TRIO DUDA

TRIO DUDA
Al VS Davin


__ADS_3

Pagi ini Al begitu bersemangat.


Atas motivasi konyol dan dukungan kedua sahabatnya, Al memantapkan hati akan berusaha mendekati Bianca mulai hari ini.


Memasuki ruangan kerjanya sebelum menunaikan kewajibannya sebagai dokter, Al terlebih dulu disibukkan dengan dokumen yang sudah menunggi diperiksa dan ditanda tangani olehnya selaku Direktur Rumah Sakit Tiara Medika.


"Permisi Dok. Saya mau menginformasikan hari ini Dokter ada agenda memantau jalannya pemeriksaan kesehatan di perusahaan Herbowo Corporate. Selain itu untuk Dokter yang bertugas mereka juga sudah siap di ruang pemeriksaan." jelas wakil Direktur.


"Oke. Nanti setelah visit pasien Saya akan memantau kesana." jawab singkat Al.


"Kalau begitu Saya permisi Dok, mari."


Al kembali melanjutkan kesibukkan dan setelah itu ia melakukan visit ke sejumlah pasien yang sedang rawat inap pasca operasi jantung.


Sementara di unit MCU beberapa Dokter termasuk Bianca sudah siap dan dengan ramah tamah melakukan serangkaian MCU kepada karyawan Herbowo Corporate.


Bianca menjalankan tugasnya sebaik mungkin.


Mayoritas pegawai yang melakukan MCU kebanyakan kaum Adam tak jarang mereka senang bisa diperiksa oleh Dokter cantik seperti Bianca.


"Hai Bu Dokter, boleh Aku diperiksa juga?"


"Loh Kamu ada disini juga Davin?" Bianca terkejut dengan kedatangan Davin di tengah sesi MCU pegawai Herbowo Corporate.


"Wah Pak Boss ikut MCU juga?" silih berganti semua karyawan menyapa dengan hormat CEO nya.


"Kalian yang sudah selesai MCU sebaiknya kembali. Sudah sana. Jangan mengganggu!" Davin memberi kode kepada karyawannya untum segera meninggalkan ia dan Bianca.


"Si Boss tahu aja sama yang cantik-cantik. Kita kalah star lagi deh!" karyawan Davin terlihat mundur teratur cari aman.


"Oh jadi itu karyawan perusahaan Kamu?" Bianca mulai menyiapkan peralatan untuk memeriksa kesehatan Davin.


"Bagaimana hasilnya apakah mereka sehat?" Davin berbasa basi sambil memperhatikan gerak gerik Bianca.


"Ya sepertinya perusahaanmu harus memberikan waktu paling tidak diawal sebelum memulai aktivitas kantor dengan olahraga kecil agar lebih prima.


"Ulurkan tanganmu." Bianca meminta Davin.


"Ah kalau tahu ada Dokter Cantik sepertimu Bianca, Aku jadi semangat ke Rumah Sakit." begitulah sang Casanova dengan motto gombal tiada henti.


"Mana ada begitu Vin. Kerumah Sakit ya kalau Kamu sakit. Aneh-aneh saja!" Bianca mulai melakukan pengukuran tekanan darah pada Davin.


"Bagaimana Bu Dokter cantik. Apakah tekanan darahku aman?" Davin tersenyum bahagia senang sekali bisa sedekat ini dan beberapa kali disentuh Bianca saat memeriksa kesehatannya.

__ADS_1


"Bagus. Tekanan darahmu normal." Bianca melihat hasil pengukuran tekanan darah Davin.


"Tapi kenapa jantungku saat ini berdebar-debar?" bukan Davin namanya kalau jurus gombalnya tak dilancarkan.


"Tandanya Tuan Davin harus periksa jantung dan Saya akan langsung memeriksanya!"


Al sudah berdiri dihadapan Davin dan Bianca.


"Wah Saya tersanjung Pak Direktur mau repot-repot turun langsung memeriksa Saya. Tapi Saya rasa dengan Dokter Bianca sudah cukup." Davin masih enggan beranjak dari brangkar disisi Bianca.


Biwnca mengerti kode dari Al untuk pindah duduk dan kini Al yang menggantikan memeriksa Davin.


Tentu saja Davin kesal dengan ulah Al namun ia tak kehabisan akal agar menahan Bianca tetap diruangan tersebut.


"Dokter Bianca, setelah ini Aku ingin mengajak Dokter makan siang. Sekakian Aku mau minta saran makanan apa yang kiranya bagus untuk menunjang kesehatanku." Davin kesal karena Al tak bersahabat dengan wajah galaknya.


Padahal Al selalu tersenyum ramah dan baik pada setiap pasien yang ia tangani khusus Davin wajah galak dan jutek memang paling cocok untuk pasien playboy cap kadal ini.


"Kalau begitu Tuan Davin harus ke Dokter spesialis Gizi untuk konsultasinya, bukan dengan Dokter Bianca. Karena setelah ini Saya ada perlu dengan Dokter Bianca urusan Rumah Sakit!" Al melepaskan alat EKG setelah selesai dari tubuh Davin.


"Kita tanya saja langsung dengan Dokter Biancanya." terjadi tarik menarik antara Al dengan Davin.


Tentu saja bagai buah simalakama posisi Bianca, tak menuruti Al bisa alamat tak selamat sesi per koasannya di Rumah Sakit.


Penolakan Bianca menyiratkan senyuman diwajah Al tipis.


"Ah kalau begitu, jam berapa Kamu selesai praktek, Aku akan mengantarmu pulang sekalian Aku akan menemui Om Broto." Davin selangkah lebih maju.


Tentu saja kata-kata Davin menyulut emosi Al.


"Dokter Bianca, Hari ini Saya mau Dokter ikut Saya ada jadwal operasi. Sebagai Koas tentu Kamu tahu skala prioritas kan!" kali ini Al sedikit mendramatisir keadaan dan wewenangnya.


"Dan Tuan Davin sudah selesai pemeriksaan Anda. Silahkan kembali dan beristirahat. Oh ya satu lagi, Sepertinya Anda juga perlu memeriksakan kesehatan Anda lainnya ke Dokter spesialis kulit dan kelamin."


"Maksud Anda apa Dokter!" Davin kesal mengapa Al menyinggung seperti itu.


"Sepertinya Anda lebih tahu maksud Saya." Al menepuk bahu Davin sebelum meninggalkan ruang pemeriksaan.


"Dokter Bianca ayo, banyak pekerjaan yang harus Kamu lakukan." Al memerintah Bianca mengikutinya.


"Davin, Aku pamit duluan ya. Jaga kesehatan selalu." Bianca berbasa basi sebelum ia meninggalkan Davin yang terlihat kalah telak dengan smesh menukik Al.


Al berjalan sangat cepat, maklum langkahnya begitu lebar sesuai dengan fostur tubuh tinggi tegapnya.

__ADS_1


Bianca keteteran meski sudah terbiasa pontang-panting di IGD tetap saja mengejar Al bagai mengejar matahari.


Keduanya masuk dalam lift dan sesaat kemudian pintu lift tertutup.


Rasanya berdua dengan Al di dalam lift hanya terasa lama dan waktu bagai berhenti seketika.


Tak ada suara atau tegur sapa. Keduanya hanya diam saling lempar pandangan dari pantulan kaca lift.


Pintu lift terbuka, Al bergegas menuju ruangan kerjanya dan Bianca tetap masih mengikuti sesuai instruksi Al.


Saat masuk dalam ruang kerja Al.


Al mengunci ruang kerjanya.


Bianca dibuat heran sendiri oleh kelakuan Al.


Al melanjutkan memeriksa dokumen yang berada dimejanya tanpa mengindahkan keberadaan Bianca.


Bianca tentu saja bosan akhirnya memberanikan diri angkat bicara.


"Dok, kalau tidak ada yang harus Saya kerjakan lebih baik Saya ke IGD."


"Tetap disitu!" Al tanpa menoleh menyelesaikan dokumen terakhir yang harus ia tanda tangani.


Menutup Ordner terakhir dengan keras.


Tentu saja Bianca kaget dibuatnya.


Al kini berdiri dari kursinya berjalan mendekat kearah Bianca.


Bianca melihat tatapan tajam Al sambil terus melangkah kearahnya.


"Dokter mau apa?" Bianca kini sudah tersudut di dinding dan tak ada celah lagi menghindar.


"Kamu suka sama Davin?" Al meletakkan kedua tangannya di dinding menahan Bianca.


"Dokter jangan macem-macem ya!" Bianca menepis tangan Al ingin lepas tapi kalah tenaga.


"Jawab dulu Bia!" suara Al terdengar meninggi.


"Apa hubungannya sama Dokter!" Bianca sebal dengan Al yang aneh.


"Karena Saya ga suka Kamu dekat dengan dia."

__ADS_1


__ADS_2