TRIO DUDA

TRIO DUDA
Direktur vs Koas


__ADS_3

"Pagi Dok!" sapa Bianca meski sebenarnya ia malas melakukan basa basi pada Al semata ia lakukan demi kelancaran masa depannya sebagai dokter kelak.


"Ehm!" Al tak menjawab cukup dengan eraman saja sebagai respon.


"Pagi Dokter. Dok hari ini Dokter ada jadwal sebagai pembicara diseminar pada acara perayaan ulang tahun sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang kesehatan jantung. Dokter dijadwalkan akan mengisi materi pada pukul 10. Untuk jadwal sudah dicancel dialihkan ke besok atau ke dokter Andri sesuai dengan permintaan pasien." perawat yang biasa mendampingi Al memberitahukan jadwal Al hari ini.


Anggukan Al cukup membuat perawat tersebut paham dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu nanti ikut Saya!" Al berbicara pada Bianca.


Bianca yang sejak tadi dianggap angin memilih asik dengan ponselnya berbalas chat dengan seseorang.


Mendengar tak ada jawaban dari Bianca, Al beralih menatap koas yang ternyata sedang asik dengan ponselnya sambil tersenyum bahagia.


Al tak banyak bicara, ia bangkit daei kursinya dan,


"Dok, kembaliin ga HP Saya!" Bianca kaget saat ponselnya diambil Al.


Seakan senang membuat koasnya kesal, Al malah sengaja membaca chat yang masih terbuka di ponsel Bianca.


"Semangat ya prakteknya hari ini, jangan lupa makan. See u soon❤️"


"Kamu amnesia memang makan aja harus diingetin!" Al mencibir swtelah ia membaca keras pesan di ponsel Bianca.


"Rese banget sih jadi orang! Balikin Dok HP Saya!" Bianca kesal Al dirasa sudah mencampuri privasinya.


"Kamu mau Saya bikin ngulang di stase Saya? Koas apa kamu bukannya memperhatikan apa yang Saya bilang, malah pacaran! Emang yang kasih kamu nilai pacar kamu!"


"Hari ini HP kamu Saya sita. Lebih baik sekarang kamu bantu Saya menyiapkan materi untuk seminar nanti." Al memasukan ponsel Bianca ke saku dalam snelinya.


Bianca menahan kesalnya. Kalau bukan karena nyawanya ditangan si PA nyebelin ini, Bianca sudah ngamuk tapi semua ia tahan demi kelancaran koasnya hingga selesai paripurna.


"Sabar Bia, inget orang sabar disayang suami!" batin Bia.


Bianca dengan wajah kesal dan terpaksa kini ia mengerjakan tugas dari Al sementara si penyebab kekesalan tampak sibuk dengan ponselnya.


"Kalo ga ada hukum dinegara ini udah gw cincang dia buat makanan si Joni!"


Joni adalah hewan peliharaan Bianca ya bagi Bianca yang kesepian karena ia anak tunggal kehadiran Joni sangat menghibur harinya.


Jangan di tanya seayang apa Bianca sama Joni, andai saja Al mau kepo ponsel Bianca selain chat nya Al akan sangat kaget dengan galeri ponsel Bianca.


Banyak foto Bianca bersama Joni kesayangannya.


"Jangan ngeliatin Saya! Nanti lebih baik pelajari materi itu biar otak kamu itu ada isinya! Malu-maluin kalo kamu jadi dokter tapi otaknya kosong!" Al si mulut pedas dan setajam silet.


Bianca membiarkan ocehan Al menganggapnya angin lalu.


Terdengar dering ponsel disaku Al.


Bianca tahu itu dering ponsel miliknya.


"Dok, itu bunyi HP Saya. Saya angkat dulu ya!"


Al melihat ternyata benar ponsel Bianca yang bersering.


Al melihat di layar tertulis Papa, Al memberikannya pada Bianca.


"Nih Bapak kamu telp!"


Bianca menerima ponselnya dan benar tertera kalau Papanya yang menelpon.

__ADS_1


"Iya Pa." Bia menjawab panggilan telpnya.


"Oh, tadi HP Bia disilence,"


"Seriue Pa? Coba Bia mau ngomong!"


Al melihat Bianca begitu senang seketika.


"Kok ga bilang-bilang katanya minggu depan baru dateng?"


"Ih seneng banget sih bikin Bia kaget!"


Bianca dengan manja mengobrol dengan seseorang ditelpon.


"Ya kangen lah! Kanget banget!" Bia terlihat menggemaskan.


"Jam 5. Tapi ga tahu juga sih. Nanti Bia kabarin deh"


"Ih apa sih! Love you too, ih jangan panggil gitu malu! Bye!"


Bianca mengakhiri telponnya, rona wajah Bianca begitu senang setelah menerima telp.


Bianca ga sadar sejak tadi ada yang keluar tanduk.


"Bilang pacar kamu hari gini ga cuma modal gombal! Norak!" Al si mulut pedas dongkol sendiri.


"Sirik! Bilang Boss!" Bianca menyahut.


"Kamu ngeledek Saya!" suara Al meninggi.


"Siapa yang ngeledek! Orang cuma komen doang!"


"Loh kok HP Saya dimatiin!"


"Sekarang waktunya kerja! Bukan pacaran! Mana norak begitu! Bikin malu!" ledek Al.


"Kamu mau ngapain?" Al saat melihat Bianca menuju mobil miliknya.


"Kita berangkat kan Dok?" Bia sudah malas dengan Al.


"Siapa bilang kamu bawa mobil sendiri. Kamu ikut mobil Saya! Yang begini ini bikin jalan macet!" Al bagai raja memberi perintah.


"Astaga!" Bianca menarik nafas meredam emosi.


Sepanjang jalan Bianca memilih diam saja.


"Kamu itu sakit gigi?" Al menoleh pada Bia yang wajahnya menatap ke jendela.


"Saya bawel salah, diem salah. Kaya babu baru salah mulu!" Bianca kesal.


Al tersenyum namun segera ia urungkan hingga Bianca tak melihatnya.


Al menyalakan musik. Terdengar alunan lagu dari air supply - Goodbye.


...You would never ask me why...


...Anda tidak akan pernah bertanya mengapa...


...My heart is so disguised...


...Hatiku sangat menyamar...

__ADS_1


...I just can’t live a lie anymore...


...Aku tidak bisa hidup bohong lagi...


...I would rather hurt myself...


...Saya lebih suka menyakiti diri sendiri...


...Than to ever make you cry...


...Daripada membuatmu menangis...


...There’s nothing left to try...


...Tidak ada yang tersisa untuk dicoba...


...Though it’s gonna hurt us both...


...Meski akan menyakiti kita berdua...


...There’s no other way than to say good-bye...


...Tidak ada cara lain selain mengucapkan selamat tinggal...


Bianca terkejut samar terdengar Al mengikuti lagu tersebut.


Bianca menatap wajah Al yang biasanya jutek, galak dan menyebalkan kini terlihat sendu dan menerawang.


Seolah kontras dengan yang Bianca lihat beberapa saat lalu.


Bianca memang tak tahu banyak soal PA nya ini.


Sementara Al dalam benaknya terbayang kilasan memori saat ia dan mantan istrinya dulu suka dengan lagu ini.


Al tak menyangka ternyata lagu ini kini menjadi kenyataan dalam hidupnya.


Al larut dalam kenangan terbawa suasana tak sadar disampingnya ada seseorang yang memperhatikan.


"Awas Dok!"


Untung Bianca segera berteriak kalau tidak hampir saja Al menabrak seekor kucing.


Tentu saja teriakan Bianca mengejutkan Al dan mengerem mendadak.


Al tentu saja marah sambil menghentikan mobilnya.


Bianca segera membuka pintu mobil memastikan bahwa kucing itu tidak tertabrak oleh mobil Al.


"Apa lagi kelakuannya!" Al keluar melihat apa yang Bianca lakukan.


Bianca mengusap kucing yang hampir tertabrak.


"Ya ampun! Ayo masuk, nanti telat!"


Al tidak melihat pergerakan Bianca yang masih jongkok menatap kucing tersebut yang tidak apa-apa.


Al tak sabar ia reflek menarik tangan Bianca, namun langsung dihempas oleh Bianca sambil menatap tajam pada Al san Bianca memilih segera masuk ke mobil.


Al melihat tatapan Bianca yang terlihat marah membuat Al memilih tidak menanyakan apapun.


Memilih kembali melanjutkan perjalanan tanpa ada sepatah katapun yang terucap diantara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2