
Didalam
kamar, Clara masih terus terisak sesenggukan dalam dekapan Ara. Tubuh gadis
kecil itu bergetar dan Ara berulangkali mengusap punggung Clara dan mencium
puncak kepalanya sesekali.
Ellard
telah menceritakan semua hal yang terjadi pada dirinya selama empat tahun ini
pada Ara— termasuk Clara. Hati Ara mencelos hebat mendengar semua cerita itu. Clarissa
telah lama tiada setelah berhasil melahirkan anaknya ke dunia ini. Sungguh, dia
tidak pernah berpikir Clarissa akan meninggal secepat itu. Dia hanya terus
beranggapan bahwa Ellard telah hidup bahagia dengan Clarissa dan anak mereka. Selama
ini ia hanya fokus pada rasa sakitnya dan tidak pernah mencari tahu berita
mereka sama sekali, setelah memutuskan untuk pergi meninggalkan Ellard. Dan rasa
bersalahnya semakin bertambah setelah mengetahui bahwa Ellard tidak pernah
menikahi Clarissa. Hari itu Ellard meninggalkan Clarissa begitu saja di altar
setelah mengetahui bahwa dirinya kabur. Pria itu menghancurkan pernikahannya—
lebih memilih mencari dirinya seperti orang gila.
Dengan
tangan sedikit gemetar, Ara menangkup wajah sembap Clara yang dipenuhi air mata.
Jantungnya seperti diremas melihat wajah polos tak berdosa dihadapannya. Clara
tidak pernah mengetahui jika ibu kandung sebenarnya adalah Clarissa. Mereka semua
menyembunyikan fakta itu dari Clara karna permintaan Clarissa sendiri, untuk
yang terakhir kalinya. Alhasil, Clara hanya mengetahui bahwa hanya dirinyalah
ibunya. Terbukti sejak tadi gadis kecil yang memiliki rupa yang begitu mirip
dengan Ellard ini, terus saja menangis tersedu dan enggan melepaskan pelukannya
walau sedetik. Clara begitu merindukan sosoknya yang selama ini tidak
dilihatnya.
“Jangan
nangis lagi, sayang.” Ara mengusap jejak air mata Clara, “Mama uda disini,”
hibur Ara begitu lembut, rautnya sama kacaunya dengan Clara.
Masih
sesengguk, Clara menatap lekat Ara “Mama janji enggak tinggalin Cla lagi?”
Ara
menggeleng lemah, “Enggak sayang. Mama enggak akan tinggalin Clara lagi,”
“Janji
enggak ingkar?” Clara mengacungkan jari kelingkingnya “Pinky promise, Mom?”
lanjutnya dengan ekspresi yang terlihat begitu menggemaskan
Ara
tersenyum hangat “Promise, baby” sahut Ara sambil turut mengaitkan jari
kelingkinya dengan Clara.
Clara
tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya “Then, hug me again, Mom”
Ara
terkekeh gemas dan langsung mendekap kembali tubuh kecil Clara.
“I
love you, Mom..”
“Love
you too, my baby” balas Ara, merengkuh lebih erat tubuh Clara.
Meski
Clara tidak lahir dari rahimnya dan juga menjadi penyebab keretakan rumah
tangganya dengan Ellard, ntah mengapa hati Ara sama sekali tidak sedikit pun bisa
membenci gadis kecil dalam pelukannya ini. Hatinya dengan mudah menerima anak
dari hasil kesalahan Ellard. Clara begitu manis dan setiap kali melihat binar mata
penuh kerinduan itu, hatinya terenyuh dan tidak bisa mengabaikannya seperti
orang asing. Clara tidak bersalah. Gadis kecil ini hanya korban dari kebodohan kedua
orangtuanya dimasa lampau.
****
Mereka
berlima sudah saling bergelung di balik selimut saat waktu telah menyentuh
angka sembilan malam. Malam ini ketiga anak mereka merengek minta tidur
bersama, dengan alasan demi merayakan kebersamaan mereka. Tempat tidur Ellard
cukup luas, bahkan masih menyisakan ruang ketika kelimanya telah berada diatas
kasur. Sesuai dugaan, sikembar dan Clara tidur diantara tubuh Ellard dan Ara—
memisahkan keduanya. Dengan punggung yang masing-masing dielus-elus lembut, Clara,
Nala dan Nathan saling berbagi cerita. Sementara Ellard dan Ara mendengarkan
cerita ketiga anaknya.
“Papa,
di malam natal nanti, Nala dan Nathan ulang tahun. Kami mau pesta yang besar
dan meriah, Papa. Nala mau undang teman-teman yang banyak, kado natal dan ulang
tahun yang banyak dan santa clause serta para peri-perinya juga harus ada”
dengan mata yang sudah sayu, Nala berbalik ke arah Ellard. “Boleh kan, Papa?”
Ellard
tidak langsung menjawab, matanya melirik pada Ara yang kini tengah tersenyum,
hangat sekali. Ellard bahkan gemas, ingin mendekapnya erat-erat ketika dia
menatap Nala penuh keibuan.
“Tentu
__ADS_1
saja boleh, sayang.” Ellard mengecup pipi tembam Nala “kamu tinggal bilang saja
apa lagi yang kamu mau. Nanti Papa akan siapkan semuanya”
“Really,
Papa?” mata Nala berbinar ceria
Ellard
mengulas senyum dan mengangguk, “Nathan juga kalau pengen tambahan sesuatu di
ulang tahun kalian, bilang sama Papa,”
Mendengar
namanya disebut, Nathan segera mendongak. Menatap ayahnya sejenak dengan
gelagat tampak berpikir.
“Nathan
enggak mau pesta yang besar, Papa. Nathan mau yang lain”
“Apa
itu, Son?” tanya Ellard penasaran
“I
want plane, Papa” Nathan menjawab ragu-ragu
“Plane?”
beo Ellard “baiklah, nanti Papa akan membelikanmu pesawat yang banyak” Ellard
mengusap lembut kepala putranya
“Buy
me a plane, Papa. A real Plane that can fly. I wanna drive the plane ” pinta
Nathan dengan wajah polosnya
Lima detik, sepuluh
detik, dua puluh detik…
Ellard
melongoh. Tidak percaya bahwa pesawat yang diinginkan putranya adalah pesawat
sungguhan.
“You
can’t give one to me, Papa” Nathan mencebik, menahan tangis karna sang ayah tak
kunjung menjawabnya
Ara
menghela napas panjang. Sudah menduga jika yang yang dimaksudkan Nathan adalah
pesawat sungguhan. Putranya ini memang sudah lama sangat terobsesi dengan hal
yang berbau pesawat. Astaga, Nathan baru akan memasuki usia empat tahun , tapi
permintaannya sudah diluar batas.
“Tidak
sayang. Kamu masih terlalu kecil untuk memiliki pesawat sungguhan. Mama tidak
akan mengijinkan” tolak Ara lembut namun sarat ketegasan
Nathan
Bahunya naik turun karna air matanya sudah keluar begitu saja.
Ara
tersadar, berniat meraih Nathan yang berada ditengah— hendak menenangkan. Tapi tiba-tiba
saja Ellard sudah mengangkat tubuh kecilnya lebih dulu dan dibaringkan diatas
tubuhnya. Ellard mencium mata berair Nathan bergantian sembari menyunggingkan
senyum gelinya, begitu tulus.
“Kamu
mau berapa, hm? Papa punya lima belas di New York. Masih kurang?”
Ara
menganga. Ellard mengucapkan kalimat itu begitu santai.
“Really,
Papa?” Nathan mengedipkan mata, wajahnya tertegun— tampak lucu. Ellard tidak
tahan untuk menggigit pelan hidung mungilnya
“Why
not? Selama kamu dengan Papa, apapun bisa kamu miliki.”
“Horray!
Thank you Papa. I love you so much,” pekik Nathan riang, dia memeluk dan
mengecupi pipi Ellard.
“El…”
erang Ara dongkol “jangan becanda. Itu terlalu berlebihan”
Ellard
menoleh— mengangkat alis. “Aku yang tahu pasti mana ukuran berlebihan dan
tidak.”
“Tapi—“
“Ck,
mood sombong Papa uda kumat, Ma” sela Clara mendecih “jangan diladeni. Kita bobo
aja, Ma” lanjutnya sembari memeluk erat Ara.
“Kamu
memang yang paling tahu sekali Papa, Nak” Ellard terkekeh geli— mengacak gemas
surai Clara
Sekali
lagi Ara menghela napas lelah. “Baiklah sudah jam sepuluh. Waktunya tidur”
“Good
night, Ma, Pa. Love you”
Ara bergerak ke arah Nathan yang masih
berbaring diatas tubuh Ellard. Ia mengecup keningnya, lalu Nala dan terakhir
__ADS_1
Clara. Pun Ellard turut melakukan hal yang sama pada ketiga buah hatinya. Dan
untuk Nathan, ia tetap membiarkan bocah itu berbaring nyaman diatas tubuhnya.
****
Tengah
malam, Ellard pelan-pelan bangkit dari ranjang dan berputar ke sisi Ara yang
tengah terlelap.
“Sayang,
mau tidur peluk kamu,” Ellard menciumi pipi Ara “Anak-anak uda lelap. Ayo tidur
di sofa,”
“Apa?”
Ara masih bingung, sadar tak sadar dibangunkan tiba-tiba. “Ada apa, El?”
“Aku
enggak bisa tidur kalo enggak peluk kamu,” Ellard membisik “Aku gendong ya?”
Ara
mengerjap pelan, sambil mengucek matanya dan menoleh ke arah ketiga anaknya
yang sudah tampak pulas. “Aku enggak mau. Kamu aja yang tidur di sofa sendiri”
Ara
mendorong pelan tubuh Ellard— hendak memunggunginya, tapi Ellard tidak
membiarkannya. Dengan sigap ia langsung mengangangkat tubuh Ara hingga membuat
wanita itu memekik tertahan.
“Jangan
harap kamu bisa tidur kalo aku masih bangun,” Ellard mengedikkan bahu santai.
Pelan,
ia membaringkan Ara di sofa kamar, yang cukup memuat dua orang diatasnya.
Ellard mengambil selimut yang sudah ia sediakan disana sejak tadi, lalu
menyelimuti tubuh keduanya dengan posisi Ara yang telah ia peluk erat. Ara
menggertakkan gigi— menahan kesal, lelaki ini selalu bertindak sesukanya.
“Jangan
melihat seperti ingin memakanku begitu, sayang” kekehnya geli seraya mulai
menciumi leher Ara
“El…”
Ara menggeram sebal— memberi peringatan
“Apa,
Sayang?”
“Berhenti
kamu. Aku mau tidur”
“Yaudah
tidur aja. Kan cuma cium-cium doang. Enggak ngajak olahraga malam,”
Ara
mendecak, memukul bisep lengan Ellard dengan kesal.
“Kalau
kamu lupa, kita tidak sedang dalam hubungan yang baik-baik saja”
Ellard
menangkup wajah Ara. Cukup keras sampai bibirnya menyembul maju.
“Apa
penjelasanku tadi sore masih belum cukup, hm?” gemas, Ellard menggigit
bibirnya. “Astaga, Ara, semakin kesini kamu malah menjadi pendendam sekali. But
it’s okay. Aku tetap cinta,”
“Ya,
terserah kamu lah.” Gereget Ara. Ia memilih berbalik memunggungi Ellard. Percuma
jika berdebat dengannya. Lelaki ini sangat pandai menjawab balik dengan raut
santainya.
Suasana
ruangan tiba-tiba hening. Ara pikir Ellard sudah tidur karna tidak mendengar
cicitannya lagi. Dalam hati ia bernafas legah, setidaknya malam ini ia bisa
tidur dengan tenang. Baru saja ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba…
“Terimakasih,
Ara, terima kasih banyak.” Lirih Ellard dengan mata berkaca-kaca, pelukan
hangatnya terasa semakin erat melingkupi tubuh Ara.
Ellard
tahu, kalimat itu tidak cukup mampu menggambarkan, tetapi saat ini memang hanya
itu yang bisa diucapkannya.
“Terimakasih
karna telah bertahan. Terimakasih karna telah melahirkan anak-anak yang luar
biasa untukku. Terimakasih karna telah menerima Clara. Dan terimakasih karna
kamu tidak membeda-bedakan kasih sayangmu untuk mereka.”
Bulir
bening itu akhirnya lolos dari kedua netra Ellard, dadanya berdebar nyaring. “I love you so much, I love you more than anyting, Ara. You’re the best thing that ever happened
to me. I love you, and thankyou for everything.”
Ellard
terus menyerukan berulang kali. Ia sudah tidak bisa menjelaskan betapa ia
mencintai Aurora dari ujung kepala sampai kaki.
To be Continued
Jangan tanyain kpn n knp lama cerita ini up di komen ya... semua aku infoin di IGS: rianitasitumorangg
See youuu ❤
__ADS_1