
Berakhir pekan memang menyenangkan apalagi bisa berkumpul dengan keluarga dan orang tercinta.
Namun maksud hati Chris ingin mengajak Hania untuk kencan namun apalah daya ia yang sepaket plus sama Mama juga kali ini ingin ikut serta.
Hania tampak bahagia begitupun dengan Rafael, tampaknya bocah ini sudah merasa bahwa Hania akan menjadi Ibu sambungnya.
"Chris Mam bajagia banget deh. Akhirnya sebentar lagi Kamu nikah sama Hania. Mam yakin Hania akan tulus menyayangi Rafael seperti putranya sendiri."
"Mam, Aku kan niatnya mau ngajak Hania kencan, kenapa Mam ikut juga sih. Tih lihat Hania lebih perhatian dengan Rafael dibanding Aku." Chris merengut kalah pamor dengan sang putra.
"Kau ini, sama anak sendiri saja cemburu. Sabar, dasar duda!" Mama Chris meninggalkan putranya yang sedang misuh-misuh terusik waktu berduaannya dengan Hania.
"Ma,Ma,Ma." Rafael semakin pintar saja sudah lancar sekali memangggil Mama pada Hania.
"Anak pintar, anak ganteng. Gemes." Hania mencium Rafael bertubi-tubi.
"Ah Rafael, Daddy iri. Daddy jiga mau dikiss sama Mama." Chris menaik turunkan alisnya.
"Mas, apaan sih!" Hania bergeser sedikit karena Chris layaknya truk gandeng mepet terus ga boleh lihat celah.
"Kau ini, jauhan sana. Hania, pokoknya kalau si duda modus Kamu jangan mau! Tunggu janur kuning melengkung dulu!" Mama Chris menjewer telingan Chris tanpa ampun.
Rafael tertawa melihat ekspresi Daddynya yang kesakitan.
"Ah anak ganteng, seneng ya. Oma, Rafael seneng nih lihat Daddy kesakitan." Hania memangku Rafael mendusel gemas pada calon putra sambungnya.
"Astaga, Daddy kesakitan Rafa happy kok." Chris ikut merusuh gemas pada Rafael yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Eits! Mepet-mepet, alamat modus. Hania pindah sini dekat Mam. Ga aman disana ada kucing garong!" Mama Chris menepuk kursi di sebelahnya.
"Tega sekali. Anak Mam tampan rupawan begini dibilang kucing garong!" Chris mengekori kemana Hania pindah.
"Bagaimana apakah kalian tidak ingin langsung berbulan madu? Soal Rafael tidak usah khawatir. Ada Mam dan bibi dirumah. Kalian nanti langsung honeymoon saja. Buatkan adik untuk Rafael." Mama Chris dengan frontal.
"Ah ide bagus. Bagaimana Sayang?" tentu Chris paling setuju bahkan 1000% ia menyetujui saran sang Mama.
Hania melihat 2 wajah Chris yang memasang tampang iba tentu saja mana tega Hania menolak.
Hingga tak terasa hari yang dinantikan oleh Chris tiba.
Chris dan Hania telah mengucap janji sehidup semati.
__ADS_1
Hari ink keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.
Betapa bahagianya Chris terlihat senyum tak lepas dari bibirnya.
Tentu saja kedua sahabat karib turut hadir memberikan ucapan selamat dan doa.
"Selamat Bro, asik deh. Gaspoll lah. Biar jadi adiknya Rafael!" begitulah Bara yang datang ditemani sang istri.
"Makasi ya Bara, Tasya. Doa yang sama untuk Kalian ya. Biar nanti anak-anak Kita bisa sahabat seperti Kita." Chris menerima ucapan selamat dan doa.
Ada rasa menyayat di hati kecil Bara, sudah hampir 2 bulan pernikahannya dengan Tasya, jangankan produksi anak, sekedar ciuman saja tak ada dan masih jauh mengawang.
"Hai Pak Bro, Selamat. Wah akhirnya keponakan ganteng Gw bakal punya adek." Al seperti Bara memeluk Chris dan mengucapkan selamat serta doa bagi kedua mempelai.
"Kalian juga ga usah lama-lama, cepat diresmikan saja. Biar nanti Kita bisa liburan bersama." Chris menepuk bahu Al.
"Baby, tuh denger. Kuy lah!" Al masih saja gencar meski belum ada respon dari Bianca.
Tentu saja suasana pesta dijadiri sejumlah relasi bisnis Chris dan teman kuliah Hania.
Tentu tak luput para pegawai kantor Chris yang sudah pasti mengenal Hania yang pernah magang disana.
"Makasi Dika. Kamu segeralah nikah. Jangan lama-lama. Banyak-banyakin dosa aja!" Chris menepuk bahu Dika.
Hingga terakhir pesta dan para tama satu persatu mebinggalkan ballroom begitupun dengan kedua mempelai segera menuju kamar hotel yang sudah disiapkan oleh Mama Chris bagi keduanya.
"Malam ini, Kalian nikmatilah. Pokoknya Rafael aman sama Mam. Kalian relax saja. Hania, kalo si duda ga mau berenti pukul saja!" Mama Chris memberikan ultimatum pada Chris.
Kini keduanya sudah berada dalam kamar yanh sangat indah.
Bagi Hania ini adalah pengalaman pertama.
Tentu saja ia merasakan deg degan luar biasa.
Sedangkan Chris bersiul happy tak sabar melepas toya sakti miliknya yang sudah lama terkurung dalam peraduannya.
"Sayang, Kamu lama sekali di dalam. Apakah sulit membuka gaunnya. Perlu Mas bantu?" Chris mengetuk pintu kamar mandi.
"Tidak perlu Mas. Aku bisa sendiri."
Panggilan dan ketukan Chris dipintu semakin membuat jantung Hania berdebar-debar.
__ADS_1
Chris sudah ancanh-ancang, sambil menunggu Hania ia melakukan gerakan olahraga pembukaan sebelum nanti siap lepas landas menikmati malam panjang menggelora.
Hania masih ragu apakah ia akan menuruti saran Ibu mertuanya yang telah membekalinya pakaian dinas malam para istri.
Melihatnya saja Hania bergidik ngeri sendiri.
"Ini baju atau saringan tahu, tipis sekali. Apa yang ditutupi?" Hania bergumam sendiri masih ragu-ragu antara pakai atau tidak.
Segala gerakan pemanasan sudah full Chris lakukan, tak lupa stamina juga sudah disiapkan jauh-jauh hari.
Meski bukan pertama kali tapi antusias Chris nyatanya melebihi dari pertama kali.
Pintu kamar mandi terbuka.
Hania membalut tubuhnya dengan bathrobe dan menggulung rambutnya keatas.
Chris melihat Hania gugup, maklum anak perawan dan pengalaman pertama batin Chris.
Chris mendekati Hania yang masih berdiri mematung.
"Sayang, jangan tegang, santai saja." Chris menuntun Hania menggiringnya duduk di tepi ranjang yang berhias angsa dan taburan kelopak bunga mawar merah.
Chris perlahan mendaratkan ciuman di dahi Hania.
Melepas sejenak penasaran melihat ekspresi wajah sang istri.
Melihat wajah Hania yang gugup bersemu merah merona, Chris semakin gemas saja rasanya ingin langsung menerkam namun tak ia lakukan agar sang istri lebih nyaman dan menikmati dulu.
Chris meraih dagu Hania mengangjat wajah Hania perlahan agar mereka bisa saling bersitatap.
Sungguh Hania tak memungkiri pria dihadapannya yang kini resmi bergelar suami sangat tampan mempesona.
Melihat Hania menatapnya Chris perlahan mendekatkan wajahnya, matanya sejak tadi tertuju pada bibir ranum milik Hania yang seakan memanggil Chris meminta disesap sedemikian rupa.
Kini benda kenyal keduanya saling menempel, semula sekedar melekat perlahan meningkat menjadi sesapan.
Sejenak Chris menghentikan aktivitasnya.
"Sayang, balas Mas. Aku menginginkannya."
Sorot mata sendu berselimut kabut gairah terpancar dari tatapan mata Chris yang kini kembali menyatukan kedua bibir mereka hingga perlahan bergerak maju mempertemukan lingual keduanya menciptakan suara cecapan yang terdengar menuntut.
__ADS_1