Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Tujuh (Seri II)


__ADS_3

Dug…Dug…Dug…


“Daddy…


wake up! Open this door! Daddy…!!”


Ellard


mengerang kesal ketika telinganya benar-benar terusik dengan gebrakan berulang


kali dan suara bocah dari balik pintu. Awalnya ia mengabaikan, lebih memilih


mengeratkan pelukannya kembali pada Aurora. Namun beberapa menit kemudian


tangisan kuat dari balik pintu kontan saja membuat matanya langsung terbuka


lebar. Ia mengenal benar siapa pemilik rengekan itu. Clara— putrinya.


“Arghh…


Shit!” umpatnya pelan


Dengan


sigap, Ellard bangkit dari ranjang setelah memastikan Ara tidak terusik dan


tubuh telanjangnya tertutupi selimut. Ia mengenakan boxer dan celana cargonya


sedikit tergesa, lalu berlari menujuh pintu.


“Ya


ampun, princess Papa. I’m so sorry,” Ellard langsung meraih tubuh kecil Clara—


membawa ke dalam dekapannya dan dipeluknya erat. “Maaf, Papa lama buka pintunya”


“Papa


kenapa enggak bilang sama Cla kalau udah pulang,” kedua tangan mungil Clara


terlingkar erat di leher Ellard— dan Ellard menepuk-nepuk punggungnya.


“Kamu


kan udah bobo sayang. Papa kan enggak tega bangunin kamu” Ellard menutup pintu


kamar dengan sebelah tangannya yang bebas, tak ingin gadis kecilnya ini melihat


Ara yang masih tertidur lelap dengan tubuh polosnya. Kakinya dihela menujuh


ruang makan.


Ellard


duduk dikursi dengan Clara yang masih betah menempel padanya.


“Papa


masih bau ences loh. Lepasin dong… nanti princessnya ikutan bau lagi,” celetuk


Ellard gelih ketika mendapati respon Clara yang langsung merenggangkan tubuh


mereka


“iihh


Papa jorok,” dengus Clara sambil menutup hidungnya, lalu segera melompat turun.


“Jorok-jorok


begini juga kamu rindu banget kan sama Papa?” godah Ellard seraya menaik


turunkan alisnya “sampe nangis kencang gitu”


“Itu


karna Papa lama bukain pintu!” sanggah Clara dengan bibir mengerucut lucu


Ellard


terkekeh, “iya deh bawel” timpalnya sambil mengacak gemas rambut Clara


“Papa!!!”


Seruan


nyaring itu membuat Ellard dan Clara segera menoleh cepat. Tersenyum, Ellard


bangkit dari duduknya— menghampiri buah hatinya yang lain.


“Good


morning my lovely twin,”  Ellard mendekap


erat tubuh sikembar dan menciumi seluruh wajah keduanya bergantian dengan


sayang


“Morning


too, Papa” sahut keduanya bersamaan


“How’s


your night?” tanyanya sambil masih mencium puncak kepala Nathan dan Nala


bergantian.


“Not


bad, Papa” jawab Nathan


“Mama


dimana, Papa?” tanya Nala celingukan


“Mama—“


“Mereka


siapa, Pa?” sela Clara dengan kening berkerut


Tersenyum,


Ellard mengandeng masing-masing tangan sikembar dan menghampiri Clara yang


masih terdiam ditempatnya.


Ellard


berjongkok diantara ketiganya.


“Clara,


kenalkan… bocah tampan dan cantik sepertimu ini namanya Nathan dan Nala” ucap


Ellard mulai memperkenalkan “Nah, Nathan dan Nala… gadis cantik ini namanya


Clara,”


Hening.


Ketiga bocah kecil itu hanya saling berpandangan. Sepertinya tidak ada niat


diantara ketiganya mau menyapa duluan. Melihat itu Ellard pun menggaruk


kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia berdehem…


“Nathan,


Nala dan Clara… kalian bertiga adalah anak-anak Papa dan Mama. Kalian adalah


saudara kandung.” Jelas Ellard “selama ini Papa tinggal dengan Clara. Sementara


Mama tinggal bersama Nathan dan Nala. Waktu itu karna suatu hal, Papa dan Mama

__ADS_1


terpaksa harus pisah buat sementara dan membagi kalian. Tapi… sekarang tidak


lagi. selamanya, kita akan tinggal bersama-sama di rumah ini”


Hening


beberapa saat…


“Jadi…


mereka adalah adik Cla, Papa?” tanya Clara dengan raut berbinar


“Iya,


sayang”


Perlahan,


Clara mendekati Nathan dan Nala. Dengan raut sumringah, Ia mengulurkan


tangannya ke hadapan Nathan dan Nala.


“Hai,


lil brother and sister,” sapa Clara “I’m your sister. Welcome home Nathan,


Nala”


“Seriously,


Papa?” Nathan mengerjap, bertanya memastikan pada Ellard yang sejak tadi


tersenyum


Ellard


mengangguk tegas, “yes, boy”


“Kakak!!”


pekik Nala antusias, segera saja memeluk Clara begitu kuat “horayy… aku punya


kakak lagi!”


Tidak


jauh berbeda dengan Nala, Nathan juga turut memeluk Clara hingga ketiganya kini


saling berpelukan dengan riang. Sementara tidak jauh dari ketiganya, Ellard


menatap penuh haru pada anak-anaknya. Hatinya begitu bahagia melihat para buah


hatinya bisa saling menerima satu dengan yang lain tanpa melayangkan lebih banyak


pertanyaan.


“Wait,


Papa…” seru Clara begitu ketiganya melepas pelukan. Menoleh, Clara menelengkan


kepalanya menatap Ellard “So, where’s mom now, Papa?”


Ellard


tersenyum,


“Ada


dikamar. Sedang tidur” jawab Ellard seraya mengelus surai Clara


“Tidur?”


beo Clara “No, Papa. Ini udah pagi. Mama harus bangun. Cla rindu Mama!!”


lanjutnya, secepat kilat hendak berlari menujuh kamar


“Tidak


sekarang, Sayang” Ellard menggeleng pelan— menahan tangan mungil Clara “mama kecapean.


Jadi masih perlu istirahat yang banyak”


Papa…”


“Papa


janji, nanti kalau mama udah bangun… Papa akan bawa kalian ketemu Mama” ucap


Ellard lembut “sekarang kita makan dulu, hm”


Clara


mencebik namun kemudian ia mengangguk lemas.


“Good


girl” kekeh Ellard “so, let’s have a breakfast kids,”


****


Ketika


Aurora terbangun, ranjang di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Ellard tidak


ada. Kamar juga sudah diterangi sinar temaram yang masuk melalui jendela. Hari ternyata


sudah sangat siang— tapi musim dingin memang membuat matahari tidak seterang


biasanya.


“Ah,


sial…” Ara memijit kening, teringat semuanya. Kejadian semalam… kegiatannya


dengan Ellard. Apalagi dibalik selimut tebalnya Ara masih tidak memakai


apa-apa.


Ara


menarik selimutnya, melangkah turun— berniat pergi. Tapi bukannya berhasil,


tubuhnya malah terhempas ke lantai. Dia tidak bisa berdiri— kakinya terlalu


lemas. Ellard sialan. Semalam Ellard


benar-benar kesetanan— melakukannya berkali-kali, tenaga Ara habis.


Meringis,


Ara mencoba kembali berdiri perlahan-lahan namun entah mengapa, tiba-tiba saja


dirasakannya  melayang.


“Ellard!!”


pekik Ara, refleks memeluk Ellard agar tidak terjatuh.


“Kalau


tidak bisa jalan, kenapa tidak memanggilku, hm?” tanya Ellard dengan raut


kelewat santai.


“Kamu


pikir karna ulah siapa aku jadi seperti ini?!” gereget Ara


Ellard


tertawa tepat saat wajah mereka berhadapan. Ia sungguh gemas dengan raut Ara


yang menahan geraman. “Ulah kita berdua, Sayang— jangan lupa, kamu juga sangat


menikmatinya, hm” goda Ellard menyeringai

__ADS_1


Ara


menggertakkan gigi, sadar jika yang dikatakan Ellard sedikit banyak benar


adanya. Awalnya dia memberontak sentuhan lelaki ini, tapi lama-kelamaan


tubuhnya malah berkhianat. Sial, Ara merasa malu dan langsung membuang muka


dengan cara menyurukkan wajah ke leher Ellard. Sebenarnya itu juga sama


memalukan tapi apa boleh buat.


Ternyata


Ellard membawanya ke bath tub yang sudah berisi air hangat.  Pelan, Ellard menurunkan Ara ke dalam air


hangat. Ellard berjongkok di sebelah bath tub lalu menggulung rambut Ara agar


tidak terkena air.


“Aku


bisa sendiri,” tolak Ara saat Ellard menuangkan sabun cair ke tangan.


“Tidak


boleh.” Ellard menjauhkan sabun itu dari jangkauan Ara


Ara


tercenung sejenak tapi akhirnya ia tidak memilih bersikeras karna malas membuat


peperangan lagi. Sabun itu beraroma Vanilla lembut yang tidak begitu tajam.


Ellard mengusap kulit Ara mulai dari punggung lalu ke bagian leher dan dadanya.


Ara bergeser tak nyaman saat tangan Ellard turun dan mengusap inti


kewanitaannya.


“Sakit?”


tanya Ellard


Ara


menggeleng. Memilih berbohong agar Ellard segera menyelesaikan kegiatannya dari


sana. Ara menoleh kesamping, wajahnya sungguh terasa panas sekarang.


“Apa


kau begitu membenciku?”


Menoleh,


Ara menatap iris tegas Ellard sejenak, I can't hate you


“kamu tahu sendiri jawabannya”


Ellard


terdiam untuk sesaat. Ia menghentikan kegiatannya membersihkan tubuh Ara.


“Ya,


sepertinya sangat. Terlihat jelas dari sikap pembangkangmu. But, it’s ok”


Ellard mengucapkan itu sambil mengangkatnya lagi dari bath tub. Ara sebenarnya


ingin menolak, tapi Ellard sudah terlanjur menggendongnya lagi tanpa peduli


pakaiannya sudah basah sebagian. “Tidak peduli kau membenciku sebesar apa, aku


tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Mulai dari sekarang dan sampai selamanya kau dan


anak-anak harus selalu berada disisiku.”


Ellard


menurunkannya di ranjang dengan sekujur tubuh yang masih basah. Ellard


mengambil handuk dan mengelapnya dengan lembut. Ara sudah sangat risih dengan


perlakuan Ellard yang begini, ia hendak mengambil alih handuk dan beranjak dari


sana tapi ia sudah lebih dulu dikejutkan dengan Ellard yang menciumnya.


“Ara,


aku ingin lagi,” pinta Ellard serak


Mata


Ara membola, merasa tidak percaya Ellard mengucapkannya— tapi lelaki itu


menindihnya sehingga Ara dapat merasakan bukti gairah Ellard menekan bagian


tubuhnya yang paling pribadi. Seketika Ara juga merasa bergairah karnanya.


Tercekat,


Ara menahan lelaki itu dengan kedua telapak tangan “El… jangan becanda. Kita baru


melakukannya semalam. Kau juga punya istri dirum—“


“Sudah


kukatakan hanya kau istriku satu-satunya. Dan aku ingin menuntut kewajiban kamu


sebagai seorang istri.” Ellard membuka pakaiannya “kewajiban yang selama empat


tahun lebih ini kamu abaikan.”


Ara


menggerakkan tangannya dengan gelisah, “Ellard berhenti! Ada Clarissa dan anak


kam—“


“Clarissa


sudah lama tiada, Sayang” potong Ellard cepat dengan mata kian sayu


Shock.


Mata Ara semakin membulat. Wajahnya tercekat “Ap-apa kamu bil— mmmppttt..“


Kalimat


Ara tidak selesai lantaran Ellard sudah kembali membungkam mulut Ara dengan ciumannya.


Memagut dan mengulum bibirnya dengan lembut.


Ellard


tahu istrinya tengah terganggu dengan kalimatnya barusan. Wanita itu tengah


menuntut penjelasannya. Tapi sayangnya ia tidak bisa menjelaskannya sekarang. Nanti.  Hasratnya sudah jauh lebih menguasai


sekarang.  Hampir lima tahun. Bukan waktu


yang sebentar. Sehingga rasanya, sanggup membuat Ellard kehilangan akal jika


dirinya harus menahan desakan kebutuhan naluri hasratnya lebih lama lagi.


Selama Ara tidak ada, ia hanya merusak tubuhnya dengan obat dan minuman keras,


tapi tidak membiarkan wanita lain menyentuh atau tidur dengannya. Hanya Ara


yang berhak atas tubuhnya dan lagi pula, miliknya sama sekali tidak bereaksi dengan


perempuan lain selain istri pembangkangnya ini.


To be continued

__ADS_1


IG: rianitasitumorangg


See youuuu


__ADS_2