Transmigrasi Dua Gadis Absurd

Transmigrasi Dua Gadis Absurd
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

Dua hari sesudah kejadian dimana pertengkaran Nana dan Alex dkk. Alex dkk sekarang berada di markas geng Angkasa untuk berkumpul.


"Gue heran kenapa sekarang Nana dan Rara itu berubah total" Ucap Bima yang membuka suara.


"Bener, kaya bukan mereka" Sambung Danis memikirkan perubahan Nana dan Rara sedangkan yang lain hanya diam membenarkan ucapan mereka berdua.


"Nana juga acuh terhadap kami bahkan dia gak mau melihat kami" Ucap Brayen menghela nafas.


"Dia berubah" Ucap Bryan.


"Rara yang biasanya diam sekarang melawan ucapan kami" Ucap Leo sendu.


"Harusnya kalian udah sadar kenapa mereka berubah" Ucap Angga dingin sedangkan mereka diam memikirkan ucapan Angga.


"Kadang yang kita liat bukan apa yang terjadi" Ucap Chandra datar


"Apa maksud lo?" tanya Alex yang tak suka.


"Lo tau maksud gue" Ucap Chandra dingin.


"Maksud lo Sisil yang salah" Ucap Alex yang mulai emosi.


"Gue gak ngomong kek gtu" Ucap Chandra.


"Tapi lo seolah-olah nyalahin Sisil atas apa yang terjadi" desis Alex.


"Terserah" ucap Chandra malas.


"Lo-" ucapan Alex terpotong oleh Brayen.


"Udahlah, kita ini sahabat jangan hanya karna satu cewek kalian berantem" ucap Brayen melerai.


"Bukannya gue gak suka yaa sama Sisil, tapi gue liat-liat semenjak ada dia kita jadi sering berantem" ucap Brayen sedangkan yang lain diam sambil memikirkan ucapan Brayen.


Setelah beberapa saat mereka diam tiba-tiba, ada suara kaca yang pecah tepat di samping mereka.


Pyarrr


Kaca jendela itu pecah akibat lemparan batu oleh seseorang dan itu membuat Alex dkk sedikit terluka akibatnya.


"SIAPA ITU?" teriak Alex mendekat kearah jendela, seketika dia melihat seseorang yang berpakaian hitam yang sudah menjauh dari markas mereka.


"KALIAN, KEJAR PENEROR ITU" Perintah Alex pada dua orang anggota yang berada di depan markas dan dua orang itupun langsung pergi mengejar orang itu.


"Siapa dia?" tanya Angga menatap tajam kearah keluar markas.

__ADS_1


"Apakah dia bagian dari musuh?" tanya Danis.


" Sepertinya kita harus berhati-hati" Ucap Chandra sedangkan mereka semua diam mendengarnya dan kemudian terdengarlah teriakan Bima.


"WOYY!!! KALIAN LIHAT INI" Teriak Bima dan itu membuat mereka mendekat kearah Bima.


"Ini" Ucapnya memberikan sebuah surat yang berlumur kan darah yang bertuliskan "INI PERINGATAN UNTUK KALIAN YANG TELAH MENGANGGU MILIKKU"


"Darimana surat ini?" tanya Alex sambil meremas surat itu dengan marah.


" Dari batu yang dilempar tadi" Ucap Bima.


"Siapa yang miliknya itu?" ucap Bryan.


"Gue curiga ini ada hubungannya kejadian dua hari yang lalu" ucap Brayen.


"Maksud lo pertengkaran kita sama Nana Rara?" tanya Alex.


"Kalian tau yang deket sama Nana Rara itu banyak?" ucap Brayen.


"Terus hubungan nya apa?" tanya Bima bingung.


"Bodoh lo Bim, kalo di simpulin nih yang neror ini adalah salah satu yang suka Nana atau bisa jadi Rara" ucap Danis.


"Ini semua karna mereka" desis Alex.


"LO" ucap Alex menatap marah Angga.


"Apa?" ucap Angga dengan tenang.


"Udah-udah gak usah berantem gini, kita perlu membahas tentang surat ini. Kita gak bisa anggap remeh masalah ini!! bisa jadi kita akan di teror lagi" ucap Brayen menatap kearah surat itu.


"Kita harus cari orang itu" Ucap Chandra dingin dan mereka semua menganggukkan kepalanya.


Disisi lain


Nana tengah mengendarai motor dari supermarket. Tapi, ketika hendak pulang ditengah jalan dia melihat seorang gadis bersimbah darah, Nana yang kaget melihatnya langsung menghentikan motornya dan mendekat kearah gadis itu. Ketika dia mendekat betapa terkejutnya dia melihat gadis itu yang ternyata orang itu adalah orang yang dia kenal.


"Siapa yang ngincer nyawa dia" Batin Nana kaget melihat orang itu.


"Tolongin gak ya, males banget nolongin dia tapi kasihan juga sih" Monolognya sendiri.


"Tapi kalo dia mati kan gak seru masak mati dulu sebelum gue nyiksa dia" Gerutu Nana.


"Karna gue belum kasih penyiksaan yang pantas buat lo, jadi gue bantu lo Sil" Ucap Nana.

__ADS_1


"Tapi males banget ihh" ucap Nana yang melihat kearah gadis itu.


"To-long Na" ucap Sisil yang sedikit sadar menatap penuh harap ke Nana. Ya orang itu adalah Sisil yang telah tergeletak bersimbah darah di jalanan sepi dengan bekas tusukan di bagian perutnya.


"Gue males, tapi karna gue baik gue bantu lo" ucap Sisil sambil memapah Sisil sedangkan Sisil dia pun kehilangan kesadaran nya.


"Ehh, mati lo sil?" ucap Nana yang melihat Sisil yang telah menutup matanya.


"Siapa sih orang baik yang nusuk lo Sil?" tanya Nana pada Sisil yang sudah kehilangan kesadarannya itu dan segera mencari taxi. Selang beberapa menit akhirnya ada taxi yang lewat.


Nana pun membawa Sisil di rumah sakit terdekat dengan menggunakan taxi dan dia pun mengikuti taxi tersebut dengan menggunakan motor nya.


Di rumah sakit


"Pak dokter ganteng bantuin temen ralat musuh saya pak" Ucap Nana yang melihat seorang dokter muda yang ganteng itu sedangkan dokter muda itu mengerutkan dahinya mendengar kata 'musuh'.


"Cepetan pak dokter ganteng, mati nanti ni anak orang" Ucap Nana sedikit teriak melihat itu diam saja.


"E-hh ayo dek" Ucap Dokter muda itu yang tersadar.


"Dak dek panggil cantik kek" Gerutu Nana yang tak Terima dipanggil adik sedangkan dokter itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hemm, ayo bantu tem- ehh musuh mu yang sekarat itu" Ucap dokter muda itu yang janggal dengan kata 'musuh' dan dijawab anggukan oleh Nana.


Setelah beberapa lama memeriksa akhirnya dokter muda itu keluar dan menyampaikan keadaan Sisil.


"Keadaan cukup parah akibat tusukan itu jadi beberapa hari ini dia harus dirawat" Ucap dokter muda itu.


"Gak mati kan dok?" Tanya Nana polos sedangkan dokter itu terkekeh geli mendengarnya.


"Gak mati kok" Ucapnya tersenyum.


"Dokter ganteng banget, mau gak jadi pacar Nana" Ucapnya malu-malu bebek dan dokter itu terdiam mendengarnya.


"Dokter ganteng jangan diem aja, mau kan jadi pacar Nana" Ucapnya lagi.


"Tapi-" Ucap dokter itu terhenti oleh ucap Nana.


"Nana cantik kok dok, gak malu-maluin kalo dibawa kondangan terus juga Nana holkay kok uang Nana dimana-mana bahkan berhamburan ntah kemana terus Nana juga gak tepos-tepos atas bawah jadi, Nana udah cocok sama dokter ganteng gimana dok mau kan?" Ucap Nana panjangĂ—lebar dengan berbinar senang.


"Maaf, saya sudah menikah" Ucap dokter muda itu tersenyum kikuk.


"Gak gak mungkin dokter udah nikah" Ucap Nana mendramatisir dengan mata berkaca-kaca.


"Saya sudah nikah dan ini buktinya" Ucapnya memperlihatkan cincin pernikahan di jari manisnya.

__ADS_1


"Dokter jahat udah melukai hati adek yang sebesar kacang ini" Ucap Nana berlari dramatis keluar rumah sakit sedangkan sang dokter hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aneh" Ucapnya menatap punggung Nana yang menjauh.


__ADS_2