Transmigrasi Dua Gadis Absurd

Transmigrasi Dua Gadis Absurd
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Brakkkk


Suara gebrakan meja terdengar bukan dari Rey ataupun Daren tapi dari seseorang yang baru saja datang kearah mereka.


"Anjir"


"Bapakmu pake daster"


"Punya lo gede"


"Ehh ayam ngen"


"Arya gila"


Kira-kira begitu lah latah para curut dari ketiga geng sedangkan yang lain menatap sang pelaku dengan datar kecuali Nana yang menatap sekilas dan melanjutkan makannya.


"KENAPA LO TERUS AJA BULLY SISIL" Teriak Alex menatap Nana, ya Alex lah yang mengebrak meja tersebut yang baru datang bersama teman-temannya.


"Maksud lo apa?" Bukan Nana tapi Rara.


" Lo tanya ke sahabat murahan lo itu" Ucap Alex menunjuk kearah Nana yang tengah santai memakan makanannya.


"Sisil kali yang murahan" Celetuk Nana dengan santai tanpa menoleh kearah mereka.


"Setelah Alex gak lo dapat sekarang lo jadi murahan dengan dikelilingi laki-laki begini apa gak murahan lo" desis Bima dengan sinis.


"Rara menjauh dari mereka" Ucap Leo.


"Siapa lo yang nyuruh gue jauhin mereka? Tanya Rara yang setengah emosi.


" Gue abang lo" ucap Leo.


"Sejak kapan?" ucap Rara mengejek.


" Gue tetap abang lo jadi lo jauhin Nana karna lo akan jadi murahan kaya dia" Ucap Leo menunjuk Nana seketika Nana menatap Leo dengan sulit diartikan.


"Apa maksud lo ngomong gitu?" ucap Key dingin menatap tajam kearah Leo, melihat itu Nana menggenggam lembut tangan Key seketika Key kaget dan menatap kearah Nana yang memberi kode 'jangan' sedangkan ada seseorang yang tak sengaja melihat genggaman tangan itu dia pun hanya bisa mengepalkan tangannya.


"DIA YANG MURAHAN BUKAN SAHABAT GUE" Teriak Rara menunjuk ke arah Sisil yang berantakan dipeluk kan Alex.


"Kalian itu sama-sama murahan" Ucap Danis sinis.


"Sikap lo gak bisa berubah ternyata" Ucap Bryan sedangkan Brayen hanya diam.


"Biar gue tanya kapan gue bully Sisil?" Tanya Nana menatap Alex dkk.

__ADS_1


"Waktu jam pertama" Ucap Alex mantap sedangkan Nana tertawa mendengarnya.


"Kenapa lo tertawa? Gak ada yang lucu disini" Ucap Alex marah.


"Lo tau gue itu di kelas pada saat itu, jadi gimana gue mau bully ****** kecil ini, ya kan guys?" Ucapnya sedangkan yang lain mengiyakan ucapan Nana.


" Sil, ngomong ke aku dia kan yang bully kamu, kamu jangan takut" Ucap Alex lembut menatap ke arah Sisil yang menunduk menahan tangis.


"E-mang bu-kan Nana yang bully aku tapi ada orang lain yang bully aku hiks hiks " Ucapnya menangis sedangkan Alex dkk menjadi diam mendengar ucapan Sisil.


"Denger sendiri kan bukan gue" Ucap Nana sinis.


"Bisa jadi lo nyuruh orang buat bully Sisil" Ucap Danis.


"Betul, lo kan gak suka liat Sisil yang pacaran sama Alex" Ucap Bima.


"Kan udah pernah gue bilang kalo gue gak suka lagi sama Alex lagian gue udah suka seseorang yang gue suka" Ucap Nana lantang dan itu mengejutkan semua orang dan menerka-nerka siapa orang itu sedangkan Alex merasakan sesuatu yang menusuk ke hatinya.


"Kok sakit hati gue ya? Batin Alex bertanya-tanya.


"Gue gak akan biarin lo bahagia" Batin Sisil.


"Lo tau gue muak liat kalian, pengen rasanya kalian tu hilang dari muka bumi ini" Ucap Nana menggebu-gebu sedangkan yang lain hanya diam mendengar ucapan Nana.


"Nana ingat gue abang lo gak pantas lo ngomong seperti itu" Ucap Brayen yang membuka suara.


Plakkk


Plakkk


Dua tamparan mengenai pipi Sisil dan itu membuat Sisil jatuh dilantai sedangkan Alex menatap tajam dengan wajah mengelap marah.


"Apa yang lo lakukan sialan" Ucap Alex emosi yang meluap.


"Gue mau ngasi liat gimana cara ngebully yang benar dan gak boleh setengah-setengah" Ucap Nana sambil mengambil pisau kecil di sepatunya sedangkan yang lain (-Key, Rey, ,Rara, Raka, Aris, Angga dan Chandra) melotot kearah Nana yang memegang pisau itu.


"A-pa ya-ng ka-mu lakukan" Ucapnya terbata-bata karena takut.


"Mau buat karya yang menarik" Ucap Nana dengan mata merahnya dan dengan santai dia menggoreskan ke wajah Sisil.


"Ja-ngan hiks hiks sa-kit" Ucapnya menangis kesakitan.


"Cuma satu karya kok jangan nangis gitu" Ucapnya mengelus pipi Sisil.


"NANA LEPASIN DIA" Teriak Alex dan mendekat kearah Nana.

__ADS_1


"Kalo lo mendekat gue akan membuat lebih" Ucap Nana menatap tajam ke Alex sedangkan Alex pun diam mendengar ucapan Nana yang serius.


"Jangan gila lo na" Ucap Bryan.


"Lo jangan ikut campur" Ucap Nana dingin.


"Lepasin aku hiks hiks" Ucap Sisil yang menangis tersedu-sedu.


"Gue kan belum selesai dengan karya gue jadi diem dulu ya sayang" Ucap Nana lembut dan melanjutkan aksinya.


"Eng-gak sakit hiks hiks " Ucap Sisil.


"Sabar ya dikit lagi selesai" Ucap Nana


"Taaraa, sudah selesai gimana cantik kan?" ucap Nana berbinar senang melihat kaki dan wajah Sisil tergores sedangkan Sisil menangis kesakitan karenanya.


" Bagus banget Sa" Ucap Rara semangat sedangkan yang lain hanya menatap ngeri goresan itu.


"Iya dong Sasa nya Nana gitu lo" Ucapnya bangga.


"Tangan gue kok kena darah menjijikan hiks hiks" ucap Nana menangis yang matanya sudah kembali semula sedangkan yang lain menatap tak percaya bisa-bisanya dia yang ngelakuin dia pula yang gak suka darah itu menempel padanya.


"Key tangan aku kotor karna darah dia hiks hiks" Rengeknya menatap Key dan walaupun sempat terkejut melihat Nana yang merengek kepadanya tetapi Key dengan cepat mengambil tisu yang ada di meja lalu mendekati Nana yang menangis karna terkena darah itu.


"Ini gue bersihin, jadi jangan nangis lagi ya?" Ucap Key lembut sambil mengelap darah itu sedangkan ada beberapa orang yang mengepalkan tangannya.


" Si boss bisa bicara lembut juga yaa" Pekik Restu heboh.


"Fixs deh calon bu boss" Ucap Rafa heboh.


"Banyak yang panas nih pastinya" Ucap Ivan yang mengipas-ngipas tubuhnya.


"Key pengen es cream" Ucap Nana dengan puppy eyes-nya dan itu membuat Key gemas.


"Ayo gue beliin" Ucap Key mengacak rambut Nana dan sebelum meninggalkan mereka key bicara.


"KALIAN DENGER INI KALAU SAMPAI PIHAK SEKOLAH TAU MASALAH INI KALIAN AKAN TAU AKIBATNYA" Teriak Key dengan nada dingin dan sorot mata yang tajam membuat mereka yang ada di kantin takut dan setelah itu mereka berdua pun pergi.


"Kok gue ditinggal sih" Gerutu Rara melihat Nana yang pergi.


"Ayo sama gue aja" Ucap Rey menarik tangan Rara pelan dan pergi menyusul Key dan Nana sedangkan yang lain menatap dua pasangan itu dengan tatapan berbeda-beda dan pergi meninggalkan kantin.


"Sial" Batin dua orang.


"Menarik" Ucap seseorang.

__ADS_1


"Dia milik gue" Batin beberapa orang.


"Lo berubah" Batin beberapa orang.


__ADS_2