
"Malam Pak." sapa security kediaman Chris saat Chris pulang melewati gerbang rumah mewah miliknya.
"Malam."
Chris mengeluarkan kantong belanjaannya dari mobil.
"Pak, biar Saya bantu." tawar security.
"Tidak usah. Di pos logistik aman?"
"Wah aman Pak. Terima kasih Pak."
"Yasudah Saya masuk dulu. Selamat bertugas."
"Siap Pak!" hormat security pada Chris.
Chris hanya tersenyum melihatnya membawa belanjaannya masuk segera menuju ke lantai atas.
Chris membersihkan dirinya dulu sebelum ia mendekati Rafael.
"Kau sudah pulang?" Mama Chris terbangun.
"Mam pindahlah, biar aku yang menjaga Rafael."
"Mam pindah ya. Kamu segera istirahat." Mama Chris menepuk bahu putranya sebelum keluar dari kamar Rafael.
Sepeninggal Mama Chris, Chris duduk menatap wajah polos Rafael yang tengah tertidur pulas.
"Sayang, kamu lihatkan Rafael kalau tidur tangannya seperti kamu, suka ditekuk tuh. Lihatkan?" tatapan Chris sendu menatap wajah polos putranya Rafael.
Rafael yang memiliki kemiripan dengan Amanda dimana saat tidur sering menekuk tangannya.
Selain itu sifat ceria Rafael meski masih balita sepertinya menurun dari Amanda.
Karena Chris lebih kalem dan tak banyak ekspresi.
Chris membenarkan posisi tangan putranya seperti halnya dulu Chris melakukannya pada Amanda.
"Aku rindu Manda sama kamu?" Chris mengusap pelan kepala Rafael agar sang anak tidak terbangun.
Entah berapa lama dan sejak kapan Chris tak sadar ia tertidur di kamar Rafael sambil terduduk.
Matahari sudah meninggi, ayam jago sejak tadi telah berkokok.
"Pagi Chris." Mama Chris menyapa putranya yang sudah duduk dan berpakaian rapi.
__ADS_1
"Rafael masih tidur Ma?" tanya Chris.
"Sedang dimandikan oleh si bibi." jawab Mama Chris.
"Oh ya Ma, Chris hari ini sepertinya tidak bisa mengantar Mama dan Rafael imunisasi." Chris sebetulnya tak pernah absen bila menyangkut Rafael namun siang ini memang ia tak bisa karena ada hal yang harus ia urus terkait dengan klien.
"Gapapa Chris. Mam kan bisa diantar sopir dan si bibi juga Mam bawa."
"Maafkan aku Mam. Mam jadi repot harus menjaga Rafael. Atau Mam ambil saja Baby sitter di yayasan untuk membantu Mam." Chris kasihan dengan sang ibu pasti lelah mengurus balita.
"Tidak perlu Chris. Ada si Bibi yang membantu Mam. Lagi pula si Bibi malah senang katanya, karena pekerjaan lain sudah dipegang oleh ART yang lain. Jadi si Bibi bisa fokus mengurus Rafael membantu Mam."
"Yasudah kalau begitu. Tapi beritahu Chris kalau Mam membutuhkan babysitter."
"Mam Chris pamit berangkat ya."
"Bye anak Papi yang ganteng."
Chris berpamitan pada Mama dan mencium Rafael sebelum ia berangkat.
Sesampai di kantor Chris sudah disibukkan dengan segala hal.
Hingga saat siang ia diberitahukan bahwa klien mereka akan datang namun sedikit terlambat.
"Pak, kemaren Saya lupa menyampaikan, bahwa ada surat dari Universitas Gemilang, mereka mengajukan nama mahasiswa yang akan magang. Ini dia suratnya." Sekretaris Chris menyerahkan surat permohonan magang dari Universitas Gemilang.
"Apakah ada posisi yang pas untuk mahasiswa magang itu?" tanya Chris pada Sekretarisnya.
"Ada pak. Minggu lalu kita mendapat klien dari Tiongkok, dan di kantor kita belum ada yang bisa berbahasa Tiongkok. Kalau Bapak setuju, kita akan jadikan dia penerjemah sekaligus bisa sekalian mendampingi Bapak jika ada meeting."
"Lalu kalau dia mendampingi Saya, kamu bagaimana? Kamu kan sekretaris Saya Dik?" Chris menatap Dika sekretarisnya.
"Ya Saya ikut Bapak saja bagaimana baiknya." Dika tersenyum ga enak hati.
"Ya sudah, kamu panggil saja mahasiswa tersebut, kemudian kamu interview, sekiranya sesuai dengan kebutuhan kita ya terima."
"Baik Pak. Saya akan hubungi mahasiswanya."
Chris melanjutkan pekerjaannya ada beberapa dokumen yang membutuhkan persetujuannya dan beberapa harus ia cek.
Diatas meja kerja Chris masih terpasang foto pernikahan antara Chris dan Amanda.
Chris menatap foto tersebut.
Tatapan sendu itu selaku hinggap dalam sorot matanya hingga Chris baru ingat sejak tadi ia belum mengecek ponselnya.
__ADS_1
Chris hendak menanyakan apakah Mamanya sudah otw menuju RS untuk imunisasi Rafael.
Saat Chris melihat ada chat masuk di group yang berisi Al dan Bara.
"Bro, weekend ini holiday tipis-tipis yuk!" singkat jelas padat dan langsung Bara kirim di group.
Chris menatap sekilas chat Bara di group yang mengajak liburan singkat.
Tak segera membalas karena Chris memikirkan Rafael jika ia harus pergi apalagi sampai menginap.
Meski ada sang Mama tapi Chris belum sepenuhnya bisa meninggalkan Rafael.
Chris membiarkan saja chat Bara.
Memilih melanjutkan pekerjaannya karena meetingnya diundur setelah makan siang.
Kring!
Ponsel Bara berdering.
Panggilan atas nama Mamanya tertera di layar ponsel Chris.
"Halo Chris, Mam sudah sampai di RS untuk imunisasi Rafael. Mam juga bertemu Al. Tadinya Mam sudah daftar dan dapat nomor 10, eh pas banget ada Al terus Mam langsung dapat segera masuk. Ini Mam sedang sama Al. Kamu harus kasih selamat dong sama sahabat kamu Al. Al sekarang sudah naik jabatan. Jadi Direktur RS. Nih ngobrol langsung." Mama Chris memberikan ponselnya pada Al.
"Halo Papa Chris, lagi sibuk Bro?"Al dengan cengengesan.
"Aah congrats ya Bro. Keren deh Direktur RS. Langsung bisa KKN ya, tapi Thanks Bro, Rafael udah imunisasi." Chris memberikan selamat pada sahabatnya.
"Ah jadi malu gw Chris. Ya gw juga ga nyangka. Rezeki duda terdzolimi kali! Hihihi." Begitulah Al jika dihadapan sahabatnya baru keluar aslinya tidak seperti tampilan kesehariannya yang sedikit jutek.
"Hahahaha. Bisa aja lo! Btw Rafael nangis ga?" tanya Chris.
"Tadi gw ikut langsung pas Rafael imunisasi, tenang aja Rafael anak kuat ya kan gantengnya Uncle Al." Al sambil mengusap kepala Rafael yang dianggapnya bagai keponakan sendiri.
"Syukurlah. Gw takut demam aja soalnya terakhir imunisasi sedikit demam." sebagai seorang Bapak begitulah ada kekhawatiran tersendiri jika anak sakit.
"Kalau demam kasih obat penurun panas tapi gw yakin Rafael ga akan demam kok." jelas Al, meski ia bukan dokter anak tapi overall Al paham juga mengenai efek samping dari imunisasi.
"Thanks ya Pak Direktur. Sering-serung KKN kalau Rafael imunisasi ya!" canda Chris.
"Sabilah Bro! Lagian kasian kalau nunggu lama di RS. Btw, gw tadi udah izin ke nyokap lo soal trip kita minggu ini. Mam kasih izin lo pergi. Gw tahu lo belum jawab karena kepikiran Rafael kan?" Al sudab menebak sekalian ia bertemu Mama Chris ia menjelaskan niatnya dan Bara mengajak Chris liburan tipis-tipis.
"Lihat nanti deh gimana. Gw kan kepikiran juga nanti." Chris belum mengiyakan bagaimanapun ia duda dengan 1 anak berbeda dengan Al dan Bara yang kembali menjadi bujangan lagi karena ga punya buntut.
"Ok deh Pak Boss, ntar kita lanjut lagi ya. Tapi bales digroup cepetan, si areng udah bawel tuh ke gw katanya kudu bujuk lo supaya mau!" Al yang sudah di telp Bara dan tahu sendiri Bara kalau sudah ngomong nyerocos ga bisa di jeda. Maklum pengacara emang skill nya ngomong.
__ADS_1
Chris hanya tertawa mendengar aduan Al soal Bara.