TRIO DUDA

TRIO DUDA
Sahabat Dalam Suka dan Duka


__ADS_3

Dika segera menghubungi Al mengabarkan kalau Chris pingsan.


Tentu saja Al langsung merespon dan mengirimkan ambulance ke kantor Chris meminta segera dibawa ke RS.


"Kalian segera bawa Pak Chris kesini, jangan telat!" perintah Al langsung kepada sopir dan petugas yang ada di dalam Ambulance.


Sementara menunggu kedatangan Chris, Al meminta disiapkan ruang rawat VVIP agar saat Chris datang segera di bawa keruangan tersebut.


Memang sejak kepergian Amanda, Al tahu sahabatnya itu kehilangan bobot tubuh dan ia melihat Chris kurang istirahat. Lingkar mata Chris sering menghitam menandakan pria itu mengalami insomnia atau sulit tidur.


Sering Al mengingatkan kepada Chris kalau istirahat yang cukup itu perlu mengingat usia mereka kini 35 tahun tentu harus mulai pandai menjaga diri dan kesehatan terlebih Chris memiliki putra yang masih butuh perhatiannya.


Mobil ambulance yang membawa Chris tiba.


Terlihat Dika dan Hania turut mendampingi.


Al segera menghampiri Chris yang masih belum siuman.


"Berapa lama Bossmu pingsan Dika? Al dengan wajah serius.


"Pastinya Saya juga kurang tahu. Terakhir jam berapa Hania kamu masih melihat Pak Chris?" Dika bertanya pada Hania karena Hanialah yang terakhir bertemu Chris.


Al melihat kearah wanita yang ia tidak kenal, Al kembali fokus memeriksa kondisi Chris.


Hania yang panik hingga ia tidak bisa berkata apa-apa hanya mengikuti dan kini menunggu bersama Dika di depan ruangan karena Chris sedang diperiksa.


Al keluar dari ruangan Chris dirawat.


"Bagaimana kondisi Pak Chris Dokter Althaf?" Dika terlihat bingung.


"Sudah tidak apa-apa, sekarang baru siuman. Tolong jangan bikin Bossmu banyak pikiran. Kau tahu kan Bossmu punya gerd. Tadi gerdnya kambuh, hingga sesak nafas makanya sampai pingsan. Tolong kalian sebagai pegawai lebih memperhatikan Boss kalian. Ingatkan dia makan jangan biarkan perutnya kosong, karena akan memicu naiknya asam lambung dan gerd nya kambuh." Al saat ini berbicara tak lagi sebagai Dokter tetapi seorang sahabat yang khawatir akan kondisi sahabatnya.


"Terima kasih Dokter Althaf. Maaf kami tidak bermaksud membuat Dokter khawatir." Dika tahu Al bukan hanya sekedar teman bagi Chris Boss nya, tapi Al dan Bara sudah seperti keluarga bagi Chris begitupun kedua sahabatnya yang menganggap Chris seperti saudara mereka sendiri.


"Sudah lah. Yang penting ingat pesanku. Salah satu dari kalian temui bagian administrasi, perawat meminta data pasien." Al menepuk bahu Dika sebelum ia kembali ke dalam ruangan Chris.

__ADS_1


"Pak Dika biar Saya saja. Bapak sebaiknya temui Pak Chris dulu. Pak Chris pasti mencari Bapak." Hania sengaja melakukan hal itu, Hania merasa bersalah bisa saja penyebab sakitnya Chris adalah karena perdebatan mereka tadi.


"Baiklah. Kamu ke bagian Adminstrasi ya Hania. Nanti setelah selesai segera kesini dan temui Pak Chris." Dika masuk ke dalam ruangan Chris di rawat.


Al menemani Chris memeriksa kondisi Chris memastikan sahabatnya iyu baik-baik saja.


"Hei, berbaring dulu!" Al melihat Chris ingin bangun menahan agar Chris beristirahat saja.


Dika berada disudut ruangan, ia memilih berdiam diri dulu melihat situasi karena Chris baru saja siuman.


"Gw kenapa Al? Dika, kapan Saya dibawa kesini!"


"Chris! Relax, tenang dulu. Lw baru siuman Bro! Udah, santai. Dika," Al memberi kode pada Dika untuk keluar dulu.


"Saya permisi Pak, Dokter." Dika mengerti kode yang diberikan Al dan ia keluar meninggalkan Chris dengan Al agar bisa berbicara 4 mata.


"Lo kenapa Al lihat gw begitu!" Chris belum stabil.


"Sampai kapan lo mau nyiksa diri lo begini Chris! Kalo lo ga perduli sama diri lo sendiri it's ok! Tapi gw peduli sama Rafael dan Nyokap lo! Mereka butuh lo Chris!" Al menekankan kata-katanya.


"Iya lo bener, tapi dengan lo kayak gini, apa Amanda ga sedih? Lo salah Chris kalo dengan begini cara lo menyesali kepergian Amanda. Dengan lo ga ikhlas dengan kepergian Amanda secara ga langsung lo ga nerima takdir!" Al terbawa emosi.


"Semua emang salah gw Al, andai gw peka kalau Amanda sakit gw ga akan izinin dia buat hamil dan membahayakan nyawanya!" Chris memang sering menyalahi dirinya sendiri atas kepergian Amanda, dan diperkeruh oleh mantan mertuanya yang hingga kini menyalahkan Chris yang membiarkan Amanda hamil dan melahirkan Rafael karena kondisi penyakit yang diderita Amanda.


"Jadi sekarang lo mau nyalahin Rafael juga! Wake Up Chris! Rafael ada atau enggak, Tuhan memang sudah menakdirkan usia Amanda hanya sampai disitu. Lo ga boleh ngomong begiti Chris, itu sama aja lo menyalahkan takdie Tuhan! Dan lo sscara ga langsung msmbuat Amanda sedih, karena Amanda sangat menyayangi Rafael, buktinya dia rela ngorbanin dirinya agar bisa melahirkan Rafael ke dunia, melahirkan buah cinta kalian!" suara Al terdengar bergetar.


Chris tertonjok oleh kata-kata Al.


Wajah Chris berubah seketika, sesaat Chris menyadari bahwa selama ini ia selalu mengatakan sayang dan cinta pada Amanda dan Rafael tapi dengan cari berlarut dalam kesedihan nyata ia menyakiti semuanya.


Al melihat rona wajah Chris yang bersedih dan menyesal.


"Chris, lo harus kuat, Rafael butuh lo. Rafael butuh Daddynya yang seperti dulu. Pelan-pelan Chris, pasti lo bisa!" Al menepuk bahu Chris.


Telpon Al berdering ia melihat Mama Chris menghubunginya namun tak lama dering tersebut terhenti.

__ADS_1


"Nyokap gw Al?" Chris melihat nama yang tertera diponsel Al.


"Gw akan bicara sama nyokap lo biar dia ga panik dan ga khawatir. Kasian Rafael kalau malam begini harus ditinggal. Gw yang bakal jagain lo!"


"Emang gw Rafael harus dijagain!" Chris menonjok lengan Al.


"Iya! Lo pantesnya jadi adeknya Rafael bukan Daddynya! Rafael aja ga nangis diimunisasi, liat tuh mata lo merah!" Al tertawa.


"Nah lo sendiri ga ngaca, kenapa lo berkaca-kaca gitu!" Chris menunjuk pada Al yang juga terlihat memerah matanya.


Kini ponsel Al kembali berdering ternyata Bara menelpon.


"Lo dimana Nyet!" Al tanpa basa basi.


"Buka tolol gw ada didepan nih!" Bafa nyatanya sudah didepan pintu ruangan rawat Chris.


Ruangan pasien VVIP berdesign dengan doorlock otomatic. Saat Dika kekuar tadi, Al segera mengunci ruangan agar ia bisa berbicara dengan Chris tanpa ada yabg mengganggu.


Al menekan remot membuka kunci kamar rawat Chris.


"Astaga Chris! Lo kenapa bisa rebahan disini! Sohib gw kenapa Nyet?" begitulah Bara semakin panik semakin ramai.


Bara langsung menggeser Al dan ia duduk dan memeriksa dahi, tangan, lebih tepatnya Chris merasa diraba-raba oleh Bara.


"Lo ngecek apa ngeraba-raba?" Al malah menyingkirkan tangan Bara sementara Chris risih dengan Bara yang bagai emak saat anaknya sakit.


"Gw panik lah, denger Chris pingsan!" Bara kesal saat ingat berkali menghubingi Al tak diangkat.


"Berisik lo pulang sana! Chris harus istirahat, lo dateng malah rusuh!"


"Anj!r lo Nyet, gw tuh mau ngaso dulu disini! Capek gw habis ngejar-ngejar anak ilang!" Bara kini selonjoran di sofa ruangan rawat Chris


"Lama-lama lo bukan pengacara lagi Bar! Cocoknya jadi Nanny!" Al tertawa.


Chris akui kedua sahabatnya itu memang bagai saudara meski tak ada hubungan darah.

__ADS_1


Chris bersyukur memiliki Al dan Bara sebagai sahabat dengan keberadaan mereka Chris terhibur.


__ADS_2