
Setelah pingsan beberapa saat, Tasya kini sudah membuka matanya.
"Papa dimana?" begitulah kata pertama yang Tasya ucapkan sambil terbangun menyisir dimana keberadaan Pak Taka.
"Kamu istirahat dulu Sya. Kamu tadi pingsan. Om baik-baik saja. Sekarang dalam panfauan Dokter Althaf. Kamu jangan khawatir." Bara mengusap peluh di dahi Tasya menenangkan.
Tasya memejamkan matanya. Airmatanya mengalir meski suara tangis tertahan.
Bara bisa merasakan bagaimana kesedigan yang Tasya rasakan.
Terlebih Bara yang pernah merasakan bagaimana kehilangan kedua orang tuanya.
"Sya Kamu harus kuat. Yang Om Taka butuhkan saat ini adalah dukungan dari Kita semua. Terlebih dukungan Kamu sebagai putrinya." Bara menatap wajah sedih Tasya yang terlihat mengawang.
"Jadi selama ini Om tahu kalau Papa sakit? Karena itu Papa minta Om buat bantu Aku?" tatapan Tasya pada Bara sendu.
Bara mengangguk entah hati Bara mencelos melihat wajah sendu Tasya karena biasanya gadis dihadapannya selalu kuat bahkan pemberani.
Tasya menyugar rambutnya, betapa ada rasa takut kehilangan.
Tasya yang sejak dulu tak memiliki Ibu, tak bisa membayangkan jika harus kehilangan Papanya.
Pikiran Tasya kalut hingga tak sanggup lagi sampai isak tangis itu terdengar lirih.
Melihat Tasya dalam kondisi seperti ini, Bara membawa Tasya dalam pelukannya.
"Jangan ditahan. Menangislah. Ada Aku yang selalu siap mendengarkan keluh kesahmu." Bara mengusap kepala Tasya menenangkan.
"Ehm!"
Suara deheman seseorang dari pintu membuat keduanya saling melepas dan berjauhan.
Al masih menjaga wibawanya mengingat ada Tasya kalau tidak rasanya Al ingin ngeplak kepala Bara yanh malah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Maaf Saya mengganggu. Nona Tasya Pak Taka sudah siuman. Beliau ingin berbicara dengan Nona. Kamu juga dipanggil oleh Pak Taka. Mari ikut Saya." Al menjaga bahasanya meski ingin rasanya mencecar Bara dengan sederet pertanyaan namun Al menahan diri.
Ketiganya kini sudah ada di dalam ruang rawat Pak Taka.
"Kalau begitu Saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa panggil Saya. Banyak perbanyak istirahat ya Pak Taka." Al berpesan sebelum meninggalkan ruang rawat pasien.
__ADS_1
"Terima kasih Dokter." jawab Pak Taka dan Tasya bersamaan.
"Makasi Al." Bara dengan pelan sebelum sahabatnya keluar pintu.
"Lo utang penjelasan sama Gw Nyuk!" bisik Al pada Bara sebelu benar -benar keluar pintu
Bukan menjawab malah Bara menghadiahi Al dengan mata melotot.
Tasya memeluk Papanya.
"Pa, maafin Tasya. Tasya ga tahu Papa sakit. Tasya udah bikin Papa begini. Maafin Tasya Pa." tangis Tasya memeluk Pak Taka.
"Maafkan Bara Om, Bara tidak menepati janji Bara pada Om." ada penuesalan di hati Bara.
"Kalian berdua tidak salah. Bara, Tasya. Sini, Papa mau bicara dengan Kalian berdua." Pak Taka meminta Bara duduk sebelah dengan Tasya dekat dengan brangkar Pak Taka.
"Tasya Kamu sekarang mengertikan kenapa Papa memintamu untuk meneruskan perusahaan Kita? Papa cuma punya Kamu Sayang. Putri Papa satu-satunya. Papa berharap padamu." Pak Taka masih lemas pasca tindakan medis yang ia terima.
"Tapi Tasya takut, Tasya tak bisa menjaga perusahaan Papa. Papa jiga tahu Om Soni selalu tak suka dengan Tasya." Tasya tahu Om dari pihak Ibunya begitu membenci Tasya.
"Oleh karena itu, Papa meminta Bara membantumu. Bara Kamu masih bersediakankan membantu Tasya?" Pak Taka kini menatap Bara.
"Tasya, Bara, ada yang ingin Papa minta sama Kalian." Pak Taka memegang tangan Tasya dan Bara.
"Katakan Papa mau apa? Tasya akan turuti." Tasya menggenggam tangan Pak Taka sambil menatap wajah Papanya.
"Papa mau Kamu menikah dengan Bara." Pak Taka menoleh pada Bara kemudian menatap lagi pada putri semata wayangnya.
Duuar!
Tasya dan Bara saling pandang kemudian menatap Pak Taka dengan tatapan tak mengerti.
"Maaf Om, Bara akan tetap membantu Om dengan Tasya tanpa harus menikah." Bara sadar diri, pasti ia akan diamuk Tasya setelahnya jika menerima saja permintaan Pak Taka.
Sementara Tasya tak berkomentar apa-apa, wajahnya tegang dan tak bersahabat.
"Bara, apa Kamu punya pacar?" Om Taka menanyakan perihal penolakan Bara.
"Bukan seperti itu Om. Maksud Bara, Tasya tentu masih panjang masa depannya, selain itu Tasya juga masih harus fokus dengan perusahaan. Dan Bara bukan pria yang tepat untuk Tasya. Bara seorang Duda. Om lebih tahu. Bara akan selalu menjaga Tasya hingga Tasya sudah mumpuni dengan perusahaan. Tasya berhak mendapatkan pria yang lebih baik." tulus dari hati Bara, bagaimanapun ia sadar diri, Tasya yang masih gadis sedangkan ia hanya seorang duda.
__ADS_1
Selain itu, ia juga yakin Tasya tak memiliki perasaan apapun padanya. Pernikahan macam apa yang akan mereka jalani bila tak ada cinta.
Bara teringat akan pernikahannya terdahulu.
Meski dilandasi dengan cinta tetap saja ada perselingkuhan.
Apalagi tak ada cinta, yang ada Bara takut menjadi Duda kedua kalinya.
"Tasya akan menikah dengan Om, Eh maksudnya Tasya akan menikah dengan Mas Bara." Tasya menatap pada Papanya.
Bara tak percaya dengan jawaban Tasya.
"Sayang, terima kasih. Papa yakin Bara adalah pria yang baik dan bisa menjagamu kelak suatu saat Tihan memanggil Papa. Bara, Papa menerimamu apa adanya. Jadi Kamu setujukan?" Pak Taka menatap Bara.
Bara menoleh ke arah Tasya nyatanya Tasya juga melakukan hal yang sama.
"Pa, boleh Tasya berbicara berdua dengan Mas Bara. Papa kembali istirahat ya. Nanti Kami akan kembali lagi kesini dan akan memberi tahu Papa kelanjutan rencana pernikahan Kita." Tasya tersenyum sambil memasangkan selimut pada Papanya.
"Baiklah Sayang. Papa senang sekali. Meski Kalian mungkin belum saling mencintai, namun Papa yakin setelah menikah Kalian akan saling jatuh cinta dan bisa saling mengisi."
"Om, Kami keluar dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil Kita." Bara pamit mengikuti Tasya yang sudah lebih dulu keluar dari ruang Pak Taka.
"Titip Tasya ya Bara. Mungkin Tasya akan marah sama Kamu atas keputusan Om. Tasya anak baik. Kamu yang sabar membimbingnya." Pak Taka berpesan.
"Iya Om. Om jangan khawatir. Bara susul Tasya dulu ya Om."
Anggukan Pak Taka melepas pamit sang calon mantu.
Tasya melangkah cepat, ia tak habis pikir bagaimana Papanya bisa meminta hal seperti itu.
Menolakpun Tasya tidak tega melihat kondisi Papanya yang drop Tasya takut terjadi apa-apa dengan kesehatan Papanya.
"Ah!" Tasya berteriak di taman.
Tasya memegangi kepalanya yang pening.
Rasanya ingin segera hilang dari bumi namun Papa dengan siapa.
"Aku harus bagaimana?" Tasya meremat rambutnya.
__ADS_1
"Tasya!"