TRIO DUDA

TRIO DUDA
Kawan Lama Papi dan Mami


__ADS_3

Al, Bara dan Chris, ketiganya kini duduk santai diruang keluarga Chris sambil menikmati makanan yang dibawa oleh Bara.


"Tadi gw juga mau beli makanan di resto ini, tapi ga jadi!" Al teringat kejadian dirinya yang sibuk adu mulut dengan cewek bar bar.


"Ah bokis aja lo nyet!" Bara asal jawab.


"Lo tuh ga percaya banget si nyuk! Gw udah mau kesana udah mau masuk jalur drive thru kalo ga gara-gara cewek bar bar, gw udah bawa makanan!" Al dengan kesal menceritakan kejadiannya tadi.


"Hahahaha, gw juga tadi sebel banget ada motor nyalip gw! Kabur lagi! Tapi gw inget dan udah gw catet nomor polisi motornya!" Bara tersenyum menang.


Sementara Chris hanya tersenyum melihat keduanya sibuk beradu mulut, saling ledek antara Bara dan Al.


Keesokan hari Bara susah siap untuk bertemu kliennya.


Bara yang diberitahu oleh Wisnu kalau Klien hari ini seorang pengusaha sekaligus konglomerat yang sangat berpengaruh di negeri ini.


Bara beberapa kali pernah mendengar nama kliennya yang satu ini namun entah keperluan apa hingga ia sendiri secara langsung menemui Bara.


Sebagai pengacara Bara menuruti saja permintaan klien mau bertemu dimana dan seperti apa.


Demi kenyamanan klien pastinya.


"Selamat Siang Pak Bara. Senang bertemu Anda."


Bara tak menyangka jika dilihat langsung kliennya ini terlihat jauh lebih muda, tidak menyangka bahwa pria yanh ada dihadapannya sudah berusia 70 tahun.


"Selamat datang dikantor kami. Kira-kira apa yang bisa Saya bantu Pak Taka?" Bara langsung to the point.


"Begini Pak Bara, Saya ingin meminta Pak Bara menjadi tim kuasa hukum Saya dan perusahaan Saya." Pak Taka langsung menjelaskan kedatangannya.


"Memang sudah tugas Saya menjadi kuasa hukum setiap klien Saya Pak Taka. Jadi apa yang berbeda?" Bara tampak menangkap maksud lain dari kliennya ini.


"Saya ingin Pak Bara mendampingi putri Saya dalam menangani kasus diperusahaan sebelum secara resmi menggantikan posisi Saya sebagai pimpinan perusahaan. Saya ingin Pak Bara secara exclusive mendampingi putri Saya, dalam arti setiap hari sekaligus mengawasinya."

__ADS_1


"Sangat unik. Mengapa harus Saya? Banyak lawyer lain yang pasti mampu melakukan ini, Bukannya Saya sombong, masih ada beberapa kasus yang Saya tangani. Lalu bagaimana Saya bisa menerima permintaan Bapak?" Bara tertantang namun ia ingin tahu maksud dari pria yang awet muda di usia 70 tahun dihadapannya.


Pria itu melirik kepada asistennya kemudian asisten tersebut memberikan foto-foto kehadapan Bara.


Bara melihat foto-foto yang ia sendiri jijik melihatnya.


"Maaf maksud Pak Taka apa memperlihatkan ini? Saya sudah tidak ada hubungan dengan wanita di foto ini." Bara mengeraskan rahangnya.


"Pria itu mendekati putri Saya karena dia tahu siapa Saya dan seperti apa keluarga kami. Saya tidak mau laki-laki macam dia menjadi benalu bagi putri Saya. Karena dia, putri Saya membangkang melawan Saya. Untuk itu Saya rasa Pak Bara orang yang tepat untuk menjadi tim pengacara diperusahaan Saya sekaligus mengawasi pergerakan putri Saya." Pak Taka tak kalah dengan tatapan mengingimidasi.


"Maaf sepertinya Saya tidak perlu ikut campur urusan Pak Taka dengan putrinya, Pak Ilham." Bara menolak.


"Emang dia pikir gw baby sitter alias nanny yang harus jagain anaknya! Gw tuh pengacara Bro!" batin Bara kesal


"Saya rasa kamu adalah orang baik sama seperti Papi dan Mamimu."


Pak Taka memberikan selembar foto yang jadul kepada Bara.


Pak Taka tampak tersenyum melihat kebingungan di wajah Bara.


"Baskara, Rania, Syaina, dan Saya. Kami adalah sahabat saat kuliah. Hanya saja, ketiganya sudah lebih dulu berpulang." wajah yang berkharisma dihadapan Bara seketika sendu.


"Maafkan Saya Pak Taka, Saya tidak tahu istri Pak Taka sudah tiada." Bara tak enak hati terlebih pria dihadapannya nyatanya sahabat kedua orang tuanya.


"It's Ok Pak Bara. Saya ingat sekali Baskara dan Rania, sahabat kami adalah orang baik. Kami bersahabat sangat dekat, hingga Saya harus pindah keluar negeri karena ada sesuatu hal komunikasi kami terputus. Lama tak terdengar kabar, namun tiba-tiba Saya mendengar keduanya telah tiada. Pasti sulit bagi Kamu saat itu." Pak Taka menatap wajah Bara yang ia lihat begitu mirip dengan Baskara saat muda hanya saja kulit bara mengambil kulit Rania sang Mami.


"Boleh Saya memanggil kamu Bara saja?" Pak Taka meminta izin.


"Boleh Pak Taka silahkan." Bara merasakan desir yang tak biasa betapa ia melihat sosok Papi dalam sahabat mendiang kedua orang tuanya.


"Panggil Om saja. Aku ini sahabat kedua orang tuamu. Kami berempat dulu dijuluki Double Couple paling sweet. Hahahaha." terlihat tawa namun ada kesedihan yang tertahan dari sorot mata Pak Taka.


"Kalau boleh Bara tahu mengapa Om ingin memberikan posisi Om secepatnya untuk putri Om? Sepertinya putri Om tidak tertarik dengan posisi itu, makanya dia membangkang." Bara tahu tipikal anak-anak yang menolak meneruskan tongkat estafet perusahaan keluarga biasanya mereka melakukan pembangkangan dan beberapa kali Bara menangani kasus seperti itu.

__ADS_1


"Karena aku tidak bisa memastikan sampai kapan aku hidup dan memastikan putriku siap memimpin perusahaan." wajah kesedihan jelas terpampang dari raut Om Taka.


"Maksud Om?" Bara mengerutkan dahinya.


"Dokter mengatakan seseorang dengan kanker paru-paru stadium 4 memiliki waktu kurang lebih 10 sampai 12 bulan." jawan Om Taka sambil menyenderkan tubuhnya dikursi.


Bara terkejut dengan pengakuan Pak Taka.


"Om mohon Bara, bantu Om agar putri Om mau menuruti untuk menjalankan perusahaan ini. Waktu Om tidak lama lagi. Dan Om harap jangan katakan apapun tentang sakit Om kepadanya. Om tahu selama ini, putri Om sudah sedih atas kepergian Bundanya, istri Om."


Bara tidak tega melihat wajah memohon Om Taka yang tak lain sahabat Papi Bara.


"Baik Om. Bara akan bantu Om."


"Terima kasih Bara. Kamu memang baik seperti Papi dan Mamimu yang merupakan orang dan sahabat yang baik."


Pak Taka menggenggam tangan Bara.


Bara terkejut saat Pak Taka memeluknya erat.


Sudah lama ia tak merasakan pelukan hangat setelah kepergian kedua orang tuanya.


Pak Taka melepas pelukannya dari Bara.


"Bara, besok datanglah kerumah Om. Om mengundangmu makan malam. Om akan mempertemukan kamu dengan putri Om."


"Baik Om. Bara akan datang. Om harus tetap semangat untuk menjalani pengobatan. Bara yakin jika Om masih diberikan umur yang panjang." Bara reflek menggenggam erat tangan Pak Taka.


"Terima kasih Nak. Terima kasih kamu sudah bersedia membantu Om. Baik, Om permisi dulu. Om tunggu besok dirumah Om. Sampai jumpa Bara."


Bara melepas kepergian Pak Taka.


Tak menyangka hari ini Bara kedatangan Kawan Lama kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2