
Dengan memberanikan diri Hania menemui Chris di RS Tiara Medika tempat Chris di rawat.
Saat Hania datang terlihat Chris sedang di periksa oleh seorang dokter muda.
"Pagi Pak." Hania sambil menganggukan kepala saat berpapasan dengan Dokter yang akan keluar selesai memeriksa Chris.
"Pagi. Ada apa kamu kesini?" Chris menatap Hania sambil membalas salam dengan mode suara datarnya.
"Bagaimana kondisi Bapak?" Hania duduk agak jauh dari brangkar Chris.
"Kamu itu kalau ngobrol jangan jauh begitu Saya ga mungkin nyamperin kamu." Chris merasa Hania sedikit takut padanya.
Hania mendekat kini duduk di kursi dekat brangkar Chris.
"Kamu ngapain kesini?" tanya ulang Chris.
"Eh iya Pak. Ini Saya bawa makanan. Tapi ga tahu Bapak boleh makan atau tidak." Hania menyodorkan bawaannya pada Chris.
"Makasi." Chris menjawab singkat.
"Pak maafkan Saya. " Hania dengan pelan.
Chris melihat wajah Hania menunduk.
"Hei, bukan salah kamu. Saya hanya kelelahan saja. Lagian pede sekali Kamu!" Chris sengaja berkata begitu agar Hania tak murung lagi.
Hania sedikit tersenyum dengan jawaban Chris namun masih terlihat takut dan sungkan.
"Kamu bawa apa itu?" Chris kini melirik apa yang Hania bawa.
"Ah, ini, tapi makanan dari rumah sakit belum Bapak makan. Sebaiknya Bapak makan makanan dari RS saja itu sudah disediakan." Hania melihat set menu yang disediakan RS belum disentuh Chris.
"Cepat Saya mau lihat apa yang kamu bawa." Chris tak menerima penolakan.
Hania membuka kotak makanan susun yang dibawanya.
Terlihatlah menu masakan sederhana namun aromanya menggugah selera di hidung Chris.
"Itu kamu beli dimana?" Chris bertanya.
"Saya memasak sendiri Pak." jawab Hania.
"Oh," jawab Chris singkat sambil menelisik apa saja menu yang dibawa Hania untuknya.
"Karena Saya menghargai jerih payah Kamu, mari Saya coba apakah masakan kamu enak atau tidak."
Santai Boss duda, jangan gede gengsi, nanti malah kepincut masakan Hania lagi.
Hania menyiapkan makanan yang ia bawa di atas piring agar siap dimakan.
Hania membawa makanan sederhana khas rumahan, sup ayam bakso, perkedel kentang dan bacem tempe.
Saat Hania menyiapkan makanan aroma masakan Hania begitu sedap tercium dihidung Chris membuat ia lapar.
"Nasinya sengaja Saya lembutkan seperti tim, karena Bapak sedang sakit." jelas Hania sambil menata makanan yang akan ia sajikan untuk Chris.
"Ok. Terima kasih." sungguh Chris tak menyangka Hania menyiapkan semua itu untuknya.
Hania melihat Chris kesulitan mengambil makanan karena tangan kanannya dipasang infus.
Chris kemudian mencoba pakai tangan kiri namun berakhir sebelum masuk mulut nasi disendok tumpah.
__ADS_1
"Ah ini sulit sekali. Bagaimana aku makan." Chris bisa saja meminta Hania menyuapinya tapi ia gengsi.
"Boleh Saya bantu Pak?" Hania kasihan melihat Chris sulit makan.
"Ah, ini karena Saya sedang sakit dan sulit karena infusan oke kamu boleh bantu Saya."
Santai Boss, bilang kalo mau disuapin ga usah gengsi!
Perlahan Hania pindah duduk di tepi brangkar Chris agar lebih mudah menyuapi.
Tentu saja jarak keduanya kini sangat dekat.
Chris bisa memandang dengan jelas sejelas jelasnya wajah cantik Hania.
...Visualisasi Chris dan Hania...
Hania menyuapi Chris dengan sedikit bergetar.
Bagaimanapun ini kali pertama buat Hania menyuapi pria dewasa apalagi Boss nya sendiri.
Sedangkan Chris ia lebih bisa mengontrol raut wajahnya sambil menikmati suapan dari Hania.
"Padahal makanannya sederhana tapi kenapa rasanya enak sekali ya? Betulkan ini Hania yang memasak?" batin Chris menukmati suapan demi suapi yang di sodorkan Hania.
"Kamu sudah makan?" tanya Chris basa basi.
"Sudah Pak." jawab Hania.
Sementara Chris sebaliknya tatapannya enggan lepas memandang wajah Hania.
"Pak, sudah selesai." Hania memberi tahu Chris bahwa makanan dipiring sudah habis.
Chris tak sadar ia makan dengan lahap hingga nasi dan lauk dipiring yang Hania suapi tandas tak bersisa.
Chris menengok dan benar saja sepiring nasi lengkap dengan lauk yang dibawakan Hania sudah berpindah ke dalam perut Chris.
"Itu karena Saya menghargai jerih payah Kamu yang sudah repot-repot masak." Chris tak mau terlihat ia menyukai masakan Hania.
Hania menahan jangan sampai ia kesal mengingat Chris sedang sakit.
Hania kemudian membantu Chris minum setelah makan.
"Pak Saya izin kembali ke kantor ya. Biar Saya bisa bantu Pak Dika di kantor." Hania tahu diri karena bagaimanapun ia sedang magang.
"Tidak perlu." Chris membenarkan maksudnya agar Hania ga brrprasangka macam-macam.
"Maksud Saya kamu itu kan magang memang sebagai sekretaris Saya, jadi karena Saya sedang sakit ya tugas kamu membantu Saya disini." Chris mencari alasan, rasanya sudah nyaman Hania berada disini menemani dirinya.
"Tapi kalau disini Saya ngerjain Pak?" Hania tentu bingunh sendiri apa yang harus dilakukan sementara dalam ruang rawat hanya ada Hania dan Chris.
Chris bingung menjawab pertanyaan Hania, namun ia keberatan Hania pergi.
"Chris?"
Chris terkejut ternyata Mamanya datang sekaligus membawa Rafael putranya.
"Mama, Rafael!" Chris membulatkan matanya.
__ADS_1
Hania bangun dari kursi ia menyadari sepertinya keluarga Bossnya yang berkunjung.
"Ini siapa?" Mama Chris sambil menggendong Rafael menghampiri Hania.
"Ini Hania Mam, anak magang dikantor." Chris menyela jawaban Hania.
"Ma, Ma, Ma," Rafael saat itu mengucap kata meski terdengar ala kadarnya.
"Perkenalkan Nyonya Saya Hania. Anak ganteng siapa namanya?" Rafael yang seketika tertawa saat disapa oleh Hania.
"Ma,Ma,Ma," kembali Rafael bersuara.
"Hania sepertinya Rafael menyukaimu. Mau coba gendong?" Mama Chris menawarkan.
"Boleh Nyonya?" Hania bagaimanapun takut ini pertama kali ia bertemu langsung Ibu dan anak Boss nya.
"Boleh dong. Pelan-pelan saja." Mama Chris menyerahkan Rafael untuk digendong Hania.
Rafael bukan balita yang mau digendong orang asing tapi dengan Hania Rafael tidak nangis malah ia tertawa saat Hania mengajaknya bicara.
Ada rasa hangat dalam hati Chris melihat Rafael begitu nyaman dalam gendongan Hania.
"Hania kamu luwes sekali gendongnya?" Mama Chris heran bagaimana mungkin wanita semuda Hania tampak terlihat luwes menggendong bayi.
"Saya pernah kerja di daycare Nyonya. Tapi sekarang sudah tidak lagi karena Saya pagi harus kuliah." jelas Hania.
"Kamu magang berapa lama di perusahaan Chris?" Mama Chris kembali bertanya.
"3 bulan Nyonya." jawab Hania.
"Nyonya sepertinya Rafael poop, apakah Nyonya membawa popok dan perlengkapannya?" Hania tahu saat ini Rafael tengah poop.
"Ya ampun, Rafa kamu nih nakal ya Tantenya di poopin. Mari Hania Saya akan menggantikan pokok Rafa dulu." Mama Chris merasa tidak enak dengan Hania.
"Kalau boleh biar Saya gantikan. Mana perlengkapannya Rafa Nyonya?" Hani masih menggendong Rafael terlihat balita itu nyaman dalam dekapan Hania.
"Jangan nanti pakaian kamu kotor Hania."
"Tidak apa Nyonya. Mari Saya bantu. Saya izin ambil tasnya Rafael Nyonya."
Anggukan Mama Chris memulai gerakan Hania yang terlihat cekatan mengurusi Rafael yang poop.
Hania juga tidak gelian manakala ia merapikan bekas popok yang terkena poop, membersihkan bagian tubuh Rafa yang kotor, memakaikan popok bersih dan terakhir memakaikan pakaian bersih.
Interaksi saat melakukan kegiatan tersebut Hania gunakan dengan mengajak Rafael berbicara hingga Rafael tertawa dan tak menangis selama proses tersebut.
"Anak Ganteng, habis poop ya Sayang. Pinter ya ga nangis. Iya, eh ketawanya mana. Ia, Apa sayang. Sekarang udah bersih ya, udah wangi, udah ganteng nih Oma. Aku udah ganteng." Hania menirukan seakan Rafael yang menjawab.
"Rafael sini Papa kangen Nak." Chris meminta putranya agar mendekat.
Rafael yang kini sedang digendong Hania mau tak mau Hania menghampiri brangkar Chris.
Saat menyerahkan Rafael ke dalam gendongan Chris tentu saja sentuhan fisik jemari Hania dengan Chris tak bisa terelakkan.
Ada getaran yang di rasakan Chris namun segera ia alihkan dengan menyapa dan bercanda dengan putranya.
Hania melihat sisi lain dari Chris yang biasanya kaku dan dingin tanpa ekspresi dihadapan putranya Chris seorang Ayah yang lembut dan hangat.
Hania yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah hatinya terenyuh menyaksikan Chris dan Rafael.
Interaksi antara Hania, Rafael dan Chris tentu saja menarik perhatian Mama Chris yang dibuat jatuh hati oleh sikap keibuan Hania.
__ADS_1