Touching Heart

Touching Heart
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

HAPPY READING


.


.


.


Dua


hari berlalu, pagi ini Ara  dan suaminya akan


kembali pulang ke mansion mereka. Rencananya Ellard akan langsung berangkat ke


kantor seusai mengantar Ara pulang ke rumah lebih dulu. Namun sejak semalam


istrinya itu selalu merengek padanya untuk di ijinkan bertemu dengan ibu dari


Leo. Merengek tak habis-habisnya hingga membuatnya jengah dan akhirnya


mengalah. Dan jadilah pagi ini dengan berat hati ia mengantarkan Ara-nya sampai


ke depan kediaman keluarga Leonard.


“Semangat


kerjanya ya sayang, jangan lupa makan. Sampai jumpa nanti dirumah” ucap Ara


seraya tersenyum manis, lalu meraih handle pintu mobil dan hendak keluar tetapi


dengan sigap lengannya segera ditarik kembali oleh Ellard.


“Ada


ap—“


“Morning


kiss,” tanpa aba-aba Ellard mencium bibir Ara, padahal pintu mobil sudah


terbuka lebar. Ciuman itu turun, mengigit gemas dagunya sebelum perlahan


menjauhkan. “Cepat pulang dan istirahat yang banyak. Kaki kamu masih belum


pulih. Nanti biar Blake yang menjemput kamu dari sini. Dan satu lagi…”


“Apa?”


alis Ara naik sebelah


Sekali


lagi Ellard mencium serta menghisap bibir istrinya “Jaga jarak dengan Leo.


Ingat, kamu uda ada suami” titahnya seraya mengusap lembut sisa saliva dibibir


Ara dengan ibu jarinya


“Iya


suamiku. Don’t worry, aku Cuma ketemu tante Ambar sebentar” gereget Ara seraya


menggigit gemas ujung hidung bangir Ellard dan langsung bergegas keluar sebelum


suaminya itu menahannya lebih lama lagi di dalam mobil.


Ara


masih berjalan tertatih-tatih, nyeri akibat cedera di tulang keringnya masih


terasa. Namun sebisa mungkin ia bersikap biasa agar Ellard tidak menariknya


kembali masuk ke dalam mobil dan membawanya pulang. Karna sejak tadi itulah


yang dinantikan suaminya.


“Hai


sayangnya tante, bagaimana kabarmu?”


Sapaan


hangat diberikan mama Leo begitu membuka pintu rumah. Wanita parubaya yang


masih terlihat cantik itu segera memeluk Ara. “Tante kangen banget sama kamu…


uda lama sih kamu enggak main lagi kerumah”


“Ara


sangat baik tante. Maaf ya, baru bisa mengunjungi tante sekarang. Habisnya aku


sibuk banget tante” aku Ara dengan nada menyesal seraya membalas pelukan tante


Ambar.


Tante


Ambar mengurai pelukannya sembari menjawil gemas hidung Ara, “Yaudah enggak


apa-apa. Yang penting sekarang kamu uda disini sama tante. Kita masuk yuk”


Ara


mengangguk antusias lalu menoleh ke belakang untuk memastikan Ellard yang


ternyata belum pergi. Jendela mobil masih terbuka dan tatapan Ellard terarah


lekat padanya.


Love you— adalah gerakan bibir Ara yang


dengan sangat jelas bisa dibaca. Senyum Ellard terbit dan turut membalas


gerakan bibir Ara “Love you too. Bye baby…”


ucapnya seraya melambaikan tangan pada istrinya. Tidak lupa Ellard juga menoleh


pada wanita parubaya disamping istrinya— ia tersenyum ramah dan mengangguk


kecil yang dibalas hal yang sama oleh Ambar. Setelahnya mobil dilajukan—


meninggalkan kediaman megah tersebut.


****


Bagaikan


lupa waktu, sepanjang pagi menjelang siang itu Ara dan tante Ambar menghabiskan


banyak waktu dengan melakukan banyak kegiatan layaknya ibu dan anak, seperti


bercerita panjang lebar, memasak, menanam bunga dan terakhir menonton bersama dengan


kepala Ara yang direbahkan di pangkuan Ambar— sambil menonton, wanita parubaya


itu mengelus lembut surai coklat Ara dengan sayang. Sungguh, sejak dulu ia


memang sangat menyayangi gadis yang ada dalam pangkuannya ini. Bahkan tidak


berpikir dua kali untuk mendonorkan kornea mata milik putri bungsunya yang


telah lama tiada kepada Ara.


“Ara,


sampe sekarang tante masih belum percaya kalau kamu gadis gembilt tante loh,


soalnya kamu berubah cantik banget sekarang” ucap Ambar


“Benarkah?”


Ara mendongak “sampai sekarang pun aku gak percaya kalau pemilik tubuh ini


adalah aku tan” kekeh Ara


Ambar


menoyor pipi Ara, “Ck, kalau ini enggak kamu jadi siapa dong yang sekarang


tidur-tiduran di pangkuan tante ini? Hantu?”


“Bisa


jadi sih tan” sahutnya dengan ekspresi pura-pura terkejut


“Konyol


kamu” dengus Ambar seraya mengacak gemas rambut Ara, dan langsung membuat


keduanya tertawa bersamaan.


“Oya


tante, apa kak Leo sering membawa kekasihnya main kerumah?” tanya Ara,


mendudukkan dirinya disebelah Ambar


“Kekasih?”


Ambar mengerutkan kening “memangnya anak tante uda punya pasangan?”


Ara


mengangguk cepat “Jadi tante sama sekali enggak tahu?” Ara melotot tidak


percaya


Ambar


menggeleng “Kalau tante tahu, uda tante suruh dia bawa kesini buat dikenali


sama tante” terang Ambar “memangnya siapa kekasih Leo sekarang?”


“Sara


Josephine tante, senior Ara dulu. Orangnya cantik banget dan pintar lagi sama


kayak kak Leo. Mereka uda lama loh pacarannya tan”


“Ck,


anak itu. Berani sekali dia tidak memberitahu tante. lihat saja nanti kalau dia


datang, bakal tante amukin” kesal Ambar


Ara


meringis, “Tapi jangan dikasih tahu ya tan, kalo Ara yang cerita ke tante”


“Kamu


tenang aja, tante enggak akan kasih tahu— oh ya ampun!” pekik Ambar tiba-tiba


menepuk dahinya


“Ada


apa tan?”


“Tante


lupa antarin makan siangnya Leo. Tadi dia minta diantarin makanan” jelas Ambar


gelagapan sambil melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul dua siang


“Yauda


tante siapin aja. Biar aku nanti yang ngantar ke kantor kak Leo”


“Kamu


yakin? Tapi kan kaki kamu masih sakit sayang. Uda biar tan—“


“Gak


apa-apa tan. Sekalian aku juga mau ke kantor El. Dia tadi chat aku suruh datang


kesana. Kebetulan kantor mereka juga berdekatan”


“Begitu


ya, yaudah tante siapin dulu ya sayang”


Ara


mengangguk dan memberikan waktu untuk Ambar menyiapkan bekal buat putranya.


****


Tiga


puluh menit kemudian Ara sampai di depan gedung perusahaan milik Leo. Ia segera


melangkah masuk kedalam setelah sebelumnya berpesan pada Blake untuk tetap


menunggunya ditempat, mengingat dirinya hanya sebentar disana.


“Sibuk


banget Pak Leo?” Ara menghela langkah kedalam ruangan kerja Leo setelah menutup


pintu, tangannya membawa bekal makanan


Leo


mendongak ke arah suara, jantungnya mencelos melihat Ara ada disini— datang


mengunjungi kantornya


“Ara…”

__ADS_1


Leo langsung berdiri, ia tidak percaya melihat kedatangannya “kamu ngapain


disini?”


Ara


mengangkat bekal ditangannya “Mengantarkan makan siang anda Pak Leo” ucapnya


mengerling seraya meletakkan kotak makanan diatas meja. Lantas berdiri tepat


dihadapannya.


“Maaf


agak terlambat, soalnya aku dan tante keasikan tadi ceritanya sampe lupa deh


sama kakak. Kak Leo pasti uda lapar banget kan?”


“Uda


tahu nanya” Leo membungkuk sedikit lalu menyentil pelan kening Ara


“Iissh


kak Leo! Sakit tahu” sungut Ara pura-pura kesakitan


Leo


bersidekap dada, “Ck, enggak usah akting. Enggak cocok banget”


“Keliatan


banget ya?”  Ara menyengir kuda


“Itu


tahu” dengus Leo, ia berbalik badan membuka kotak makanan tersebut “wah enak


nih, ayo makan barsama dulu”


“Maaf


kak, kali ini enggak bisa. Aku harus ke kantor El sakarang” ucap Ara merasa


tidak enak hati


Kegiatan


Leo membuka semua kotak makanan seketika berhenti. Ia kembali menatap Ara


“Sebentar


aja enggak boleh?” masih berharap


Ara


menggeleng lemah, “Blake uda tungguin dibawah. Janji deh kapan-kapan aku temani


kak Leo makan bersama lagi ya”


Leo


menghela nafas “Yaudah, kamu hati-hati ya” sahut Leo mengelus lembut pucuk


kepala Ara


“Pasti.


Kakak makan yang banyak tahu. Biar kuat kerjanya” semangat Ara


“Iya


bawel” Leo mencebik


“Bye


kak Leo” pamit Ara


Namun


baru menghela kaki selangkah, tiba-tiba saja Leo menarik lengannya hingga


membuat Ara yang belum siap, terhuyung jatuh ke dalam dekapannya. Leo langsung memeluknya.


Deg


Ara


mengerjap berulangkali. Tubuhnya seketika kakuh dan jantungnya seperti jatuh ke


perut. Pelukan ini tidak biasa. Leo memeluknya begitu erat, seakan tidak rela


melepaskannya. Sementara kepalanya bersandar nyaman dibahunya. Cukup lama


sampai…


“Ka—kak…”


gugup Ara setelah berhasil mengatasi keterkejutannya


“Sebentar


saja, biarkan seperti ini” lirih Leo


Ara


terdiam, membiarkan Leo semakin merengkuh tubuhnya. Dalam hati Ara


bertanya-tanya, ada apa dengan lelaki ini? Tidak biasanya Leo bersikap manja


begini. Biasanya dulu dia yang selalu melakukan ini pada lelaki yang pernah


mengisih hatinya ini. Ntah sadar atau tidak, satu tangannya menepuki pelan


punggung Leo seakan memberi ketenangan.


Sementara


dari balik tubuh, Leo mengulum senyum mendapati respon gadis kecilnya yang


begini. Ia hanya terlalu merindukan gadis kecilnya ini. Sekuat apapun ia


menghalau jauh perasaannya untuk Ara, ia tetap tidak bisa. Yang ada dia semakin


tersiksa karna merindukan gadis ini setiap harinya. Bahkan dia sengaja


menjauhkan diri dari Ara selama dua bulan ini, agar tidak ingin gadisnya ini


terus bertengkar dengan Ellard  yang


begitu posesif dan cemburuan.


Titik


mencintai paling tinggi adalah mengikhlaskan, dan dia telah sampai dititik itu.


mengikhlaskan gadis yang dicintainya dengan lelaki lain sekalipun sangat


“I


miss you…”


****


Ara


tiba di lobi kantor, setelah menanyakan keberadaan suaminya ia segera menghela


langkah menujuh ruangan kerja Ellard. Berbeda dengan sebelumnya yang ditatap


sinis dan terkesan merendahkan, kini Ara mendapati banyak sapaan yang begitu


sopan dan menghormatinya sebagai istri dari pemilik perusahaan tempat mereka


bekerja. Tak jarang beberapa dari mereka menatap kagum dan berbisik memuji


perubahan dirinya yang sekarang. Ara tetap memasang senyum ketika membalas


sapaan mereka dan menghiraukan bisikan para karyawan suaminya, sekalipun


bisikan itu mengenai pujian terhadap dirinya.


Ting


Lift


tempat dimana ruangan Ellard berada terbuka, dan baru saja ia melangkah keluar


dari sana, ia dikagetkan dengan keberadaan Oma Ellard yang beridiri di depan


meja Blake. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, tapi seperti biasa Oma


berdecih dan segera memalingkan tatapannya ke arah lain.


Ara


mendesah lesuh, ia mengurut dada sebelum melanjutkan langkahnya. Selalu saja


Oma memasang muka tidak bersahabat begitu jika bertemu dengannya.


“Apa


kabar Oma?” sapa Ara ramah


“Seperti


yang kamu lihat” jawabnya ketus


Ara


mengangguk-anggukkan kepala. “Oma tidak masuk?”


“Tanpa


kamu suruh juga saya akan masuk. Tapi sekretaris cucuku yang tidak tahu diri


ini melarangku masuk” ungkap Oma seraya menatap sinis Blake yang sama sekali


tidak terpengaruh


Ara


mengerutkan kening lalu memandang Blake seolah minta penjelasan “Blake?”


Blake


berdehem sebelum menjawab, “Maaf nona, didalam tuan sedang ada tamu. Beliau


pesan, siapapun tidak boleh ada yang masuk keruangannya sebelum beliau selesai”


“Termasuk


aku?” Ara menunjuk dirinya


“Tsk,


memangnya kamu lebih penting dari saya yang jelas adalah Omanya?” garang Oma


Ara


menelan ludahnya, “Bukan begitu Oma, Cuma tadi El bilang kalau uda sampai


langsung masuk aja keruangannya” jelas Ara


“Itu


kan tadi, bukan sekarang”


Ara


menghela nafas sejenak, percuma menjawab balik Oma. Kenyataan semua hal yang


keluar dari mulutnya akan selalu dianggap salah oleh wanita tua tersebut.


“Maaf


nona, mungkin sebentar lagi tuan akan selesai” Blake menengahi, ia merasa


kasihan pada istri tuannya yang selalu di pojokkan oleh Oma.


“It’s


okay Bla—“


Pranggg


Ketiganya


tersentak ketika mendengar suara bantingan yang begitu keras dari ruangan


Ellard


“Astaga,


ada apa ini? Apa yang sudah terjadi di dalam sana Blake?!” panik Oma bersuara tinggi


Ara


tidak ikut mengeluarkan suara, melainkan segera melangkahkan kaki tergesa


menujuh ruangan Ellard.


“Nona,


jangan! Saya mohon jangan masuk sekarang” Blake mencekal tangan Ara sambil


menggeleng dengan raut wajah yang begitu tegang


Pranggg


“Blake

__ADS_1


lepaskan. Apa-apan kamu ini?” Ara ikut meninggikan suara “sesuatu yang buruk


pasti sedang terjadi di dalam sana” lanjutnya menghempaskan kuat cekalan Blake


“Tidak


nona, percaya sama saya” Blake masih berusaha mencegah. Kali ini ketegangan di


wajahnya tidak bisa disembunyikan lagi.


Tiba-tiba


tanpa diduga Oma datang dan langsung mendorong jauh tubuh Blake sekuat tenaga


“Dasar


sekeretaris tidak berguna” maki Oma “berani-beraninya kamu bersikap biasa saja


disaat cucuku di dalam sana sedang dalam bahaya”


Ara


sempat terkejut, tapi kali ini dengan cepat ia tersadar lalu tanpa menunggu


lama langsung mendorong pintu ruangan Ellard. Belum sempat ia membuka suara


tiba-tiba…


“AKU


HAMIL ANAK KAMU ELLARD”


Duarrrr


“Ap-apa…?


Hamil…? Anak?” terputus-putus, Ara mencangkul pita suaranya yang seketika sulit


dikeluarkan. Pelan, Ia melangkah maju, napasnya sudah tidak teratur. “Anak…


siapa?”


Tubuh


Ellard membeku, tidak dapat digerakkan. Ketika menatap nanar Ara yang berjalan


perlahan ke arah mereka tak kalah shock. Ia benar-benar kosong, otaknya seakan


hilang fungsi untuk sesaat.


“A-Ara…”


bibirnya bergetar, tangannya yang semula memegang kuat pundak Clarissa terlepas


begitu saja.


“Katakan…


A-anak siapa?” Ara masih menuntut ketika kakinya berhenti tepat di depan


keduanya.


“Iya


Anak.” Clarissa yang menjawab


Ellard


dengan cepat berdiri menghalangi di antara tubuh mereka, mendorong  tubuh Clarissa ke belakang sambil menggeleng


penuh permohonan. “Jangan, Cla. Jangan!”


Cla


menatap Ellard, air mata terus berjatuhan. “Kenapa tidak? Kamu begitu ketakutan


istri kesayanganmu ini mengetahui kalau sekarang didalam perutku ini ada anakmu?!


Dia harus mengetahuinya kalau bayi yang kukandung adalah anakmu El!”


“BAYI


ITU BUKAN ANAKKU CLA!!”  teriak Ellard


membahana dengan deru nafas kasar


“Ini


anakmu El! kita melakukannya dua bulan lalu!” suara Clarissa tak kalah tinggi


“El,


katakan kalau itu tidak benar. Tolong katakan, kalian tidak… tidak


semenjijikkan itu?” Ara bergetar hebat, air matanya sudah berjatuhan


Ellard


berbalik, menatap Ara dengan air mata yang ikut terjatuh dari netranya. “Sayang,


itu—itu tidak benar. Anak yang dikandung Cla itu bukan punyaku” Ellard


menangkup wajah pucat Ara seraya berulangkali menggeleng berharap Ara-nya


percaya


“Ini


anakmu El!” raung Clarisa langsung menggeser tubuh besar Ellard dan berhadapan


langsung dengan Ara. Ia meraih tangan Ara dan meletakkan surat bukti


kehamilannya beserta beberapa foto.


“kamu


bisa lihat sendiri disini. Dua bulan lalu kami melakukannya waktu hubungan


kalian sedang tidak baik. Ellard mabuk dan mengira aku adalah dirimu” terang


Clarissa penuh penekanan


Dengan


gemetar Ara membuka surat itu lalu membacanya. Kemudian matanya beralih menatap


beberapa gambar yang didalamnya menampilkan sosok sepasang manusia yang sedang tidur


sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun kecuali selimut yang menutupi tubuh


keduanya.


Melihat


itu Ellard kembali murka. “APA YANG KAU LAKUKAN?!” bentaknya, Ia merampas surat


dan foto tidak layak mereka dari tangan Ara lalu merobek-robeknya hingga tak berbentuk


lagi


Ara


membekap mulut, lalu tertawa terbahak-bahak hingga tawa itu berubah menjadi


tangis dengan isak yang hebat. Ia ambruk di lantai, menangis sejadi-jadinya


dihadapan mereka. ia tidak bisa, benar-benar kali ini tidak bisa berpura-pura


tegar seperti sebelumnya. Pertahanannya runtuh detik itu juga.


“Ara…”


Ellard tercekat, ia menjatuhkan diri dihadapan Ara. Menangis. Benar-benar


menangis. Tidak tahan ketika melihat wanita yang dicintainya merasakan


kehancuran yang begitu nyata karna ulahnya.


“Sa-sayang…


jangan begini” pilu Ellard “Percaya padaku, itu bukan anakku”


Plakk


Kepala


Ellard tertoleh kesamping ketika tamparan keras itu mendarat sempurna di


wajahnya.


“Berhenti


mengelak El. aku muak mendengarnya”


“Ara—“


Ara


mendorong dada Ellard dengan emosi yang sudah tidak dapat lagi dibendung atau


di sembunyikan. Susah payah ia berusaha bangkit berdiri lalu menatap Clarissa


dan…


Plakk


Tamparan


yang sama dilayangkannya pada wajah Clarissa


“Aku


tidak menyangka kamu sampai semurahan ini demi mendapatkan suamiku. Ellard


milik kamu kan, Cla? Ya, seluruhnya, dia milikmu sekarang. Rawat dia dan anak kalian


nanti dengan baik. Aku melepasnya”


“Ara,


apa yang kamu katakan?!” Ellard bangkit berdiri, emosi kembali menguasai


dirinya “Hanya kamu yang akan merawatku dan anak kita nanti. Bukan Clarissa”


geram Ellard, matanya memerah sementara kedua tangannya terkepal kuat


“Sampai


sekarang aku tidak bisa hamil, kalau kamu lupa El?” sesak, suara Ara tercekat


di tenggorokan “kalian berdua akan lebih cocok bersama”


“Ara,


please.. itu menyakitiku sayang.” Ellard serak, menggeleng penuh permohonan “aku


maunya Cuma kamu. Tidak yang lain…” lanjutnya hendak merengkuh tubuh Ara namun


dengan cepat gadis itu mundur ke belakang.


“Terimakasih.


Terimakasih untuk rasa sakit yang kamu torehkan.” Ara menatap Ellard dengan matanya


yang basah, kesakitan jelas terpatri di wajahnya “Aku ingin bercerai. Aku mundur…”


Ara berjalan cepat keluar dari ruangan


Raut


wajah Ellard angsung berubah kaku. Keterkejutan dan kengerian mendadak tercetak


di wajahnya yang mendadak pucat. Rahangnya mengetat marah


“Ara,


kamu mau kemana?!” gelegar Ellard begitu tersadar dari keterkejutannya


Dia


tetap berjalan menujuh pintu tanpa mempedulikan panggilan Ellard, melewati Oma


yang masih membeku ditempatnya. Kakinya masih sakit, namun sekut tenaga ia


mengabaikannya, terus berjalan menujuh lift dengan tertati-tatih sambil sesekali


mengusap air matanya kasar. Cukup. Dia tidak bisa bertahan lebih dari ini. Sekali


lagi lelaki yang dicintainya menghancurkan semua cinta dan kepercayaannya…


To be continued


*Seperti biasa spoiler TH ada di IG: rianitasitumorangg 😉


See youuuuu


**Ellard O'Neill Miller***



Aurora Beatrix Miller



Axcel Gabriel Leonard



Clarissa Veronica Xander


__ADS_1


__ADS_2