TRIO DUDA

TRIO DUDA
Tasya Syok


__ADS_3

Bara dan Tasya telah mengambil hasil tes urine dan tes darah milik Tasya.


Tentu saja hasilnya negatif. Tasya bersih dari segala barang haram itu.


Secara tidak langsung menjadi bukti kuat tidak ada keterlibatan dirinya dengan Jerry yang kini terancam mendekam lama di balik jeruji besi.


"Tuh lihat sendiri! Aku walau bar - bar begini tapi masih waras Om!" Tasya merasa jumawa sambil ia berjalan lebih dulu melewati Bara.


"Eh mau kemana?" Bara melihat gelagat Tasya yang sedikit-sedikit menjauh mengambil ancang-ancang kabur.


"Mau ngapain lagi? Ke kantor sudah! Urusan RS juga beres! Dah ya Om, Gw balik duluan!" Tasya melambaikan tangannya.


"Enak aja! Balik ke kantor! Masih jam kerja!" Bara menarik lengan Tasya.


"Tasya!"


"Kak Juna!"


Tentu saja Bara bete melihat kehadiran Arjuna.


"Sedang apa?" Juna bertanya pada Tasya.


"Ada urusan sedikitlah. Oh Iya Kak Juna yuk Kita langsung berangkat! Pasti udah nunggu kan?" Tasya memberi kode pada Juna untuk mengikuti permainannya.


"Oh, Iya. Ayo!" Juna mengerti Tasya ingin lepas dari Bara.


"Dah Om. Ayo Kak Juna!" Tasya tersenyum menang sambil menggandeng tangan Arjuna.


"Boss kok Nona Tasyanya dibiarin pergi?" Wisnu melihat wajah Bara merah menahan kesal.


"Kamu balik ke kantor sendiri. Aku ada perlu." Bara meninggalkan Wisnu yang heran dengan sikap Bossnya.


"Loh si Boss gimana sih?" Wisnu tetap melaksanakan sesuai perintah Bara.


Bara berada dalam mobilnya. Memukul stir kesal sendiri.


"Kenapa sih si Loreng selalu muncul! Dia itu manusia apa uka-uka!" umpat Bara memberi julukan pada Arjuna si Loreng.


Bara nyatanya membuntuti mobil yang membawa Arjuna dan Tasya.


Sementara di mobil Arjuna, Tasya meluapkan segala kekesalannya terhadap Bara.


"Masa iya Kak, Papa percaya gitu aja sama Om-Om ga jelas itu! Bikin bete kan!" Tasya dengan wajah full emosi.


"Tapi kalau Kakak lihat-lihat dia ga seburuk yang Kamu ceritakan." Arjuna lebih dewasa tentu ia tak terbawa arus pemikiran Tasya.


"Kakak ga tahu aja, nyebelinnya si Om-Om nyebelin itu. Hari ini aja si Om bangunin Aku pake semprotan tanaman. Gila ga tuh Kak!" Tasya semakin emosi dengan sikap Bara padanya.

__ADS_1


"Hahahaha, serius Kamu Dek? Ya Ampun cuma dia sih yang berani sama Kamu yang susah diatur. Om Taka aja nyerah punya anak kayak Kamu." Arjuna tertawa mendengar cerita Tasya.


"Kak Juna malah ngetawain Aku, bukannya belain." Tasya cemberut.


"Ya Kamu sih kalo tidur pasti masih kayak dulu ya. Kayak kebo!" Arjuna tertawa.


"Aku tuh kalo tidur kayak snow white, kalem, cantik. Mana ada ya kayak kebo!" Tasya ga terima padahal nyatanya benar yang dikatakan Arjuna.


"Iya deh kayak snow white. Tapi KW super!" Arjuna masih tertawa.


Di dalam mobil Bima kesal bukan main karena mobil Arjuna masih betah meluncur tanpa Bara tahu akan berhenti kemana.


"Sumpah, Nih anak kalau bukan amanah Om Taka, rasanya pengen Gw rebus!" Bara memukul stirnya.


Hingga mobil Arjuna sampai juga di sebuah pantai.


Arjuna membukakan pintu mobil untuk Tasya semua tentu terlihat jelas dipandangan Bara yang masih sefia jadi penguntit dadakan.


"Cih, si Loreng sok-sokan romantis!" Bara mendengus kesal dengan apa yang ia lihat.


"Tuh anak kalo sama Si Loreng manis banget. Senyum begitu. Coba kalo sama Gw udah kayak Macan Kemayoran. Eh Maksudnya Macan Ragunan!" Bara menggerutu.


"Kak, lagi kangen sama Dinda ya?" Tasya mengiringi langkah Arjuna yang menyusuri pinggir pantai sambil melihat ombak yang saling berkejaran.


"Ya, Kakak ga pernah bisa lupa Sya. Andai waktu itu Kakak ada pasti Dinda akan selamat. Tapi," Arjuna mendadak sendu."


"Kak, Dinda pasti saat ini udah tenang disana. Dinda malah sedih kalau Kakak masih berlarut begini." Tasya menepuk bahu Arjuna menenangkannya.


"Kak Juna dari tadi yang diinget jelek terus. Padahal Aku ini sekarang udah cantik maksimal loh!" Tasya berlagak layaknya model berjalan di catwalk.


Sikap Tasya mampu mencairkan suasana hati Arjuna yang mendung saat teringat Dinda.


Arjuna sengaja menyipratkan air ke Tasya.


Tentu saja Tasya membalas dan kabur setelahnya.


Jadilah adegan layaknya film india, Arjuna dan Tasya saling kerjar-kejaran terlihat sangat romantis di mata Bara.


"Ga bisa dibiarin Nih. Kudu di kasih pelajaran nih anak!" Bara keluar dari persembunyiannya.


Bara berjalan setengah berlari menghampiri Tasya dan Arjuna.


"Lo ngapain Om? Lo ngebuntutin Gw!" Tasya kembali ke mode galak dan jutek.


"Ikut Saya. Ada masalah di kantor! Sebagai CEO Kamu harus hadir menyelesaikannya." Bara terpaksa berbohong.


"Emang ada apa di kantor. Ga jelas banget Lo Om!" Tasya masih menolak.

__ADS_1


"Tasya! Kamu itu harus punya tanggung jawab! Yang bergantung hidup di perusahaan bukan hanya Kamu, tapi seluruh karyawan di perusahaan akan terkena imbasnya bila Kamu main-main kayak gini!" Bara mendramatisir.


Nyatanya trik Bara berhasil membuat Tasya mau ikut pulang bersama Bara.


"Perlu Kakak ikut?" Arjuna tampak khawatir.


Belum Tasya menjawab Bara sudah menyela lebih dulu.


"Maaf ini urusan internal perusahaan. Anda tidak ada kewenangan ikut campur. Ayo Tasya." Bara menggandeng lengan Tasya meninggalkan Arjuna yang bingung.


"Kak Juna, lain waktu kita jalan lagi ya!" Tasya menoleh dan pamit dengan Arjuna.


Anggukan Arjuna sambil menatap kepergian keduanya.


Bara membukakan pintu mobil meminta Tasya masuk dengan wajah lempeng layaknya jalan tol becakayu.


"Emang ada apa sih di kantor?" Tasya memulai pembicaraan karena sejak masuk mobil Bara hanya diam saja mengemudi dan fokus melihat jalan.


"Hello, Gw tuh ngomong sama Lo Om. Jangan cosplay jadi batu gitu lah!" Tasya merasa dicuekin malah ngegas.


Bara menepikan mobilnya, telinganya pusing mendengar Tasya mendumel sepanjang jalan.


CUP!


Serangan dadakan Bara pada Tasya sontak membuat gadis itu membisu meski sesaat kemudian ngamuk memukuli Bara bertubi-tubi.


Bara dengan sigap menahan kedua tangan Tasya.


Kini posisi keduanya sangat tidak menguntungkan bagi Tasya.


"Kalau masih banyak ngomong, jangan salahin Saya berbuat lebih dari tadi. Diam dan nurut sampe kantor!" Tatapan tajam Bara berhasil membuat Tasya terdiam meski kebencian terlihat jelas di raut wajah Tasya.


Hingga nyatanya Tasya di bawa oleh menemui Al, Dokter yang menangani Om Taka.


"Loh kok malah ke RS, ngapain balik lagi? Gw harus tes apalagi Om?" Tasya kebingungan.


Sementara Al mendengar Bara dipanggil Om ia tersenyum terpaksa menjaga image kalau tak ada orang lain Al pasti sudah terbahak-bahak.


"Ini Dokter Althaf yang merawat Om Taka. Dokter Althaf ini Tasya putri Pak Taka. Silahkan Dok, jelaskan bagaimana kondisi Pak Taka yang sesungguhnya." Bara merasa ini sati-satunya cara agar Tasya mau serius dan sungguh-sungguh dengan perusahaan meski Bara harus melanggar janjinya pada Om Taka untuk merahasiakan penyakitnya itu.


"Nona Tasya, perkenalkan Saya Dokter Althaf, Saya Dokter yang menangani Pak Taka. Perlu Saya sampaikan kondisi kesehatan Pak Taka saat ini sangat memprihatinkan. Beliau terdiagnosa cancer stadium 4." Al menjelaskan secara to the point.


DEG!


"Cancer? Papa sakit?" mata Tasya terbelalak tak percaya.


Tasya limbung hingga Bara menahan tubuhnya kalau tidak Tasya ambruk dilantai.

__ADS_1


"Bar, bawa dia ke brangkar. Seperti dia syok." Al menepuk bahu Bara.


Bara mengangguk mengikuti perawat yang membantu Tasya.


__ADS_2