
Seperti yang ketiganya rencanakan, Al, Bara dan Chris tengah duduk di sebuah lounge untuk merayakan kesuksesan Al yang kini menjabat sebagai Direktur RS Tiara Medika.
"Congrat Al!" Chris menepuk bahu Al dengan senyum menawannya.
"Yo Mamen! Congrats buat Pak Direktur! Mantap kali duda kita ini!" begitulah Bara rasanya tak afdol tanpa meledek Al.
"Si@lan, sesama duda harus saling support! Tapi Thanks Bro, lo berdua emang BFF!" Al sambil mengajak keduanya cheers.
"Oh iya Al, thanks ya, tadi nyokap ngasih tahu, berkat lo imunisasi Rafael bebas tanpa hambatan. Luar biasa deh the power of Direktur!" Chris salut sekaligus berterima kasih atas kemudahan yang Al berikan.
"Nah kalo gw ke RS mau juga tuh dikasih akses bebas hambatan!" Bara menimpali.
"Khusus buat lo, bakal gw kasih yang paling spesial Bar!" Al menepuk bahu Bara.
"Wah, emang the best deh Bro kita, btw yang spesial apaan buat gw?" Bara kepo.
"Vaksin anti rabies!" Al tertawa lepas.
"Anjr@t! Lo kira gw anj!ng liar! Emang si Genteng ga boleh dikasih hati, lama-lama minta jantung!" Bara mendengus kesal.
"Oh iya, btw gimana nih ajakan gw buat holiday tipis-tipis?" Bara kembali ingat akan rencananya.
"Duh gimana ya, gw berat ninggalin Rafael. Kasian nyokap!" Chris selalu teringat sang putra.
"Yah ga asik Chris, gw males kalo cuma berdua sama si Genteng!" Bara beralasan agar Chris menerima ajakannya.
"Eh siapa juga yang mau pergi berdua doang sama lo Areng! Emang gw g@y!" Al ga kalah balik menyerang Bara.
"Ayolah Chris, tadi si Al bilang udah ngomong ke nyokap lo, doi kasih ijin. Lagipula Rafael bakal aman-aman aja kok, kuylah Chris!" Bara sedikit memaksa.
"Gw konsul ke Dokter Spesialis Anak yang menangani Rafael imunisasi, dan Dokter juga mengatakan kondisi kesehatan Rafael Ok Chris. Sehat. Perkembangannya juga bagus. Come on lah! Mumpung kita masih single, siapa tahu ada yang duluan nikah, belum tentu kita bisa jalan bareng lagi." Al meyakinkan Chris.
Chris berpikir sebentar sebelum ia menyetujui ajakan Bara dan Al.
__ADS_1
"Oke Gw ikut!" Chris akhirnya mau bergabung dalam holiday tipis-tipis mereka.
"Nah gitu dong! Cheers lagi lah!" Bara kini lebih dulu mengangkat gelasnya.
Ketiganya kompak melakukan hal yang sama.
"Eh Al, lo udah tau mantan bini Lo udah punya gandengan baru?" Bara memulai dengan gosip perihal mantan istri Al.
"Gw ga pernah kepo!" Al memang sudah tidak peduli.
Bagi Al, mantan itu masa lalu. Ga perlu diinget-inget.
"Siapa juga yang kepo! Jadi gini Genteng, dengerin dulu omongan Gw. Waktu itu Gw kan meeting sama klien, eh dia bilang pacarnya boleh ga gabung, ya Gw bilang silahkan aja. Dan pas dateng Gw kaget dong, ternyata pacarnya klien Gw mantan bini Lo." Bara dengan segala ekspresi wajahnya yang pool abis dan menggebu-gebu.
"Terus?" kali ini Chris yang menanggapi.
Al mendengarkan tanpa minat sedikitpun.
"Sumpah Gw liat banget mantan bini Lo kayak awkward gitu pas ketemu Gw, tapi doi yang pura-pura ga kenal gitu pas dikenalin ke Gw, ya Gw sih ikutin alur aja. Sumpah, emang mantan bini lo itu cemburuannya gede banget ya, pas doi izin ke toilet klien Gw bilang, pacar saya sering ga percaya Mas Bara kalau saya bilang meeting di luar sama klien, soalnya mantan suaminya yang dulu sering bohong!" Bara emang tanpa disaring kalo ngomong dia ga mikir omongannya menyulit emosi Al.
"Nah tuh dia, Gw jawab gini aja Al, ya cemburu kalo sedikit manis Pak, tapi sahabat Saya ada loh, istrinya cemburu buta, sampai akhirnya cerai! Jadi hati-hati saja dengan sikap possesif pacar Bapak! Takut jadi bumerang dikemudian hari!" Bara juga tersulut emosi bagaimanapun Al adalah sahabatnya. Bara tahu persis Al tidak pernah selingkuh dan berbohong, memang sahabatnya itu gila kerja dan kurang pekaan.
"Udah ga usah ngebahas mantan! Mantan biarin kelaut! Mending kita bahas mau liburan kemana!" Al mengakhiri pembicaraan soal mantan yang ia anggap cuma bikin kesel aja denger fitnahan seperti tadi.
"Nah, itu dia, Gw ngajak tapi belom kepikiran sih mau kemana? Lo ada ide Chris!" tanya Bara.
"Gw sih bebas, kemana aja ok lah, cuma dalam negeri aja, kakau jauh-jauh Gw was-was kalau ada apa-apa sama Rafael." saran Chris.
"Iya gw setuju sama Chris Bar, lagi pula lo tahu sendiri Gw baru dapet tugas baru kan, ya jadi banyak yang Gw urus. Dalam negeri ga masalah lah. Yang penting kan kebersamaan kita, ya gak?" Al menaikkan kedua alisnya.
"Jijik banget Gw liat ekspresi lo duda! Ok, gimana kalo kita ke Bali aja. Ya walaupun sering sih kita kesana, tapi seperti lo bilang yang penting kita kumpul. Setuju ga?"
"Ok!" jawab Al dan Chris kompak.
__ADS_1
"Ok! Cheers lagi!" Bara mengajak sahabatnya kembali bersulang.
"Lo mau pesen makan ga? Gw laper nih mau makan!" Bara sambil memanggil Waiters.
"Boleh lah." Al ikut melihat menu books yang diberikan Waiters.
Begitupun Chris melakukan hal yang sama.
"Mau pesan apa Masnya?"
"Spaghetti Aglio Olio 1, lemon tea 1," Al menyebutkan pesanannya.
"Tenderloinsteak 1 rare, fruits punch 1." Bara menutup menu books setelah mengucapkan pesanannya.
"Spaghetti bolognese 1, mango squash 1." Chris mengembalikan menu books kepada pelayan.
"Ok Mas, saya ulangi pesanannya ya." waiters mengulangi pesanan masing-masing orang kemudian pamit undur diri menyiapkan pesanan customernya.
"Silahkan ditunggu pesanannya ya Mas, saya permisi."
Sambil menunggu pesanan mereka Al dan Bara turun ke bawah merelaksasikan tubuh mereka bergoyang sedikit meregangkan sedikit otot yang tegang. Melupakan sejenak beban hidup melantai bersama mengikuti hentakan musik yang melenakan.
Sementara Chris memilih duduk dan berselancar sejenak dengan ponselnya.
"Mam, Rafael sudah tidur? Bagaimana setelah imunisasi apakah demam?" Chris menghubungi ibunya menanyakan kondisi sang putra.
"Rafael sudah tidur. Rafael baik-baik saja. Sudah kamu have fun saja. Rafael aman kok Chris." Mama Chris berkata jujur lagi pula ia ingin Chris segera mengakhiri kesedihannya.
"Sepertinya aku pulang malam Mam, tahu sendiri Bara dan Al tidak akan membiarkan aku balik duluan. Apalagi Al sedang happy." Chris menjelaskan.
"Gapapa Chris, Mam sudah tahu, mereka memberitahukan Mam, kamu memang sebaiknya sering-sering bersama kedua sahabatmu agar ga sedih terus dan merenung. Ingat Chris Rafael butuh kamu. Jadi nikmatilah hidupmu." nasehat Mama Chris.
"Ok. Aku tutup telp nya ya Mam. Terima kasih Mam sudah menjaga Rafael. See you soon. Bye Mom!"
__ADS_1
"Bye Chris!"
Chris menutup telponnya menatap kearah Al dan Bara yang begitu asik mengikuti irama musik yang dimainkan DJ sambil melambaikan tangan meminta Chris bergabung.