
Seperti biasa Al si morning person sudah siap berangkat menuju RS.
"Pagi Dok, berangkat?" sapa security apartement Al.
"Pagi Pak. Iya. Duluan ya Pak!" Al menuju basement menghampiri mobilnya yang terparkir disana.
Kemacetan bukan lagi hal aneh bagi semua penduduk di ibukota tak terkecuali bagi Al.
Lebih baik medengarkan berita apa yang sedang terjadi di negara plus 26 tercinta.
Lampu merah adalah momok nyebalkan bagi semua rang khususnya para pengendara.
Sepintas Al melihat seorang yang ia kenal, semesta seakan ingin menguji kesabaran Al.
Tampak si sebelah persis mobilnya Al melihat mantan istrinya asa dalam mobil sedang mesra-mearaan dengan seorang pria.
"Wait? Bukannya itu Toni? diakan kakak sepupu Siska, kok mereka?"
Al tersadar manakala suara klakson berbunyi san lampu lalu lintas sudah berganti jadi lampu hijau.
Al bukan cemburu, namun Al tak habis pikir kalau mantan istri Al bisa mesra-mesraan dengan Toni yang selama ini Al mengenalnya sebagai kakak sepupu sang mantan istri.
"Ah bukan urusan gw! Terserah urusan dia mau gimana!"
Al membawa mobilnya kesebuah restoran cepat saji entah mengapa ia mau makan junk hari ini, padahal biasanya Al paling malas dan bilang itu ga sehat.
Al sudah masuk jalur drive thru namun mobil didepan Al tampak lama belum bergerak maju.
Al tak sabar ia membuka kaca mobilnya dan melihat keadaan.
Al tak menyangka nyatanya mobil yang membuat macet antrian adalah karena ulah anak Koas bimbingan Al siapa lagi coba kalau bukan Bianca.
"Kamu ga dimana-mana bikin masalah aja! Al menghampiri Bianca yang sedang mengalami masalah dengan pramuniaga.
"Dokter Althaf, pagi Dok!" sesungguhnya bukan hal bagus bagi Bia berjumpa Al namun saat ini hanya Al yang bisa membantunya.
"Ada apa kamu, bikin antrian panjang aja!" wajah jutek Al.
"Nona ini ga ada uang cash untuk bayar sementara mesin debet kami sesang offline. QR code nya juga ga bisa." jelas pramuniaga.
"Berapa semuanya? Sekalian Saya sekalian order." Al membuka dompetnya.
"Dok, maaf ya Saya jadi merepotkan. Nanti Saya akan ganti uangnya." Bianca cari aman mending mengepur daei pada digempur.
"Mau pesen apa Pak?" tanya pramuniaga.
"Samakan saja!" Al ingin cepat malas Al dengan situasi saat ini.
Saat menunggu keduanya malah saling diam.
Bianca sebetulnya kesal karena Al diam saja cuek seperti tembok ga bersuara sedikitpun hanya melihat kearah ponsel miliknya.
__ADS_1
"Ini pesanan Bapak dan Mbaknya. Semuanya jadi 347.500. Maaf hanya bisa Cash saja." kembali si pramuniaga mengingatkan.
"Ambil kembalinya. Ini kamu pegang dulu! Segera ke RS!" Al memberikan paperbag makanan pada Bianca dan ia kembali ke mobilnya untuk segera menuju RS.
Ucapan terima kasih Bianca tak digubris Al yang langsung pergi.
"Huhft sabar Bia, lo tahu kan tuh Om Jutek emang kelakuannya kayak kanedo kering." Bia menetralkan emosinya bergegas kembali mengemudikan mobilnya.
Al sudah sampai di RS Tiara Medika.
Kedatangan Al tentu mendapatkan sapaan dari semua pegawai RS tersebut tanpa terkecuali.
Al menjawab sekedarnya ya karena begitulah Al.
Masuk ke dalam ryang kerjanya Al dihadapkan dokumen yang harus ia cek dan beberapa membutuhkan tanda tangannya.
"Mana sih tuh anak! Gw udah laper nih!" Al menunggu kedatangan Bianca karena makanan mereka ada pada Bianca.
Hampir selesai Al menyelesaikan tuhas administrasinya namun Bianca tak kunjung hadir.
Al yang sudah lapar hendak memesan makan dan ingin meminta OB membelikannya.
Namun saat Al baru akan menghubungi OB Bianca masuk ke ruangan Al dengan terengah-engah.
Al melihat nafas Bianca tak teratur seakan baru saja habis berlari.
Al melihat paper bag makanan mereka segera ingat bahwa ia lapa.
Tentu saja Bianca emosi atas ruduhan Al.
"Saya memang telat! Tapi seharusnya Dokter tanya dulu alasan Saya telat! Bukan asal ngejudge begitu! Oh iya ini makanan Dokter, dan ini uang yang tadi Saya pinjam. Terima kasih!"
Saat menyerahkan paperbag makanan dan uang diatas meja Al, Al tidak sengaja melihat tangan Bianca yang terluka hingga berdarah.
Entah apa yang ada dipikiran Al hingga Al reflek memegang lengan Bianca hingga langkah Bianca terhenti.
Bianca terkejut dengan tangan Al yang menahan nya hingga Bianca tak siap hingga kini Bianca terduduk tepat dipangkuan Al.
Netra milik keduanya bertemu.
Sesaat Al menikmati mata indah milik Bianca.
Wajah putih bersih, dengan bibir merahnya tentu saja membuat hati Al si duda karatan berdesir entah gelayar yang lama tidak ia rasakan kini seketika kembali.
Begitupun Bianca, berada sedekat ini dengan Al tentu pertama kali ia melihat wajah tampan dan rupawan Dokter galak, jutek bin menyebalkan namun begitu mempesona.
Jujur Bianca akui Al memang sangat tampan.
"****, kenapa Al junior harus bangun sih!" batin Al.
Tak mau ketahuan oleh Bianca dengan galak Al mengusir Bianca daei pangkuannya.
__ADS_1
"Kamu tuh berat kayak karung beras! Cepet bangun, bisa patah kaki Saya!" Al menutupi reaksi Al junior dengan berkata kasar pada Bianca agar cewel iri tak sadar bahaa saat ini ada yang sudah berdiri tegak namun bukan keadilan.
"Anjrit! Salah gw terpesona sama kanebo kering! Batin Bianca.
Bianca bangun dan ia kini merasakan tangannya sakit dan perih.
Al melihat hal itu segera ia panggil perawat via telp.
"Bawakan kotak p3k ke ruangan Saya!" Al menutup telp setelah menghubungi perawat.
"Saya permisi dok!" malas Bianca berlama-lama diruangan Al.
"Duduk disitu. Kamu tuh bukan gengster tangan berdarah-darah begitu! Ck!" Al menghentikan Bianca namun dengan mulut oedas mengalahkan samyang.
"Permisi Dok. Ini kotak P3K nya."
"Letakkan disitu. Kamu boleh keluar!"
Anggukan perawat segera meninggalkan ruangan sang Direktur.
Tanpa banyak bicara Bianca mengambil kotak O3K ia membersihkan sendiri lukanya meski sedikit kesulitan karena yang terluka tangan kanan dan Bianca bukan kidal.
Sebenarnya Al sejak awal ingin membantu namun ia gengsi terlebih Bianca tak meminta bantuannya.
"Ah kamu tak becus dalam hal apapun! Sini Saya bantu!" saat Al hendak merah pleaster Bianca tak memberikan.
"Kalo terpaksa lebih baik tidak usah Dok!" Bianca kesal sendiri.
Al mana mau menerima penolakan.
Al mendekat pada Bianca ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Bianca.
"Jadi kamu mau Saya paksa seperti tadi biar dipangku Saya, gitu?" wajah menggoda Al membuat Bianca semakin kesal.
"Siapa juga yang mikir gitu! Dasar Dokter mesum!" tak ada lagi aling-aling Bianca mengucapkan saja apa yang ia pikirkan tak perduli bagaimana reaksi Al.
Pletak!
"Aoww!"
Bianca memegang dahinya yang menjadi korban jitakan Al.
"Diam atau Saya jitak lagi!"
Al tak memlerdulikan jawaban Bianca ia segera membersihkan tangan Bianka, mengaplikasikan salep dan menutup dengan plester.
"Dah beres! Jangan bengong! Jelek kamu kalo bengong! Sekarang makan Saya kasih wakyu 5 menit lalu kita akan ke ruang rawat inap visit pasien."
Al mencuci tangannya kembali duduk di sofa ruang kerjanya menyantap makanan yang tadi mereka beli.
Sementara perasaan Bianca kini campur aduk nano nano, semua rasa jadi satu
__ADS_1
Entahlah lebih baik Bianca menghabiskan makanannya dengan cepat sebelum si kanebo kering berulah.