Touching Heart

Touching Heart
Tiga Puluh Delapan (Seri II)


__ADS_3

Didalam


kamar, Clara masih terus terisak sesenggukan dalam dekapan Ara. Tubuh gadis


kecil itu bergetar dan Ara berulangkali mengusap punggung Clara dan mencium


puncak kepalanya sesekali.


Ellard


telah menceritakan semua hal yang terjadi pada dirinya selama empat tahun ini


pada Ara— termasuk Clara. Hati Ara mencelos hebat mendengar semua cerita itu. Clarissa


telah lama tiada setelah berhasil melahirkan anaknya ke dunia ini. Sungguh, dia


tidak pernah berpikir Clarissa akan meninggal secepat itu. Dia hanya terus


beranggapan bahwa Ellard telah hidup bahagia dengan Clarissa dan anak mereka. Selama


ini ia hanya fokus pada rasa sakitnya dan tidak pernah mencari tahu berita


mereka sama sekali, setelah memutuskan untuk pergi meninggalkan Ellard. Dan rasa


bersalahnya semakin bertambah setelah mengetahui bahwa Ellard tidak pernah


menikahi Clarissa. Hari itu Ellard meninggalkan Clarissa begitu saja di altar


setelah mengetahui bahwa dirinya kabur. Pria itu menghancurkan pernikahannya—


lebih memilih mencari dirinya seperti orang gila.


Dengan


tangan sedikit gemetar, Ara menangkup wajah sembap Clara yang dipenuhi air mata.


Jantungnya seperti diremas melihat wajah polos tak berdosa dihadapannya. Clara


tidak pernah mengetahui jika ibu kandung sebenarnya adalah Clarissa. Mereka semua


menyembunyikan fakta itu dari Clara karna permintaan Clarissa sendiri, untuk


yang terakhir kalinya. Alhasil, Clara hanya mengetahui bahwa hanya dirinyalah


ibunya. Terbukti sejak tadi gadis kecil yang memiliki rupa yang begitu mirip


dengan Ellard ini, terus saja menangis tersedu dan enggan melepaskan pelukannya


walau sedetik. Clara begitu merindukan sosoknya yang selama ini tidak


dilihatnya.


“Jangan


nangis lagi, sayang.” Ara mengusap jejak air mata Clara, “Mama uda disini,”


hibur Ara begitu lembut, rautnya sama kacaunya dengan Clara.


Masih


sesengguk, Clara menatap lekat Ara “Mama janji enggak tinggalin Cla lagi?”


Ara


menggeleng lemah, “Enggak sayang. Mama enggak akan tinggalin Clara lagi,”


“Janji


enggak ingkar?” Clara mengacungkan jari kelingkingnya “Pinky promise, Mom?”


lanjutnya dengan ekspresi yang terlihat begitu menggemaskan


Ara


tersenyum hangat “Promise, baby” sahut Ara sambil turut mengaitkan jari


kelingkinya dengan Clara.


Clara


tersenyum lebar seraya merentangkan kedua tangannya “Then, hug me again, Mom”


Ara


terkekeh gemas dan langsung mendekap kembali tubuh kecil Clara.


“I


love you, Mom..”


“Love


you too, my baby” balas Ara, merengkuh lebih erat tubuh Clara.


Meski


Clara tidak lahir dari rahimnya dan juga menjadi penyebab keretakan rumah


tangganya dengan Ellard, ntah mengapa hati Ara sama sekali tidak sedikit pun bisa


membenci gadis kecil dalam pelukannya ini. Hatinya dengan mudah menerima anak


dari hasil kesalahan Ellard. Clara begitu manis dan setiap kali melihat binar mata


penuh kerinduan itu, hatinya terenyuh dan tidak bisa mengabaikannya seperti


orang asing. Clara tidak bersalah. Gadis kecil ini hanya korban dari kebodohan kedua


orangtuanya dimasa lampau.


****


Mereka


berlima sudah saling bergelung di balik selimut saat waktu telah menyentuh


angka sembilan malam. Malam ini ketiga anak mereka merengek minta tidur


bersama, dengan alasan demi merayakan kebersamaan mereka. Tempat tidur Ellard


cukup luas, bahkan masih menyisakan ruang ketika kelimanya telah berada diatas


kasur. Sesuai dugaan, sikembar dan Clara tidur diantara tubuh Ellard dan Ara—


memisahkan keduanya. Dengan punggung yang masing-masing dielus-elus lembut, Clara,


Nala dan Nathan saling berbagi cerita. Sementara Ellard dan Ara mendengarkan


cerita ketiga anaknya.


“Papa,


di malam natal nanti, Nala dan Nathan ulang tahun. Kami mau pesta yang besar


dan meriah, Papa. Nala mau undang teman-teman yang banyak, kado natal dan ulang


tahun yang banyak dan santa clause serta para peri-perinya juga harus ada”


dengan mata yang sudah sayu, Nala berbalik ke arah Ellard. “Boleh kan, Papa?”


Ellard


tidak langsung menjawab, matanya melirik pada Ara yang kini tengah tersenyum,


hangat sekali. Ellard bahkan gemas, ingin mendekapnya erat-erat ketika dia


menatap Nala penuh keibuan.


“Tentu

__ADS_1


saja boleh, sayang.” Ellard mengecup pipi tembam Nala “kamu tinggal bilang saja


apa lagi yang kamu mau. Nanti Papa akan siapkan semuanya”


“Really,


Papa?” mata Nala berbinar ceria


Ellard


mengulas senyum dan mengangguk, “Nathan juga kalau pengen tambahan sesuatu di


ulang tahun kalian, bilang sama Papa,”


Mendengar


namanya disebut, Nathan segera mendongak. Menatap ayahnya sejenak dengan


gelagat tampak berpikir.


“Nathan


enggak mau pesta yang besar, Papa. Nathan mau yang lain”


“Apa


itu, Son?” tanya Ellard penasaran


“I


want plane, Papa” Nathan menjawab ragu-ragu


“Plane?”


beo Ellard “baiklah, nanti Papa akan membelikanmu pesawat yang banyak” Ellard


mengusap lembut kepala putranya


“Buy


me a plane, Papa. A real Plane that can fly. I wanna drive the plane ” pinta


Nathan dengan wajah polosnya


Lima detik, sepuluh


detik, dua puluh detik…


Ellard


melongoh. Tidak percaya bahwa pesawat yang diinginkan putranya adalah pesawat


sungguhan.


“You


can’t give one to me, Papa” Nathan mencebik, menahan tangis karna sang ayah tak


kunjung menjawabnya


Ara


menghela napas panjang. Sudah menduga jika yang yang dimaksudkan Nathan adalah


pesawat sungguhan. Putranya ini memang sudah lama sangat terobsesi dengan hal


yang berbau pesawat. Astaga, Nathan baru akan memasuki usia empat tahun , tapi


permintaannya sudah diluar batas.


“Tidak


sayang. Kamu masih terlalu kecil untuk memiliki pesawat sungguhan. Mama tidak


akan mengijinkan” tolak Ara lembut namun sarat ketegasan


Nathan


Bahunya naik turun karna air matanya sudah keluar begitu saja.


Ara


tersadar, berniat meraih Nathan yang berada ditengah— hendak menenangkan. Tapi tiba-tiba


saja Ellard sudah mengangkat tubuh kecilnya lebih dulu dan dibaringkan diatas


tubuhnya. Ellard mencium mata berair Nathan bergantian sembari menyunggingkan


senyum gelinya, begitu tulus.


“Kamu


mau berapa, hm? Papa punya lima belas di New York. Masih kurang?”


Ara


menganga. Ellard mengucapkan kalimat itu begitu santai.


“Really,


Papa?” Nathan mengedipkan mata, wajahnya tertegun— tampak lucu. Ellard tidak


tahan untuk menggigit pelan hidung mungilnya


“Why


not? Selama kamu dengan Papa, apapun bisa kamu miliki.”


“Horray!


Thank you Papa. I love you so much,” pekik Nathan riang, dia memeluk dan


mengecupi pipi Ellard.


“El…”


erang Ara dongkol “jangan becanda. Itu terlalu berlebihan”


Ellard


menoleh— mengangkat alis. “Aku yang tahu pasti mana ukuran berlebihan dan


tidak.”


“Tapi—“


“Ck,


mood sombong Papa uda kumat, Ma” sela Clara mendecih “jangan diladeni. Kita bobo


aja, Ma” lanjutnya sembari memeluk erat Ara.


“Kamu


memang yang paling tahu sekali Papa, Nak” Ellard terkekeh geli— mengacak gemas


surai Clara


Sekali


lagi Ara menghela napas lelah. “Baiklah sudah jam sepuluh. Waktunya tidur”


“Good


night, Ma, Pa. Love you”


 Ara bergerak ke arah Nathan yang masih


berbaring diatas tubuh Ellard. Ia mengecup keningnya, lalu Nala dan terakhir

__ADS_1


Clara. Pun Ellard turut melakukan hal yang sama pada ketiga buah hatinya. Dan


untuk Nathan, ia tetap membiarkan bocah itu berbaring nyaman diatas tubuhnya.


****


Tengah


malam, Ellard pelan-pelan bangkit dari ranjang dan berputar ke sisi Ara yang


tengah terlelap.


“Sayang,


mau tidur peluk kamu,” Ellard menciumi pipi Ara “Anak-anak uda lelap. Ayo tidur


di sofa,”


“Apa?”


Ara masih bingung, sadar tak sadar dibangunkan tiba-tiba. “Ada apa, El?”


“Aku


enggak bisa tidur kalo enggak peluk kamu,” Ellard membisik “Aku gendong ya?”


Ara


mengerjap pelan, sambil mengucek matanya dan menoleh ke arah ketiga anaknya


yang sudah tampak pulas. “Aku enggak mau. Kamu aja yang tidur di sofa sendiri”


Ara


mendorong pelan tubuh Ellard— hendak memunggunginya, tapi Ellard tidak


membiarkannya. Dengan sigap ia langsung mengangangkat tubuh Ara hingga membuat


wanita itu memekik tertahan.


“Jangan


harap kamu bisa tidur kalo aku masih bangun,” Ellard mengedikkan bahu santai.


Pelan,


ia membaringkan Ara di sofa kamar, yang cukup memuat dua orang diatasnya.


Ellard mengambil selimut yang sudah ia sediakan disana sejak tadi, lalu


menyelimuti tubuh keduanya dengan posisi Ara yang telah ia peluk erat. Ara


menggertakkan gigi— menahan kesal, lelaki ini selalu bertindak sesukanya.


“Jangan


melihat seperti ingin memakanku begitu, sayang” kekehnya geli seraya mulai


menciumi leher Ara


“El…”


Ara menggeram sebal— memberi peringatan


“Apa,


Sayang?”


“Berhenti


kamu. Aku mau tidur”


“Yaudah


tidur aja. Kan cuma cium-cium doang. Enggak ngajak olahraga malam,”


Ara


mendecak, memukul bisep lengan Ellard dengan kesal.


“Kalau


kamu lupa, kita tidak sedang dalam hubungan yang baik-baik saja”


Ellard


menangkup wajah Ara. Cukup keras sampai bibirnya menyembul maju.


“Apa


penjelasanku tadi sore masih belum cukup, hm?” gemas, Ellard menggigit


bibirnya. “Astaga, Ara, semakin kesini kamu malah menjadi pendendam sekali. But


it’s okay. Aku tetap cinta,”


“Ya,


terserah kamu lah.” Gereget Ara. Ia memilih berbalik memunggungi Ellard. Percuma


jika berdebat dengannya. Lelaki ini sangat pandai menjawab balik dengan raut


santainya.


Suasana


ruangan tiba-tiba hening. Ara pikir Ellard sudah tidur karna tidak mendengar


cicitannya lagi. Dalam hati ia bernafas legah, setidaknya malam ini ia bisa


tidur dengan tenang. Baru saja ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba…


“Terimakasih,


Ara, terima kasih banyak.” Lirih Ellard dengan mata berkaca-kaca, pelukan


hangatnya terasa semakin erat melingkupi tubuh Ara.


Ellard


tahu, kalimat itu tidak cukup mampu menggambarkan, tetapi saat ini memang hanya


itu yang bisa diucapkannya.


“Terimakasih


karna telah bertahan. Terimakasih karna telah melahirkan anak-anak yang luar


biasa untukku. Terimakasih karna telah menerima Clara. Dan terimakasih karna


kamu tidak membeda-bedakan kasih sayangmu untuk mereka.”


Bulir


bening itu akhirnya lolos dari kedua netra Ellard, dadanya berdebar nyaring. “I love you so much, I love you more than anyting, Ara. You’re the best thing that ever happened


to me. I love you, and thankyou for everything.”


Ellard


terus menyerukan berulang kali. Ia sudah tidak bisa menjelaskan betapa ia


mencintai Aurora dari ujung kepala sampai kaki.


To be Continued


Jangan tanyain kpn n knp lama cerita ini up di komen ya... semua aku infoin di IGS: rianitasitumorangg


See youuu ❤

__ADS_1



__ADS_2