
Kondisi Chris sudah sehat tentu ia kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Hari ini Dika mengabarkan padanya bahwa ada meeting dengan klien baru yang kemarin sempat tertunda karena Chris sakit.
"Rafael, Papa berangkat ya, baik-baik sama Oma." Chris pamit kepada Rafael memeluk dan mencium putranya sebelum berangkat ke kantor.
"Kamu hati-hati Chris, ingat jangan telat makan!" pesan Mama Chris.
"Iya Mam. Aku berangkat ya."
Chris mencium pipi Mamanya serta memeluk Rafael yang tertawa saat sang Papa melambaikan tangan.
Chris meletakkan tas kerjanya dan duduk dikursi sambil melihat sudah banyak tumpukan dokumen yang harus ia tanda tangani.
Tok,Tok,Tok.
"Pagi Pak, bagaimana sudah sehat?" sapa Dika pada Bossnya.
"Tentu, Oh ya, jam berapa mereka akan datang?"
"Menurut sekretarisnya Pak Andreas akan menemui Bapak pukul 10 di Brevilia Hotel."
"Selamat pagi Pak, bagaimana kondisi Bapak sudah lebih baik?" Hania masuk menyapa Boss nya.
"Kamu bersiap, nanti ikut Saya meeting dengan klien di Brevilia Hotel." jawab Chris tanpa basa basi.
"Ampun deh, udah sehat balik jutek lagi! Sabar Hania, demi magang lancar dan masa depan lebih baik." batin Hania.
"Kalau begitu Saya permisi Pak." Hania dan Dika kompak meninggalkan ruangan Chris.
"Pak Dika tadi mau minta tolong apa?" bisik Hania bertanya pada Dika.
Chris hanya mengangguk sambil melihat Dika dan Hania tengah berbisik-bisik terdengar jelas meski pelan.
"Sudah tidak ada yang tertinggal?" Chris menanyakan kepada 2 pegawainya, Hania dan Dika.
"Sudah semua Pak." jawab Dika yang disertai anggukan Hania.
Dika segera masuk dan memposisikan diri untuk mengemudi, tentu saja Hania membuka pintu depan mobil duduk dibelah Dika.
Sementara Chris duduk ditengah sambil memainkan ponselnya.
Selama perjalanan Hania dan Dika berbincang mengenai pertolongan yang Dika minta dan Hania mengiyakannya dengan memberikan tanda Ok.
"Dika kamu fokus menyetir, bahaya!" Chris komplain saat melihat Hania dan Dika ada saja topik yang dibicarakan selama perjalanan mereka.
__ADS_1
Ketiganya kini sudah sampai di Brevilia Hotel sesuai janji pertemuan mereka.
Nyatanya sang klien belum datang karena Chris dan tim datang lebih awal sebelum jam yang disepakati.
Tepat pukul 10 klien yang mereka tunggu kini sudah hadir diantara mereka.
"Selamat pagi Pak Chris, senang bisa berjumpa dengan Anda. Bagaimana apakah Anda sudah sehat, Saya mendengar dari sekretaris Anda bahwa Anda di rawat di RS." sapa Andreas.
Hania yang kini sedang ke toilet belum hadir diantara mereka.
"Seperti yang Pak Andreas lihat Saya sudah baik-baik saja. Mohon maaf meeting kita jadi tertunda kemarin Mari Pak Andreas silahkan duduk." Chris mempersilahkan kliennya.
Hania yang sudah selesai dari toilet tak lupa meminta staf F&B untuk menserve mereka karena ia dikabari Dika bahwa Klien sudah datang.
"Permisi, Maaf Saya baru bergabung." Hani saat tiba diantara meeting.
"Loh Hania? Kamu kerja dengan Pak Chris?" wajah terkejut Andreas saat melihat Hania sambil tersenyum lebar.
"Mas Andreas! Eh maaf maksud Saya Pak Andreas. Ternyata Bapak Klien perusahaan kami. Senang bertemu Pak Andreas." Hania menyambut uluran tangan Andreas dengan tersenyum lebar.
"Ekhem!" Chris dengan kode membuat keduanya segera melepas jabat tangan.
"Saya tidak menyangka ternyata Hania bekerja dengan Pak Chris. Hania kamu sudah lulus kuliah?" Andreas malah kini teralihkan dengan menanyakan Hania.
"Belum Mas, eh aduh maaf Pak Andreas. Hania masih kuliah. Saat ini Hania magang di perusahaan Pak Chris." jawab Hania jujur.
"Ehekm. Maaf Pak Andreas bisa kita lanjutkan meetingnya." dengan senyum dipaksakan Chris memotong perbincangan seru Hania dan Andreas.
"Maaf, Maaf, habis Saya senang sekali bisa bertemu Hania. Sudah lama sekali ya kita ga bertemu Hania."
Hania juga tak enak hati di tegur oleh Chris memilih kembali diam.
Meeting berjalan sesuai yang direncanakan.
Tak ada kendala yang terjadi, kesepakatan juga sudah terjadi antara kedua belah pihak.
Tentu saja setelah meeting Chris sekaligus menjamu Andreas sebagai tanda terjalinnya kerjasama kedua perusahaan.
Kini dalam santap siang tentu saja obrolan lebih santai dibanding saat meeting.
Chris melihat pembawaan Andreas yang ramah dan menyenangkan terlihat bagaimana ia dengan akrab berinteraksi dengan Hania yang memang keduanya sudah saling kenal.
"Hania, Kamu berapa bulan magang di perusahaan Pak Chris?" tanya Andreas.
Chris masih betah memperhatikan interaksi Hania dengan Andreas yang akrab entah kenapa ia kesal sendiri.
__ADS_1
"3 bulan Pak Andreas. Oh ya bagaimana kabar Darren?"
Chris pasang telinga lebar-lebar meski wajah tetap datar dan cool memperhatikan keduanya.
"Darren sudah lebih baik. Meski belum mengerti tapi sepertinya dia merasakan bahwa memang Papi dan Maminya sudah tiada. Ya waktu awal-awal kamu tahu sendiri bagaimana kan Hania. Setelah mendapat penanganan khusus dari psikiater Darren mulai ceria lagi."
"Tampaknya Pak Andreas sangat menyayangi putra Bapak?" Chris dengan sotoy menganggap yang diceritakan Andreas adalah anaknya.
"Oh Saya belum menikah Pak Chris. Darren itu keponakan Saya, namun setelah Kakak dan Kakak ipar Saya meninggal Saya dan Ibu Saya yang merawat Darren. Dulu saat Darren masih ada kedua orang tuanya Darren dititipkan di Daycare disanalah Saya mengenal Hania." jelas Andreas pada Chris agar tak salah sangka.
Entah apa yang dirasakan Chris seolah ia kalah saing dengan Andreas yang jelas-jelas masih lajang.
"Maaf Pak Andreas, Saya tidak tahu. Tapi Saya yakin Pria sukses seperti Anda banyak sekali yang mendekati." Chris kesal melihat tatapan kagum Hania pada Andreas.
"Ah Pak Andreas bisa aja. Saya tidak sepopuler itu, Saya pun belum menemukan wanita yang pas, tapi sepertinya sih Saya akan mencoba melihat sekitar Saya, dan sepertinya ada yang masuk kriteria Saya." mata Andreas menatap Hania sementara yang ditatap sedang melihat ponsel.
"Wah nantangin nih orang! Pake tebar pesona lagi sama Hania!" batin Chris kebakaran jenggot sendiri.
"Hania boleh Mas minta nomor kamu? Pasti Darren senang sekali kalau tahu Mas bertemu kamu." Andreas meminta nomor ponsel Hania.
"Alah! Modus ini sih! Bukan kepobakannya yang seneng tapi Omnya!" Chris dengan senyum kecut mendumel dalam hati.
"Pasti sekaran Darren sudah besar Pak, dulu saja Darren paling tinggi dibanding dengan anak-anak seusianya plus paling ganteng!" Hania menanggapi santai.
"Ya sama lah sama Unclenya!" Andreas tertawa mengajak Hania bercanda.
Namun tidak dimata Chris yang menganggap Andreas caper dan tebar pesona.
"Ini nomor Hania Pak." Hania mengetikan nomornya diponsel Andreas saat si pemilik menyodorkannya untuk mengisi sendiri.
"Itu nomorku Hania, jangan save pakai Pak ya, aku belum setua itu!" Andreas misscall nomor Hania.
"Terus Hania simpan pakai nama apa Pak eh Mas Andreas?" Hania jujur bertanya.
"Sayang juga boleh! Hahahaha, aku bercanda Hania." tawa Andreas meski tatapannya tak lepas memandang Hania yang sejak tadi selalu tertawa dengan obrolan keduanya.
Chris seketika tersedak manakala mendengar kata-kata Andreas.
"Uhukkkk!"
"Pak minum!" Dika mengambilkan.air untuk Chris.
"Pak Chris Anda tidak apa-apa?" Andreas terlihat care dengan Chris yang tiba-tiba tersedak.
Begitupun Hania juga menyodorkan gelas air putih kehadapan Chris.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Hanya tenggorokan Saya gatal!" mata Chris tajam menatap Hania namun ia mengambil gelas air yang di sodorkan Hania.