
“Tidak, Nak. Bukan dia yang
menyembunyikan istrimu,” Holland menggelengkan kepala pelan, “tapi Daddy”
Mendengar itu seketika Ellard
membeku. Ia menurunkan senjatanya dan menoleh cepat, menatap Holland dengan
sorot tak percaya. Dan sewaktu Ellard lengah, tanpa sepengetahuannya— Blake
menyelinap, berdiri tepat dibelakangnya.
“A-apa? Daddy yang melak—“
Tidak sampai selesai, tubuh
Ellard seketika ambruk saat Blake berhasil mendaratkan satu suntikan di
lengannya. Ellard menatap Blake marah sebelum mata itu tertutup.
...****...
Ellard
membuka pintu ruangan kerja Ayahnya kasar. Holland yang sedang memeriksa sebuah
dokumen mengalihkan perhatiannya, menatap pada Ellard yang diselubungi
kemarahan. Putranya itu baru saja sadar dari bius yang dia berikan sejak
terakhir kali selama dua hari Ellard sengaja dibiarkan tertidur. Demi mencegah
hal mengerikan yang hendak dilakukan anaknya.
“Tidak
bisakah kau mengetuk pintu lebih dulu?”
BRAKK
Gebrakan
keras itu sama sekali tak membuat Holland berjengit kaget— malahan dia menatap
putranya dengan raut yang begitu santai. Kacamata yang bertengger dihidung
mancungnya segera dilepaskan.
“Dimana
Ara?” rendah, ia bertanya penuh penekanan. Tatapannya menyorot tajam, sementara
rahangnya mengeras penuh emosi. Beraninya pria tua ini membius dirinya ditengah
kekalutan mencari istrinya yang menghilang.
Sudah
dua hari Ara-nya menghilang tanpa jejak. Segala cara sudah ia lakukan untuk
mencari keberadaan istrinya tapi hasilnya nihil. Ia hampir melupakan fakta
bahwa Ayahnya juga sosok yang paling kejam pada masa mudanya. Menyembunyikan Ara
bukanlah sesuatu yang sulit baginya.
“Katakan,
dimana daddy menyembunyikannya?” sekali lagi Ellard bertanya dengan
menggertakkan gigi.
“Aku
tidak menyembunyikannya. Dia sendiri yang menginginkannya.” Sanggah Holland
“Daddy
pasti menyuruh dia untuk meninggalkanku, kan? HAH?”
Holland menghembuskan nafas pelan. Ia bangkit,
berjalan mengelilingi meja dan berdiri tepat didepan Ellard. “Aku tidak pernah
menyuruhnya untuk melakukan itu. Dia yang ingin pergi, dan aku berhasil
menghentikannya.”
Ellard
tidak menyahut, namun tatapannya tetap menajam— menuntut penjelasan yang lebih.
“Ara…
sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Dia sangat terluka dengan pernikahan
keduamu ini. Dia memutuskan untuk pergi dengan alasan tidak bisa hidup satu
atap bersama kalian. Walaupun menyetujui pernikahanmu adalah keputusannya. Hari
itu dia menangis dan memohon pada daddy untuk membiarkannya pergi-“
“Dan
daddy langsung menyetujuinya?” tuding Ellard menyelah, buku-buku jarinya
memutih.
“Lalu
apa yang harus kulakukan? Sementara di lain pihak, Clarissa juga mengandung
anakmu dan hampir gila karna kau menolak menikahinya! Bahkan meninggalkannya
begitu saja di altar”
Telak.
Perkataan Holland sangat menusuk.
“Ara
akan terus terluka dengan adanya Clarissa ditengah-tengah kalian. Seharusnya
kamu bersyukur karna Daddy yang menyembunyikannya— bukan pergi dengan orang
lain.”
Ellard
tersenyum miring, “Kalau begitu sekarang kembalikan istriku. Aku yang akan
menyelesaikan semua permasalahan diantara kami”
“Tidak,
Son. Sebelum kamu berhasil membuktikan kalau anak yang dikandung Clarissa
bukanlah milikmu”
Ellard
terdiam. Namun tangannya terkepal dengan tubuh bergetar. Bagaimana dia harus
membuktikan jika anak yang dikandung Clarissa memang darah dagingnya. Minggu
lalu ia diam-diam menyuruh dokter untuk melakukan tes DNA secara sembunyi pada
kandungan Clarissa, dan hasilnya menunjukkan anak itu memang terbukti darah
dagingnya. Apa yang harus dibuktikan lagi? Apa ini memang akhir kisahnya dengan
__ADS_1
wanita yang sangat ia cintai? Wanita yang sedari dulu telah diperjuangkannya,
dan sekarang akhirnya memilih pergi? Karna kesalahan bodohnya.
“Nikahi
Clarissa. Wanita itu juga tengah sekarat El. Dia bahkan lebih memilih
mempertahankan bayi kalian daripada keselamatannya sendiri. Hidupnya tidak lama
lagi.” Holland menatap sendu wajah pucat putranya “mengenai Ara, daddy akan
pastikan dia akan tetap baik-baik saja. Daddy akan memastikan dia tidak akan
pergi lebih jauh. Asal kamu mau bersabar menunggu sampai anak yang dikandung
Clarissa lahir dan gadis itu pergi dengan tenang. Jangan memaksakan kehendakmu,”
Ayahnya
benar, hubungan antara dirinya dan Ara tidak akan pernah berjalan dengan mulus
selama masih ada Clarissa. Tapi kenapa Ara harus pergi disaat dirinya
benar-benar membutuhkan wanita itu untuk berada disisinya. Ditengah tekanan
yang dihadapinya sekarang, dia sangat membutuhkan Ara-nya untuk menghibur dan
memberinya kekuatan. Sungguh Ellard tidak bisa menerima hal itu. Rasanya itu
berkali lipat lebih menyakitkan.
Seketika
tubuh Ellard menyorot jatuh— bersimpuh dilantai. Ia merangkak— memeluk kedua
kaki ayahnya. Ini adalah kehancuran kedua baginya setelah kematian mamanya.
Tubuhnya bergetar dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Holland
yang melihat itu membuang wajahnya dari Ellard. Tidak tahan menyaksikan
langsung tatapan terluka putra semata wayangnya. Dia tidak memiliki pilihan
lain selain daripada ini.
“Kembalikan
Ara-ku, Dad. Aku tidak bisa jika tanpanya… kembalikan dia Dad… kembalikan…”
****
Sementara
itu di dalam sebuah kamar, air mata Ara terus menetes kala ia kini sedang
menatap potret gambar dirinya dengan Ellard. Sebenarnya dia akan pergi bersama
dengan Leo, namun Ayah mertuanya sudah lebih dulu mengetahui lalu menangkapnya
dan membawa dirinya ke tempat ini. Sesuai permintaannya, Holland membawanya
tinggal di dekat Gereja Vatikan yang berada di pelosok Roma. Dia memilih tempat
ini, karna disini dia bisa merasakan ketenangan dengan ikut membantu para
biarawati di Gereja dan mengajar anak-anak kecil disana.
“Apa
kamu baik-baik saja?” Suster Anna, wanita parubaya datang dengan segelas susu
Hamil Ara ditangannya.
Ara
anda datang”
Suster
Anna tersenyum lalu menyerahkan susu tersebut “Minumlah. Selagi masih hangat.
Kamu perlu mengkomsumsi banyak nutrisi agar tetap sehat demi calon anakmu”
“Terimakasih,
Suster” Ara meneguk langsung minumannya sampai habis.
“Apa
kamu betah berada ditempat ini?” tanya suster Anna setelah Ara meletakkan gelas
kosongnya di nakas
“Tentu
saja suster. Disini sangat menenangkan” Ara tersenyum senang
“Syukurlah
kalau begitu.” Suster Anna mengusap lembut surai coklat Ara “Lalu bagaimana
dengan hubunganmu dengan suamimu? Tidak selamanya bukan kamu akan bersembunyi
darinya terus? Kamu masih berstatus sebagai istrinya—terlebih sekarang kamu
juga sedang mengandung anaknya,” tanyanya penuh kehati-hatian. Ara sudah
menceritakan semua permasalahannya pada pemimpin biarawati ini.
Senyum
yang semula mengembang itu, perlaha-lahan memudar.
“Untuk
sekarang aku belum tahu suster. Saat ini aku hanya ingin bersama dengan anakku—
pergi sejauh mungkin darinya. Lagi pula mereka sekarang sudah menikah. Tidak
ada alasan untuk aku tetap berada disana,” lirih Ara dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
“Ara—“
“Cukup
aku yang terluka. Jangan anakku. Ellard bisa hidup tanpa diriku.” Sela Ara seraya
menggeleng lemah “dia akan bahagia dengan adanya Clarissa dan anak mereka
disisi”
Suster Anna tidak menyahut lagi. Dia mengambil
tangan Ara lalu mengelus-elusnya dengan penuh kelembutan layaknya seorang ibu
yang tengah memberikan ketenangan pada putrinya.
“Baiklah,
tinggallah disini selama apapun yang kamu mau. Kami semua juga sangat senang
dengan kehadiranmu, apalagi anak-anak itu. mereka sangat menyukaimu” Ucap Suster
Anna seraya menyeka airmata Ara. “iya. Kamu berhak bahagia— bersama dengan
anakmu ditempat ini,”
“Terimakasih
__ADS_1
banyak suster,” Ara menjatuhkan dirinya kedalam pelukan wanita setengah baya
itu. setiap ucapannya berhasil memberi ketenangan bagi jiwanya yang tengah
merana.
****
Tujuh bulan
kemudian
Ellard
berjalan dengan tergesa menujuh kamar Inap Clarissa. Raut wajahnya memancarkan
kecemasan yang begitu kentara. Beberapa jam lalu dia tengah memimpin rapat dan
terpaksa harus ditinggalkan karna telepon dari Ayahnya yang mengatakan bahwa
Clarissa kritis.
Ellard
memasuki kamar Clarissa, dan mendapati Clarissa yang sedang berteriak kesakitan
dengan dipegangi oleh dua orang perawat untuk menenangkannya. Wanita itu baru
saja melahirkan anak mereka. seorang bayi
perempuan cantik.
Di
dalam kamar itu tidak hanya ada dokter dan suster, tetapi ada juga kedua
orangtua Clarissa, Oma beserta Holland. Raut kesedihan terpeta jelas diwajah
mereka. Terlebih Diana, yang sejak tadi tidak hentinya menangis— menyaksikan
keadaan putrinya yang kritis.
Ellard
menghampiri Clarissa, dan dua orang perawat yang memegangi beserta dokter
segera menyingkir. Ellard mengambil alih dan membawa Clarissa kepelukannya.
“Sakit…”
keluh Clarissa terisak. Wajahnya merah dan keringat bercucuran di wajahnya.
“Tenanglah…”
Ellard membelai rambut Clarissa dan mengecup puncak kepalanya. “kenapa kamu
lebih memilih mempertahankan anak kita daripada nyawamu sendiri?” tanya Ellard
menatap intens Clarissa
Clarissa
membuka matanya yang sempat terpejam— mendongak menatap Ellard dengan netranya
yang memerah.
“Bukankah
karna anak kitalah kamu bersedia berada
disampingku selama tujuh bulan ini?” Clarissa berbicara dengan nada yang
terputus-putus “Sekalipun tanpa ada ikatan pernikahan,”
“Cla…”
Clarissa
menghirup napasnya panjang. Genggaman tangannya pada Ellard semakin kuat.
“Tidak
perlu merasa bersalah. Karna selama beberapa bulan bisa berdekatan dan
diperhatikan olehmu saja, sudah membuatku sangat bahagia…, setidaknya impianku
untuk hidup bersamamu sudah terwujud. Aku bahagia…”
Clarissa
memejamkan mata, meringis ketika gelombang sakit itu semakin kuat menghantam.
Setelah cukup mampu mengatasi, ia kembali membuka mata.
“Berjanjilah…
kamu akan menjaga dan menyayangi putri kita sampai kapan pun. Jangan pernah
meninggalkannya…,”
Ellard
mengangguk lemah, “Aku akan menyayangi putri kita Cla. Terimakasih atas pengorbanannmu.”
Ellard
mencium kening Clarissa dengan tulus.
“Ellard…,
pengorbananku tidak sebanding dengan Ara. Dia lebih banyak berkorban…, berulangkali
aku selalu berusaha merebutmu darinya hingga memanfaatkan dirimu yang tengah
mabuk dan melakukan cara terkotor agar aku dapat memilikimu sepenuhnya…. karna
itu, jika suatu hari nanti putri kita menanyakan siapa mamanya… katakan kalau
itu adalah Ara. Aku ingin Ara yang menjadi ibunya. Tolong sampaikan maafku
padanya… maafkan aku…” Clarissa menangis pilu penuh penyesalan.
Ellard
semakin mempererat pelukannya pada Clarissa. Ia memejamkan matanya mendengarkan
semua pengakuan Clarissa. Dadanya naik turun menahan amarah dan kecewa dalam
dirinya.
“Semua
sudah terjadi, kamu tidak perlu menyesalinya lagi,”
“Aku mencintaimu….”
Kalimat
tersebut menjadi kalimat terakhir yang diucapkan Clarissa sebelum alat Elektrokardiogram menampilkan garis
lurus. Genggaman tangan Clarissa terlepas, diikuti matanya yang tertutup untuk
selamanya…
To be continued
Info kapan Up ada di IGS: rianitasitumorangg
See youuuuuuuuu
Baby Cla & El
__ADS_1