
Seperti biasa Al sudah berada di RS siap menjalankan tugas dan kewajibannya.
Memeriksa beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani, mengecek email yang masuk, serta memeriksa status pasiennya dan sederat pekerjaan lain yang tentunya sudah terjadwal selain tindakan medis yang terkadang tidak terduga untuk itu Bara menjuluki Al Pria Simatupang, alias Siang Malam Tunggu Panggilan.
"Selamat pagi Dok, hari ini Dokter ada jadwal visit di ruang Anggrek pasien bernama Bapak Heru pasca pemasangan ring di jantung lalu di ruang Bougenville pasien bernama Bapak Agus pasca operasi bypass jantung." perawat pendamping Al menjelaskan.
"Bianca sudah datang?" tanya Al yang sejak tadi tak melihat Bianca di depan matanya.
"Sudah sekarang sedang jaga di IGD, kebetulan salah satu koas tidak hadir jadi Bianca ditugaskan disana." jawab perawat.
Al tak merespon memilih melakukan tugasnya memvisit pasiennya yang sama-sama pasca operasi.
Dokter Al yang kini memiliki tugas sebagai Direktur RS Tiara Medika semakin populer saja, selain kepiawaiannya dalam menangani pasiennya pendekatan yang Al lakukan terhadap setiap pasiennya terbilang begitu loveble, pasien merasa sangat diperhatikan dan tidak merasa digurui wajar meski sudah menjadi Direktur Al tetap praktek karena memang permintaan dari pasiennya sendiri tidak mau diganti atau dialihkan pada dokter lain.
Padahal semua dokter di RS Tiara Medika adalah Dokter terbaik sesuai spesialisasinya masing-masing.
Namun pasien memiliki hak untuk memilih dengan dokter siapa mereka konsultasi dan berobat.
Visit pasien sudah, kemudian praktek rawat jalan di poli pun tinggal pasien terakhir.
Tak ada tanda-tanda Bianca datang.
"Tadi pasien terakhir Dok." perawat menyampaikan pada Al.
"Ok. Terima kasih. Untuk beberapa pasien yang tadi Saya rujuk untuk tindakan tolong dijadwalkan dan kordinasikan dengan pihak lab dan dokter lain yang terkait. Oh ya, Dokter Agustian sudah kembali apa masih cuti? Jika sudah mulai masuk, tolong operasi selanjutnya Jadwalkan Dokter Agustian sebagai Dokter Anestesi ya."
Setelah memberikan instruksi dan ada kesempatan rehat sejenak Al membawa langkah kakinya menuju tempat yang paling jarang ia kunjungi, buka maksud melalaikan namun IGD biasanya dijaga oleh dokter umur jika ada penanganan lebih lanjut sesuai diagnosa awal baru diteruskan pada Dokter spesialis untuk menanganinya.
Di ruang IGD terlihat Tasya sedang membantu Dokter jaga menangani pasien yang sudah lanjut usia.
Al memperhatikan bagaimana Bianca memberikan pendekatan yang tepat dalam menangani pasien tersebut.
Perawat dan pegawai yang jaga di IGD tampak kaget dengan kehadiran sang Direktur.
Dengan kode singkat Al seolah mengatakan lanjutkan tugas kalian.
Bianca malah tak menyadari kehadiran Al disana.
Bianca masih fokus menangani pasien lansia tersebut.
"Kepala Nenek pusing sekali rasanya."
__ADS_1
"Nek, apakah Nenek punya riwayat darah tinggi?" tanya Bianca setelah ia mengecek tekanan darah sang pasien .
"Nenek, kemaren habis makan ikan asin jambal roti. Padahal baru kali itu Nenek memakannya setelah sekian lama tidak pernah. Apa itu yang menyebabkan kepala Nenek pusing sekarang?"
Sambil tersenyum Bianca mendengarkan kronologis saat ia sedang melakukan diagnosa awal pada pasiennya.
"Jadi begini Nek, Konsumsi garam berlebih bisa membuat pembuluh darah pada ginjal menyempit dan menahan aliran darah. Sehingga untuk dapat mengalirkan darah, pembuluh darah utama mengeluarkan tekanan yang besar dengan memproduksi hormon Renin dan Angiostenin. Tekanan besar dan kuat ini lah yang bisa membuat seseorang mengalami hipertensi tipe sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh masalah di bagian tubuh lainnya. Jadi tentu saja ikan asin bisa menjadi salah satu pemicu tekanan darah naik atau hipertensi." jelas Bianca.
Mendengar penjelasan Bianca si Nenek manggut-manggut saja sambil merasakan kepalanya yang pusing.
"Kami akan memberikan Nenek obat sambil kami akan terus observasi, istirahat dulu agar Nenek relax dan obatnya bereaksi. Yang terpenting Nenek harus menjaga emosi dan suasana hati Nenek agar tetap tenang."
Setelah menangani pasien tersebut Bianca diperbolehkan istirahat dan bergantian dengan koas yang lainnya.
Melihat Bianca yang akan keluar dari IGD, secepatnya Al lebih dulu keluar agar Bianca tidak melihat kedatangannya yang sejak tadi.
Ponsel Bianca berdering.
Al mengamati tampak Bianca sedang berbicara ditelpon, padahal niat Al ia akan berpura-pura tak sengaja bertemu Bianca.
Rasa penasaran Al membuatnya memilih berjalan seakan entah dari mana dan pura-pura berjalan kearah Bianca.
"Bener Kak Byan mau jemput Bia? Ah senangnya!"
"Mau! Nonton ya! Asik!"
"Ih malu ah, mesti banget gitu bilang sekarang?"
"Iya, Iya, Bia sayang Kak Byan."
"Beneran. Ih gitu deh."
"Yaudah, nanti kabarin aja kalau udah sampe ya. Kalau ga Bia kabarin duluan."
"Dah, see u soon. Sarange Oppa!"
Bianca dengan wajah bahagia tentu saja mimik manja Bia selama berbicara ditelpon membuat Al kesel sekaligus sewot sendiri.
Gatal lisan Al dengan tingkah manja Bia membuat Al sengaja berbicara dengan kencang saat melintasi Bia yang juga sedang berjalan.
"Jangan terlalu percaya sama laki-laki, kebanyakan manis dibibir, ga tahunya tukang selingkuh!" Al dengan nada ngegas saat berjalan diaamping Bianca.
__ADS_1
Bianca sebenarnya mau menyapa Al, karena memang sejak pagi ia belum sowan dengan sang PA namun mendengar komentar Al layaknya netizen julid di lapak Lambe Turah membuat Koas cantik itu memilih mengabaikan dan tetap berjalan.
"Bianca Saya tuh ngomong sama Kamu, Kamu bisu!" Al merasakan diabaikan gatal mulutnya tak ngomel dengan respon cuek Bianca.
"Siang menjelang sore Dokter Althaf." Bianca menyapa Al dengan malas dan bete sejujurnya.
"Kamu hari ini kenapa ga dampingi Saya di poli?" Al pura-pura tanya padahal ia sudah tahu.
"Saya jaga di IGD. Ada Koas yang tidak hadir jadi Saya diminta bantu Dokter jaga disana." tak ada niat Bianca balik bertanya apapun ke sang Direktur.
"Sudah makan belum?" basa basi Al.
"Belum Dok. Lagi males makan juga." jawab Bianca sambil melihat ponsel membalas chat entah dengan siapa.
"Kamu itu, jalan jangan sambil lihat hp, bahaya!" Al sesungguhnya merasa diabaikan, kesel pasti lah.
"Kamu itu sakit Gigi ya, sana ke poli Gigi, sejak tadi diam aja!" karena komentar Al tak mendapat respon dari Bianca.
Bianca malah tersenyum sialnya Al menikmati pemandangan di hadapannya yang terlihat manis.
"Dokter kenapa senyum-senyum? Sehat Dok?" Kini Bianca yang melihat Al senyum-senyum sendiri.
Al terkejut ia tak sadar terbuai dan kini malu tentunya namun bukan Al si duda yang tak bisa mengkamuflase ekspresi wajahnya.
"Suka-suka Saya masalah buat Kamu!" Al malah ngegas menutupi malu.
"Santai pak Direktur." jawab Bianca.
Baru Al akan membalas terhenti saat Bia kembali mengangkat telpon.
"Kangen ya telpon lagi?"
"Serius? Wah keberulan Bia emang butuh istirahat, capek soalnya. Kalau begitu kan nyaman ada selimut bisa sambil bobo!"
Al membelalakkan matanya menoleh pada Bianca seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Iya. Ok. Bye. Gomawo Oppa! Sarangheyo Oppa." Bianca mengakhiri percakapan telpnya.
"Kamu tuh jangan gampang percaya sama laki-laki. Jangan gampang nyerahin diri kamu! Baru pacaran udah bobo-bobo bareng! Dasar anak sekarang, pacaran gayanya melebihi suami istri!" Al dengan mode ngegas pool emosi mendengar pembicaraan Bianca.
Tentu saja Bianca ga terima dengan tuduhan Al.
__ADS_1
"Pak Direktur yang terhormat! Kalau ga tahu masalahnya ga usah ikut campur! Lagi pula ga semua perempuan itu seburuk yang Dokter pikir! Jangan sama ratakan mantan istri Dokter dengan Saya! Karena Saya bukan perempuan yang ada dalam pikiran negatif Dokter! Permisi Dok!" dengan tegas lugas dan ngegas Bianca langsung balik kanan setelah menjawab tuduhan Al dengan tuntas.
"Dikasih tahu malah ngeyel bukannya terima kasih! Malah marah-marah! Nanti kalo diputusin aja nangis-nangis!" Al berjalan ke arah sebaliknya kesal dan sewot sendiri dengan sikap Bianca yang tidak percaya dengan ucapannya.