Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Lima (Seri II)


__ADS_3

“Lama tidak mendengar suara merdumu, istriku


tercinta. Don’t you miss me, Honey?”


Hening.


Aurora sama sekali tidak menyahut. Hanya genggaman tangannya pada ponsel


semakin mengencang, sedang dadanya masih berdentam nyaring. Ellard bersikap


begitu tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apapun.


“Kembalikan


anak-anakku,” tegas Ara setelah berdiam cukup lama


“Who?”


“Nathan


dan Nala. Mereka milikku. Kau tidak bisa membawa mereka begitu saja tanpa


seijinku!”


Ellard


terkekeh rendah, “Kenapa tidak bisa? Aku Ayah kandung mereka. Dan kau….” Ellard


mendesis geram “berani-beraninya menyembunyikan mereka dariku selama empat


tahun ini. How dare you honey,”


Aurora


menggeleng pelan, dia tidak boleh gentar.


“Kita


akan bercerai. Kau sudah menikah dan memiliki anak dari wanita lain. Dan


sekarang dengan seenaknya, kau datang dan membawa anak-anakku ke dalam rumah


kalian. Dimana perasaanmu?!” bentak Aurora dengan dada yang naik turun


“sembilan bulan aku yang mengandung dan melahirkan mereka. Membesarkan mereka


sendirian dengan susah payah. Lalu kau— dimana kau ketika aku melalui semua hal


sulit itu? Bukankah waktu itu kau tengah berbahagia dengan istri dan anakmu?!”


“ITU


KARENA KAU MENYEMBUNYIKANNYA, SIALAN!”


Aurora


tertegun. Ellard tidak pernah membentaknya sekeras itu. Ada jedah beberapa


saat.


“Dan


mengenai pernikahan… kau pikir itu


ide ***** siapa? bukankah kau yang bersikeras menyuruhku lalu setelah itu


dengan pengecutnya, kau meninggalkanku, eh? Berbohong padaku mengenai hasil


pemeriksaan kandunganmu dan bahkan kalau tidak aku sendiri yang datang kesana—


membawa anak-anakku, mungkin sampai mati pun kau tidak akan pernah


mengatakannya padaku! Kau pergi disaat statusmu masih menjadi istriku. Jadi,


coba jelaskan padaku… siapa sebenarnya disini yang bersikap seperti pecundang?”


Skakmat!Terdiam. Aurora benar-benar


tidak dapat mengeluarkan suara lagi untuk membantah semua ucapan Ellard. Semua


yang dikatakan lelaki itu benar. Aurora meneguk ludahnya, entah kemana rasa


marah dan keberaniannya tadi.


“Ah


ya… apa tadi katamu? Cerai?” ungkit


Ellard, masih belum selesai “baiklah, dengan senang hati aku akan


menandatanganinya. Kita berpisah dan dengan begitu hak asuh atas sikembar


otomatis akan jatuh padaku. How? Cukup adil bukan?”


Ellard


berkata santai, tapi Aurora langsung membeku.


“Selama


ini kau ‘sengaja’ menyembunyikan anak-anakku. Ditambah lagi kau begitu ingin


bercerai dariku, bukankah dengan ini, hak asuh sepenuhnya akan menjadi milik


Ayah mereka?”


“Ellard!


Kau tidak bisa melakukan itu!”


“Kenapa


tidak? bukankah sudah aku bilang akan mengambil mereka? Aku tidak peduli


denganmu. Mereka milikku. Anak-anakku. Tidak akan aku biarkan kau membuat


anak-anakku menganggap lelaki lain ayahnya!”


Air


mata Aurora jatuh. Ellard benar-benar kejam. Jika ia memang berniat melakukan


itu, Nathan dan Nala tidak akan pernah memanggilnya Papa! Hanya Ellard ayah


mereka.


“Ellard…


Please…,” mohon Aurora pada akhirnya. Sadar, ia tidak akan pernah bisa melawan


Ellard. “kau memiliki semuanya. Kau juga bisa mendapatkan segalanya, El! Tapi


sikembar… mereka punyaku satu-satunya… kau bisa mengambil apapun dariku.


Apapun. Asal bukan mereka.”


Hening


cukup lama.


“Satu


syarat dan mereka akan menjadi milikmu. Aku tidak akan berusaha mengambilnya


lagi.” ucap Ellard dingin


Aurora


menelan ludah, menghapus air matanya.

__ADS_1


“Apa


syaratnya?” tanyanya ragu-ragu


“Kembali


kesisiku. Semudah itu.”


Terdiam.


Lidah Aurora kelu, ucapan Ellard sangat mengganggu pikirannya.


“Waktumu


berpikir sampai besok pagi. Aku dan anak-anak menunggumu dibandara sampai jam



Lebih dari itu, jangan sesali tindakanku,” tegas Ellard penuh ancaman lalu


telepon di putus.



Aurora


menjatuhkan ponselnya. Tubuhnya lemas. Dia tidak habis pikir dengan Ellard


O’Neill Miller.


****


Panggilan


terputus. Ellard menatap datar ponsel ditangannya. Ternyata waktu empat tahun


sama sekali tidak membuat Aurora berubah. Malahan semakin mengeraskan hati. Ia


jadi bertanya-tanya, benarkah pernyataan cinta yang keluar dari mulut Aurora


dulu? atau hanya sekedar ungkapan untuk menyenangkan hatinya?


Menikah dan Cerai.Dua kata yang paling membuatnya


muak. Dan sekali lagi kata itu masih keluar dengan mudahnya dari mulut Aurora.


Apakah dimata wanita itu, pernikahan mereka sama sekali tidak ada artinya? Semenyakitkan


itukah untuk bertahan dengannya?


PRAKK


Ellard


membanting ponselnya sekuat tenaga ke dinding ruangan hingga membuat benda


pipih itu hancur tak berbentuk. Deruh nafasnya tidak teratur. Tangannya


mengepal kuat hingga urat tangannya tercetak jelas. Sesak. Hatinya begitu sakit


ketika menerima penolakan dari istrinya untuk kesekian kalinya. Dia


memperjuangkan rumah tangganya mati-matian, tapi Aurora sama sekali tidak bisa


diajak bekerja sama. Setidaknya demi anak-anak mereka pun tidak. Wanita itu


hanya bisa terus-terusan melarikan diri.


Tapi


jangan harap untuk kali ini dia akan membiarkannya lari lagi. Ellard memiliki


kelemahan wanitanya itu. Anak-anak mereka. Tadi ia sengaja menggertak Aurora


dengan membawa pergi sikembar. Ia ingin melihat bagaimana respon Ara. Berhasil,


Ara-nya sudah seperti singa betina yang mengamuk karna tidak menemukan


segalanya demi mendapatkan anak-anaknya kembali. Dan Ellard memanfaatkan


kesempatan itu. Jika Ara-nya tidak bisa diajak bekerja sama, jangan salahkan ia


yang akan berbuat licik.


Dalam


suasana ruangan yang tamaran, Ellard menyeringai jahat. Lalu sedetik kemudian


ia tertawa rendah, kala mengingat celotehan si kembar sore tadi— mengatakan


bahwa mereka sangat menyanyangi Leo. Apalagi Nala, putrinya sangat mengidolakan


lelaki itu. tak henti-hentinya Nala menyanjung Leo didepannya. Sialan, jadi


selama empat tahun ini, si ******** Leonard mengetahui keberadaan mereka dan telah


bersama-sama dengan mereka. Lelaki itu ternyata belum berhenti mengejar


Ara-nya. Peringatannya yang terakhir kali sama sekali tidak diindahkannya.


“Axcel


Gabriel Leonard… baiklah, sepertinya kali ini aku memang benar-benar harus


membunuhmu. Kau sudah bertindak terlampau jauh dengan milikku,” desis Ellard


dengan seringaian kejam.


“Papa…”


Ellard


tersentak mendengar suara lembut itu. Menoleh, ia mendapati Nathan tengah


berdiri di dekat pintu ruangan yang terbuka dengan sebelah tangan yang mengucek


mata.


“Hai,


boy…” sahut Ellard seketika langsung berubah lembut. Ia menghampiri Natahan dan


langsung menggendong tubuh kecilnya. “kenapa bangun, hm?” tanyanya seraya


mencium gemas pipi apel Nathan


“Aku


haus,” kelu Nathan “mau minum, Papa”


“Baiklah,


kalau begitu kita kedapur. Jagoan Papa harus segera minum dan kembali bobo”


seru Ellard dan langsung beranjak kedapur.


Setelah


dirasa cukup, Ellard membawa Natahan kembali kekamar dan membaringkannya


disebelah Nala yang tertidur pulas sambil mendekap boneka beruang sebesar tubuhnya.


“Baiklah,


sekarang jagoan Papa bobo lagi, hm” ucap Ellard, turut membaringkan diri dengan


keduanya dengan tangan menepuk-nepuk pelan punggung Nathan


“Papa…”

__ADS_1


“Hm?”


“Mama


kapan datang? Natahan rindu” tanya Natahan ditengah uapannya


“Besok


sayang.”


“Really,


Papa?”


Ellard


tersenyum mengangguk. Ia mencium dalam puncak kepala Natahan.


“Besok


kita pulang kerumah kita yang ada di Manhattan— bersama Mama” sahut Ellard


mantap. Begitu yakin jika Ara akan datang dan turut pergi bersama mereka.


“Horayyy…


we go home together. I can’t wait, Papa!!” Natahan bersorak senang


“Papa


juga, boy” kekeh Ellard, menciumi gemas seluruh wajah Natahan. “Ok, sekarang


waktunya benar-benar tidur,” timpalnya dan segera membawa masuk kedua tubuh


anaknya ke dalam dekapan. Memeluk kedua buah hatinya dalam perasaan hangat yang


membanjiri.


****


“Papa,


kenapa Mama belum datang juga?” rengek Nala untuk kesekian kali. Gadis kecil


itu berada dalam gendongan Ellard, yang sejak tadi berusaha memberi ketenangan.


Sedang Natahan, ia digendong oleh Blake. Mereka saat ini tengah berdiri di


landasan pacu, tak jauh dari jet pribadi milik Ellard


Ellard


menghebuskan napas pelan, “sebentar lagi, Princess” bujuk Ellard, mencium


bergantian mata putrinya yang kini berair.


“No,


Papa… ini sudah lama,” Nala mencebik menahan tangis


“Papa


benar, Mama pasti datang Nala. Sebentar lagi,” timpal Nathan memberi pengertian


dari balik gendongan Blake. “Mama pasti kena macet. Kan jalan dari rumah suster


Anna kesini sangat jauh,”


Melihat


sikap Nathan yang sedikit lebih dewasa dari Nala, membuat senyum Ellard terbit.


Tangannya terulur mengacak pelan rambut halus putranya.


“Benar,


Papa?” tanya Nala memastikan


Ellard


mengangguk cepat, “Kakakmu benar, Princess. Sebentar lagi Mama pasti datang,”


jawab Ellard sambil membelai pipi chubby Nala.


Setelah


Nala cukup tenang, Ellard memutuskan menyuruh para pramugarinya membawa kedua


anaknya masuk lebih dulu kedalam jet. Ia segera mengecek ponsel dan berharap


Ara mengiriminya pesan. Namun nihil. Tidak ada pesan atau panggilan apapun


disana. Kenyataan itu membuat Ellard kecewa berat. Waktu yang diberikan pada


Ara telah lewat. Namun tidak ada tanda-tanda wanita itu akan muncul.


Ellard


tertawa sumbang dengan tangan yang meremas kuat ponsel. Sial, apa sekarang


wanita itu benar-benar sudah tidak peduli lagi pada mereka? Apa dia lebih


memilih untuk tetap bersama si ******** itu?


Ellard


menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Sungguh, kemarahan kini tengah


menggelegak dalam dirinya. Ia tidak bisa menerima Ara-nya benar-benar tidak


datang. Demi apapun, ingin saja rasanya sekarang dia menarik paksa wanita itu


agar ikut bersama mereka.


“Tuan,


sudah waktunya berangkat,” ucap Blake mengingatkan, yang sejak tadi berada


disisinya


Ellard


membuka mata. Ia menatap datar pada Blake sebentar, lalu beralih pada ponsel


genggamnya. Ia mendial sebuah nomor yang sudah dihapal diluar kepala. Dan mengetikkan


sesuatu disana sebelum dikirim.


Waktumu habis. Sepertinya


kau lebih memilih melepaskan anak-anakmu daripada bertahan disisiku. Then


enough for me. Sampai jumpa dipersidangan dan selamat… setelah ini jangan harap


kau bisa menemui anak-anakku lagi.


“Ayo


berangkat” ucap Ellard dengan nada rendah.


Setelah


mengatakan itu, Ellard menghela langkah menujuh Jet miliknya diikuti oleh Blake


dan beberapa bodyguard dari belakangnya. Cukup. Ia tidak akan menunggu seperti


orang bodoh lagi.


To be continued

__ADS_1


Info TH ada di IG: rianitasitumorangg


See youuu


__ADS_2