Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

“Tidak, Nak. Bukan dia yang


menyembunyikan istrimu,” Holland menggelengkan kepala pelan, “tapi Daddy”


Mendengar itu seketika Ellard


membeku. Ia menurunkan senjatanya dan menoleh cepat, menatap Holland dengan


sorot tak percaya. Dan sewaktu Ellard lengah, tanpa sepengetahuannya— Blake


menyelinap, berdiri tepat dibelakangnya.


“A-apa? Daddy yang melak—“


Tidak sampai selesai, tubuh


Ellard seketika ambruk saat Blake berhasil mendaratkan satu suntikan di


lengannya. Ellard menatap Blake marah sebelum mata itu tertutup.


...****...


Ellard


membuka pintu ruangan kerja Ayahnya kasar. Holland yang sedang memeriksa sebuah


dokumen mengalihkan perhatiannya, menatap pada Ellard yang diselubungi


kemarahan. Putranya itu baru saja sadar dari bius yang dia berikan sejak


terakhir kali selama dua hari Ellard sengaja dibiarkan tertidur. Demi mencegah


hal mengerikan yang hendak dilakukan anaknya.


“Tidak


bisakah kau mengetuk pintu  lebih dulu?”


BRAKK


Gebrakan


keras itu sama sekali tak membuat Holland berjengit kaget— malahan dia menatap


putranya dengan raut yang begitu santai. Kacamata yang bertengger dihidung


mancungnya segera dilepaskan.


“Dimana


Ara?” rendah, ia bertanya penuh penekanan. Tatapannya menyorot tajam, sementara


rahangnya mengeras penuh emosi. Beraninya pria tua ini membius dirinya ditengah


kekalutan mencari istrinya yang menghilang.


Sudah


dua hari Ara-nya menghilang tanpa jejak. Segala cara sudah ia lakukan untuk


mencari keberadaan istrinya tapi hasilnya nihil. Ia hampir melupakan fakta


bahwa Ayahnya juga sosok yang paling kejam pada masa mudanya. Menyembunyikan Ara


bukanlah sesuatu yang sulit baginya.


“Katakan,


dimana daddy menyembunyikannya?” sekali lagi Ellard bertanya dengan


menggertakkan gigi.


“Aku


tidak menyembunyikannya. Dia sendiri yang menginginkannya.” Sanggah Holland


“Daddy


pasti menyuruh dia untuk meninggalkanku, kan? HAH?”


 Holland menghembuskan nafas pelan. Ia bangkit,


berjalan mengelilingi meja dan berdiri tepat didepan Ellard. “Aku tidak pernah


menyuruhnya untuk melakukan itu. Dia yang ingin pergi, dan aku berhasil


menghentikannya.”


Ellard


tidak menyahut, namun tatapannya tetap menajam— menuntut penjelasan yang lebih.


“Ara…


sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Dia sangat terluka dengan pernikahan


keduamu ini. Dia memutuskan untuk pergi dengan alasan tidak bisa hidup satu


atap bersama kalian. Walaupun menyetujui pernikahanmu adalah keputusannya. Hari


itu dia menangis dan memohon pada daddy untuk membiarkannya pergi-“


“Dan


daddy langsung menyetujuinya?” tuding Ellard menyelah, buku-buku jarinya


memutih.


“Lalu


apa yang harus kulakukan? Sementara di lain pihak, Clarissa juga mengandung


anakmu dan hampir gila karna kau menolak menikahinya! Bahkan meninggalkannya


begitu saja di altar”


Telak.


Perkataan Holland sangat menusuk.


“Ara


akan terus terluka dengan adanya Clarissa ditengah-tengah kalian. Seharusnya


kamu bersyukur karna Daddy yang menyembunyikannya— bukan pergi dengan orang


lain.”


Ellard


tersenyum miring, “Kalau begitu sekarang kembalikan istriku. Aku yang akan


menyelesaikan semua permasalahan diantara kami”


“Tidak,


Son. Sebelum kamu berhasil membuktikan kalau anak yang dikandung Clarissa


bukanlah milikmu”


Ellard


terdiam. Namun tangannya terkepal dengan tubuh bergetar. Bagaimana dia harus


membuktikan jika anak yang dikandung Clarissa memang darah dagingnya. Minggu


lalu ia diam-diam menyuruh dokter untuk melakukan tes DNA secara sembunyi pada


kandungan Clarissa, dan hasilnya menunjukkan anak itu memang terbukti darah


dagingnya. Apa yang harus dibuktikan lagi? Apa ini memang akhir kisahnya dengan

__ADS_1


wanita yang sangat ia cintai? Wanita yang sedari dulu telah diperjuangkannya,


dan sekarang akhirnya memilih pergi? Karna kesalahan bodohnya.


“Nikahi


Clarissa. Wanita itu juga tengah sekarat El. Dia bahkan lebih memilih


mempertahankan bayi kalian daripada keselamatannya sendiri. Hidupnya tidak lama


lagi.” Holland menatap sendu wajah pucat putranya “mengenai Ara, daddy akan


pastikan dia akan tetap baik-baik saja. Daddy akan memastikan dia tidak akan


pergi lebih jauh. Asal kamu mau bersabar menunggu sampai anak yang dikandung


Clarissa lahir dan gadis itu pergi dengan tenang. Jangan memaksakan kehendakmu,”


Ayahnya


benar, hubungan antara dirinya dan Ara tidak akan pernah berjalan dengan mulus


selama masih ada Clarissa. Tapi kenapa Ara harus pergi disaat dirinya


benar-benar membutuhkan wanita itu untuk berada disisinya. Ditengah tekanan


yang dihadapinya sekarang, dia sangat membutuhkan Ara-nya untuk menghibur dan


memberinya kekuatan. Sungguh Ellard tidak bisa menerima hal itu. Rasanya itu


berkali lipat lebih menyakitkan.


Seketika


tubuh Ellard menyorot jatuh— bersimpuh dilantai. Ia merangkak— memeluk kedua


kaki ayahnya. Ini adalah kehancuran kedua baginya setelah kematian mamanya.


Tubuhnya bergetar dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Holland


yang melihat itu membuang wajahnya dari Ellard. Tidak tahan menyaksikan


langsung tatapan terluka putra semata wayangnya. Dia tidak memiliki pilihan


lain selain daripada ini.


“Kembalikan


Ara-ku, Dad. Aku tidak bisa jika tanpanya… kembalikan dia Dad… kembalikan…”


****


Sementara


itu di dalam sebuah kamar, air mata Ara terus menetes kala ia kini sedang


menatap potret gambar dirinya dengan Ellard. Sebenarnya dia akan pergi bersama


dengan Leo, namun Ayah mertuanya sudah lebih dulu mengetahui lalu menangkapnya


dan membawa dirinya ke tempat ini. Sesuai permintaannya, Holland membawanya


tinggal di dekat Gereja Vatikan yang berada di pelosok Roma. Dia memilih tempat


ini, karna disini dia bisa merasakan ketenangan dengan ikut membantu para


biarawati di Gereja dan mengajar anak-anak kecil disana.


“Apa


kamu baik-baik saja?” Suster Anna, wanita parubaya datang dengan segelas susu


Hamil Ara ditangannya.


Ara


anda datang”


Suster


Anna tersenyum lalu menyerahkan susu tersebut “Minumlah. Selagi masih hangat.


Kamu perlu mengkomsumsi banyak nutrisi agar tetap sehat demi calon anakmu”


“Terimakasih,


Suster” Ara meneguk langsung minumannya sampai habis.


“Apa


kamu betah berada ditempat ini?” tanya suster Anna setelah Ara meletakkan gelas


kosongnya di nakas


“Tentu


saja suster. Disini sangat menenangkan” Ara tersenyum senang


“Syukurlah


kalau begitu.” Suster Anna mengusap lembut surai coklat Ara “Lalu bagaimana


dengan hubunganmu dengan suamimu? Tidak selamanya bukan kamu akan bersembunyi


darinya terus? Kamu masih berstatus sebagai istrinya—terlebih sekarang kamu


juga sedang mengandung anaknya,” tanyanya penuh kehati-hatian. Ara sudah


menceritakan semua permasalahannya pada pemimpin biarawati ini.


Senyum


yang semula mengembang itu, perlaha-lahan memudar.


“Untuk


sekarang aku belum tahu suster. Saat ini aku hanya ingin bersama dengan anakku—


pergi sejauh mungkin darinya. Lagi pula mereka sekarang sudah menikah. Tidak


ada alasan untuk aku tetap berada disana,” lirih Ara dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


“Ara—“


“Cukup


aku yang terluka. Jangan anakku. Ellard bisa hidup tanpa diriku.” Sela Ara seraya


menggeleng lemah “dia akan bahagia dengan adanya Clarissa dan anak mereka


disisi”


 Suster Anna tidak menyahut lagi. Dia mengambil


tangan Ara lalu mengelus-elusnya dengan penuh kelembutan layaknya seorang ibu


yang tengah memberikan ketenangan pada putrinya.


“Baiklah,


tinggallah disini selama apapun yang kamu mau. Kami semua juga sangat senang


dengan kehadiranmu, apalagi anak-anak itu. mereka sangat menyukaimu” Ucap Suster


Anna seraya menyeka airmata Ara. “iya. Kamu berhak bahagia— bersama dengan


anakmu ditempat ini,”


“Terimakasih

__ADS_1


banyak suster,” Ara menjatuhkan dirinya kedalam pelukan wanita setengah baya


itu. setiap ucapannya berhasil memberi ketenangan bagi jiwanya yang tengah


merana.


****


Tujuh bulan


kemudian


Ellard


berjalan dengan tergesa menujuh kamar Inap Clarissa. Raut wajahnya memancarkan


kecemasan yang begitu kentara. Beberapa jam lalu dia tengah memimpin rapat dan


terpaksa harus ditinggalkan karna telepon dari Ayahnya yang mengatakan bahwa


Clarissa kritis.


Ellard


memasuki kamar Clarissa, dan mendapati Clarissa yang sedang berteriak kesakitan


dengan dipegangi oleh dua orang perawat untuk menenangkannya. Wanita itu baru


saja melahirkan anak mereka. seorang bayi


perempuan cantik.


Di


dalam kamar itu tidak hanya ada dokter dan suster, tetapi ada juga kedua


orangtua Clarissa, Oma beserta Holland. Raut kesedihan terpeta jelas diwajah


mereka. Terlebih Diana, yang sejak tadi tidak hentinya menangis— menyaksikan


keadaan putrinya yang kritis.


Ellard


menghampiri Clarissa, dan dua orang perawat yang memegangi beserta dokter


segera menyingkir. Ellard mengambil alih dan membawa Clarissa kepelukannya.


“Sakit…”


keluh Clarissa terisak. Wajahnya merah dan keringat bercucuran di wajahnya.


“Tenanglah…”


Ellard membelai rambut Clarissa dan mengecup puncak kepalanya. “kenapa kamu


lebih memilih mempertahankan anak kita daripada nyawamu sendiri?” tanya Ellard


menatap intens Clarissa


Clarissa


membuka matanya yang sempat terpejam— mendongak menatap Ellard dengan netranya


yang memerah.


“Bukankah


karna anak kitalah kamu  bersedia berada


disampingku selama tujuh bulan ini?” Clarissa berbicara dengan nada yang


terputus-putus “Sekalipun tanpa ada ikatan pernikahan,”


“Cla…”


Clarissa


menghirup napasnya panjang. Genggaman tangannya pada Ellard semakin kuat.


“Tidak


perlu merasa bersalah. Karna selama beberapa bulan bisa berdekatan dan


diperhatikan olehmu saja, sudah membuatku sangat bahagia…, setidaknya impianku


untuk hidup bersamamu sudah terwujud. Aku bahagia…”


Clarissa


memejamkan mata, meringis ketika gelombang sakit itu semakin kuat menghantam.


Setelah cukup mampu mengatasi, ia kembali membuka mata.


“Berjanjilah…


kamu akan menjaga dan menyayangi putri kita sampai kapan pun. Jangan pernah


meninggalkannya…,”


Ellard


mengangguk lemah, “Aku akan menyayangi putri kita Cla. Terimakasih atas pengorbanannmu.”


Ellard


mencium kening Clarissa dengan tulus.


“Ellard…,


pengorbananku tidak sebanding dengan Ara. Dia lebih banyak berkorban…, berulangkali


aku selalu berusaha merebutmu darinya hingga memanfaatkan dirimu yang tengah


mabuk dan melakukan cara terkotor agar aku dapat memilikimu sepenuhnya…. karna


itu, jika suatu hari nanti putri kita menanyakan siapa mamanya… katakan kalau


itu adalah Ara. Aku ingin Ara yang menjadi ibunya. Tolong sampaikan maafku


padanya… maafkan aku…” Clarissa menangis pilu penuh penyesalan.


Ellard


semakin mempererat pelukannya pada Clarissa. Ia memejamkan matanya mendengarkan


semua pengakuan Clarissa. Dadanya naik turun menahan amarah dan kecewa dalam


dirinya.


“Semua


sudah terjadi, kamu tidak perlu menyesalinya lagi,”


“Aku mencintaimu….”


Kalimat


tersebut menjadi kalimat terakhir yang diucapkan Clarissa sebelum alat Elektrokardiogram menampilkan garis


lurus. Genggaman tangan Clarissa terlepas, diikuti matanya yang tertutup untuk


selamanya…


To be continued


Info kapan Up ada di IGS: rianitasitumorangg


See youuuuuuuuu


Baby Cla & El

__ADS_1



__ADS_2