
Love yahh...
HAPPY READING
.
.
.
Tiga bulan kemudian
Manhattan-New York | 09.00 am
Laptop dibuka, menampilkan foto sosok lembut yang sudah tiga
bulan ini tidak dilihatnya. Sangat cantik. Gadis itu berhasil melewati
program dietnya. Ia sama sekali tidak terkejut ketika Bella mengirimkan gambar
perubahan drastis istrinya. Sudah ia
katakan sebelumnya bukan, bahwa gadis favoritnya itu memang terlahir sudah sangat
cantik. Bahkan jauh sebelum dirinya melakukan segala program sialan itu. Hanya saja Ara-nya tidak
menyadari kesempurnaan dirinya tersebut.
Tiga bulan berlalu, ia sudah terlalu merindukan Ara-nya.
Merindukan pelukan istrinya, aroma tubuhnya, rengekannya, kicauannya,
kelembutannya dan sikap sok kuatnya. Berulang kali ia berencana ingin terbang
menyusul Ara ke Milan kemudian memaksanya pulang. Namun semuanya hanya
angan-angan. Kedudukaannya sebagai
pemilik perusahaan membuatnya selalu disibukkan dengan banyaknya pekerjaan yang
mengharuskan dirinya untuk turun tangan langsung. Belum lagi segala bentuk protesan gadis itu
yang selalu melarangnya untuk tidak menyusulnya kesana. Ck, sepertinya disini hanya dia yang begitu tersiksa karna merindukannya—
sementara gadis itu tidak.
Dan seharusnya hari ini dia sudah bergelung memeluk istri
pandanya itu— mengurung Ara dalam dekapannya seharian penuh di dalam kamar mereka. Namun
naas, Ara tidak pulang. Jadwal kepulangannya ditunda sampai satu minggu kedepan, dengan alasan yang baginya
sungguh tidak masuk akal. Ia hampir meledak ketika bercakap ditelepon dengan
Ara tadi. Ingin mengumpat dan menghancurkan apa saja yang ada disekitarnya.
Tapi untunglah pengendalian dirinya masih kuat. Alhasil tanpa menunggu segala
bentuk penjelasan istrinya lebih banyak lagi, ia memutuskan sambungan telepon secara
sepihak. Tidak ingin lepas kendali. Ia kecewa. Bayangkan saja, sudah dari
semalaman ia mempersiapkan banyak hal untuk menyambut kepulangan Ara pagi ini, begitu
bersemangatnya. Bahkan nyaris tidak tidur, tapi dengan ringannya istrinya itu
menelepon dan mengatakan kepulangannya dibatalkan.
Fucking Shit!
Seharian raut Ellard menggelap dan muram. Semua bawahan yang
menyapa dilewati begitu saja seolah mereka semua tak kasat mata. Tidak ada yang
berani bertanya saat di ruangan meeting, sebab dia selalu tampak marah setiap
kali mendengar satu saja kalimat salah yang memasuki gendang telinganya. Ia sama sekali tidak bisa fokus. Otaknya
nyaris meledak, ia sudah merindukan Ara-nya begitu banyak.
Setelah meeting selesai, Ellard memutuskan menenangkan
diri—duduk sendirian di rooftop, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya
dan cukup mampu membuat dirinya sedikit tenang.
“Sepertinya suasana hatimu sedang buruk”
Ellard terhenyak, membuka matanya yang sempat terpejam. Ia
mengalihkan tatapannya pada pemilik suara tersebut
“Cla”
Clarisa tersenyum. Ia mengambil tempat tepat disisi Ellard.
“Coffee?” tawarnya seraya menyerahkan satu poci dari
tangannya
“Thank you Cla,” sahutnya sembari langsung meneguk minuman
tersebut.
“Semua karywan terlihat ketakutan melihat dirimu yang
begini”
“Hm, aku tahu”
“Apa ada masalah serius dikantor hari ini?”
“Tidak. Semua baik-baik saja”
“lalu?” Clarisa menaikkan alisnya
Ellard menghela nafas. “Aku hanya begitu merindukan istriku”
“A—ara?” Clarisa tercekat. Tidak menyangka penyebab lelaki
itu uring-uringan adalah istrinya. Sungguh ia tidak pernah melihat sosok Ellard
yang seperti ini. Lelaki ini selalu dapat mengontrol dirinya.
“Hm, seharusnya dia sudah kembali hari ini. Tapi dibatalkan
karna katanya masih ada sedikit urusan disana. Bayangkan betapa kesalnya aku.
Tiga bulan bukanlah waktu yang mudah bagiku tanpa dirinya” ujar Ellard
menengadah menatap langit yang sedikit mendung. Mengingat kembali hari-harinya
tanpa Ara disisinya. Semua terlalu membosankan. Karna itu dia sengaja begitu
banyak menyibukkan diri dengan mengurusi banyak pekerjaan perusahaan agar ia tidak
terlalu memikirkan istrinya.
“Ka-kalau boleh tahu kenapa kamu tiba-tiba memutasi Ara ke Italia?”
Clarisa berusaha bersikap tenang, sekalipun didalam hatinya mulai terasa sesak.
“Saat dia kembali nanti, kamu juga akan mengetahui alasan
kepergiannya. Dia memintaku untuk tidak memberitahu siapapun”
Clarisa tidak menanggapi lagi. Dia juga tidak mau merepotkan
dirinya dengan menanyai alasan kepergian gadis itu. Justru akan jauh lebih baik
kalau Ara tidak kembali sekalian. Dengan begitu ia bisa bebas berdekatan dengan
lelaki yang dicintainya ini. Namun nyatanya selama tiga bulan ini, Ellard
seakan sengaja selalu berusaha mengurangi
intensitas pertemuan mereka. Kebanyakan dirinya menghabiskan waktu kerja dengan
Blake. Ellard lebih memilih keluar sendiri jika ada pertemuan atau perjalanan
bisnis. Ellard seakan menjadi sangat sulit untuk ditemui. Bahkan untuk sekedar
makan atau bersantai bersama diluar seperti sebelumnya, lelaki ini tidak bisa.
“El, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Kamu tidak sedang menghindariku kan?” selidiknya
“Menurutmu begitu?” tanyanya, masih menatap gumpalan awan
diatas sana
Clarisa mengangguk “Selama tiga bulan ini kamu menjadi
sangat sulit untuk kutemui. Bahkan pekerjaan yang biasanya kita lakukan bersama
dulu, kamu justru melimpahkan pada Blake untuk menyelesaikannya dengan
aku. Belum lagi saat aku mengajakmu
makan atau sekedar bersantai bersama diluar jam kerja, kamu juga tidak pernah bisa.
Ada apa? Apa aku sudah melakukan kesalahan?”
Ellard menegakkan tubuh, menatap Clarisa sepenuhnya.
“Tidak. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Hanya saja kita
memang sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Aku tidak sebebas dulu.” Ellard
mengangkat jemarinya di depan wajah Clarisa
yang tersemat cincin. “Aku sudah menikah Cla. Ada hati yang harus kujaga. Aku
tidak ingin Ara salah paham dengan kedekatan kita. Maka dari itu sudah
seharusnya kita seperti ini saja.”
“Apa dia yang melarangmu?” Clarisa mengepalkan tangannya.
“Tidak. Ini adalah kesepakatan yang kubuat untuk kami berdua
sejak menikah. Ara pun akan melakukan hal yang sama denganku. Tapi tenang saja,
kita masih tetap bisa hang out bareng jika ada Ara atau teman-teman
__ADS_1
yang lain.” Jelas Ellard begitu tenang seraya meraih kepalan tangan Clarisa—
membukanya lalu mengusap punggung tangan
gadis itu dengan lembut.
“Hatiku… telah terisi penuh oleh Ara. Aku tidak bisa jika
tanpa dia, aku tidak bisa membayangkan hidup lebih lama tanpa kehadirannya. Oleh karna itu aku tidak ingin karna kedekatan
kita, dia akhirnya salah paham lalu pergi meninggalkanku. Aku harap kamu bisa
mengerti, Cla. Selamanya kamu akan tetap menjadi sahabatku. Jika kamu
memerlukan bantuanku, jangan sungkan untuk mengatakannya— Baiklah sepertinya
aku harus kembali. Sepuluh menit lagi masih ada meeting diluar. Kamu juga
segeralah turun. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan!” Ellard mengacak
gemas rambut Clarisa sebelum kemudian beranjak pergi dari sana meninggalkan
Clarisa yang masih setia dalam kebekuannya.
Clarisa menekan matanya, kepalanya terasa begitu sakit.
Semua pengakuan itu sungguh mencabik-cabik seluruh rasa yang ia punya. Bulir
bening itu jatuh begitu saja. Sakit menghujam jantungnya keras-keras. Semuanya
terlalu jelas untuk disangkal. Ellard tidak menginginkannya lebih dari sekedar
sahabat. Lelaki yang dicintainya itu telah mencintai istrinya begitu dalam
hingga tidak ada celah sedikit pun baginya untuk masuk.
****
“Kamu yakin tidak akan mengabari Ellard bahwa kamu sudah
kembali?” tanya Andin sembari mengusap-usap lembut surai coklat putrinya yang
saat ini tengah berbaring manja dipangkuannya. Ara tiba dirumah mereka
pagi-pagi sekali tadi.
Keterkejutan wanita parubaya itu belum hilang sepenuhnya. Bayangkan saja, dia nyaris tidak mengenali
putrinya sendiri ketika membuka pintu rumah tadi. Ia mengira bahwa gadis yang
datang bertamu ke rumah mereka a sepagi itu dalah rekan kerja Alex. Namun
ketika Ara menjelaskan siapa dirinya dan langsung memeluknya begitu erat serta
bertingkah manja seperti kebiasaan putrinya, barulah ia sadar bahwa gadis
cantik dihadapannya ini benar adalah Aurora, putri bungsunya.
“Iya mom, aku ingin membuat kejutan untuknya” sahutnya,
masih bergelayut manja dipangkuan Andin
“Kejutan?”
“Hm, lusa adalah ulang tahunnya. Aku sudah bekerja sama dengan Daddy Holand untuk buat pesta kejutan.
Daddy yang akan mengatur pestanya sementara aku yang buat cake ulang tahunnya”
“Buat sendiri?” Andin menghentikan usapannya
Ara bangkit lalu mengangguk antusias
“Yakin kamu bisa?”
“Tentu saja. Aku sudah pernah belajar membuatnya ketika di
rumah kak Bella, dan itu berhasil dan rasanya sangat enak” serunya begitu
bangga
“Ya,ya terserah kamu saja,” Andin menarik gemas pipi Ara
yang kini sudah tidak se-chubby dulu. “Tapi beneran, momy masih tidak menyangka
kalau kamu adalah putri gendut momy yang selalu suka nyuri snack-snack momy”
“Apa perlu kita tes DNA lagi mom? Kali aja aku memang
beneran bukan putri kandung mommy” saran Ara begitu dramatisir
Pletak
“Ngawur kamu,”
“Arrggh… sakit tahu mom” ringis Ara seraya memijit dahinya
bekas sentilan Andin
“YUHUUU… PUTRA PALING TAMPAN MOMY PULANG” seru Alex begitu
nyaring. Kebiasaannya memang ketika memasuki rumah.
“Alex, bisa tidak volume suara kamu itu dikecilin lagi,”
bebel Andin, melototi putra sulungnya itu
aku yang paling kecil banget malah,” pongah Alex, langsung mengecup singkat
wajah cantik sang momy
“Uewekk… mau muntah gue dengarnya” cibir Ara disertai
ekspresi jijiknya
“Ehh? Kamu siapa?” Alex mengerut dahi, baru sadar bahwa
diruangan ini tidak hanya ada mereka berdua
“ya adik kamulah” sahut Andin
“Ha? Adik aku yang mana mom?” Alex mengerjap-ngerjap kan
mata, “perasaan adikku cuma si beruang besar kesayanganku, Aurora— atau
jangan-jangan momy punya anak dari pria lain selain daddy ya?”
Bugh
Bantal sofa itu mendarat sempurna di wajah Alex. Andin
memijit kepala yang mendadak berdenyut karna ucapan absurd kedua anaknya.
Sementara Ara yang menyaksikan langsung terbahak keras. Ia selalu suka momen
dimana Alex ditimpuk begitu.
“Coba lihat baik-baik wajahnya” dengus Andin
Alex memeluk bantal yang dilempar tadi didada. Memiringkan
kepala dengan pose berpikir, sementara matanya memicing menatap lekat gadis
disamping momynya. Mulai dari atas sampai bawah.
“Enggak mungkin… ini gak mungkin…” gumam Alex mengeleng tak
percaya. “Adek gue itu badannya sebesar beruang kutub. Dia gak seceking sapu
ijuk begini…”
“Kak Alex!!” teriak Ara begitu kesal. Tak habis-habisnya
kakaknya itu meledekinya. Tanpa pikir panjang ia beranjak lalu memukuli tubuh
tegap itu dengan brutalnya
“Arghh, aduhh.. aduhh… sakit woii dekk” pekik Alex berusaha
terus menghindar “Iya, iya gue percaya
lo Ara, adek gendut gue yang uda berubah bentuk jadi sapu ijuk”
“Hikss.. mommy, kak Alex jahat” rengek Ara karna sudah pegal
sendiri memukuli tubuh keras Alex
“Buset dah, perasaan gue yang dipukul kenapa jadi lo pulak
yang merengek” gerutu Alex seraya merapikan kembali rambutnya yang berantakan
akibat serangan brutal Ara
“Alex, bisa tidak kalau bertemu dengan adikmu jangan
meledekinya terus” peringat Andin untuk
yang kesekian kali
Alex memutar bola mata malas, “Baiklah yang mulia ratu”
sahutnya sambil menghormat dengan membungkukkan
badan. Andin hanya bisa menghela nafas. Putranya ini memang luar biasa
konyolnya.
Alex menghampiri Ara dan langsung memeluk gadis yang masih
merengek itu. menepuk-nepuk punggungnya bak anak kecil.
“Uda jangan nangis. Bingung deh, udah jadi istri orang tapi
kenapa cengengmu gak hilang-hilang. Aku harus tanya sama si Ellard, apa kamu
juga secengeng ini kalau dengannya. Atau cuma di depan momy biar aku dimarahin
terus” nyinyir Alex namun bibirnya tersenyum penuh kehangatan.
Ara terlalu malas membalas ucapan kakaknya yang tidak akan
pernah ada habisnya. Ia Cuma mengeratkan pelukan mereka. Rasanya sudah lama dia
tidak berkunjung kerumah. Dan dia sangat merindukan suasana seperti ini. Setelah
hampir seharian bergelung manja dengan sang momy dan kini dengan kakaknya yang
selalu begitu menyebalkan. Sementara daddy-nya kebetulan tengah melakukan
perjalanan bisnis. Dia akan memanfaatkan waktu bebasnya ini dengan keluarganya
__ADS_1
sebelum kembali ke pelukan suaminya.
****
Keesokan harinya Ara mengajak Angel, menemaninya membeli
hadiah ulang tahun untuk Ellard besok. Ia bingung, sampai sekarang apa yang
menjadi kesukaan lelaki itu pun dia tidak tahu. Ellard sudah memiliki
segalanya, lantas apalagi yang bisa dia berikan? Oleh karena itu dia mengajak
Angel untuk memberinya beberapa saran. Angel adalah gadis pemikat para lelaki,
jadi sudah pasti sahabatnya itu lebih
berpengalaman dibidang ini.
“What?! Kamu gak tahu apa yang disukai suamimu?” pekik Angel
“kalian hampir satu tahun menikah, tapi kamu sama sekali enggak tahu? Wah
daebak… takjub gue sama lo, Ra” Angel menatapnya tak percaya.
Ara nyengir, menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali
tidak gatal
“Yah, karna itu aku ngajakin kamu buat kasih aku saran. Kamu
kan banyak teman lelaki tuh, jadi kamu pasti punya banyak referensi”
“Banyak sih banyak, Tapi kan sikon kita gak sama Araku
sayang yang cantik jelita” bebel Angel “Ini suami kamu loh. Masa gak tahu sih.
Heran gue”
“Makanya bantuin, please?” pintanya memasang tampang memelas
Angel menghembuskan nafas kasar, “Untung lo sahabat
kesayangan gue. Kalo enggak ogah dah mau bantuin. Ayo jalan”
“Yay… thankyou sayangnya aku” seru Ara, menggamit antusias
lengan Angel
Satu jam berlalu, mereka akhirnya mendapatkan barang yang
dibutuhkan. Sebuah jam tangan merek Titan. Jam itu luar biasa mahalnya, mengalahkan
sebuah harga mobil. Ia sampai menguras habis tabungan yang selama ini telah
dikumpulkannya. Ara tidak ingin menggunakan kartu unlimited yang pernah diberikan
Ellard, melainkan memakai tabungannya sendiri. Dan sekarang ia sedikit meringis
karna saldo di rekeningnya sama sekali telah menjadi zero.
“Nyesel, eh?” sindir Angel berusaha menahan tawa saat
melihat ekspresi dungu Ara.
Ara menggeleng cepat, namun sedetik kemudian tubuhnya lemas
sementara bibirnya ditekuk
“Tapi tabunganku habis, gel— kamu juga, sekali milih barang
mahal banget”
Pletak
Angel menyentil gemas kening Ara, hingga membuat gadis itu
langsung mengerang
“Itu kan untuk suami kamu dodol” gemas Angel “lagian Ellard
kaya raya begitu, yah kamu tinggal minta aja lagi sama dia. Kenapa harus
susah-susah”
Ara hendak membalas, namun pekikan gadis yang tak kalah
ceriwisnya dengan Alex itu seketika mengurungkan niatnya
“LEO! WOYY.. BERUANG KUTUB” teriak Angel membahana sambil
melambaikan tangannya hingga membuat orang-orang disekitar mereka menatapnya
aneh
Ara membatu. Nama itu, sudah tidak asing lagi. Dengan
gerakan lambat, ia mendongak menatap lelaki yang kini tengah berjalan lurus ke
arah mereka. Enam bulan tidak bertemu, lelaki itu semakin terlihat sangat
tampan dan matang. Tubuh kurusnya dulu kini sedikit berisi dan menonjolkan otot
yang masih dapat terlihat dari balik
kaus polo hitamnya.
“Lama tidak bertemu, ternyata tidak membuat sifat bar-barmu
enggak bisa hilang juga, eh” sarkas Leo namun tersenyum kecil. Senyum itu
terbingkai menawan, memenuhi setiap sudut netra Ara
“Cih, salahkan telinga anda yang tuli. Aku sudah memanggilmu
pelan tadi, tapi kamu tidak dengar juga” balas Angel tak mau kalah seperti
biasanya.
“Hai kak Leo.. long
time no see,” cicit Ara tersenyum hangat, memutuskan perdebatan keduanya
Ada jeda, sebelum Leo membalas sapaan. “Hai,” Leo
memperhatikan lekat sosok dihadapannya “A—ara?”
Senyum Ara tersungging lebar, mengangguk antusias. Tanpa berpikir
panjang, ia menerjang tubuh atletis Leo— memeluknya erat “Kak Leo apa kabar?”
Sementara Leo hampir terjengkang kebelakang karna belum
siap. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum kemudian membalas pelukan Ara.
“Baik. Kamu kenapa bisa berubah kayak gini hm? Kemana semua
lemak-lemak menggemaskanmu itu?” sindir Leo namun senyumnya mereka. Dia
mengelus lembut surai Ara
“Aku buang. Soalnya uda bosan sama mereka,” kekeh Ara, ia
mendongak “Apa sekarang aku sudah kelihatan cantik?”
Leo menaikkan alis, “Emang kamu pikir selama ini kamu enggak
cantik?”
Ara menggeleng lucu, hingga membuat Leo semakin gemas dan
tanpa sadar ia mengecup pipi Ara. Seakan lupa dengan keberadaan orang disekitar
mereka, Leo menyatukan kening mereka.
“Kamu cantik Ara. Bahkan sudah sejak kamu dilahirkan. Tanpa
mengubah apapun, bagiku kamu yang tercantik” desis Leo mengunci manik Ara.
Wajah Ara memanas, begitu gugup karna mereka terlalu dekat. Jantungnya
masih saja berdentam keras jika berada dalam jarak sedekat ini dengan Leo.
Bohong jika ia mengatakan keadaan ini tidak membuatnya merasa sangat canggung.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?!”
Bentakan dingin nan tajam itu mengudara, ketika tubuh Ara dan
Leo masih saling melekat erat di tengah keramaian mall. Ara menegang, ia mengenali suara itu. Disana, tidak jauh dari
mereka Ellard tengah menatap mereka dengan raut wajah penuh kemurkaan.
“El—Ellard…”
To be continued
Olaaa...
follow aku ya di IG:@rianitasitumorangg
Aku selalu posting spoiler dan thriller cerita ini disana. see you next part ^^
Bonus Pic
Ellard O'Neill Miller
Aurora Beatrix Louis
Axcel Gabriel Leonard
Clarissa Veronica Xander
Angela Christella William
__ADS_1