TRIO DUDA

TRIO DUDA
Hania, Will You Marry Me?


__ADS_3

Hania menatap gedung yang berdiri kokoh dihadapannya telah memberikan pengalaman berharga selama ia magang disini dalam kurun waktu 3 bulan lamanya.


Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir Hania magang diperusahaan milik Chris.


Sengaja pagi tadi sebelum sampai kantor Hania membawa kue yang akan ia bagikan kepada para pegai sebagai rasa ucapan terima kasihnya karena selama 3 bulan ia magang disini Hania banyak mendapat ilmu dan teman yang sangat baik.


"Ya Mbak ga ada yang bantuin lagi deh!" ucap salah satu pegawai yang sering dibantu Hania.


"Kita kehilangan bidadari di kantor ini Hania!" begitulah gombalan pegawai pria pada Hania.


"Hai Hania. Wah ada kue nih. Aku coba ya." Dika mencomot satu donut yang terlihat menggugah seleranya langsung masuk dan tandas dalam 3 kali gigitan oleh Dika.


"Makasi ya semuanya, Mas, Mbak semua yang ada disini. Pak Dika juga. Makasi banget sudah mau menerima Hania dan mengajarkan banyak pengalaman seru selama Hania magang disini. Hania juga mohon maaf kalau selama magang disini Hania bikin repot dan bikin ribet kerjaan semuanya." Hania terharu rasanya kebersamaan selama 3 bulan berlangsung cepat.


"Ah kok pengen peluk, boleh ga sih!" salah satu playboy kantor mulai dengan aksinya.


"Kau ini Tom, ga bisa lihat yang bening mau nyeruduk aja. Peluk nih laporan budgeting!" seorang pegawai wanita senior menghalangi dengan memberikan tumpukan laporan keuangan pada Tomi si Playboy kantor.


Saat sedang asik bersenda gurau, Chris datang melewati semua pegawainya.


Tentu saja kehadiran Chris membuat semua pegawai serentak sungkan sambil menyapa dengan hormat sang CEO.


Chris sebetulnya mendengar percakapan pegawainya bersama Hania namun ia baru keluar dari persembunyian, apalagi saat pegawai Playboynya mulai beraksi modus pada Hania.


"Kalian disini bukankah untuk bekerja?" sedikit kalimat efeknya membuat semua pegawai serentak kembali ke meja kerja mencari aman dari tatapan sengit CEO.


"Pak, Saya baru akan mengampaikan schedule hari ini." Dika mencari aman segera menggiring Boss nya menuju ruangan.


"Hania, setelah jam pulang kantor Kamu temui Saya diruangan." Chris menatap Hania menyiratkan sesuatu.


"Baik Pak." Hania menjawab sambil menganggukan kepala dan kembali ke meja kerjanya melanjutkan tugas terakhirnya.


Hingga sore menjelang tibalah saat Hania berpamitan pada satu persatu pegawai di kantor.


Saling berpelukan dengan sesama pegawai wanita dan bersalaman kepada yang laki-laki.


Meski beberapa pegawai pria tampak curi kesempatan namun Hania menjaga diri dan tentu dihadang oleh para pegawai wanita yang senior.


"Semoga skripsi Kamu lancar Hania. dan cepat lulus!" ucap salah satu pegawai wanita senior yang menjadi pembimbing Hania selama diperusahaan.


"Aamiin Mbak. Makasi ya." Hania memeluk.


Dika datang memberi tahu kepada Hania bahwa si Boss sudah menunggu di ruangannya.


"Hania, Pak Chris manggil Kamu. Oh Iya Hania, Kamu sering-sering main kesini ya. Kalau mau, Kamu kerja disini aja deh! Biar bisa bantuin Aku." Dika sebelum ia pamit pulang.

__ADS_1


Chris memang meminta Dika pulang karena Chris sudah punya rencana sendiri tanpa mau diganggu siapapun.


"Siap Pak Dika! Pak Dika juga jangan lupa undang Saya nanti pas Pak Dika nikah ya!"


"Kayaknya Kamu duluan deh yang bakal kasih Saya undangan. Ok Saya balik duluan ya! Titip Boss Saya jangan dibuat ngamuk loh!" Dika dengan makna ambigunya.


Hania mengernyitkan dahi tak paham maksud dari perkataan Dika kepadanya.


Hania berjalan menuju ruangan Chris.


Mengetuk pintu sebelum masuk.


Tok,Tok,Tok!


"Masuk."


Hania membuka perlahan pintu ruangan Chris terlihat sang Boss sedang berdiri menatap jendela kaca yang langsung menampilkan langit senka pusat ibukota yang sangat indah dipandang mata.


Hania tak menampik pesona duda satu anak ini, sungguh mempesona.


"Sudah selesai?"


Anggukan Hania menjawab pertanyaan Chris.


"Ayo ikut Saya." Chris meraih ponsel dan kunci mobilnya.


"Yang pasti Saya ga akan nyulik Kamu, paling langsung Saya halalin!" Chris tersenyum.


Rona merah tersirat di wajah Hania.


Duduk bersebelahan di dalam mobil berdua dengan Chris membuat hati Hania bertalu-talu.


Tak berbeda dengan Chris sejak pagi sebenarnya ia sudah tidak karuan, seperti bisul yang siap pecah rasanya nyut-nyutan atas bawah.


"Ayo." Chris mengajak Hania keluar mobil.


Hania memandang sekeliling restoran yang ia masuki.


Tak seorangpun pengunjung yang datang.


Hanya pelayan yang terlihat menyambut kedatangan mereka.


"Kok berdiri, duduk Hania."


Hania tak menyadari Chris menarik kursi untu Hania duduk namun Hania malah bengong mematung.

__ADS_1


"Pak, iya. Makasi." Hania duduk di kursi yang Chris sediakan untuknya.


Selanjutnya pelayanan dan chef menservice mereka dengan sangat baik.


Hania masih bertanya dan heran sebenarnya apa yang tengah Chris rencanakan.


"Hania, kenapa melamun. Ayo dimakan. Mau Aku suapi?" Chris sambil tersenyum.


"Kenapa manis banget senyumnya. Tuhan, melehoy deh hati Eneng Bang!" batin Hania.


"Saya bisa sendiri Pak." Hania memotong steak dihadapannya mulai menyuap menikmati sajian lezat dihadapan matanya.


Suasana temaram diiringi alunan musik syahdu menambah romantis suasana malam ini tentu menciptakan seribu tanya dalam benak Hania.


Nyata ataukah hanya mimpi?


Jika ini mimpi rasanya terlalu enggan untuk segera bangun, namun jika ini benar mimpi, ini adalah mimpi terindah dalam hidup Hania.


Chris menatap sambil tersenyum.


Setelah pembicaraan dengan Mamanya dan ia melihat bagaimana Rafael berinteraksi dengan Hania begitupun sebaliknya, Chris mantap malam ini secara pribadi dan serius ingin melamar Hania.


"Hania, Aku bukan pria romantis yang mampu merayu dengan kata-kata manis. Hania, apakah Kamu mau menikah denganku? Menjadi Ibu bagi Rafael dan anak-anak Kita kelak?"


Chris membuka kotak cincin sambil ia menggenggam tangan Hania, menatap lekat wanita yang tak sengaja kini telah berhasil menumbuhkan hati Chris yang sempat mati suri.


Meski bukan yang pertama kali Hania mendengar pernyataan Chris, namun tetap saja Hania tak bisa berkata-kata.


Seakan masih tak percaya namun semua nyata di hadapan mata.


"Pak, Saya hanya seorang yatim piatu. Saya bukan hanya gadis miskin biasa. Tentu Bapak tahu seperti apa kehidupan Saya. Apakah Bapak bisa menerima semua itu? Sedangkan Bapak adalah seorang CEO perusahaan dengan keluarga yang terpandang. Apakah pantas Saya yang tidak sederajat ini mendampingi Bapak?"


Tentu saja Hania sadar siapa dirinya, siapa Chris.


"Yang Aku tahu, Kamu adalah wanita kedua setelah mendiang istriku yang kembali membuat Aku jatuh hati. Dan Kamu wanita yang bisa menerima putraku Rafael. Jadi tak ada alasan bagiku tidak mencintaimu Hania. Jadi, apakah Kamu masih ragu?" Chris menatap intens kedua netra Hania.


"Tapi Saya masih kuliah Pak, belum lulus." Hania tentu memikirkan juga masa depannya, selama ini ia berjuang pontang-panting untuk pendidikannya.


"Aku tidak akan pernah melarang Kamu kuliah, bahkan jika Kamu ingin melanjutkan kembali pendidikanmu kelak. Aku akan mendukungmu. Tidak masalah bagiku."


"Apakah Kita akan menikah setelah Saya setuju?" Hania jadi ngeri sendiri bagaimanapun ia seorang gadis sedangkan Chris adalah berpengalaman.


"Ya Aku harap begitu. Apakah Kamu tega membiarkan Aku terus menduda?" Chris melihat kekhawatiran Hania.


Hania terdiam, ia akui ada rasa dihatinya meski belum sempurna untuk Chris.

__ADS_1


Namun pesona duda satu ini tak bisa ditepis sudah merasuk dalam relung hati si gadis magang dihadapan Chris.


"Hania, Will You Marry Me?" kini Chris berlutut dihadapan Hania sambil memegang kotak cincin dan sekuntum bunga mawar merah.


__ADS_2