
“Lama tidak mendengar suara merdumu, istriku
tercinta. Don’t you miss me, Honey?”
Hening.
Aurora sama sekali tidak menyahut. Hanya genggaman tangannya pada ponsel
semakin mengencang, sedang dadanya masih berdentam nyaring. Ellard bersikap
begitu tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apapun.
“Kembalikan
anak-anakku,” tegas Ara setelah berdiam cukup lama
“Who?”
“Nathan
dan Nala. Mereka milikku. Kau tidak bisa membawa mereka begitu saja tanpa
seijinku!”
Ellard
terkekeh rendah, “Kenapa tidak bisa? Aku Ayah kandung mereka. Dan kau….” Ellard
mendesis geram “berani-beraninya menyembunyikan mereka dariku selama empat
tahun ini. How dare you honey,”
Aurora
menggeleng pelan, dia tidak boleh gentar.
“Kita
akan bercerai. Kau sudah menikah dan memiliki anak dari wanita lain. Dan
sekarang dengan seenaknya, kau datang dan membawa anak-anakku ke dalam rumah
kalian. Dimana perasaanmu?!” bentak Aurora dengan dada yang naik turun
“sembilan bulan aku yang mengandung dan melahirkan mereka. Membesarkan mereka
sendirian dengan susah payah. Lalu kau— dimana kau ketika aku melalui semua hal
sulit itu? Bukankah waktu itu kau tengah berbahagia dengan istri dan anakmu?!”
“ITU
KARENA KAU MENYEMBUNYIKANNYA, SIALAN!”
Aurora
tertegun. Ellard tidak pernah membentaknya sekeras itu. Ada jedah beberapa
saat.
“Dan
mengenai pernikahan… kau pikir itu
ide ***** siapa? bukankah kau yang bersikeras menyuruhku lalu setelah itu
dengan pengecutnya, kau meninggalkanku, eh? Berbohong padaku mengenai hasil
pemeriksaan kandunganmu dan bahkan kalau tidak aku sendiri yang datang kesana—
membawa anak-anakku, mungkin sampai mati pun kau tidak akan pernah
mengatakannya padaku! Kau pergi disaat statusmu masih menjadi istriku. Jadi,
coba jelaskan padaku… siapa sebenarnya disini yang bersikap seperti pecundang?”
Skakmat!Terdiam. Aurora benar-benar
tidak dapat mengeluarkan suara lagi untuk membantah semua ucapan Ellard. Semua
yang dikatakan lelaki itu benar. Aurora meneguk ludahnya, entah kemana rasa
marah dan keberaniannya tadi.
“Ah
ya… apa tadi katamu? Cerai?” ungkit
Ellard, masih belum selesai “baiklah, dengan senang hati aku akan
menandatanganinya. Kita berpisah dan dengan begitu hak asuh atas sikembar
otomatis akan jatuh padaku. How? Cukup adil bukan?”
Ellard
berkata santai, tapi Aurora langsung membeku.
“Selama
ini kau ‘sengaja’ menyembunyikan anak-anakku. Ditambah lagi kau begitu ingin
bercerai dariku, bukankah dengan ini, hak asuh sepenuhnya akan menjadi milik
Ayah mereka?”
“Ellard!
Kau tidak bisa melakukan itu!”
“Kenapa
tidak? bukankah sudah aku bilang akan mengambil mereka? Aku tidak peduli
denganmu. Mereka milikku. Anak-anakku. Tidak akan aku biarkan kau membuat
anak-anakku menganggap lelaki lain ayahnya!”
Air
mata Aurora jatuh. Ellard benar-benar kejam. Jika ia memang berniat melakukan
itu, Nathan dan Nala tidak akan pernah memanggilnya Papa! Hanya Ellard ayah
mereka.
“Ellard…
Please…,” mohon Aurora pada akhirnya. Sadar, ia tidak akan pernah bisa melawan
Ellard. “kau memiliki semuanya. Kau juga bisa mendapatkan segalanya, El! Tapi
sikembar… mereka punyaku satu-satunya… kau bisa mengambil apapun dariku.
Apapun. Asal bukan mereka.”
Hening
cukup lama.
“Satu
syarat dan mereka akan menjadi milikmu. Aku tidak akan berusaha mengambilnya
lagi.” ucap Ellard dingin
Aurora
menelan ludah, menghapus air matanya.
__ADS_1
“Apa
syaratnya?” tanyanya ragu-ragu
“Kembali
kesisiku. Semudah itu.”
Terdiam.
Lidah Aurora kelu, ucapan Ellard sangat mengganggu pikirannya.
“Waktumu
berpikir sampai besok pagi. Aku dan anak-anak menunggumu dibandara sampai jam
Lebih dari itu, jangan sesali tindakanku,” tegas Ellard penuh ancaman lalu
telepon di putus.
Aurora
menjatuhkan ponselnya. Tubuhnya lemas. Dia tidak habis pikir dengan Ellard
O’Neill Miller.
****
Panggilan
terputus. Ellard menatap datar ponsel ditangannya. Ternyata waktu empat tahun
sama sekali tidak membuat Aurora berubah. Malahan semakin mengeraskan hati. Ia
jadi bertanya-tanya, benarkah pernyataan cinta yang keluar dari mulut Aurora
dulu? atau hanya sekedar ungkapan untuk menyenangkan hatinya?
Menikah dan Cerai.Dua kata yang paling membuatnya
muak. Dan sekali lagi kata itu masih keluar dengan mudahnya dari mulut Aurora.
Apakah dimata wanita itu, pernikahan mereka sama sekali tidak ada artinya? Semenyakitkan
itukah untuk bertahan dengannya?
PRAKK
Ellard
membanting ponselnya sekuat tenaga ke dinding ruangan hingga membuat benda
pipih itu hancur tak berbentuk. Deruh nafasnya tidak teratur. Tangannya
mengepal kuat hingga urat tangannya tercetak jelas. Sesak. Hatinya begitu sakit
ketika menerima penolakan dari istrinya untuk kesekian kalinya. Dia
memperjuangkan rumah tangganya mati-matian, tapi Aurora sama sekali tidak bisa
diajak bekerja sama. Setidaknya demi anak-anak mereka pun tidak. Wanita itu
hanya bisa terus-terusan melarikan diri.
Tapi
jangan harap untuk kali ini dia akan membiarkannya lari lagi. Ellard memiliki
kelemahan wanitanya itu. Anak-anak mereka. Tadi ia sengaja menggertak Aurora
dengan membawa pergi sikembar. Ia ingin melihat bagaimana respon Ara. Berhasil,
Ara-nya sudah seperti singa betina yang mengamuk karna tidak menemukan
segalanya demi mendapatkan anak-anaknya kembali. Dan Ellard memanfaatkan
kesempatan itu. Jika Ara-nya tidak bisa diajak bekerja sama, jangan salahkan ia
yang akan berbuat licik.
Dalam
suasana ruangan yang tamaran, Ellard menyeringai jahat. Lalu sedetik kemudian
ia tertawa rendah, kala mengingat celotehan si kembar sore tadi— mengatakan
bahwa mereka sangat menyanyangi Leo. Apalagi Nala, putrinya sangat mengidolakan
lelaki itu. tak henti-hentinya Nala menyanjung Leo didepannya. Sialan, jadi
selama empat tahun ini, si ******** Leonard mengetahui keberadaan mereka dan telah
bersama-sama dengan mereka. Lelaki itu ternyata belum berhenti mengejar
Ara-nya. Peringatannya yang terakhir kali sama sekali tidak diindahkannya.
“Axcel
Gabriel Leonard… baiklah, sepertinya kali ini aku memang benar-benar harus
membunuhmu. Kau sudah bertindak terlampau jauh dengan milikku,” desis Ellard
dengan seringaian kejam.
“Papa…”
Ellard
tersentak mendengar suara lembut itu. Menoleh, ia mendapati Nathan tengah
berdiri di dekat pintu ruangan yang terbuka dengan sebelah tangan yang mengucek
mata.
“Hai,
boy…” sahut Ellard seketika langsung berubah lembut. Ia menghampiri Natahan dan
langsung menggendong tubuh kecilnya. “kenapa bangun, hm?” tanyanya seraya
mencium gemas pipi apel Nathan
“Aku
haus,” kelu Nathan “mau minum, Papa”
“Baiklah,
kalau begitu kita kedapur. Jagoan Papa harus segera minum dan kembali bobo”
seru Ellard dan langsung beranjak kedapur.
Setelah
dirasa cukup, Ellard membawa Natahan kembali kekamar dan membaringkannya
disebelah Nala yang tertidur pulas sambil mendekap boneka beruang sebesar tubuhnya.
“Baiklah,
sekarang jagoan Papa bobo lagi, hm” ucap Ellard, turut membaringkan diri dengan
keduanya dengan tangan menepuk-nepuk pelan punggung Nathan
“Papa…”
__ADS_1
“Hm?”
“Mama
kapan datang? Natahan rindu” tanya Natahan ditengah uapannya
“Besok
sayang.”
“Really,
Papa?”
Ellard
tersenyum mengangguk. Ia mencium dalam puncak kepala Natahan.
“Besok
kita pulang kerumah kita yang ada di Manhattan— bersama Mama” sahut Ellard
mantap. Begitu yakin jika Ara akan datang dan turut pergi bersama mereka.
“Horayyy…
we go home together. I can’t wait, Papa!!” Natahan bersorak senang
“Papa
juga, boy” kekeh Ellard, menciumi gemas seluruh wajah Natahan. “Ok, sekarang
waktunya benar-benar tidur,” timpalnya dan segera membawa masuk kedua tubuh
anaknya ke dalam dekapan. Memeluk kedua buah hatinya dalam perasaan hangat yang
membanjiri.
****
“Papa,
kenapa Mama belum datang juga?” rengek Nala untuk kesekian kali. Gadis kecil
itu berada dalam gendongan Ellard, yang sejak tadi berusaha memberi ketenangan.
Sedang Natahan, ia digendong oleh Blake. Mereka saat ini tengah berdiri di
landasan pacu, tak jauh dari jet pribadi milik Ellard
Ellard
menghebuskan napas pelan, “sebentar lagi, Princess” bujuk Ellard, mencium
bergantian mata putrinya yang kini berair.
“No,
Papa… ini sudah lama,” Nala mencebik menahan tangis
“Papa
benar, Mama pasti datang Nala. Sebentar lagi,” timpal Nathan memberi pengertian
dari balik gendongan Blake. “Mama pasti kena macet. Kan jalan dari rumah suster
Anna kesini sangat jauh,”
Melihat
sikap Nathan yang sedikit lebih dewasa dari Nala, membuat senyum Ellard terbit.
Tangannya terulur mengacak pelan rambut halus putranya.
“Benar,
Papa?” tanya Nala memastikan
Ellard
mengangguk cepat, “Kakakmu benar, Princess. Sebentar lagi Mama pasti datang,”
jawab Ellard sambil membelai pipi chubby Nala.
Setelah
Nala cukup tenang, Ellard memutuskan menyuruh para pramugarinya membawa kedua
anaknya masuk lebih dulu kedalam jet. Ia segera mengecek ponsel dan berharap
Ara mengiriminya pesan. Namun nihil. Tidak ada pesan atau panggilan apapun
disana. Kenyataan itu membuat Ellard kecewa berat. Waktu yang diberikan pada
Ara telah lewat. Namun tidak ada tanda-tanda wanita itu akan muncul.
Ellard
tertawa sumbang dengan tangan yang meremas kuat ponsel. Sial, apa sekarang
wanita itu benar-benar sudah tidak peduli lagi pada mereka? Apa dia lebih
memilih untuk tetap bersama si ******** itu?
Ellard
menarik napas panjang sambil memejamkan mata. Sungguh, kemarahan kini tengah
menggelegak dalam dirinya. Ia tidak bisa menerima Ara-nya benar-benar tidak
datang. Demi apapun, ingin saja rasanya sekarang dia menarik paksa wanita itu
agar ikut bersama mereka.
“Tuan,
sudah waktunya berangkat,” ucap Blake mengingatkan, yang sejak tadi berada
disisinya
Ellard
membuka mata. Ia menatap datar pada Blake sebentar, lalu beralih pada ponsel
genggamnya. Ia mendial sebuah nomor yang sudah dihapal diluar kepala. Dan mengetikkan
sesuatu disana sebelum dikirim.
Waktumu habis. Sepertinya
kau lebih memilih melepaskan anak-anakmu daripada bertahan disisiku. Then
enough for me. Sampai jumpa dipersidangan dan selamat… setelah ini jangan harap
kau bisa menemui anak-anakku lagi.
“Ayo
berangkat” ucap Ellard dengan nada rendah.
Setelah
mengatakan itu, Ellard menghela langkah menujuh Jet miliknya diikuti oleh Blake
dan beberapa bodyguard dari belakangnya. Cukup. Ia tidak akan menunggu seperti
orang bodoh lagi.
To be continued
__ADS_1
Info TH ada di IG: rianitasitumorangg
See youuu