
2 Bulan Kemudian
"Papa bahagia sekali Tasya. Sekarang sudah ada Bara yang akan mendampingi dan menjaga Kamu. Papa tenang bila suatu saat Papa memang harus pergi." Pak Taka tak bisa menahan rasa bahagia dan haru saat melepas putri satu-satunya yang kini resmi menjadi istri Bara Arsenio Khasaf.
"Papa, jangan ngomong gitu. Tasya optimis Papa akan sehat. Tasya dan Mas Bara akan terus mendampingi Papa berobat dan Tasya yakin Papa bisa sembuh seperti sediakala." Tasya memeluk Papanya menumpahkan airmatanya, segala rasa sedih bercampur haru menjadi satu.
"Bara, sekarang Kamu melanjutkan tugas Papa, jaga Tasya, Sayangi dan cintai dia. Tegur apabila Tasya salah, namun pesan Papa jangan pernah Kamu kasari dan khianati putri Papa ini."
Begitulah perasaan seorang Ayah meskipun sudah melepas putrinya kepada pria yang ia yakini layak, namun tetap saja ada kekhawatiran meski Pak Taka yakin Bara adalah pria yang tepat untuk Tasya putrinya.
"Bara janji Pa. Bara akan menjaga Tasya dan melindungi Tasya."
Setulus hati Bara katakan meski ia dan Tasya memiliki perjanjian hitam diatas putih dalam pernikahan mereka.
"Selamat Nyet, Ups Mas Bara. Akhirnya duda satu ini sold out juga! Tuh Kamu ga iri sama mereka." Al datang bersama Bianca yang sebetulnya atas dasar paksaan Al.
"Buruan Lah nyusul! Bianca udah terima aja duda lapuk ini. Kasian lama-lama bosa karatan dia!"
Begitulah Bara dan Al rasanya sehari saja tak saling ledek rasanya ada yang kurang.
"Selamat Bara, Tasya. Semoga segera dapat momongan." Chris menggandeng Hania memberikan ucapan selamat pada kedua pengantin baru.
"Sya nanti gantian Kita yang datang kepernikahan Chris." Bara mencairkan suasana. Bara tahu betul istrinya tidak nyaman dengan semua ini.
"Selamat keponakan Om yang cantik. Ga nyangka ya, Kamu menikah dengan duda ini. Oh Ya selamat ya keponakan baruku, ternyata Kamu cerdik juga!"
Tasya enggan menjawab ucapan Om Soni yang terdengar seperti meledek.
"Terima kasih Om sudah datang. Betul Om Saya sangat beruntung bisa menikah dengan Tasya dan menjadi putra Papa Taka. Paling tidak Saya bisa menjaga dan melindungi mereka dari musuh dalam selimut."
Bara tak sungkan membalas balik sindiran Om soni hingga membuat Om Soni kesal dan segera meninggalkan pelaminan.
Suasana tampak meriah. Pesta megah dengan dekorasi ballroom hotel mewah dengan tamu yang berkelas.
Bagaimana tidak semua karyawan dan relasi dari Pak Taka hadir memberikan ucapan selamat.
Begitupan Bara, klien dan relasinya juga turut hadir dari berbagai kalangan, semua rata-rata pernah dibantu Bara menangani kasus.
Selesai serangkaian acara megah pernikahan Bara dan Tasya kini berada dalam kamar hotel yang dipersiapkan oleh Pak Taka sebagai hadiah untuk keduanya.
Tasya melihat sekeliling kamar hotel yang telah disulap begitu romantis.
Jika saja ini adalah pernikahan yang ia inginkan tentu akan menjadi malam yang panjang dan bergelora.
Nyatanya bagi Tasya malam ini adalah malam dimana ia akan mulai bersandiwara demi menyenangkan Papanya.
__ADS_1
Bara tahu persis apa yang ada dalam pikiran Tasya.
Bara juga tak mau aji mumpung, ia mengerti dan tak akan menyentuh Tasya jika memang istrinya tak menghendaki.
Bagi Bara hal itu bisa dinikmati jika keduanya sama-sama mau.
Tidak ada unsur keterpaksaan.
"Kamu mau mandi?" Bara memecah keheningan malam ditengah suasana temaram lampu sendu kamar hotel yang kini mereka tempati.
Tasya membawa pakaian ganti dan segera masuk toilet.
Rasa lelah menyelimuti diri Tasya dan sehera ia tuntaskan merendam sejenak tubuhnya dalam bathup merelaksasikan ragawi yang terasa letih.
Bara menghela nafas, mengisi rongga paru-parunya dengan sabar seluas dada.
"Bara, Lo harus tahan. Lo bukan penjahat kelamin yang memaksakan hasrat Lo!" Bara membuka kopernya mencari baju ganti demi kenyamanannya menggapai mimpi.
Seharian melewati rangkaian acara dan mengambit tamu yang hadir tak memungkiri tubuhnya terasa pegal dan letih.
Tasya keluar kamar mandi.
Terlihat Bara yang nyatanya sudah tertidur terbukti deru nafasnya teratur.
Tasya perlahan mendekat, melihat lamat-lamat pria yang kini resmi berstatus suaminya.
Tapi Tasya belum merasakan cinta kepada Bara.
"Lekas tidur, atau Kita akan melakukannya malam ini?"
Nyatanya Bara masih terjaga namun tetap dalam posisi memejamkan mata saat berkata.
Tasya tentu saja terkejut dibuatnya.
Tak ingin menjadi kenyataan, Tasya memilih untuk tidur disisi lain sebelah Bara dan berjaga memberi jarak pemisah diantara mereka.
Nyatanya, tak semudah itu memejamkan mata.
Bara membuka matanya.
Mendapati Tasya sudah tertidur disebelahnya memunggungi.
"Sabar Bar! Ini Ujian, kalau diawal namanya pendaftaran!"
Bara kembali memejamkan matanya meski kantuk tak kunjung datang setidaknya mengistirahatkan diri setelah lelah seharian.
__ADS_1
Nampaknya semesta tak meridho aksi saling hening dan membiar malam oengantin keduanya begitu saja.
Tasya perlahan membuka matanya.
Saat akan beranjak tubuhnya terhalang sesuatu yang berat.
"Bagun Om!" Tasya terkejut, rupanya Bara memeluk Tasya.
"Ampun deh! Mesri teriak ya! Aku masih ngantuk!" Bara merasakan sakit tangannya dihemoas kasar oleh Tasya.
Bara juga merasakan kebas disisi tangan yang lain.
Sepertinya semalam keduanya tanpa sadar tidur dalam saling memeluk.
"Jangan macam-macam ya Om! Pokoknya inget perjanjian Kita! Dan satu lagi, nanti setelah dirumah, Om harus tidur di sofa!" Tasya kesal dengan sikap cuek Bara yang tak berdosa setelah melakukan hal tersebut.
"Buktinya semalaman Kamu nyaman dipelukan Ku. Kenapa tidak Kita coba saja. Mumpung Bara junior lagi ON kalau pagi-pagi begini!" Bara berucap asal meski benar adanya memang junior Bara selalu ON dipagi hari.
"Dasar cabul!" Tasya memilih bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Bukannya marah Bara malah tertawa melihat wajah Tasya yang misuh-misuh.
"Loh kok Kamu sudah rapi. Mana pakai stelan olahraga begitu. Mau kemana?"
Tasya dengan kostum olahraga yang sedikit seksi tentu saja membuat Bara ketar ketir.
"Dikamar berdua dengan Om, Aku takut otakku tertular cabul oleh Om!" Tasya hendak melangkah menuju pintu.
"Tunggu! Aku juga akan ikut bersamamu. Awas kalo duluan. Aku akan melakukannya padamu!" Bara sedikit menggertak.
"Dasar, suami cabul plus tukang maksa!"
Tasya menutup mulutnya.
"Apa-apaaan Aku memanggilnya suami. Suami sementara kali!" kelutus Tasya merutuki dirinya sendiri.
"Ayo istriku kita olahraga bersama!"
Tasya melihat Bara dengan stelan pakaian olahraga.
Baru kali ini ia melihat lengan kekar Bara dalam kaos you can see.
Tentu saja dengan pakaian tersebut menampilkan otot bisep dan trisel Bara tak lupa perut kotak-kotak Bara juga tergambar meski samar tertutul kaos ketat.
Sedangkan Bara tak konsen sebenarnya, Tasya dalam busana Gym terlihat seksi dan menggoda.
__ADS_1
"Ah, Aku benci pikiranku!" batin Bara memilih melangkah duluan melewati Tasya.