
Setiap hari Chris bosan selalu saja Mamanya berbicara Hania.
Meski Chris akui ia pun mulai nyaman dengan keberadaan Hania namun Chris belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang terjadi dengan hatinya.
Waktu berlalu hingga tak disadari oleh Chris Hania sudah sampai dipenghujung masa magangnya.
Tok,Tok,Tok!
Suara ketukan pintu ruangan Chris seketika berbunyi.
"Masuk." Chris menjawab meski tatapannya masih fokus pada beberapa dokumen yang harus ia periksa.
"Maaf Pak. Saya mau minta tanda tangan Bapak." Hani menyodorkan sebuah file dan jurnal.
"Letakkan disitu saja Hania." Chris memilih tak menatap Hania.
Ya sejak kejadian mengantar Hania malam itu Chris bahkan memilih sedikit sekali berinteraksi dengan Hania.
"Maaf Pak Saya mau menyampaikan besok hari terakhir Saya magang. Dan itu jurnal laporan harian magang Saya. Maaf jika mengganggu waktu Bapak. Saya permisi Pak."
Hania melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Chris setelah ucapannya panjang lebar tak mendapat respon apapun dari Chris.
Sepeninggal Hania, Chris mengusap wajahnya, menyugar rambut sambil berputar di kursi kerjanya.
Chris tahu esok hari terakhir Hania magang diperusahaannya.
Chris mengambil jurnal harian magang milik Hania.
Sesaat kemudian Chris memejamkan mata sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
"Hania, besok terakhir magang ya? Yah Aku ga ada yang bantuin lagi deh!" Dika duduk di pinggir meja Hania.
"Nanti Kan ada magang lain Pak Dika. Btw, kalo Pak Dika nikah jangan lupa undang Saya ya." Hania sambil membereskan sisa pekerjaannya sebelum makan siang.
"Itu sih pasti Hania. Kamu wajib datang!" Dika tertawa.
"Hania mau ikut makan siang ga?" Dika menawarkan.
"Maaf Pak Dika, Hania udah janji makan siang."
"Cie kayaknya lanjut nih sama Tuan Andreas. Wah jangan-jangan Kamu duluin Aku lagi nikahnya!" Dika dengan ledekannya.
"Pak Dika ini suka sekali gosip. Ya sudah Pak Saya duluan ya." Hania memilih undur diri dari pada di ledek Dika.
"Silahkan Bu Andreas!" Dika masih senang meledek.
Tanpa keduanya ketahui nyatanya Chris mendengarkan obrolan keduanya.
Segera Chris membuntuti kemana Hania pergi.
Hania dan Andreas tampak duduk sambil menunggu menu yang mereka pesan.
"Hania bagaimana tawaranku?" Andreas membuka percakapan.
__ADS_1
"Saya masih kuliah Pak. Tanggung. Takutnya Saya tidak bisa maksimal bila bekerja diperusahaan Bapak." Hania menolak halus tawaran bekerja diperusahaan Andreas.
"Ya anggap aja seperti magang, jadi ga perlu full selama Kamu masih kuliah. Setelah lulus Kamu jadi sudah terbiasa dengan situasi kerja Kamu di kantor Saya. Lagi pula kan Kamu jadi sekretaris Saya. Bisa diaturlah waktunya." Andreas sesuangguhnya ingin selalu dekat dengan Hania.
"Mana bisa seperti itu Pak, apa kata pegawai Bapak lainnya." Hania tentu tidak nyaman bila diperlakukan berbeda seperti itu.
Sementara Chris sudah sampai segera mengedarkan pandangannya mencari sosok Hania dan Andreas.
Chris memilik kursi yang tidak langsung berada di dekat Hania dan Andreas.
Chris melihat keakraban Hania dan Andreas yang berkali melempar tawa dan saling bercanda.
Hati Chris seketika panas membara. Tak rela senyum dan tawa Hania tertuju pada Andreas.
Saat melihat Hania izin ke toilet, Chris tak menyiakan waktu.
Memilih menyusul dan menunggui Hania di depan toilet wanita.
Hania yang sudah selesai dengan urusan di toilet segera keluar.
"Ah!" Hania segera teriak sebelum Chris menutup mulut Hania.
"Bapak ngagetin aja!" Chris menurunkan tangannya dari mulut Hania setelah Hania tenang.
"Ikut Saya!" Chris menggandeng tangan Hania.
"Tunggu Pak! Saya sedang makan bersama Pak Andreas." Hania menjelaskan.
"Sudah. Ikut Saya ini penting. Darurat!" Chris membuat Hania berpikir ada sesuatu yang genting dikantor.
Hania mengambil ponselnya mengabarkan dan meminta maaf pada Andreas kalau ia harus segera balik karena ada keperluan dikantor. darurat.
Membaca pesan Hania, Andreas mendengus nafas dan bersandar pada kursi yang ia duduki dengan perasaan kecewa.
"Pak ini Kita bukan ke arah kantor? Sebenarnya apa yang genting?" Hania melihat bukan jalan menuju kantor.
Chris tidak menjawab hanya menoleh sebentar pada Hania kemudian fokus mengemudi.
Setelah sampai Hania menatap Chris yang sejenak terdiam di balik kemudi setelah menghentikan mobil.
Hania bingung, apakah si Boss sakit atau kenapa.
"Pak, Kita-"
"Saya ga suka Kamu dekat dengan Andreas!" Chris kini menatap wajah Hania dengan tatapan serius.
"Bapak sakit ya? Ayo ke Dokter Pak. Kita ke Rumah Sakit sekarang ya!" Hania takut kejadian dulu saat Chris tiba-tiba tumbang.
Hania yang sibuk ingin menghubungi Rumah Sakit seketika tangannya di genggam Chris.
"Bukan badan Saya yang sakit Hania, Tapi disini." Chris membawa tangan Hania menunjuk Dada Chris.
"Pak jangan begini. Bapak sehat kan? Bapak ga salah makan kan?" Hania melepas tangannya dari genggaman Chris.
__ADS_1
"Hania lihat Saya." Chris meminta Hania menoleh kearah Chris.
Kini kedua mata milik mereka bersitatap saling mengunci.
Hania melihat tatapan tak biasa Chris pada dirinya.
"Hania, Saya suka sama Kamu."
DUAR!
"Hania, Kamu mau menikah dengan Saya? Menjadi istri Saya dan Ibu untuk Rafael?" Chris melanjutkan kata-katanya.
Hania menelan salivanya.
Hania tidak melihat kebohongan dari ucapan Chris.
Namun Hania masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kamu tidak perlu jawab saat ini. Tapi Saya tidak bisa menunggu lama atas jawaban Kamu. Saya berharap besok Kamu sudah bisa menjawab permintaan Saya." kali ini Chris egois, ia tak bisa menutupi lagi bahwa hatinya sudah jatuh cinta dengan Hania.
Jika tadi Chris yang banyak diam kini berganti Hania yang dibuat diam seribu bahasa.
Chris memahami Hania mungkin saja syok dengan apa yang Chris sampaikan.
Namun Chris berharap Hania bisa melihat kejujurannya.
Keduanya memilih kembali ke kantor.
Sepanjang sisa waktu setelah kembali bersama Chris, Hania tak konsen.
Teringat terus apa yang Chris sampaikan.
Hingga jam kantor selesai Hania tak menyadari karena kepalanya masih berputar-putar akan kejadian mengejutkan yang ia alami.
"Hania."
Chris mengetuk meja Hania, menyadarkan Hania yang terlihat melamun.
"E, Iya Pak!" sontak Hania berdiri mendapati Chris sudah berada di depannya.
"Mama meminta Saya mengundang Kamu kerumah." entah benar atau hanya alasan Chris.
"Kalau Kamu tidak yakin silahkan bicara sendiri dengan Mama, ini pas sekali Mama telpon." Chris menyerahkan ponselnya pada Hania.
Hania dengan ragu menerima dan menjawab telpon dari Ibu Boss nya.
"Selamat sore Nyonya." Hania menyapa.
"Sore Hania, Mam ingin mengundang Kamu makan malam dirumah. Kamu mau kan? Rafael juga kangen nih sama Kamu."
Sebetulnya ini semua ide Chris tentu saja Mama Chris menyambut ide putranya itu dengan senang hati.
Hania tak bisa menolak, tak enak hati rasanya.
__ADS_1
"Iya Nyonya. Hania akan datang. Terima kasih atas undangannya Nyonya." Hania menjawab.
Tentu saja jawaban Hania tak hanya menyenangkan Mama Chris namun juga Chris yang kini mengukir senyum membuat Hania bingung sendiri Boss dinginnya bisa senyum semanis itu.