
Dug…Dug…Dug…
“Daddy…
wake up! Open this door! Daddy…!!”
Ellard
mengerang kesal ketika telinganya benar-benar terusik dengan gebrakan berulang
kali dan suara bocah dari balik pintu. Awalnya ia mengabaikan, lebih memilih
mengeratkan pelukannya kembali pada Aurora. Namun beberapa menit kemudian
tangisan kuat dari balik pintu kontan saja membuat matanya langsung terbuka
lebar. Ia mengenal benar siapa pemilik rengekan itu. Clara— putrinya.
“Arghh…
Shit!” umpatnya pelan
Dengan
sigap, Ellard bangkit dari ranjang setelah memastikan Ara tidak terusik dan
tubuh telanjangnya tertutupi selimut. Ia mengenakan boxer dan celana cargonya
sedikit tergesa, lalu berlari menujuh pintu.
“Ya
ampun, princess Papa. I’m so sorry,” Ellard langsung meraih tubuh kecil Clara—
membawa ke dalam dekapannya dan dipeluknya erat. “Maaf, Papa lama buka pintunya”
“Papa
kenapa enggak bilang sama Cla kalau udah pulang,” kedua tangan mungil Clara
terlingkar erat di leher Ellard— dan Ellard menepuk-nepuk punggungnya.
“Kamu
kan udah bobo sayang. Papa kan enggak tega bangunin kamu” Ellard menutup pintu
kamar dengan sebelah tangannya yang bebas, tak ingin gadis kecilnya ini melihat
Ara yang masih tertidur lelap dengan tubuh polosnya. Kakinya dihela menujuh
ruang makan.
Ellard
duduk dikursi dengan Clara yang masih betah menempel padanya.
“Papa
masih bau ences loh. Lepasin dong… nanti princessnya ikutan bau lagi,” celetuk
Ellard gelih ketika mendapati respon Clara yang langsung merenggangkan tubuh
mereka
“iihh
Papa jorok,” dengus Clara sambil menutup hidungnya, lalu segera melompat turun.
“Jorok-jorok
begini juga kamu rindu banget kan sama Papa?” godah Ellard seraya menaik
turunkan alisnya “sampe nangis kencang gitu”
“Itu
karna Papa lama bukain pintu!” sanggah Clara dengan bibir mengerucut lucu
Ellard
terkekeh, “iya deh bawel” timpalnya sambil mengacak gemas rambut Clara
“Papa!!!”
Seruan
nyaring itu membuat Ellard dan Clara segera menoleh cepat. Tersenyum, Ellard
bangkit dari duduknya— menghampiri buah hatinya yang lain.
“Good
morning my lovely twin,” Ellard mendekap
erat tubuh sikembar dan menciumi seluruh wajah keduanya bergantian dengan
sayang
“Morning
too, Papa” sahut keduanya bersamaan
“How’s
your night?” tanyanya sambil masih mencium puncak kepala Nathan dan Nala
bergantian.
“Not
bad, Papa” jawab Nathan
“Mama
dimana, Papa?” tanya Nala celingukan
“Mama—“
“Mereka
siapa, Pa?” sela Clara dengan kening berkerut
Tersenyum,
Ellard mengandeng masing-masing tangan sikembar dan menghampiri Clara yang
masih terdiam ditempatnya.
Ellard
berjongkok diantara ketiganya.
“Clara,
kenalkan… bocah tampan dan cantik sepertimu ini namanya Nathan dan Nala” ucap
Ellard mulai memperkenalkan “Nah, Nathan dan Nala… gadis cantik ini namanya
Clara,”
Hening.
Ketiga bocah kecil itu hanya saling berpandangan. Sepertinya tidak ada niat
diantara ketiganya mau menyapa duluan. Melihat itu Ellard pun menggaruk
kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia berdehem…
“Nathan,
Nala dan Clara… kalian bertiga adalah anak-anak Papa dan Mama. Kalian adalah
saudara kandung.” Jelas Ellard “selama ini Papa tinggal dengan Clara. Sementara
Mama tinggal bersama Nathan dan Nala. Waktu itu karna suatu hal, Papa dan Mama
__ADS_1
terpaksa harus pisah buat sementara dan membagi kalian. Tapi… sekarang tidak
lagi. selamanya, kita akan tinggal bersama-sama di rumah ini”
Hening
beberapa saat…
“Jadi…
mereka adalah adik Cla, Papa?” tanya Clara dengan raut berbinar
“Iya,
sayang”
Perlahan,
Clara mendekati Nathan dan Nala. Dengan raut sumringah, Ia mengulurkan
tangannya ke hadapan Nathan dan Nala.
“Hai,
lil brother and sister,” sapa Clara “I’m your sister. Welcome home Nathan,
Nala”
“Seriously,
Papa?” Nathan mengerjap, bertanya memastikan pada Ellard yang sejak tadi
tersenyum
Ellard
mengangguk tegas, “yes, boy”
“Kakak!!”
pekik Nala antusias, segera saja memeluk Clara begitu kuat “horayy… aku punya
kakak lagi!”
Tidak
jauh berbeda dengan Nala, Nathan juga turut memeluk Clara hingga ketiganya kini
saling berpelukan dengan riang. Sementara tidak jauh dari ketiganya, Ellard
menatap penuh haru pada anak-anaknya. Hatinya begitu bahagia melihat para buah
hatinya bisa saling menerima satu dengan yang lain tanpa melayangkan lebih banyak
pertanyaan.
“Wait,
Papa…” seru Clara begitu ketiganya melepas pelukan. Menoleh, Clara menelengkan
kepalanya menatap Ellard “So, where’s mom now, Papa?”
Ellard
tersenyum,
“Ada
dikamar. Sedang tidur” jawab Ellard seraya mengelus surai Clara
“Tidur?”
beo Clara “No, Papa. Ini udah pagi. Mama harus bangun. Cla rindu Mama!!”
lanjutnya, secepat kilat hendak berlari menujuh kamar
“Tidak
sekarang, Sayang” Ellard menggeleng pelan— menahan tangan mungil Clara “mama kecapean.
Jadi masih perlu istirahat yang banyak”
Papa…”
“Papa
janji, nanti kalau mama udah bangun… Papa akan bawa kalian ketemu Mama” ucap
Ellard lembut “sekarang kita makan dulu, hm”
Clara
mencebik namun kemudian ia mengangguk lemas.
“Good
girl” kekeh Ellard “so, let’s have a breakfast kids,”
****
Ketika
Aurora terbangun, ranjang di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Ellard tidak
ada. Kamar juga sudah diterangi sinar temaram yang masuk melalui jendela. Hari ternyata
sudah sangat siang— tapi musim dingin memang membuat matahari tidak seterang
biasanya.
“Ah,
sial…” Ara memijit kening, teringat semuanya. Kejadian semalam… kegiatannya
dengan Ellard. Apalagi dibalik selimut tebalnya Ara masih tidak memakai
apa-apa.
Ara
menarik selimutnya, melangkah turun— berniat pergi. Tapi bukannya berhasil,
tubuhnya malah terhempas ke lantai. Dia tidak bisa berdiri— kakinya terlalu
lemas. Ellard sialan. Semalam Ellard
benar-benar kesetanan— melakukannya berkali-kali, tenaga Ara habis.
Meringis,
Ara mencoba kembali berdiri perlahan-lahan namun entah mengapa, tiba-tiba saja
dirasakannya melayang.
“Ellard!!”
pekik Ara, refleks memeluk Ellard agar tidak terjatuh.
“Kalau
tidak bisa jalan, kenapa tidak memanggilku, hm?” tanya Ellard dengan raut
kelewat santai.
“Kamu
pikir karna ulah siapa aku jadi seperti ini?!” gereget Ara
Ellard
tertawa tepat saat wajah mereka berhadapan. Ia sungguh gemas dengan raut Ara
yang menahan geraman. “Ulah kita berdua, Sayang— jangan lupa, kamu juga sangat
menikmatinya, hm” goda Ellard menyeringai
__ADS_1
Ara
menggertakkan gigi, sadar jika yang dikatakan Ellard sedikit banyak benar
adanya. Awalnya dia memberontak sentuhan lelaki ini, tapi lama-kelamaan
tubuhnya malah berkhianat. Sial, Ara merasa malu dan langsung membuang muka
dengan cara menyurukkan wajah ke leher Ellard. Sebenarnya itu juga sama
memalukan tapi apa boleh buat.
Ternyata
Ellard membawanya ke bath tub yang sudah berisi air hangat. Pelan, Ellard menurunkan Ara ke dalam air
hangat. Ellard berjongkok di sebelah bath tub lalu menggulung rambut Ara agar
tidak terkena air.
“Aku
bisa sendiri,” tolak Ara saat Ellard menuangkan sabun cair ke tangan.
“Tidak
boleh.” Ellard menjauhkan sabun itu dari jangkauan Ara
Ara
tercenung sejenak tapi akhirnya ia tidak memilih bersikeras karna malas membuat
peperangan lagi. Sabun itu beraroma Vanilla lembut yang tidak begitu tajam.
Ellard mengusap kulit Ara mulai dari punggung lalu ke bagian leher dan dadanya.
Ara bergeser tak nyaman saat tangan Ellard turun dan mengusap inti
kewanitaannya.
“Sakit?”
tanya Ellard
Ara
menggeleng. Memilih berbohong agar Ellard segera menyelesaikan kegiatannya dari
sana. Ara menoleh kesamping, wajahnya sungguh terasa panas sekarang.
“Apa
kau begitu membenciku?”
Menoleh,
Ara menatap iris tegas Ellard sejenak, I can't hate you
“kamu tahu sendiri jawabannya”
Ellard
terdiam untuk sesaat. Ia menghentikan kegiatannya membersihkan tubuh Ara.
“Ya,
sepertinya sangat. Terlihat jelas dari sikap pembangkangmu. But, it’s ok”
Ellard mengucapkan itu sambil mengangkatnya lagi dari bath tub. Ara sebenarnya
ingin menolak, tapi Ellard sudah terlanjur menggendongnya lagi tanpa peduli
pakaiannya sudah basah sebagian. “Tidak peduli kau membenciku sebesar apa, aku
tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Mulai dari sekarang dan sampai selamanya kau dan
anak-anak harus selalu berada disisiku.”
Ellard
menurunkannya di ranjang dengan sekujur tubuh yang masih basah. Ellard
mengambil handuk dan mengelapnya dengan lembut. Ara sudah sangat risih dengan
perlakuan Ellard yang begini, ia hendak mengambil alih handuk dan beranjak dari
sana tapi ia sudah lebih dulu dikejutkan dengan Ellard yang menciumnya.
“Ara,
aku ingin lagi,” pinta Ellard serak
Mata
Ara membola, merasa tidak percaya Ellard mengucapkannya— tapi lelaki itu
menindihnya sehingga Ara dapat merasakan bukti gairah Ellard menekan bagian
tubuhnya yang paling pribadi. Seketika Ara juga merasa bergairah karnanya.
Tercekat,
Ara menahan lelaki itu dengan kedua telapak tangan “El… jangan becanda. Kita baru
melakukannya semalam. Kau juga punya istri dirum—“
“Sudah
kukatakan hanya kau istriku satu-satunya. Dan aku ingin menuntut kewajiban kamu
sebagai seorang istri.” Ellard membuka pakaiannya “kewajiban yang selama empat
tahun lebih ini kamu abaikan.”
Ara
menggerakkan tangannya dengan gelisah, “Ellard berhenti! Ada Clarissa dan anak
kam—“
“Clarissa
sudah lama tiada, Sayang” potong Ellard cepat dengan mata kian sayu
Shock.
Mata Ara semakin membulat. Wajahnya tercekat “Ap-apa kamu bil— mmmppttt..“
Kalimat
Ara tidak selesai lantaran Ellard sudah kembali membungkam mulut Ara dengan ciumannya.
Memagut dan mengulum bibirnya dengan lembut.
Ellard
tahu istrinya tengah terganggu dengan kalimatnya barusan. Wanita itu tengah
menuntut penjelasannya. Tapi sayangnya ia tidak bisa menjelaskannya sekarang. Nanti. Hasratnya sudah jauh lebih menguasai
sekarang. Hampir lima tahun. Bukan waktu
yang sebentar. Sehingga rasanya, sanggup membuat Ellard kehilangan akal jika
dirinya harus menahan desakan kebutuhan naluri hasratnya lebih lama lagi.
Selama Ara tidak ada, ia hanya merusak tubuhnya dengan obat dan minuman keras,
tapi tidak membiarkan wanita lain menyentuh atau tidur dengannya. Hanya Ara
yang berhak atas tubuhnya dan lagi pula, miliknya sama sekali tidak bereaksi dengan
perempuan lain selain istri pembangkangnya ini.
To be continued
__ADS_1
IG: rianitasitumorangg
See youuuu