Transmigrasi Dua Gadis Absurd

Transmigrasi Dua Gadis Absurd
TIGA PULUH TIGA


__ADS_3

Sudah tiga hari pasca Nana sadar dari komanya dan sekarang dia tengah bersiap-siap pulang kembali ke rumahnya.


Setelah beberapa lama akhirnya Nana pun sampai ke rumahnya, sebenarnya Nana malas untuk pulang ke neraka itu tapi ya mau gimana lagi semenjak tau Nana mengidap kanker otak jadi mereka jadi baik ke Nana.


"Kamu istirahat ya nak" Ucap mommy nya lembut selembut kerikil ralat kapas sedangkan Nana hanya diam diperlakukan dengan baik begini.


"Ayo dek biar kami antar" Ucap twins B tersenyum.


"Gue muak liat kalian kek gini" Ucap Nana datar.


"Setelah tau gue sakit parah baru kalian memperhatikan gue dulu kemana aja, sekarang itu gak butuh kalian baik-baikin gue. Gak ada gunanya bukannya terharu malah makin benci gue sama kalian. Ucap Nana tertawa miris.


"Sakit ini gak seberapa tapi ini (memegang dadanya) lebih sakit dari itu" Lanjutnya lagi sedangkan mereka menatap Nana dengan tatapan bersalah.


"Maafkan daddy" Ucapnya sendu.


"Maafkan kami nak" Ucap mommy nya meneteskan air matanya.


"Maafkan abang dek" Ucap twins B.


"PERCUMA KALIAN MINTA MAAF GAK ADA GUNANYA, HATI GUE UDAH BEKU UNTUK MEMAAFKAN KALIAN, SAKIT TERLALU SAKIT BATIN GUE KARNA KALIAN" Teriak Nana dengan wajah memerah dan menutup pintu kamarnya dengan kasar sedangkan mereka hanya bisa menangis dalam diam dan pergi kekamar masing-masing.


Kalo ditanya tentang Bagas abang pertama Nana, dia sedang melakukan penelitian untuk tugas kuliahnya di sebuah desa terpencil jadi, dia gak tau kalo Nana lagi sakit karna Bagas gak bisa dihubungi.


Sedangkan dikamar Nana, dia tengah duduk dilantai dengan memeluk lututnya ya dia menangis melihat hidupnya yang pertama maupun kedua ini yang sama-sama miris dan setelah beberapa lama darah pun keluar dari hidungnya.


Tes


Tes


Tes


Darah pun keluar dari hidungnya dan Nana hanya bisa tersenyum miris melihat nya.


"Hidup gue gak lama lagi dan gue harus secepatnya mengungkapkan jati diri Sisil, waktu mu untuk bersenang-senang telah habis SISILIA AMARA" Ucapnya menyeringai.


"Lebih baik gue tidur" Ucap Nana merebahkan dirinya di kasurnya dan menuju alam mimpinya.


Sedangkan disisi Brayen dia sekarang tengah termenung di balkon kamarnya dengan meneteskan air matanya.


POV Brayen on


Gue hanya bisa menangis dalam diam melihat adik gue yang marah wajar dia marah gue, selama ini gue gak bisa jadi abang yang baik untuk dia. Gue yang seharusnya menjaga dan melindungi adik kandung gue, tapi gue malah jijik melihatnya bahkan gue dengan teganya memukul dia demi orang lain, gue bodoh dan mungkin sebutan 'abang' tak pantas untuk gue yang brengsek ini.


Dan terlebih lagi gue kaget mendengar dia mengidap kanker otak, rasanya sakit banget mendengar itu. Gue emang gak pantas jadi abang, gue bodoh gue gak tau apa-apa tentang adek gue sendiri, gue merasa bersalah dan sekarang gue menyesal karna perbuatan gue sendiri.


Tapi gue harus berusaha untuk mendapatkan maaf dari dia.


POV Brayen off


❁ ❁ ❁


Kini matahari telah menampakkan dirinya dan sinar-sinarnya membuat gadis cantik ini terbangun.


"Eugggg, udah pagi aja" Ucapnya dengan menguap lebar.


"Gue siap-siap sekolah aja deh, bosen gue di neraka ini" Ucap Nana menuju kamar mandi.

__ADS_1


Setelah beberapa lama akhirnya Nana pun siap dengan pakaian sekolahnya.


Tap


Tap


Tap


Nana pun berjalan menuju ruang makan yang disana telah ada keluarganya kecuali Bagas tentunya.


"Kamu jangan sekolah dulu nak" Ucap mommy nya khawatir.


"Kenapa emangnya? Tanya Nana menaikan satu alisnya.


" Kamu baru aja sembuh, sebaiknya kamu istirahat di rumah dulu" Ucap daddynya.


"Gak usah sok perhatian" Ucap Nana dan pergi meninggalkan mereka sedangkan mereka hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Nana.


"Dad, mom kita berangkat" Pamit twins B.


"Iya, hati-hati" Ucap mommy nya tersenyum dan diangguk oleh twins B.


Sedangkan disisi Nana, dia tengah mengendarai motornya menuju sekolah dan beberapa menit kemudian dia pun telah tiba tanpa hambatan apapun. Setelah memakirkan motornya dia pun berjalan menuju kelasnya.


Brakk


"Anjing bawa paku"


"Bapak lo ngedot"


"Bangsat"


"Tot"


Begitulah kira-kira latah penghuni kelas sedangkan sang pelaku tak menghiraukannya.


"HALLO GUYS, QUEEN NANA COMEBACK PADA KANGEN GAK KANGEN LAH MASAK ENGGAK. LAH INI KAGAK ADA PENYAMBUTAN BUAT QUEEN KALIAN? SUNGGUH TERLALU" Teriak Nana dramatisir.


"WOY JANGAN TERIAK-TERIAK INI BUKAN KUBURAN" Teriak Andre.


"LAH BARU TAU DI KUBURAN BISA TERIAK" Teriak Nana.


"LO PADA NGAPAIN SIH TERIAK-TERIAK KAN NGAK JAUHAN KEK DARI SABANG KE MERAUKE AJA" Teriak Nisa.


"TU LO TERIAK ASU" Teriak Nana sedangkan Nisa hanya cengegesan.


"Emang kalo gue teriak di sabang dan lo nya di Marauke emangnya kedengeran? Tanya Doni binggung lebih tepatnya bego sih.


"Yaa kagak anjing, iye iye aje kedengeran" Ucap Nisa malas.


"Gila lo" Ucap Nana mengejek.


"Iya aku memang gila karna kamu kakanda" Ucap Nisa pura-pura sedih.


"Aku tidak bisa bersama mu adinda" Ucap Nana memalingkan wajahnya.


"Kanda, aku mohon jangan tinggalkan aku" Ucap Nisa bersimpuh dan memegang tangan Nana.

__ADS_1


"Aku tidak bisa bersamamu" Ucap Nana menepis tangan Nisa dan pergi ke kursinya.


"KAKANDA JANGAN TINGGALKAN AKU" Teriak Nisa mendramatis


"Nis, RSJ masih muat kok nampung lo" Ucap Rara tersenyum manis


"Lo kira gue gila? Ucap Nisa


"LO EMANG GILA" Ucap mereka serentak dan tertawa sedangkan Nisa, dia hanya memanyunkan bibirnya kesal.


"Dedek Nisa gak like sama kalian" Ucapnya lebay.


"Kagak peduli" Ucap mereka serentak sedangkan Nisa pun mendengus dan pergi ke kursinya dengan kesal.


"Bwuhahahha, ngakak njir mampos lo terniscayakan" Ucap Nana ngakak.


"Ternistakan kali" Ucap mereka memperbaiki ralat Nana.


"Ralat dikit sabilah" Ucap Nana nyengir


Kring


Kring


Kring


Bel pun berbunyi dan mereka pun menghentikan candaannya. Setelah beberapa menit pak guru pun masuk dan memberikan pelajaran untuk mereka.


Nana sekarang tengah berada di toilet sendirian, tapi sebelum masuk ke kelas Nana tak sengaja berpapasan di tangga dengan Sisil yang kebetulan juga keluar.


Nana melihat itu hanya acuh dan melanjutkan jalannya tapi Sisil tak membiarkannya pergi dia pun menghalang jalan Nana.


"Kenapa lo ngehalangin jalan gue? Tanya Nana malas.


"Aku gak ngehalangin jalan kamu kok" Jawabnya takut-takut.


"Gue jijik muka polos bangsat lo" Ucap Nana.


"Baru sadar yaa" Ucapnya mengejek.


"Udah lama tapi masi gue pantau" Balas Nana.


"Lo akan hancur" Ucapnya menatap tajam Nana.


"Wahh si iblis menunjukkan taringnya" Ucap Nana tertawa mengejek.


"Dasar ******" Ucapnya tak suka mendengar ucapan Nana.


"****** kok teriak ******, situ ngaca donk mba" Ucap Nana sinis.


"Gue akan ambil segalanya dari lo" Ucapnya tersenyum kemenangan.


"Iiwhh yuu, kok maling secara terang-terangan sih? Gak punya malu ya mba apa mba nya misqueen yaa" Ucap Nana jijik dan itu membuat Sisil memerah menahan marah.


"Loh loh kok merah sih, mau eek yaa? Ucap Nana menahan tawa sedangkan Sisil yang marah pun melancarkan aksinya.


"Lo akan menerima akibatnya karna sudah berani sama gue" Ucapnya sambil memegang tangan Nana dan meletakkan tangannya di bahu Sisil.

__ADS_1


"JANGAN LAKUIN ITU NA HIKS HIKS" Teriak Sisil yang histeris sedangkan Nana hanya mengerutkan dahinya.


"Buat drama apa ni bocah?" Batin Nana.


__ADS_2