
"Hania, Oma terima kasih. Maaf Kamu jadi repot sama Rafael. Duh Cucu Oma itu tidak biasanya anteng sama orang. Tapi sepertinya Rafael suka sama Kamu Hania. Maafin ya kencan Kamu sama Tuan Andreas jadi terganggu karena Rafael." Mama Chris sengaja mengatakan semua itu ingin melihat sejauh mana Chris bereaksi.
"Oh tidak Oma. Hania dengan Pak Andreas tidak ada hubungan apa-apa." Hania segera mengkonfirmasi kebenarannya.
"Gapapa Hania. Tidak ada yang salah juga kalau ada hubungan. Kamu lajang dan Pak Andreas juga lajang. Kecuali kalau Kamu punya pacar atau ada orang yang Kamu sukai." Mama Chris memang benar-benar setiap kata-kata seakan mengandung makna ambigu dan sukses membuat Chris dag dig dug tapi kepo juga dengan jawaban Hania.
"Hania tidak punya pacar Oma. Lagi pula, Hania juga masih kuliah." Hania dengan polos dan lugu menjawab sesuai keadaannya.
"Memang tidak ada pria yang Kamu sukai atau sedang mendekati Kamu begitu selain Tuan Andreas." Mama Chris tahu jika sejak tadi Chris menguping meski pandangannya fokus pada handphone.
"Tidak ada Oma. Oma Hania pamit pulang dulu ya." Hania semakin canggung dengan pertanyaan Mama Chris.
"Chris, antarlah Hania." Mama Chris tahu putranya sudah siap namun pura-pura saja.
"Tidak apa Oma, Hania bisa naik Ojek Online." Hania tak enak lebih ke sungkan jika Chris mengantarkannya.
"Eh jangan. Kamu itu kesini karena Rafael. Kalau bukan karena Kamu, Rafael bisa rewel. Chris cepat antar Hania. Hania biar Boss Jutek Kamu yang antarkan Kamu pulang." Mama Chris sukses membuat putranya yang sok cuek membulatkan matanya.
"Ayo Hania." Chris memilih segera membawa Hania daripada mendapat ucapan aneh-aneh lagi dari Ibunya.
"Diantar sampai tujuan ya Chris. Kalo mau diajak jalan, dipastikan dulu statusnya mau dibawa kemana." melihat putranya yang terburu-buru membawa Hania keluar rumah tentu saja mulut Mama Chris semakin gatal menjahili putranya.
"Hania Kamu jangan diambil hati ucapan Ibu Saya." Chris mulai menyalakan mesin dan segera meninggalkan parkiran rumahnya.
Hania maupun Chris hanya diam. Tak ada yang memulai percakapan.
Lampu merah semakin membuat jalan yang padat merayap semakin lama saja.
Seorang anak berjualan tissue menawarkan di balik kaca mobil.
Hania meminta izin Chris untuk membukanya, dan anggukan Chris menyetujui permintaan Hania.
"Tissuenya berapa?" tanya Hania pada anak yang berjualan tissue.
"1nya 5 ribu Kak." jawab anak penjual tissue.
"Kakak mau 2 saja." Hania sambil tersenyum.
"Kak ini kembalinya belum ada." melihat Hania menyerahkan uang 50 ribu anak itu tertunduk.
"Kembalinya untuk Kamu. Kamu sekolah tidak?" Hania bertanya.
"Iya Kak, Aku sekolah." jawab anak itu.
__ADS_1
"Sekolah yang rajin ya. Semoga kelak Kamu bisa mencapai cita-citamu." Hania mengusap kepala anak penjual tissue.
"Terima kasih Kakak cantik. Semoga Kakak bahagia selalu ya bersama Om. Hati-hati dijalan Om, Kak." anak penjual tissue tersenyum riang sebelum meninggalkan Hania dan Chris.
Sudut bibir Chris tersenyum mendengar ucapan anak tadi.
Sedangkan Hania malah tak memiliki kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya.
Cara terbaik adalah diam seolah tak mendengar apapun. Begitulah Hania berpikir.
"Kamu ngekos disini?" Chris menepikan mobilnya setelah Hania meminta berhenti.
"Iya Pak. Terima kasih sudah mengantar Saya. Maaf merepotkan Bapak." Hania yang segera membuka pintu mobil namun masih terkunci karena Chris menahannya.
"Hania," kini mata Chris beradu dengan manik bulat Hania.
Tentu saja debaran dalam dada Chris semakin kencang.
Belum ada wanita yang membuat Chris merasakan kembali apa yang dulu ia rasakan untuk mendiang istrinya.
"Ada apa Pak?" Hania bertanya, bingung karena Chris hanya menatapnya tanpa berkata apapun.
"Terima kasih sudah menjaga Rafael." hanya itu yang bisa Chris katakan.
"Hania," seakan ada kata yang belum tuntas namun tertahan dalam kerongkongan sulit diutarakan.
"Iya Pak?" Hania kembali dibuat bingung.
"Hati-hati." banyak yang berkecamuk dalam hati dan pikiran Chris namun hanya sesingkat itu yang mampu tersampaikan.
"Bapak juga hati-hati. Mari Pak Saya turun dulu."
Kali ini tak ada alasan Chris menahan Hania.
Chris hanya mengangguk saat Hania membuka pintu mobil dan keluar.
Dalam mobil masih dengan kaca jendela terbuka Chris melambaikan tangan sambil tersenyum kepada Hania sebelum ia meninggalkan ruas jalan kostan Hania.
Hania menganggukan kepala sambil mengangkat tangannya membalas apa yang Chris lakukan.
"Pak Chris kenapa ya?" Hania memilih berjalan menuju kamar kostannya tujuannya adalah merebahkan tubuhnya yang ia rasa lelah.
Sementara di dalam mobil Chris terus tersenyum.
__ADS_1
Senyum Hania, Interaksi Hania bersama Rafael dan saat tadi Chris secara langsung menatap Hania dalam jarak yang dekat membuat hati dan pikiran Chris tidak baik-baik saja.
"Apakah Aku jatuh cinta?" hati Chris mulai berbicara.
"Apa Aku sudah melupakan Amanda?" pikirannya menolak akan suara hati yang kini bergemuruh.
"Tidak. Itu hanya perasaan sesaat.Tidak mungkin." Chris membuyarkan lamunannya.
Sementara Hania yang berada di kamar kostannya baru saja selesai mandi melihat sebuah chat di ponsel.
Hania melihat ada pesan dari Andreas.
"Tidak Hania, ingat Pak Andreas siapa sedangkan Kamu siapa. Jangan sampai Oma dan Opa Darren marah seperti dulu. Lagi pula Aku tidak memiliki rasa pada Pak Andreas. Meski Ku akui Pak Andreas sangat baik." Hania mengingatkan dirinya.
Hania memilih mengerjakan laporan dan jurnalnya selama magang.
"Tidak terasa 1 bulan lagi magangku selesai. Hania semangat segera selesaikan skripsi dan lulus." Hania mengepalkan tangan menyemangati dirinya sendiri.
Chris sampai dirumah. Nyatanya sang Mama masih menonton TV menunggunya pulang.
"Mom, belum tidur?" Chris melihat sang Ibu masih segar sambil menikmati acara di televisi.
"Jadi bagaimana Hania?" tanpa basa basi Mama Chris langsung to the poin.
"Bagaimana apanya?" Chris enggan membahas. Ia saja sekeras mungkin menepis pikiran dan perasaannya.
"Kalau suka segera lamar Hania. Jangan sampai Kamu ditikung Fusn Andreas. Nyesel nanti!" Mama Chris geram dengan kepura-puraan Chris.
"Apa hubungannya denganku Mom. Hania dengan Andreas? Silahkan saja. Apa masalahnya denganku?" Chris menutupi seolah ia tak bermasalah.
"Ok. Kalau begitu Kamu harus ikhlas melepas Hania pindah magang." Mama Chris semakin membuat huru hara.
"Loh kenapa?" Chris tak mengerti.
"Tuan Andreas mengatakan ia meminta Hania magang dan bekerja diperusahaannya. Bahkan meminta Hania menjadi sekretarisnya. Tadi Mam sempat berbincang dengan Tuan Andreas saat Kamu dan Hania mengajak Rafael bermain.
"Mana bisa begitu. Hania magang ditempatku masih 2 bulan lagi." Chris tak terima Hanianya disabotase.
Ups, Hanianya? Hei mohon maaf nih Pak Boss Duda, situ siapa main ngaku-ngaku aja. Makanya jangan gengsi Boss!
"Ya ga tahu juga, Kalau Mam jadi Hania pasti ga nolak lah. Punya Boss sebaik dan sehangat Tuan Andreas jauh lebih baik daripada punya Boss galak, dingin dan jutek! Mana Tuan Andreas masih bujangan, Kaya, Mapan plus ganteng! Ah kalau Mam masih muda juga pasti bakal sepemikiran dengan Hania."
Mendengar kata-kata Ibunya Chris tak menjawab memilih pamit menuju kamar Rafael.
__ADS_1