakan pintu mobil untuknya. Dengan langkah


tegap dia berjalan memutar memasuki lobby kantor, namun baru beberapa


langkah kakinya terhenti, begitu menyadari ada yang kurang.


Astaga gadis itu...


Tok Tok tok

__ADS_1


Ellard mengetuk jendela pintu mobilnya, lalu tidak berapa lama kemudian seseorang membuka sedikit kaca mobil itu dari dalam.


"Keluar," suruhnya datar


Ara nyengir, "Bisakah aku masuk belakangan? nanti tunggu aku turun didepan sana terus mas—"


"Keluar atau kucium sekarang di depan mereka," Ellard tersenyum miring


Ara menjatuhkan rahangnya.


Hell, pria bossy ini memang...


Dengan


lambat-lambat Ara keluar dari mobil. Ia terus menunduk, tidak berani


menatap ke sekeliling yang Ara yakini sekarang ada banyak orang yang


sedang melihat ke arah mereka. Sejak dari rumah tadi segala cara ia


sudah lakukan agar tidak berangkat bersama dengan Ellard. Namun pria


itu, dengan segala ancaman dan ke aroganannya selalu berhasil membuat


Ara tidak mampu berkutik.


"Apakah lantai itu lebih menarik dibandingkan aku?" sinis Ellard. Ia menarik rapat Ara ke sisinya.


"Tegakkan


kepalamu. Berjalanlah dengan anggun. Ingat, kau istri dari pemilik


perusahaan ini. Seharusnya mereka yang menunduk hormat, bukan dirimu"


tutur Ellard, tangannya mendongakkan wajah Ara


"Tap—tapi aku tidak butuh dihormati, aku hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa jadi sorotan begini" cicit Ara


"Ck,


simpan saja keinginanmu itu. Ayo jalan, kau sudah membuang banyak


waktuku" tandas Ellard mengenggam erat tangan Ara memasuki lobby kantor.


Sepanjang


perjalanan Ara berusaha menekan rasa malunya dan menulikan


pendengarannya ketika beberapa karyawan ada yang menatapnya tidak suka


dan berbisik mencibir yang masih dapat didengar oleh telinganya.


"Benarkah gadis magang itu istrinya bos?"


"Ya ampun, lihatlah bodynya? Aku tidak menyangka selera bos kita yang begituan? Clarissa jauh lebih cocok dengan si bos"


"Aku rasa Pak Ellard diapa-apain tuh sama gadis gendut itu makanya si bos mau sama dia"


"Yahh, padahal aku pengennya Pak Ellard sama Clarissa. Perfect banget mereka kalo jadi pasangan, "


"Manis sih, tapi tetap tidak cocok sama Pak Ellard yang perfect"


Dan blablablablaaa...


Astaga,


sebegitu buruknya kah dia? Mata Ara memanas dan tangannya yang bebas


mengepal kuat. Sekuat tenaga ia menahan cairan itu jangan sampai keluar.


Sementara Ellard tampak tidak peduli. Ia terus melangkah mengandeng


tangan Ara tanpa berminat menegur karyawan yang membicarakan mereka.


Biarlah, kehidupnya memang akan terus mendapat perhatian public.


****


"Kak, apa yang bisa saya kerjakan? Sejak tadi saya belum diberi tugas," tanya Ara.


Benar.


Sejak duduk di dalam ruangannya hingga hampir mendekati jam makan


siang, tak satu pun pekerjaan yang diberikan padanya. Biasanya ketika


kakinya baru masuk saja, Emma dengan nada memerintahnya, langsung


memberikan tumpukan dokumen padanya untuk segera diselesaikan. Namun


sejak tadi gadis itu sama sekali tidak memberikannya pekerjaan satu pun.


Emma yang terbiasa santai sejak kehadirannya, sekarang seakan mendadak


seperti sibuk dengan laporan-laporannya. Sejak masuk tadi, gadis itu


menolak untuk bertatapan langsung dengannya—seakan berusaha menghindari


dirinya.


"Ti—tidak ada. Laporan hari ini tidak banyak. Kau bisa bersantai dulu," jawab Emma yang tiba-tiba lembut.


Ara menghela nafas. Pasti ini karna seluruh kantor sudah mengetahui siapa dirinya disini. Inilah yang paling tidak disukainya.


"Jangan


begitu kak. Aku tahu hari ini ada begitu banyak laporan yang harus


segera disusun. Berikan padaku sebagian, biar cepat selesai." pinta Ara


lalu mengambil beberapa tumpuk dokumen di meja Emma


"Tapi beneran ini sedik--"


"Jangan


mengistimewakanku hanya karna seluruh kantor sudah tahu siapa


sebenarnya aku. Aku disini sebagai mahasiswi magang, bawahan kakak. jadi


perlakukan aku seperti yang sebelum-sebelumnya kak. Tidak perlu merasa


tidak enak begitu," potong Ara memohon.


Emma diam sejenak, kepanikan terlihat jelas diwajahnya.


"Maafkan


aku Ara, karna selama satu bulan ini aku sudah memperlakukanmu dengan


tidak baik," Emma menunduk menyesali perbuatannya. "aku mohon jangan


mengaduhkanku dengan Pak Ellard. Aku bisa dipecat dan kehilangan


pekerjaan ini," sambungnya dengan suara yang sudah serak dan mata


berkaca-kaca.


Ara melangkah sedikit mendekat lalu menepuk-nepuk pelan bahu Emma yang bergetar. Ia tersenyum lembut.


"Tidak


perlu minta maaf. Kakak sudah melakukan tugas dengan baik. Dan lagi,


aku tidak pernah keberatan dengan itu ataupun mengaduhkanmu. It's oke...


Semuanya baik-baik saja,"


Detik itu juga Emma


menangis. Dia tidak menyangka kalau Ara malah membalas perlakuannya


sebaik ini. Padahal berulang kali ia sudah sengajah mengerjai istri


bosnya itu. Ketika kabar Ara adalah istri dari pemilik perusahaan


tempatnya bekerja menyebar luas, sontak Emma memucat. Ia takut akan


segera dibuang dari pekerjaannya, mengingat perlakuan semena-menanya


selama ini pada Ara, yang notabenenya adalah istri yang sangat disayangi


oleh bos mereka.


"Te-terimakasih Ara... Kau


sangat baik, aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu" Emma terguguh,


ia langsung berhambur memeluk Ara. Sementara Ara sempat berjengit tapi


segera membalas pelukan dan tersenyum hangat.


“kalau begitu jadilah temanku disini,” ucap Ara


Emma melepas pelukannya, memandang tak percaya Ara “A-apa? Kau masih mau menjadi temanku setelah semuanya—”


“Kenapa


tidak?” potong Ara cepat, “Semua orang pernah melakukan kesalahan.


Tidak ada manusia yang sempurna. Seperti yang kakak lihat, aku pun tidak


sempurna. Karna itu— maukah kakak menjadi temanku?” pinta Ara dengan


mata yang berbinar


Emma menyeka kasar airmatanya


sebelum kemudian mengangguk antusias disertai senyum bahagianya. “Tentu


Ara— tidak alasan untuk menolak gadis sebai dirimu“


Keduanya


sama-sama tersenyum senang. Ara bahagia, akhirnya temannya bertambah


lagi dikantor ini. Setidaknya hal ini sedikit menghiburnya.


To be continued


Aurora Beatrix Louis



Ellard O'Neill Miller



Seperti biasa, sertakan vote, like dan tanggapan kalian guysss*^O^*


See you next part...

__ADS_1


IG: @rianitasitumorangg


__ADS_2