
Pikiran apa yang merasuki Al kini.
Layaknya detektif ia membuntuti Bianca dan seorang pria yang ia curigai adalah kekasih Bianca yang bernama Bian.
Sejak Bianca dijemput dari rumah sakit, Al malah semakin penasaran dan kini langkahnya terbawa di sebuah Mall menuju gedung bioskop tempat dimana Bianca dan Byan janjian nonton.
Keduanya menu area premiere dan hendak masuk ke dalam gedung teater.
Al tanpa pikir panjang ia pun membeli tiket premiere dan ia masuk ke teater yang sama dengan Bianca dan Byan.
Saat Al masuk suasana teater sudah gelap karena film sudah mulai.
Maklum ia baru membeli tiket sedangkan keduanya sepertinya sudah booking online.
Al diarahkan petugas ke kursi sesuai nomor tiket yang tertera meski matanya mengedarkan pandangan mencari keberadaan Bianca dan Byan.
"Tuan silahkan duduk. Film sedang mulai. Demu kenyamanan penonton lain harap duduk dengan nyaman." melihat Al tang masih berdiri petugas menegur Al.
"Dimana sih! Ah apa merrka pesan tiket dipojok?" Al sulit melihat karena suasana gelap tak mungkin juga ia berdiri tentu akan mengganggu penonton lain.
"Ini kenapa Film menye-menye begini sih! Dasar modus! Film begini cuma alibi doang pasti!" sepanjang Film Al hanya mendumel.
Nyatanya film yang membosankan ditambah suasana nyaman dalam teater lengkap dengan sofa premier dan selimut membuat Al tertidur pulas.
Lelah fisik dan hati membuat Al tanpa sadar bukan nonton film malah ditonton film.
"Maaf Pak. Filmnya sudah selesai." petugas bioskop membangunkan Al.
Al menggeliat, mengedarkan pandangan, melihat sekeliling teater yang sudah kosong plus lampu kembali terang.
Meski malu Al bersikap cuek dan meninggalkan teater.
"Gara-gara Bianca nyebelin. Masa Gw ketiduran!" Al meregangkan tubuhnya meski ia akui kembali segar setelah tertidur hingga 2 jam lamanya dalam teater.
"Bego juga sih Gw. Ngapain coba Gw ngikuti si bar-bar!" Al merutuki dirinya sendiri.
Namun Al melihat pemandangan mengejutkan. Byan, Pria yang bersama Bianca sedang bergandengan mesra dengan seorang wanita dan Al tak melihat keberadaan Bianca bersama keduanya.
"Dasar Playboy cap kadal! Bisa-bisanya tadi nonton sama Bianca terus sekarang mesra-mesraan sama cewek lain! Goblok Bianca! Percaya sama cowok brengsek kayak gitu!" Al emosi dan dia menghampiri Byan dan wanita diaamping Byan.
__ADS_1
"Mbak pacarnya cowok ini ya? Dia itu tukang selingkuh. Tadi pacar Mbak itu nonton sama Bianca!" Al nyerocos tanpa ragu.
"Lo siapa Bro? Dateng-dateng ngoming sembarangan! Gila kali Lo!" Byan tak terima Al ikut campur.
"Model Playboy kayak Lo ga pantes mainin cewek senaif Bianca!" Al masih nyolot.
"Lo siapa? Lagi pula Emang Lo kebal Bianca?" Byan mulai tersulut emosinya.
"By udah ga usah diladenin. Kamu kenal dia?" cewek yang bersama Byan menahan Byan saat akan mendekati Al.
"Banyak Bacot Lo!" Al menonjok Byan seketika.
Byan terkejut dan membalas menonjok Al.
STOP!
Al dan Byan segera menghentikan aksi baku hantam setelah mendengar teriakan.
"Bianca!" Al melihat kearah Bianca.
"Bia!" Byan menoleh pada Bianca
Tentu saja di tengah Mall dan menjadi pusat perhatian keduanya di giring ke ruang keamanan dimintai keterangan.
Akhirnya setelah mendapatkan keterangan dan tidak meminta diperpanjang, baik Byan maupun Al dilepaskan.
"Lain kali makanya jangan asal ngegas aja Bro! Bia urus cowok Kamu! Baby, wajah Mas gimana, masih ganteng kan?" Byan mendumel pada Bianca, sambil melirik kesal pada Al. Bermanja pada calon istrinya.
"Ya Gw tahu Lo sama Bianca sepupuan. Gw minta maaf Bro. Gw bakal tanggung jawab, ngobatin muka Lo yang bonyok!" Al ga enak hati namun ada rasa lega dihatinya.
"Harus itu! Gw bakal minta tanggung jawab sama Lo. Masa wajah ganteng maksimal Gw jadi bonyok begini. Mana 2 minggu lagi Gw bakal nikah. Dikira undangan Gw kena KDRT lagi!" Byan kesal pada Al.
"Baby, mana ada kita aja belum nikah, masa KDRT!" calon istri Byan mengusap sudut bibir Byan yang lebam berdarah.
"Ya elah Oppa, Bia bakal bikin wajah Oppa balik lagi deh. Pokoknya ganteng pas duduk dipelaminan. Maafin Bia dan Dokter Althaf ya." Bianca tak enak hati dengan Kakak Sepupunya.
"Udah, Kakak mau pulang, mau satang-sayangan dulu sama Adel. Baby, Kamu obatin Aku ya biar cepet sembuh. Besok baru anter Mas ke RS minta tanggung jawab sama pacarnya Bia!" Byan dengan manja pada Adel calon istrinya.
"Enak aja! Dokter Althaf itu PA a
__ADS_1
Bia Kak. Bukan pacar!" Bianca tak terima tuduhan Kakak Sepupunya.
"Terserah Kamu deh. Yang jelas Kakak bakal ngadu sama Om kalo Kakak dianiaya sama pacar Kamu!" sebetulnya Byan menyadari kalau Al menyukai adik sepupunya namun keduanya masih sama-sama gengsi.
"Oh gitu, Bia juga bakal aduin Kakak ke Pakde kalau suka modus sama Kak Adel!" Bia tahu Pakdenya, Ayah Byan sering mengingatkan Byan agar menjaga diri sebelum keduanya resmi menikah.
"Cie, takut ketahuan Papa tuh pacaran! Kenalin aja dulu sama Om!" ledek Byan pada Bia.
"Udah ah. Males sama Oppa. Kak Adel, Bia duluan ya. Ga mau bareng Kak Byan rese!" Bianca ngeloyor meninggalkan semuanya.
"Eh Lo ngapain malah diem! Kejar Bia. Lo jagain Adek Gw. Awas ya Lo nyakitin Adek Gw. Nih!" Byan memberi kepalan tangan pada Al.
"Ga Adek, Ga Kakaknya sama-sama bar-bar!" Al meninggalkan keduanya mengejar Bianca.
Bianca hendak menaiki taksi namun Al lebih cepat menutup pintu taksi membawa Bianca bersamanya menuju parkiran.
"Ngapain sih! Dokter Althaf ga puas udah bikin malu Saya!" Bianca menghentakan tangannya dari genggaman Al yang mulai mengendur.
"Masuk!" Al meminta Bianca masuk mobil.
"Saya bisa pulang sendiri!" Bianca kembali berlalu.
Tapi Al lebih cepat menarik tangan Bianca hingga Bianca terhuyung namun dengan sigap Al menahan pinggang ramping Bianca.
Beberapa saat keduanya seakan terbius menikmati netra yang saling beradu.
Al menyadari Bianca memiliki mata yang cantik dengan bibir sensual.
Sementara Bianca tak memungkiri garis rahang dengan bulu halus yang tumbuh menambah ketampanan Dokter pembimbingnya.
"Jangan liatin Saya terus! Saya tahu kok Saya ganteng!" Al melepas pelukannya membiarkan Bianca sedikut menjauh darinya.
Al sesungguhnya tak menampik ada sesuatu yang bereaksi dalam dirinya yang telah lama mati suri.
"Pede banget!" Bianca tak terima ia harus menyembunyikan debaran jantungnya yang lebih kenceng dari biasa.
"Jangan kegeeran. Saya minta Kamu bareng Saya bukan mau nganterin Kamu. Tapi Kamu harus tanggung jawab sama wajah tampan Saya yang ditonjok Kakak Sepupu Kamu!"
"Ganteng kalo diliat dari Monas pake ujung sedotan boba!" Bianca mendumel meski akhirnya menuruti Al masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Sekilas Al tersenyum saat Bianca nurut masuk mobil.