
...dr. Althaf Sarfaraz Xaquil, Sp.JP....
...Direktur Rumah Sakit Tiara Medika...
Al tersenyum saat memandang papan nama yang terpampang di depan pintu ruangan barunya sebagai Direktur RS Tiara Medika.
Senyuman Al mengembangkan, memberikan apresiasi kebanggaan bagi pencapaian yang ia lakukan.
Tak mudah bagi Al untuk bisa sampai pada titik ini.
Rumah tangganya menjadi salah satu hal penting yang menjadi korban meski itu bukanlah sesuatu yang bisa Al banggakan, miris.
Setelah pagi tadi Al mengikuti prosesi serah terima jabatan kini ia resmi menjalankan amanah dan tugas baru sebagai Direktur RS Tiara Medika.
Tugas dan tanggung jawab di pundaknya akan lebih besar dari sebelumnya. Tentu banyak waktu yang harus ia curahkan dalam menjalani profesi dan jabatannya kini.
Ucapan selamat silih berganti Al terima dari rekan sejawatnya baik dalam rumah sakit maupun dari rumah sakit lain juga menjadi tempat praktek Al.
Sejumlah kolega, pasien yang pernah Al tangani serta sahabat tercinta tak luput memberikan selamat dan doa terbingkai dalam deretan karangan bunga yang berbaris rapi di halaman RS Tiara Medika.
Prestasi Al selama menjadi dokter spesialis jantung memang tidak diragukan lagi.
Tentu saja selain karena prestasinya, ditunjang wajah tampan rupawan, gelimang harta, tubuh kekar athletis idaman semua kaum hawa membuat pesona dokter muda sekaligus duda keren adalah julukan yang tersemat pada dirinya nyatanya sangat memukau dan menyilaukan mata makhluk yang bernama Wanita.
Tak sedikit dari rekan sejawat, perawat bahkan pegawai dirumah sakit terlebih kaum hawa diam-diam mengagumi dokter tampan plus duda itu bahkan berlomba dekat atau sekedar mengagumi.
Tak jarang pasien-pasien Al menaruh rasa suka terhadap sang Dokter bahkan ada yang secara terang-terangan ingin menjadikannya suami atau bahkan calon menantu.
Namun Al nampaknya masih belum membuka hatinya kembali. Bukan trauma, hanya saja Al butuh jeda dan bernafas setelah perceraiannya.
Apalagi kini waktu Al semakin banyak untuk pekerjaannya dan ia tak mau kembali mengulangi kesalahan yang sama.
Al tak ngoyo, karena bila saatnya tiba pasti akan ada jodoh baginya yang bisa memahami kesibukannya.
Al tahu kesibukannya tentu menjadi alasan utama ia sulit untuk bisa seperti seorang suami diluar sana yang banyak punya waktu untuk istri.
Jikalau memang kelak ia mendapatkan jodoh lagi, Al harus memastikan wanita itu mau menerima Al dengan segala kekurangan yang ada.
Seakan kegagalan yang lalu menjadi sebuah pelajaran berharga bagi Al.
Al bukan tidak tahu banyak wanita yang mendekatinya namun Al tidak mau buru-buru.
Karena baginya cukup sekali ia merasakan kegagalan cinta.
Sekuat apapun pria, seperti apa mereka bila saat ketuk palu hakim memutuskan ikatan pernikahan kedua suami istri tentu saja menyisakan sakit dan luka.
Begitupan yang Al rasakan.
Sebagai Direktur RS, tentu akan banyak waktu Al yang tersita.
Bila suatu saat nanti ia kembali berjodoh, wanita itu harus bisa menerima segala kesibukan Al.
__ADS_1
Bisa memahami dan mengerti, toh Al bukanlah pria yang suka berselingkuh.
Waktunya habis karena memang untuk bekerja.
Cemburu memang bumbu dan tanda cinta. Jika cemburu dalam batas wajar dan seperlunya tidak membabi buta dan berbuntut curiga.
Namun bila kecemburuan malah membabi buta tanpa melihat dengan pikiran sehat dan tenang, alih-alih seperti yang terjadi pada rumah tangga Al yang berakhir di meja persidangan.
Hal itu tak ingin Al rasakan kembali.
Cukup 1 kali kegagalan yang ia rasakan.
Karena sejatinya saat kedua insan mengucap janji maka harapannya adalah selamanya tak terpisahkan hanya mautlah yang bisa membuatnya terjadi.
Al teringat ungkapan salah satu penulis yang bernama Charles Dickens.
“The pain of parting is nothing to the joy of meeting again.”
"Rasa sakit dari perpisahan tidak ada apa-apanya dibanding kegembiraan dari pertemuan kembali."
Al masuk keruangan barunya. Mengedarkan pandangannya menatap ruangan baru yang akan menemani aktivitasnya sebagai seoranh Direktur.
Dulu ia sering masuk keruangan tersebut saat masih menjadi wakil Direktur.
Kini, ruangan itu resmi menjadi ruangan kerjanya.
Al kemudian ingat, sejak tadi belum melihat ponselnya.
Al melihat chat Bara yang mengajak mereka untuk holiday tipis-tipis.
Tanpa banyak pikir Al langsung menjawab ajakan si Areng.
Tak lama Bara menelpon Al.
"Oits," sahut Al.
"Al, lo kudu mesti harus, bujuk Chris supaya mau ikut liburan. Gw mau kita bertiga seneng-seneng bareng." begitulah Bara yang kalau ngomong ga pakai titik koma, langsung gas poll. Maklum biasa dipengadilan.
"Slow Bro. Udah kayak lagi bela klien aja pake ngotot! Si Totong udah lama ga tegang, jadi nada bicara lo yang tegang, huh!" Al asal bunyi kalau debat sama Bara.
"Anjrit lo duda. Gw tahu pasti Chris mikirin Rafael, iya sih diantara kita bertiga doi udah punya buntut, tapi Gw pengen supaya Chris cepet move on gitu loh! Pokoknya lo bujuk Chris, Chris kan mau denger kalo lo yang ngomong!" Bara kembali ngegas.
"Bukan Chris denger omongan gw, dia pusing ngomong sama lo! Kayaknya lamaan dikit Gw ngobrol sama Lo, Gw harus periksa ke Dokter THT! Makanya buru deh lo kawin biar ga tegang tuh urat leher. Jadi yang tegang urat bawah! Hahaha." tawa Al.
"Sialan lo! Dasar duda, genteng kodok! Btw, Bro congrats ya, asek dah Direktur RS Tiara Medika coy! Party lah kita! Sabi kali!" Bara memberikan ucapan selamat sekaligus malak.
"Ah dasar areng, ujung-ujungnya minta PJ lo! Up to you Bar, dimana aja kuy Gw sih! Tapi gw telpon Chris dulu nyet, biar komplit Trio Duda. Oke kan?" Al memang paling tektok dengan Bara kalau urusan ledek meledek.
"Sialan. Serah lo deh Nyet! Ok. Sekali lagi Congrats buat Pak Direktur, Gw doain biar cepet kawin! Eh iya gw udah kirimin karangan bunga ucapan selamat! Gini-gini gw kan sohib yang baek, murah hati, tidak sombong dan setia kawan!" Bara memuji dirinya sendiri.
"Dasar Areng! Sifat jumawanya ga ilang-ilang!" Al tertawa.
__ADS_1
Bara juga ikut tertawa.
"Thanks Bro. Repot segala pake karangan bunga. Gw maunya bunga deposito aja!" tawa Al.
"Dasar Duda matre!" ledek Bara.
"Hehehhe. Sekali lagi thanks ye Bro. Ywd nanti Gw telp Chris bujuk doi supaya mau ikut holiday." Al menjanjikan.
"Ok. Dah gw mau ke Bareskrim nih udah otw." Bara memang sedang dalam perjalanan.
"Kasus apa yang lg lo tanganin Nyet?" tanya Al.
"KDRT!" jawab Bara.
"Perempuan itu aneh, dikerasin KDRT, kalo ga keras Komplain! Hahaha." Al tertawa pikirannya malah traveling.
"Dasar duda! Pikiran lo! Sabun aman di kantor? Hahaha!" Bara balik meledek.
"Hari gini pake sabun! Lo kali!" Al ga mau kalah.
"Dah bisa gawat gw kalo ngobrol sama lo! Dah see you later, bye!" Bara menutup telpnya.
Al masih tersenyum dengan percakapannya dengan Bara.
"Bara, Bara dari SMA sampe sekarang masih aja. Tapi kalo ga ada dia dunia sepi. Kalo ada dia neraka bocor!" Al geleng kepala sendiri mengingat kelakuan absurd sahabatnya.
Al keluar ruangan ia ingin sekedar berkeliling memantau bagaimana situasi dan kondisi RS.
"Al!" Al menoleh saat seseorang memanggil namanya.
"Mam. Eh ada Rafael keponakan Uncle yang ganteng. Ada perlu apa Mam kesini?" Al menggendong Rafael putra Chris yang sudah dianggapnya sebagai keponakan sendiri.
Semua pasang mata yang melihat Al menggendong Baby tampat membuat mata para wanita yang melihat meleleh dengan tatapan mengagumi.
"Duh hot daddy banget sih!"
"Astaga! Jadi pingin jadi ibunya tuh anak!"
"Ih gemes bangeh sih Bapaknya!"
Sederet suara hati kaum hawa saat melihat pesona Al menggengdong Rafael.
"Mam mau imunisasi Rafael. Ini dapat antrian nomor 10." Mama Chris memperlihatkan nomor antrian pada Al. Hei hebat sekali putra Mam ini, Selamat ya Pak Direktur! Semoga semakin sukses!" Mama Chris memang sudah menganggap Al dan Bara selayaknya anak kandungnya.
"Thanks Mam. Doakan Al ya Mam, agar bisa menjalankan tanggung jawab ini."
"Aamiin. Mam yakin Al pasti mampu."
"Mam, ayo ikut Al, kita langsung menemui dokter anaknya saja. Pokoknya buat keponakan Uncle yang ganteng dan pinter dipastikan yang terbaik!"
"Wah Mam jadi enak nih!"
__ADS_1
Al membawa Rafael segera masuk ke poli anak untuk diimunisasi.