Transmigrasi Dua Gadis Absurd

Transmigrasi Dua Gadis Absurd
EMPAT PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Malam telah tiba sekarang jam menunjukkan pukul 19.00 dan tampak beberapa pemuda tengah berkumpul untuk mendiskusikan permasalahan yang dua tahun ini mereka hadapi. Suasana hati mereka yang dua tahun ini tidak baik-baik saja, perasaan bersalah menusuk ke dalam hati mereka. Sikap yang awalnya dingin menjadi lebih dingin sebab kehilangan orang yang mereka sayang. Mereka merasakan sakit ketika mengingat kepada kedua orang tersebut, mereka sangat merasa bersalah.


*Markas Angkasa*


"Kenapa lo nyuruh kita ngumpul?" tanya Bima melihat ke salah satu pemuda tersebut.


"Kalo gak penting habis lo" ucap Alex dengan mata tajam.


Pemuda itu pun tersenyum dan menatap ke arah teman-temannya "gue rasa ini sangat amat penting mengenai Nana dan Rara" ucapnya tersenyum lebar.


Yang lain pun menatap pemuda itu dengan tatapan kaget, mereka menebak apakah Nana dan Rara sudah muncul kembali tapi di mana dan kapan dan kenapa mereka semua tidak tau.


"Apa maksud lo, apa lo tau di mana mereka?" tanya Leo.


"Gue gak tau dimana mereka tapi gue tadi liat mereka" ucap nya senang.


"Dimana lo liat dan apa bener itu mereka?" tanya Brayen mendesak pemuda itu.


"Katakan dimana lo ketemu mereka?" tanya Angga dengan nada dingin.


"Katakan sekarang" ucap Alex.


"Di restoran jalan Melati no. 18" ucap pemuda itu.


"Apa benar itu mereka, apa lo ga salah lihat?" tanya Bryan tak yakin.


"Kita udah dua tahun nyari Nana dan Rara tapi tidak membuahkan hasil, kita juga udah nyari di beberapa kota tapi tetap saja tidak ada. Apa lo yakin itu mereka?" tanya Bima yang juga tidak yakin.


Pemuda itu pun mengeluarkan handphone nya dan mencari di galeri nya "coba lihat foto-foto ini, pasti lo pada pasti yakin" ucapnya sambil memperlihatkan foto-foto yang dimaksud.


Mereka pun meneliti foto tersebut dan memang benar itu foto-foto Nana dan Rara di sebuah restoran. Mereka menatap foto-foto tersebut dengan tatapan rindu dan sulit diartikan.


"Wow, ini bener Nana dan Rara woyyy" pekik Bima heboh.


"Mereka kembali" ucap Chandra.


"Akhirnya ketemu juga" ucap Bryan senang.


Leo melihat foto-foto itu dengan perasaan senang "pasti papa dan mama senang mendengar kabar ini" ucap Leo bahagia.


"Syukurlah, kamu balik lagi dek" gumam Brayen tersenyum tak sabar untuk bertemu dengan mereka.

__ADS_1


"Aku merindukan mu Nana" ucap Alex dengan nada pelan.


"Kerja bagus Danis" gumam Angga sambil tersenyum miring, yaa pada saat di restoran Danis lah yang melihat Nana dan Rara makan di sana. Dia sangat tidak menyangka bahwa dia akan melihat mereka di restoran itu padahal pada saat itu dia sedang berkencan dengan kekasih nya Berlin. Keberuntungan berpihak pada mereka karena sejak dua tahun terakhir mereka hampir lepas tangan mencari Nana dan Rara.


"Gue pulang" ucap Angga terburu-buru.


Alex dan yang lainnya pun melihat ke arah Angga "Cepat amat lo pulang, terjadi sesuatu?" tanya Leo.


"Ada masalah" jawab Angga.


Alex pun menatap Angga dengan tatapan datar dan kemudian menyeringai "oke" ucapnya.


Angga pun pergi meninggalkan mereka dengan Alex yang masih menatap datar kepergian Angga.


"Gue juga mau pulang, mau ngasi tau ke papa mama gue soal Rara" pamit Leo sedangkan yang lainnya pun menganggukkan kepalanya.


"Oke, hati-hati dijalan" ucap Bryan dan di angguk oleh Leo.


Leo pun berdiri "gue pulang dulu" ucapnya sambil meninggalkan mereka.


"Gue ada urusan, gue pergi dulu" ucap Alex yang langsung pergi meninggalkan markas.


"Lah lah pada pergi semua, gak ada rencana gitu" heran Danis sedangkan yang masih ada di situ hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.


"Nikmati pertunjukan kedepannya" batin Chandra.


...****************...


Dengan mengendarai motornya, seorang pemuda dengan cepat menuju sebuah tempat. Sekitar 30 menit akhirnya pemuda itu sampai di sebuah mansion mewah di dekat hutan. Dengan langkah tegas dia pun berjalan menuju mansion tersebut, wajahnya datar dan aura nya yang mencengkram membuat penjaga mansion itu menatap takut ke arah pemuda itu. Dengan hormat mereka menundukkan kepala mereka di hadapan pemuda itu dan langsung membukakan pintu untuk nya.


Pemuda itu menatap sekitar dan berjalan menuju sebuah ruangan yang di jaga oleh dua bodyguard. Dengan tatapan tajam, dia menatap bodyguard itu " Dimana si tua bangka itu?" tanyanya.


"Tuan besar ada di dalam ruangan ini tuan muda" ucap salah satu bodyguard dengan nada hati-hati.


Tanpa menunggu lagi dia pun membuka kasar pintu tersebut sehingga membuat orang yang di dalam ruangan itu tersentak kaget.


Dengan tatapan tajam orang yang di panggil tuan besar melihat siapa pelakunya "Apa kamu tidak di ajarkan sopan santun" desis nya.


Pemuda itu tersenyum remeh "Ahh, tuan Jeriko apakah anda tidak tau kalo anda tidak pernah mengajarkan saya tentang itu?" ucap remeh Angga.


"Atau perlu aku ingatkan bahwa saya hanya diajarkan untuk membunuh seseorang" ucapnya tertawa mengerikan.

__ADS_1


"Sudahlah, apa tujuan mu kemari?" tanya tuan Jeriko dengan nada malas sambil menatap anak nya itu.


"Kenapa tuan tidak memberitahu anak mu ini bahwa gadis kecil ku telah kembali" desis nya dengan nada menahan marah dengan menekankan kata 'anak mu'


"Aku saja baru mendapatkan informasi mengenai dia tadi sore, salah satu suruhan ku telah mengikuti nya dan tempat tinggal nya juga sudah diketahui. Rencananya aku tidak memberitahukan informasi ini tapi karna kamu datang ke sini apa boleh buat, aku harus memberitahu mu" ucapnya tersenyum yang menurut Angga itu sangat jelek.


"Aku mau rencana kita di lakukan secepatnya, juga aku tidak menerima kegagalan dan kehilangan gadis kecil ku lagi" ucap Angga menatap tajam ayahnya.


"Kenapa terburu-buru anak ku, kita lihat dulu pertunjukan yang akan di lakukan oleh teman bodoh mu itu" ucapnya tertawa.


"Aku tidak akan membiarkan itu, aku akan membunuhnya malam ini dan aku juga akan membunuh saingan ku yang lainnya" ucapnya tersenyum miring.


"Wah wah wah, aku tidak menyangka obsesi mu sekarang semakin tinggi saja" ucap ayahnya yang pura-pura kaget.


"Simpan wajah bodoh mu itu, aku akan merencanakan mulai malam ini" ucap Angga datar.


"Bukannya kamu telah memulai rencananya dari dulu mulai dari membunuh j*lang kecil itu dan juga kamu memberikan obat penghancur organ dalam kepada dua orang saingan mu dari satu tahun yang lalu dan lihat bukannya mereka sedang sekarat sekarang" ucap ayahnya tersenyum miring.


"Owh, rupanya anda mengetahui nya" ucapnya tersenyum remeh.


"Apa yang tidak diketahui oleh ayah mu ini Angga Alvino Dinanta" ucap ayahnya sedangkan Angga hanya berdecak mendengarnya.


"Owh iya, bukannya kamu ingin membunuh keluarga gadis kecil mu itu kapan kamu akan melakukannya?" sambung nya lagi.


"Aku akan membunuhnya tapi nanti" ucapnya tersenyum miring.


"Bukannya gadis kecil mu akan sedih ketika keluarga nya mati?"


"Jangan pura-pura tidak tau tentang keluarga itu pak tua"


"Kamu benar, aku tau semuanya" jawabnya tertawa menggelegar.


...****************...


Malam yang gelap dengan cuaca yang kurang mendukung, petir yang sesekali terdengar oleh telinga dan angin yang berhembus kencang bukankah itu menandakan akan turun nya hujan. Di kegelapan malam yang harus di terangi oleh cahaya bulan dan bintang tapi pada malam ini tidak ada cahaya tersebut. Seperti akan terjadi sesuatu yang luar biasa pada malam ini. Ntah kenapa perasaan itu datang, apakah akan terjadi sesuatu?


Menatap langit yang sangat gelap membuat perasaan Nana sangat sakit. Kenapa batinnya bertanya-tanya. Di saat yang bersamaan beberapa orang menatap langit dengan perasaan cemas, kenapa perasaan mereka sangat sakit? kenapa mereka merasakan hal yang tidak enak? Apakah akan terjadi sesuatu pada mereka atau orang terdekat mereka.


"Kenapa sakit sekali?" batin Nana memegang dadanya.


"Kenapa perasaan ku tidak enak?" batin twins B.

__ADS_1


"Kenapa terasa akan terjadi sesuatu" batin Leo dan yang lainnya.


"Kenapa?" batin beberapa pemuda.


__ADS_2