
Selama dalam perjalanan selepas chill bersama dua sahabat dudanya, Bara memilih tertidur di kursi belakang mobil yang kini dikemudikan oleh sopir pengganti.
Dalam keadaan kurang fokus Bara memilih menggunakan jasa sopir pengganti untuk mengantarnya pulang karena Bara tidak ingin apabila terjadi sesuatu semisal kecelakaan lalu lintas karena kelalaiannya yang merugikan orang lain.
Meski malam ini Bara tidak pulang keapartementnya memilih tidur di kantornya karena Bara ingat besok siang ia ada janji menemui klien baru yang meminta bantuan hukum pada Bara menangani kasus KDRT.
Kali ini, Klien Bara seorang penyanyi muda, terkenal, cantik, bertalenta mendapat KDRT dari suaminya yang memiliki profesi di dunia entertainment hanya saja suami penyanyi itu merupakan seorang model.
Bara memilih beristirahat di ruang pribadinya dikantor agar ia tak perlu repot bolak balik.
Sekretaris Bara Wisnu sudah hapal dengan kelakuan si Boss yang sejak menjadi duda sering menginap di kantor, untuk itu tugas Wisnu layaknya istri menyiapkan keperluan pribadi Bara termasuk pakaian si Boss.
Jadilah ruang pribadi Bara di kantornya layaknya rumah kedua yang lengkap layaknya kamar dengan ruang wardrobe yang tersedia.
"Sudah sampai Pak." sopir pengganti memberitahukan Bara.
"Ini untuk Bapak." Bara mengeluarkan lembaran uang warna merah cukup banyak.
"Ini terlalu banyak Pak." sopir pengganti takut Bara salah memberikan uang karena Bara dalam keadaan mabuk.
"Ga salah. Itu untuk Bapak dan keluarga dirumah." Bara tersenyum.
"Alhamdulillah. Terima kasih Pak ini kunci mobilnya. Ya Allah makasi ya Pak. Uang ini akan Saya berikan kepada istri Saya. Pasti istri Saya senang sekali karena pernah bilang ingin beli mesin jahit untuk buka jasa jahit pakaian." sopir itu malah curhat.
Bara tersenyum mendengar penuturan si Bapak sopir.
"Ya, itu rezeki istri Bapak. Semoga bermanfaat ya Pak."
Bara keluar dari mobilnya dibantu oleh Pak sopir mengantar sampai pos security kantor Bara.
Tentu saja security kantor Bara sudah hapal si Boss memang sejak bercerai sering tidur dikantor.
Bara dibantu menuju ruangan pribadinya.
"Kalian sudah makan?" tanya Bara.
"Sudah Pak. Kami sudah makan." jawab security yang membantu Bara.
"Kalian bagaimana ini kan jam 5 pagi. Pasti semalam kan kalian makan? Ambillah. Untuk Kalian sarapan. Walau sedang bekerja jangan lupa makan. Tugas kalian berat." Bara memberikan lembaran uang merah kepada 3 security kantornya.
"Terima kasih Pak. Bapak mau kami belikan sarapan sekalian?"
"Tidak aku hanya ingin tidur. Ngantuk. Aku ke atas dulu." Bara pamit.
"Kami antar Pak."
"Tidak perlu Aku masih bisa."
__ADS_1
Bara masih bisa dan sadar jika naik lift menuju ruang pribadinya.
Sesampai dalam ruang pribadinya, Bara langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang besar dan langsung hanyut dalam mimpi.
Entah sekarang jam berapa.
Bara terbangun, Bara merasakan kepalanya sedikit pusing.
"Pagi menjelang siang Boss, apakah perlu sesuatu?" Wisnu yang sudah ada di hadapan Bara menyapa bossnya yang masih melek ayam.
"Ini ada air lemon madu jahe. Seperti biasa mampu meredakan pengar boss." Wisnu layaknya istri Bara yang melayani keperluan Bara bahkan saat masih punya istri Bara tidak pernah disiapkan pakaian, baju atau sekedar secangkir kopi. Hanya kebutuhan ranjangnya saja yang dipenuhi istrinya kebutuhan lahir Bara dilayani oleh pembantu, asisten dan wisnu sekretarisnya.
"Thanks Nu." Bara dengan suara serak khas bangun tidur.
"Oh ya boss, hari ini pakaian boss Saya siapkan stelan jas yang baru saja selesai boss pesan dari Koh Wonghang, karena siang ini boss ada janji menemui klien kita sekalian konfrensi pers dihadapan awak media.
"Saya juga sudah memilih media mana yang bisa hadir, dan sudah Saya atur pertanyaan yang akan diajukan. Ini data-data untuk konfrensi pers nanti." Wisnu menyerahkan dokumen yang ia maksud.
"Ok. Thanks Nu. Aku mau siap-siap dulu."
"Boss mau sarapan? Atau mau Saya reservasi lunch dihotel mana?"
"Belikan saja roti dan kopi. Aku tidak selera makan."
"Baik boss. Saya akan siapkan. Permisi." Wisnu pamit menyiapkan permintaan Bara.
Bara senang dengan Wisnu. Pria yang merupakan lulusan sarjana hukum itu waktu melamar pekerjaan dikantor Bara saat masih kuliah semester 2.
Wisnu kala itu baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal karena serangan jantung.
Bara melihat ada kegigihan dalam sorot mata Wisnu.
Hingga akhirnya Bara menerima Wisnh bekerja di kantornya sebagai sekretaris Bara.
Sebelumnya sekretaris Bara perempuan tapi sifat cemburu mantan istri Bara kala itu tentu membuat Bara mengganti sekretarisnya dqn tepat saat Wisnu melamar pekerjaan Bara memang sedang butuh seorang sekretaris. Jadilah sejak saat itu Wisnu menjadi sekretaris Bara.
Sudab 4 tahun Wisnu bekerja menjadi sekretaris Bara.
Selama itu pula Bara senang dengan hasil pekerjaan Wisnu.
Hingga belum lama Wisnu diwisuda.
Bara saat itu datang menemani. Karena Wisnu memintanya.
Bara membaca dokumen yang diberikan oleh Wisnu.
"Artis emang banyak drama. Padahal tinggal lapor saja beres. Penjara! Ini permintaannya ada-ada saja. Kadang gw enek sendiri tapi mau bagaimana lagi, cuan ga bisa ditolak! Hahahaha." Bara meletakkan dokumen itu di meja dan meminum jahe, lemon dan madu buatan Wisnu.
__ADS_1
"Astaga, untung si Wisnu laki-laki, kalau dia perempuan bisa baper gw." Bara menatap gelas kosong tandas tak bersisa setelah meminum ramuan pengar racikan Wisnu.
"Bara, Bara, otak lo gesrek sejak duda. Kayaknya ketularan si genteng!" Bara bermonolog sendiri.
"Ah Gw telp si genteng, tiba-tiba kepikir holiday bareng si genteng sama Chris ya." begitulah Bara, seperti ada yang kurang bila sehari tidak beradu mulut dengan Al.
Bara mencari ponselnya setelah dapat ia menghubungi Al namun pria itu mungkin saja sedang praktek.
Kemudian Bara menghubungi nomor Chris.
Sama tak ada jawaban.
"Lagi meeting mungkin. Gw chat di group aja. Ntar mereka lihat dan bales."
Bara mengetik chat di group wa mereka yang anggotanya hanya mereka bertiga.
"Bro, weekend ini holiday tipis-tipis yuk!" singkat jelas padat dan langsung Bara kirim di group.
Bara segera meletakkan ponselnya beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Bara yang sudah kembali segar dan tentu saja sudah gamal alias ganteng maksimal kini sudah stand by di ruang kerjanya sambil menikmati sarapan kesiangan dengan sepotong roti dan 1 cup kopi dari gerai kopi berlambang seorang wanita.
Ponsel Bara bergetar.
Sang penyanyi yang merupakan klien Bara menghubungi.
"Siang, Bagaimana Mbak?"
"Oh begitu. Ok. Saya akan kesana sekarang."
"Pokoknya Mbak jangan memberikan statement apapun sebelum kita melakukan jumpa pers ya"
"Satu lagi, hari ini tolong sosial media Mbak jangan menampilkan aktivitas apapun yang nantinya menjadi bahan bagi para jurnalis."
"Iya Mbak. Termasuk endorsment untuk sementara dipending dulu ya."
"Ok. 1/2 jam lagi Saya sampai."
"Ok."
Bara mengakhiri obrolannya.
"Wisnu, siapkan mobil."
"Siap Boss."
"Ok. Langsung menuju Bareskrim. Mbak Ines sudah menunggu disana sekalian jangan lupa berkas pelaporannya kamu siapkan."
__ADS_1
"Sudah siap Boss. Mari."
Bara melangkah keluar kantor mengawali siang harinya menangani kasus KDRT sang penyanyi.