TRIO DUDA

TRIO DUDA
Al Cemburu


__ADS_3

"Papa kenapa ngajak Bia sih? Bia kan paling males ikuran golf gini." Bia misuh-misuh mengikuti labgkah Pak Broto sang Papa yang tersenyum melihat putri semata wayangnya menggerutu.


"Ya Papa kan mau ngenalin Kamu sama temen anaknya temen Papa." Pak Broto memang janjian dengan rekannya yang akan membawa putranya.


"Pasti ada udang dibalik bakwan nih!" Bia menyipitkan matanya mencoba menebak maksud terselubung sang Papa.


"Papa jadi laper Kamu ngomongin makanan." Pak Broto mengacak rambut Bia tentu saja membuat Bia kesal.


"Pagi Broto, Apa kabar? Ini putrimu?" sapa pria paruh baya seusia Pak Broto datang bersama seorang pemuda tampan.


"Pagi Sigit. Kebalkan ini putriku. Bianca. Ini Putramu?"


"Ya. Ayo Davin. Kenalkan ini teman Ayah. Namanya Pak Broto."


"Davin Om. Davin." pria bernama Gavin menyalami Pak Broto kemudian bersalaman dengan Bianca.


"Bianca Om."


Bianca menatap sekilas sambil tersenyum.


Pak Broto dan Pak Sigit memilih asik berdua sedangkan Bianca di biarkan bersama Davin.


"Kamu lagi Koas ya Bia?" Davin membuka percakapan.


"Ia." Bia memukul dan berhasil melambungkan bola golfnya sejauh mata memandang.


"Kenapa tertarik jadi Dokter?" Davin tertarik dengan gadis cantik dihadapannya yang terlihat biasa saja pada Davin yang selalu menjadi idola kaum hawa kebanyakan.


"Ya dari kecil ingin aja kado Dokter." Bia menjawab sekenanya.


Bagi Bia, Davin memang tampan, mapan dan rupawan tapi entah mengapa tak berkesan di hati Bia.


"Btw, Kamu punya pacar?" Davin to the point.


"Males. Ribet!" kembali Bia jawab sekenanya.


"Kalo pacarannya sama Aku ga bakal ribet, dijamin deh!" Davin langsung to the point.


"Ku pikir semua CEO kaku dan nyebelin, ternyata Kamu bisa ngejokes juga." Bia tersenyum.


"Aku serius, mau ga jadi pacar Aku?" Davin menghentikan langkahnya menatap pada Bia.


"Salah target Pak, Ga mempan tuh!" Bia tertawa sambil berlalu.


Disaat yang sama nyatanya Al juga datang bersama kedua sahabat karibnya tentu Bara dan Chris.


Al menangkap Bianca bersama seorang pria sedang bersenda gurau begitu akrab.


"Ah pagi-pagi Lo ngapain si Nyet ngajak Gw kesini. Gw masih ngantuk" keluh Bara sambil mengintip di balik kacamata hitam yang ia kenakan.


Tak mendapat jawaban dari Al Bara menepuk bahu Chris meminta Chris mengikuti arah telunjuk Bara memperhatikan arah pandang Al yang membuat abai pertanyaan tandem berantemnya.


Chris menaikkan bahu mengisyaratkan ga paham dan tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Kemaren tahunya sepupunya, kali ini siapa lagi?" batin Al sambil menyoroti pemandangan yang membuat rusak suasana hatinya.


"Hai Bar. Disini juga."


"Hai Vin. Long time no see Bro!"


Bara dan Davin nyatanya saling kenal.


Tak heran sih sebagai pengacara kondang tentu pergaulan Bara dengan para petinggi dan konglomerat di negera ini tak usah diragukan.


"Weits, siapa nih?" Bara menggoda pada Davin.


"Calon istri!" Davin tersenyum pada Bianca


Sejak tadi Al sudah menatap tajam pada Bianca namun melihat Bianca tang seolah tak mengenal Al urung menyapa.


Bianca tentu saja reflek menepuk bahu Davin.


"Duh, Kamu ini jangan kdrt dong baby!" memang begitulan Davin, maklum cassanova.


"Kenalin ini Bara pengacara numero uno loh!"


"Bianca."


"Bara."


"Chris."


Saat akan bersalaman dengan Al, Bianca melewati saja.


"Ya seperti terlihat." Chris tersenyum singkat.


"Loh Kamu Dokter juga?" Bara kepo.


"Kalian saling kenal?" kini Davin yang menatap pada Bianca.


"Tentu, Bianca Koas dan Saya PA nya. Betulkan Bianca?" Al kini menatap tajam pada Bianca.


Anggukan Bianca menjawab.


"Wah, dunia sempit sekali ya. Tak sangka. Kalau begitu, Aku akan sering ke Rumah Sakit mulai sekarang agar lebih kenal sama Kamu!" Davin dengan sejuta gombalannya.


"Rumah Sakit tempat berobat, bukan tempat piknik atau kencan."


Bara dan Chris seketika menengok pada Al, mengapa Al jadi mode jutek plus galak.


"Kau jarang sekali menghubungiku Vin, sepertinya hidupmu sedang damai-damai saja?" Bara membawa Davin mengalihkan dari suasana yang mulai kaku akibat Al.


"Kalau Aku menghubungimu arrinya Aku sedang perlu bantuan. You Know lah!" Davin menepuk bahu Bara.


Sementara Chris menepi sebentar menerima telpon dari Mamanya yang mengatakan akan menemui Hania dan mengajak Hania untuk bermain bersama Rafael.


Sedangkan Al dan Bianca berjalan bersama meski jarak lebar diantara keduanya.

__ADS_1


Melihat Bianca yang cuek bebek, Al gemas sendiri.


"Kamu pacaran sama dia?" Al menghentikan langkahnya.


"Kalo ditanga jawab Bianca!"


Melihat Bianca mengabaikan pertanyaan Al, Al geregetan sambil menahan lengan Bianca agar berhenti sejenak.


"Ide yang bagus Dokter Al!" Bianca melanjutkan langkahnya.


"Jangan pacaran sama dia!" Al sendiri tak mengerti kenapa mulutnya berkata demikian.


"Suka-suka Saya lah!" Bianca dengan enteng.


"Saya ga suka!" kesal Al dengan sikap masa bodoh Bianca.


"Situ Siapa Pak Dokter?" Bianca meledek Al yang wajahnya sudah kaku layaknya kanebo kering.


DEG!


Al terdiam dengan serangan balik Bianca.


"Bia, sini. Om Broto dan Ayah manggil Kita." Davin melambaikan tangan pada Bianca.


"Loh ada Dokter Althaf juga disini?" Pak Broto menyapa Al.


Al menjabat tangan Pak Broto dan juga Pak Sigit setelah mereka saling berkenalan.


"Oh sepertinya Aku juga harus periksa kesehatan jantungku Broto, Boleh Dokter Althaf?" Pak Sigit Ayah Davin bertanya pada Al.


"Silagkan Pak Sigit. Kami senang sekali bila Bapak peduli terjadap kesehatan. Saya tunggu kehadiran Bapak." Al dengan sikap profesioalnya meski dalam hati kesal melihat Davin yang sejak tadi modus pada Bianca.


Akhirnya sesi pertamuan mereka selesai.


Bianca nyatanya diminta sang Papa pulang diantar Davin. Bianca mengikuti saja.


Sementara Al menyorot tajam sejak tadi hingga menarik perhatian Bara dan Chris yang sejak awal melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Al.


"Nyet muka Lo dari tadi lempeng banget kayak tol becakayu?" Bara asal jeplak.


"Al, Lo gapapa kan?"Chris juga heran mengapa sejak bertemu Davin dan Bianca Al menekuk wajahnya.


"Lo tahu ga Nyet mhka Lo kayak apa sekarang? Kayak orang lagi cembokur!" ledek Bara yang sedang fokus membawa mobil namun sempat meledek Al disebelahnya.


"Jangan ngaco! Nyetir yang bener!" Al kesal.


"Eh jangan bilang muka Lo wakti ktu bonyok berantem gara-gara cewek tadi? Saingan Lo berat sih, Tapi Gw sebagai sohib terbaek Lo, Gw support Lo Nyet!" Bara dengan kesotoyannya


"Lo itu udah jelek Sotoy Nyuk!" Al kesal Bara seperti biasa Si paling tahu tapi ngasal.


"Gw mau ngomong serius sama Lo bedua!" Bara berhasil mencuri perhatian Chris dan Al.


Al dan Chris saling pandang kemudian kini melihat pada Bara.

__ADS_1


"Gw mau nikah!"


__ADS_2