
"Loh, Kita kok bukan ke Rumah Sakit Dok?" Bianca melihat bingung bukannya Rumah Sakit malah kini ia dibawa ke Apartement Al.
Tanpa menjawab Al membuka pintu Apartementnya sambil memberikan kode pada Bianca masuk dengan gerakan kepalanya.
Bianca tentu saja ragu. Mana hanya ada ia dan Al di dalam Apartemen tersebut.
"Kau sedang cosplay jadi patung pancoran? Cepat masuk, wajahku sakit semua gara-gara Sepupumu!"
Al bergegas ke dalam membiarkan Bianca yang masih berdiri menelisik dengan pandangan waspada berjaga-jaga.
Al membawa kotak P3K mengambil posisi nyaman di sofa.
"Kau Dokter kan? Sudah lupa?" sambil menepuk sisi sofa disebelahnya meminta duduk.
Bianca menuruti meski dengan sikap siaga takut PA aneh bin ajaibnya kembali berulah.
"Aw! Kau ini mengobati atau ingin memperparah lukaku!" Al meringis mendapati Bianca seenak jidat menekan keras pada lebam di wajah Al.
"Siapa suruh Dokter sotoy! Lagian ngapain juga kurang kerjaan kah?" Bianca membuat Al mencari jawaban memutar otak membuat alasan masuk akal.
"Saya cuma ga seneng aja punya anak buah dibegoin begitu! Mana Saya tahu kalian keluarga!" sekenanya Al memberikan jawaban sambil meringis menahan perih di sudut bibirnya.
"Sudah lupa ya kalo Dokter?" Bianca membalikan kata-kata Al.
"Maksud Kamu apa niru kata-kata Saya?" Al menyorot tajam pada Bianca.
"Ya aneh aja, bertindak seperti preman main baku hantam. Memang Dokter ga pikir panjang sebelum bertindak." Bianca sungguh tak paham mengapa Al melakukan hal tersebut.
Al menjawab memilih mengambil alih kotak P3K dari tangan Bianca.
"Kau akan kuberi nilai jelek. Mengobati luka begini saja ga becus. Bukannya sembuh wajahku semakin sakit saja!" Al meraih kaca membubukan beberapa salep di lebam wajahnya.
"Ya sudah, Saya pamit pulang kalau begitu. Bye Dok!"
Entah apa yang ada dipikiran Al, seakan masih ingin Bianca berada di dekatnya Al menahan tangan Bianca yang beranjak meninggalkan.
Namun Bianca tak siap dengan reaksi Al justru membuatnya terhuyung dan sukses duduk dipangkuan sang Dokter Duda Tampan ini.
Deg! Deg! Deg!
Al bisa merasakan debaran jantungnya begitu celat manakala bersitatap secara dekat dengan Bianca terlebih kini tepat dipangkuannya Bianca duduk.
Gerakan Bianca membuat sesuatu yang berada dibalik celana Al mulai bereaksi.
Al tentu tak membiarkan Bianca menyadarinya, dengan cepat Al bangkit tentu membuat Bianca terjatuh dilantai.
"Aduh! Kenapa sembarangan banget sih Dok! Sakit tahu!" Bianca meringis tentu saja bokongnya sukses mendarat di lantai.
__ADS_1
"Salah sendiri kenapa asal duduk dipangkuanku!" Al kini masuk ke dapurnya dan meneguk air dari lemari es mendinginkan kepala atas bawah yang memanas.
"Ah memang dekat Dokter selalu menyebalkan!" Bianca mengambil tasnya untuk segera pulang.
"Kamu mau kemana? Tanggung jawab, Aku lapar. Masak sesuatu!" Al masak saja tak rela membiarkan Bianca pergi.
"Merepotkan sekali!" Bianca menghentakan kakinya namun meski terpaksa tetap menuruti.
"Mah makan apa?" Bianca bertanya.
"Coba lihat di lemari es ada bahan apa? Masak apa saja asal enak dan tidak beracun!" Al kini malah duduk di sofa menyetel Netflix.
"Dia pikir Aku ART nya apa?" gumam Bianca meski pelan namun terdengar oleh Al.
"Daripada Kamu banyak mengeluh cepat masak. Aku lapar!" Al menoleh melihat Bianca misuh-misuh sambil mengeluarkan bahan-bahan dari lemari es Al.
"Kalo bukan karena nilai dan nasib perkoasan Gw ada ditangan dia, Uh pengen Gw racunin sekalian." Bianca metacau dalam batin sambil mengerjakan bahan-bahan yang akan ia masak.
Sementara Al entah mengapa melihat bibir cemberut yang misuh-misuh namun sambil menggerutu nyatanya membahagiakan dihati Al.
"Kacau, masa Gw seneng lihat tuh cewek bar-bar!" Al membatin sambil geleng kepala.
"Dok makanannya sudah jadi." Bianca menyiapkan hasil masakannya dan memberitahukan Al.
Al menghampiri meja makannya melihat apa saja yanh Bianca buatkan untuknya.
"Eits, tunggu. Aku pastikan masakanmu ini layak dimakan dan tidak beracun. Kalau terjadi apa-apa denganku bagaimana?" Al lebay sekali.
"Ya seharusnya tadi Saya campurkan sianida sekalian!" Bianca kesal dengan sikap Al.
"Duduk disitu. Oh Iya Kamu ga makan?" Al tak melihat piring dihadapan Bianca.
"Saya sudah kenyang." singkat jawaban Bianca.
Al kemudian menyuap hasil masakan Bianca.
"Serius? Ini sih enak!" batin Al kembali memasukan suapan selanjutnya ke dalam mulutnya.
Bianca tak memperhatiakan Al memilih melihat ponselnya berselancar di aplikasi belanja orange melihat-lihat yang menarik baginya.
Sementara Al menikmati hasil masak Bianca sambil menikmati wajah yang memasakannya.
Kemudian ponsel Bianca berbunyi.
"Halo Pa. Iya Ni lagi otw. Papa sidah balik? Bia pikir masih lusa? Oh gitu. Oke. Tunggu Bia ya Pa. Iya Pa. Bye Pa!" Bianca menutup ponselnya mengakhiri perbincangannya.
"Saya harus pulang Dok."
__ADS_1
"Tunggu! Aku akan antar!" Al reflek bangkit.
"Ga usah! Dokter kan masih sakit! Saya ga mau di tawan lagi kayak begini!" Bianca melengos.
"Udah jangan kebanyakan sewot. Ayo!" Al malah mengambil kunci mobil dan bergegas keluar dari kamar setelah mengambil dompet dan jaketnya.
Bianca tak ada tenaga lagi beradu argumen dengan Al, terserah di Dokter duda saja selama hatinya senang dan tak merusuh.
Sepanjang perjalanan Bianca tak nyaman apalagi ia akan diantar pulang oleh PA sekaligus Direktur RS tempat Bia Koas.
"Ah nih orang nyebelin banget sih!" bagin Bianca sambil asik sendiri memandang jalan dari kaca mobil.
Sementara Al malah senyum-senyum saja.
Perut kenyang hati riang. Loh, ada apa dengan hati Al?
"Berhenti disini saja Dok!"
"Loh Kamu ga nawarin Saya mampir gitu?"
"Udah malem ga usah. Makasi Dok!" Bianca keluar mobil Al.
Nyatanya entah kesambet angin dari mana Al malah mengekori Bianca yang kini sudah berada dipagar rumahnya.
"Malam Non. Bapak sudah pulang. Ada di dalam. Non itu temennya ditinggal?" security rumah Bianca melihat Al berjalan dibelakang mengikuti.
"Dokter ngapain ikut, pulang saja!" Bianca malas sekali terlebih ada Papanya bisa ditanya macam-macam.
"Bianca!" panggil suara yang kini melihat putri dan seseorang yang tak asing.
"Pak Broto!"
"Dokter Althaf!"
"Papa!"
Bianca bingung melihat reaksi Papanya dan Al saling kenal.
"Malam Pak Broto. Apa kabar?" Al menyalami Papa Bianca yang tak lain adalah pasien yang pernah Al tangani.
"Malam. Kok Bianca bisa bareng dengan Dokter Althaf?"
"Maaf Pak Broto Kami baru dari rumah sakit. Bianca praktek di RS Tiara Medika." Al menjelaskan.
"Wah kebetulan sekali ya. Mari Dokter silahkan masuk. Terima kasih sudah mengantar Bianca." Pak Broto merangkul Al mengajak Al masuk dan berbincang.
Sementara Bianca segera menuju kamar Mamanya melepas rindu karena sudah 3 bulan Bianca tak bertemu kedua orang tuanya karena keduanya baru saja pulang dari luar negeri.
__ADS_1