
Ellard langsung memasukkan tubuh Ara ke dalam mobil
disusul olehnya tidak lama kemudian. Tancapan pedal gas yang diinjak
keras, membuat mobil itu melesat kilat. Ara tidak pernah melihat atau
membayangkan Ellard ternyata memiliki sisi gelap yang begitu pekat.
Lelaki itu menyetir mobil bak kesetanan. Tidak ada yang berbicara, bibir
keduanya bungkam seribu bahasa dengan dada yang berdentam cepat.
Sekitar
lebih dari tiga puluh menit, Ellard menghentikan mobilnya secara
serampangan yang hampir saja menabrak para penjaga yang sedang berjaga
disana. Saat Ara masih belum selesai dengan keterkejutannya, Ellard
telah kembali menarik tangannya agar cepat keluar, membawa tubuhnya
masuk ke dalam lift dan menekan lantai lima.
"El—Ellard—"
Ellard
tidak menyahut, ekspresinya terlihat dingin dan kembali menyeret tangan
Ara memasuki sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar mereka. dengan
debam menggelegar, pintu ditendang Ellard sekuat tenaga disusul tubuh
Ara yang dihempaskan ke tengah ranjang.
Ellard
dengan cepat menindih tubuhnya, mengunci segala bentuk perlawanan Ara
yang hendak kabur. Mencengkram rahang Ara, ******* dengan kasar bibirnya
tanpa ampun. Dia sama sekali tidak berbicara, tidak mengatakan apa-apa,
tetapi Ellard yang seperti ini tidak Ara kenali sama sekali. Tidak ada
kelembutan seolah tubuh tinggi yang menindihnya ini telah dirasuki
iblis.
"El, lepas—kan!" Ara melawan, berusaha
menghindari ciuman kasar Ellard. Namun sama sekali tak berhasil. Ara
menangis, air matanya luruh. Isakannya sama sekali tidak di
pedulikannya. Embusan nafas hangat Ellard menerpa tengkuk Ara yang
berkeringat, dan helai rambutnya disingkirkan dan dikumpulkan ke satu
sisi. Ellard menurunkan kepala, mencecap tengkuk Ara dengan deru nafas
yang tersengal pelan. Ara kembali berusaha berontak saat Ellard membuka
satu per satu kemeja navy-nya.
"Ellard, bukan
seperti ini. Tolong, lepaskan, tolong... jangan seperti ini...," Ara
memohon. Terus berusaha mendorong, memukul, menendang serampangan,
tetapi tidak sedikit pun berhasil menghentikan menjamah tubuhnya disemua
bagian. Ia kewalahan. Tubuhnya yang besar tak sedikit pun membantu
untuk lolos dari serangan brutalnya.
"Ak—aku
minta maaf... tolong maafkan aku...," isak Ara berharap suaminya akan
luluh. Dia tahu darimana asal Lelaki ini begitu semurka ini.
Kepergiannya yang tidak meminta ijin lebih dulu ditambah lagi dia pergi
menghadiri acara seorang teman lelaki dan berpelukan disana, itulah
penyebabnya. Ia melupakan satu hal, kenyataan bahwa Ellard adalah pria
yang sangat possessive terhadap dirinya. Yah, suaminya itu pernah mengingatkannya untuk jangan sekalipun bersentuhan dengan lelaki lain.
Ellard menghentikan aksinya. Dia mengangkat wajahnya memandang Ara yang terguguh. Ellard menatapnya dalam diam.
"Aku minta maaf— aku tidak akan melakukannya lagi...," Ara bergetar. Dia sungguh ketakutan dengan sikap Ellard yang begini.
"Aku
akan memaafkanmu—" Ellard mendekat, membisikkan kata yang membuat
jantung Ara seolah berhenti berdetak, "...setelah kau memberikan hak-ku malam ini,"
"El—Ellard, aku mohon bukankah kita sudah sepakat tentang hal ini... sampai aku siap—"
"Persetan
dengan itu Ara! Aku sudah memberimu kesempatan selama tiga bulan ini.
Namun malam ini kau membuktikan betapa tidak berharganya aku sebagai
suamimu. Bisa-bisanya kau pergi menemui lelaki lain tanpa seijinku. How
dare you baby..." tekannya rendah
"Ak—aku bisa
menjelaskan semuanya El, ini tidak seperti yang kau pikirkan," raung Ara
memohon sambil menautkan kedua telapak tangannya.
"aku
tidak bisa," jawab Ellard. Suaranya tak kalah serak. "malam ini kau
harus menjadi milikku seutuhnya, agar kau menyadari jelas status dan
batasanmu kedepannya," tandas Ellard.
Ara menangis, matanya terpejam dan tangannya meremas seprai kuat-kuat. Detik itu juga Ellard melakukan ucapannya.
"Jangan pernah pergi kemana pun Ara. Kau milikku, seutuhnya milikku,"
Ellard
menaikkan dua tangan Ara, mengabaikan sisi apapun dari dirinya kecuali
kenikmatan tiada tara yang terus menggelung hebat. Merasakan tubuh Ara
yang tidak pernah terjamah oleh siapapun . Membuktikan bahwa
satu-satunya pria yang berhasil memasuki Ara adalah dirinya. Air mata
Ellard pun jatuh dengan dentam dada yang nyaris meledak. Disatu sisi ia
bahagia karna telah menjadi yang pertama dan satu-satunya untuk Ara.
Namun disisi lain hatinya terluka karna nyatanya Ara tidak pernah rela
disentuh olehnya. Mungkin setelah malam ini, Ara akan membencinya. Tapi
biarlah. Lebih baik begitu daripada Ara meninggalkan dirinya suatu saat
nanti. Dia akan membuat Ara mengandung anaknya hingga mereka semakin
terikat.
****
Sang
mentari telah naik. Memancarkan sinarnya yang menyilaukan. Sinar itu
berhasil menyelinap masuk melalui celah gorden, membuat dua sosok yang
masih bergelung nyaman dibawah selimut dengan tubuh polos tanpa sehelai
benang pun, merasakan hangatnya sedikit sinar tersebut. Ellard mengerang
pelan, mata coklat madunya perlahan terbuka. Mengerjap beberapa kali
sebelum akhirnya benar-benar sadar sepenuhnya. Ia menurunkan
pandangannya menatap istrinya yang masih terlelap dengan berbantalkan
lengannya.
Sangat...cantik
Ellard
tersenyum menatap lekat, mengagumi wajah putih mulus Ara. Dalam jarak
sedekat ini ia dapat melihat dengan jelas betapa cantiknya gadis itu.
Sekalipun gendut sama sekali tidak berhasil menyamarkan wajah cantik
miliknya. Ellard tidak akan pernah mengijinkan Ara menjadi kurus, dia
harus tetap seperti ini. Karna memiliki bentuk tubuh begini saja, masih
ada saja pria yang berani melirik istrinya, konon lagi kalau Ara-nya
berubah menjadi kurus. Tidak tahu betapa berkali lipat mempesonanya Ara.
Ditambah lagi sikap lemah lembut istrinya ini. Tidak, ia tidak akan
membiarkan Ara berubah. Cukup seperti ini. Tidak akan dibiarkan lebih
banyak lagi pria yang menginginkan istrinya. Sampai saat ini saingan
terbesarnya adalah si Leonard. Karna pria itu masih menduduki tempat
tertinggi dihati Ara. Tapi perlahan dia akan memastikan dapat menggeser
tempat itu dan menggantikan dengan dirinya.
Mengenai
Richard, ia tak menganggapnya suatu ancaman. Hanya saja dia benar-benar
murka semalam ketika melihat lelaki seumuran Ara itu dengan entengnya
__ADS_1
memeluk mesra Ara-nya. Dan Ara, dengan polosnya membiarkan. Karna itu ia
sengajah mengucapkan dengan lantang status hubungan keduanya di depan
para karyawan yang hadir di acara Richard. Ia tidak peduli lagi. Public
harus tahu siapa sebenarnya istrinya. Persetan dengan mereka yang akan
mengeluarkan pendapat apapun.
Telunjuk Ellard
bergerak menelusuri wajah damai Ara. Mulai dari kedua mata yang masih
berjejakkan air mata, turun ke hidung mancung dan terakhir bibir bengkak
rasa strawberry yang semalaman dilahapnya habis-habisan. Dengan
lembut Ellard menyapukan ibu jarinya disana. Semalaman mereka bercinta
gila-gilaan. Ellard meringis ketika mengingat dirinya benar-benar
seperti iblis kelaparan semalam. Nyaris di setiap bagian tubuh Ara
ditinggalkan bekas kepemilikan. Beberapa kali ia menyemburkan banyak
benihnya pada rahim istrinya. Berharap benih itu secepatnya tumbuh
menjadi sesosok janin.
Dalam pelukannya Ara
menggeliat. Mata indah itu perlahan terbuka dan menatap langsung
netranya. Dalam beberapa detik keduanya hanya saling menatap. Ia sudah
siap akan amukan istrinya itu.
"Morning sayang," ucap Ellard mengecup kilat bibir Ara.
Ara
bergeming. Masih menatap lekat iris tegas dihadapannya. Mata itu sudah
tidak semengerikan semalam. Tatapan itu berubah lembut dan ada seulas
senyum yang begitu manis di wajah tampannya. Sekelebat ingatan
percintaan mereka semalam terlintas. Ellard sudah mengambil kesucian
yang selama 21 tahun ini dijaganya. Ingin sekali dia berteriak memaki
lelaki ini, tapi ia tidak bisa. Kenyataan bahwa Ellard adalah suaminya.
Lelaki yang berhak sepenuhnya atas tubuhnya.
Bulir
bening jatuh begitu saja dari kedua sudut matanya. Sedetik kemudian ia
terisak hingga membuat Ellard terpaku. Ellard menangkup wajah Ara,
menyeka air mata itu.
"Shhh.. Apakah sakit" Ellard mengecup kedua mata Ara bergantian begitu lembut.
"I"m sorry, Ara..." Ellard membelai wajah Ara
"Jahat...
egois— kau suami jahat..." isak Ara sambil memukuli lemah dada Ellard
"ka-kau tidak mau mendengarkan penjelasanku..." sambungnya senggugukan
Ellard memilih diam. Membiarkan istrinya melampiaskan semua unek-uneknya.
"Ri—Richard
temanku, dia cuma mengundangku datang ke acara ulang tahunnya. Tapi kau
malah mengacaukannya. Dan bukan hanya itu— kau juga memberitahukan
hubungan kita. kau ingkar janji— aku membencimu..." Ara menunduk terus
memukuli dada Ellard
Ellard menyentuh dagu Ara, mendongakkan,
"untuk
itu aku minta maaf— tapi aku tidak akan menyesali semua yang sudah
kulakukan. Kau istriku, dunia harus tahu itu. dan seperti yang telah kau
katakan tadi Ara— aku suami jahat dan egois. Karna itu aku tidak
mengijinkan Richard atau pemuda manapun untuk berdekatan apalagi
bersentuhan denganmu. Semalam kau sudah melihat sebagian dari diriku
yang lain. Maka dari itu jangan memaksaku untuk masuk terlalu dalam pada
kegelapanku yang sebenarnya. Kau tidak akan berharap melihatnya
sayang,"
Tangan Ara mendingin, Ellard terlihat
Saat ini ia teramat dominan dan menyeramkan. Ellard menyematkan kecupan
pelan di rahang Ara yang masih membeku.
"Dan untuk ini—"
Ara
terkesiap ketika dari balik selimut, tangan Ellard merayap ke area
pribadinya yang masih tidak memakai apapun, membelainya lembut dan
hati-hati.
"Pasti masih sakit. Nanti setelah
mandi akan kuobati biar perinya berkurang," sambungnya begitu santai
disertai rasa kahwatir yang bersamaan.
Ara
menelan salivanya susah payah. Wajahnya memerah menahan malu atas ucapan
vulgar Ellard yang begitu enteng. Tubuhnya memang terasa remuk habis,
pegal, seluruh tulangnya hampir patah. Ellard benar-benar seperti anjing
gila menerkamnya semalam.
"Hentikan, Ak—aku baik-baik saja," sangkalnya tergagap
"Benarkah?"
Ellard menyeringai jahat. Ia benar-benar tidak suka Ara berbohong.
Dengan sengajah dia menekan masuk sedikit kuat dua jarinya pada pusat
tubuh istrinya.
"Akkh!! Ellard sakitttt, hikss"
Ara memekik kuat. Pertahanannya runtuh. Ia menangis tersedu-sedu sambil
menghalau tangan jahil Ellard dari sana.
Ellard
terkekeh gemas, "Makanya jadi istri jangan suka bohongi suami. Udah
jangan nangis lagi. Nanti aku obatin, aku tanggung jawab kok," tangannya
mengusap-usap punggung polos Ara lalu mengecup dahinya hangat.
"Menyingkir dariku—" sembur Ara kesal dengan pundak yang naik turun. Mencoba melepaskan diri dari pelukan Ellard.
"Enggak
mau," Ellard semakin mengeratkan belitannya. "Kita lanjut tidur lagi.
Kau masih butuh istirahat yang banyak," lanjutnya langsung memejamkan
mata
"Tapi kita harus ke kantor—"
"Kita cuti sampai tiga hari kedepan sayang. Sampai kau bisa berjalan dengan baik,"
Ara menatap Ellard horror. Memangnya siapa pelaku yang membuatnya sampai begini "Kau—"
"Tidur atau kutidurin lagi? Pilih mana?" ancamnya memotong
Ellard
tersenyum kecil ketika tidak merasakan lagi rontaan Ara. Seperti biasa,
istrinya itu akan langsung menurut begitu mendengar ancamannya. Ck, menggemaskan sekali.
Ia menarik kembali selimut yang sedikit melorot hingga tubuh polos
keduanya tertutupi dengan sempurna. Ia menumpuhkan dagunya pada puncak
kepala Ara lalu tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Ara, memancing
kantuk istrinya itu kembali.
****
Tepat
setelah tiga hari berlalu Ellard dan Ara kembali bekerja. Mobil mereka
kini berhenti tepat di depan gedung perusahaan. Ellard langsung keluar
begitu seorang bodyguard membukakan pintu mobil untuknya. Dengan langkah
tegap dia berjalan memutar memasuki lobby kantor, namun baru beberapa
langkah kakinya terhenti, begitu menyadari ada yang kurang.
Astaga gadis itu...
Tok Tok tok
__ADS_1
Ellard mengetuk jendela pintu mobilnya, lalu tidak berapa lama kemudian seseorang membuka sedikit kaca mobil itu dari dalam.
"Keluar," suruhnya datar
Ara nyengir, "Bisakah aku masuk belakangan? nanti tunggu aku turun didepan sana terus mas—"
"Keluar atau kucium sekarang di depan mereka," Ellard tersenyum miring
Ara menjatuhkan rahangnya.
Hell, pria bossy ini memang...
Dengan
lambat-lambat Ara keluar dari mobil. Ia terus menunduk, tidak berani
menatap ke sekeliling yang Ara yakini sekarang ada banyak orang yang
sedang melihat ke arah mereka. Sejak dari rumah tadi segala cara ia
sudah lakukan agar tidak berangkat bersama dengan Ellard. Namun pria
itu, dengan segala ancaman dan ke aroganannya selalu berhasil membuat
Ara tidak mampu berkutik.
"Apakah lantai itu lebih menarik dibandingkan aku?" sinis Ellard. Ia menarik rapat Ara ke sisinya.
"Tegakkan
kepalamu. Berjalanlah dengan anggun. Ingat, kau istri dari pemilik
perusahaan ini. Seharusnya mereka yang menunduk hormat, bukan dirimu"
tutur Ellard, tangannya mendongakkan wajah Ara
"Tap—tapi aku tidak butuh dihormati, aku hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa jadi sorotan begini" cicit Ara
"Ck,
simpan saja keinginanmu itu. Ayo jalan, kau sudah membuang banyak
waktuku" tandas Ellard mengenggam erat tangan Ara memasuki lobby kantor.
Sepanjang
perjalanan Ara berusaha menekan rasa malunya dan menulikan
pendengarannya ketika beberapa karyawan ada yang menatapnya tidak suka
dan berbisik mencibir yang masih dapat didengar oleh telinganya.
"Benarkah gadis magang itu istrinya bos?"
"Ya ampun, lihatlah bodynya? Aku tidak menyangka selera bos kita yang begituan? Clarissa jauh lebih cocok dengan si bos"
"Aku rasa Pak Ellard diapa-apain tuh sama gadis gendut itu makanya si bos mau sama dia"
"Yahh, padahal aku pengennya Pak Ellard sama Clarissa. Perfect banget mereka kalo jadi pasangan, "
"Manis sih, tapi tetap tidak cocok sama Pak Ellard yang perfect"
Dan blablablablaaa...
Astaga,
sebegitu buruknya kah dia? Mata Ara memanas dan tangannya yang bebas
mengepal kuat. Sekuat tenaga ia menahan cairan itu jangan sampai keluar.
Sementara Ellard tampak tidak peduli. Ia terus melangkah mengandeng
tangan Ara tanpa berminat menegur karyawan yang membicarakan mereka.
Biarlah, kehidupnya memang akan terus mendapat perhatian public.
****
"Kak, apa yang bisa saya kerjakan? Sejak tadi saya belum diberi tugas," tanya Ara.
Benar.
Sejak duduk di dalam ruangannya hingga hampir mendekati jam makan
siang, tak satu pun pekerjaan yang diberikan padanya. Biasanya ketika
kakinya baru masuk saja, Emma dengan nada memerintahnya, langsung
memberikan tumpukan dokumen padanya untuk segera diselesaikan. Namun
sejak tadi gadis itu sama sekali tidak memberikannya pekerjaan satu pun.
Emma yang terbiasa santai sejak kehadirannya, sekarang seakan mendadak
seperti sibuk dengan laporan-laporannya. Sejak masuk tadi, gadis itu
menolak untuk bertatapan langsung dengannya—seakan berusaha menghindari
dirinya.
"Ti—tidak ada. Laporan hari ini tidak banyak. Kau bisa bersantai dulu," jawab Emma yang tiba-tiba lembut.
Ara menghela nafas. Pasti ini karna seluruh kantor sudah mengetahui siapa dirinya disini. Inilah yang paling tidak disukainya.
"Jangan
begitu kak. Aku tahu hari ini ada begitu banyak laporan yang harus
segera disusun. Berikan padaku sebagian, biar cepat selesai." pinta Ara
lalu mengambil beberapa tumpuk dokumen di meja Emma
"Tapi beneran ini sedik--"
"Jangan
mengistimewakanku hanya karna seluruh kantor sudah tahu siapa
sebenarnya aku. Aku disini sebagai mahasiswi magang, bawahan kakak. jadi
perlakukan aku seperti yang sebelum-sebelumnya kak. Tidak perlu merasa
tidak enak begitu," potong Ara memohon.
Emma diam sejenak, kepanikan terlihat jelas diwajahnya.
"Maafkan
aku Ara, karna selama satu bulan ini aku sudah memperlakukanmu dengan
tidak baik," Emma menunduk menyesali perbuatannya. "aku mohon jangan
mengaduhkanku dengan Pak Ellard. Aku bisa dipecat dan kehilangan
pekerjaan ini," sambungnya dengan suara yang sudah serak dan mata
berkaca-kaca.
Ara melangkah sedikit mendekat lalu menepuk-nepuk pelan bahu Emma yang bergetar. Ia tersenyum lembut.
"Tidak
perlu minta maaf. Kakak sudah melakukan tugas dengan baik. Dan lagi,
aku tidak pernah keberatan dengan itu ataupun mengaduhkanmu. It's oke...
Semuanya baik-baik saja,"
Detik itu juga Emma
menangis. Dia tidak menyangka kalau Ara malah membalas perlakuannya
sebaik ini. Padahal berulang kali ia sudah sengajah mengerjai istri
bosnya itu. Ketika kabar Ara adalah istri dari pemilik perusahaan
tempatnya bekerja menyebar luas, sontak Emma memucat. Ia takut akan
segera dibuang dari pekerjaannya, mengingat perlakuan semena-menanya
selama ini pada Ara, yang notabenenya adalah istri yang sangat disayangi
oleh bos mereka.
"Te-terimakasih Ara... Kau
sangat baik, aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu" Emma terguguh,
ia langsung berhambur memeluk Ara. Sementara Ara sempat berjengit tapi
segera membalas pelukan dan tersenyum hangat.
“kalau begitu jadilah temanku disini,” ucap Ara
Emma melepas pelukannya, memandang tak percaya Ara “A-apa? Kau masih mau menjadi temanku setelah semuanya—”
“Kenapa
tidak?” potong Ara cepat, “Semua orang pernah melakukan kesalahan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Seperti yang kakak lihat, aku pun tidak
sempurna. Karna itu— maukah kakak menjadi temanku?” pinta Ara dengan
mata yang berbinar
Emma menyeka kasar airmatanya
sebelum kemudian mengangguk antusias disertai senyum bahagianya. “Tentu
Ara— tidak alasan untuk menolak gadis sebai dirimu“
Keduanya
sama-sama tersenyum senang. Ara bahagia, akhirnya temannya bertambah
lagi dikantor ini. Setidaknya hal ini sedikit menghiburnya.
To be continued
Aurora Beatrix Louis
Ellard O'Neill Miller
Seperti biasa, sertakan vote, like dan tanggapan kalian guysss*^O^*
See you next part...
__ADS_1
IG: @rianitasitumorangg