
Sejak pengakuan langsung Al mengenai ketidaksukaannya Bianca didekati oleh pria lain, Semenjak itu Bianca metasakan perubahan sikap Al menjadi semakin gencar mendekati dirinya.
Meski beberapa kali bahkan sering Al secara terang-terangan menunjukkannya perasaannya di Rumah Sakit dan dimanapun tapi hati Bianca masih tidak 100% yakin akan hal itu.
Mungkin status Al sebagai duda menjadi salah satu pertimbangan Bianca.
Bianca hanya tak mau jika ada masa lalu yang kelak akan mengganggu kehidupan mereka kelak suatu saat.
Rasanya akhir pekan plus mendapat jatah libur adalah momen paling happy bagi Bianca.
"Ya ampun Bia! Ini jam berapa Sayang. Belum mandi?" Mama Bianca masuk ke kamar putrinya setelah mengetuk berkali-kali namun tak ada jawaban.
"Loh Mama sejak kapan ada di kamar Bia?" Bianca melepas headset saat melihat sang Ibu menyibak tirai kamarnya.
"Makanya telinga Kamu jangan ditutup pakai itu, Mama sejak tadi ketuk pintu eh anaknya malah asik senyam senyum nonton drakor!"
Memilih duduk di tepi ranjang Bianca, Sang Ibu meminta putrinya beranjak dari peraduan karena hari sudah siang.
"Mandi, dandan yang cantik. Tuh Dokter Althaf sudah nunggu di bawah ditemani Papa." Sedikit menarik tangan putrinya agar bergerak dan mengikuti titah Ibu Ratu.
Begitulah julukan yang Bianca berikan pada sang Mama.
Bianca membolakan matanya malas sebetulnya namun demi keselamatan perkoasannya ia menuruti dengan langkah berat menuju toilet.
Setelah asik sendiri berlama di dalam toilet, begitulah Bianca disuruh mandi susah namun kalau sudah masuk kamar mandi tak kurang 1 jam ia disana.
"Pagi Pa." sapa Bianca pada Papanya tanpa menyapa keberadaan Al yang sedang asik berbincang dengan Pak Broto.
"Ya ampun Bia, kok belum siap-siap, ini Dokter izin ke Papa kalian kan mau pergi undangan. Maaf ya Dokter Al, Bianca memang begitu." Pak Broto tak enak sendiri dengan sikap cuek bebek putrinya.
"Tak apa Pak. Mungkin Bianca lupa kalau hari ini Saya mengajaknya." Al sebetulnya ingin sekali jitak kening perempuan yang sudah membuat hatinya jedag jedug ga karuan.
Akhirnya mau tak mau Bianca kembali kekamarnya berganti baju karena keduanya akan ke butik sesuai dengan kata-kata Al.
"Pak, Bu, Saya izin ajak Bianca." Al pamit dengan sopan.
"Iya Doktet Al. Hati-hati kalian ya." Pak Broto dan istri melepas kepergian Bianca bersama Al.
Di dalam mobil Bianca tak bicara, asik sendiri melanjutkan menonton drakor dari ponselnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, bete gitu mukanya. Aku cium nih!" Al menggoda Bianca yang cuek saja.
"Nih kalo berani!" Bianca mengepal tangannya di hadapan Al.
"Duh galak bener. Naboknya jangan pake tangan Sayang, Pake ini aja ya." bukan mereda Al malah semakin senang menggoda Bianca.
"Cium aja tuh boneka dashboard!" jawab Bianca asal.
"Lagi pula, kenapa sih Dokter selalu minta temani Saya setiap undangan. 2 bulan lalu maksa ngajak Saya ke undangan Pak Bara. Sekarang gitu juga kenikahannya Pak Chris. Ga ada yang lain emang!" Bianca masih saja tidak mau mengganggap serius segala sikap dan perhatian yang Al berikan.
"Banyak yang bisa Saya ajak, tapi hati Saya milihnya Kamu, gimana dong!" Al itu tak suka basa basi.
Keduanya pun sampai di butik dan segera memakai gaun dan jas yang sengaja Al pesan untuk menghadiri pernikahan Chris dengan Hania.
"Kita serasi ya Sayang?" Al mematut diri bersebelahan dengan Bianca.
"Udah kayak anak ilang, warna samaan gini!" Bianca memandang busana mereka senada dari segi warna.
Setelah menunggu hampir 1 jam Bianca selesai di make up oleh MUA.
"Cantik sekali calon istriku. Boleh cium ga sih!" Al mengusap pipi Bianca.
"Astaga emang Aku Guguk!" Al malah mencubit pipi Bianca.
"Ih!" Bianca sebal.
Keduanya kini sudah berada di ballroom tempat dimana resepsi Chris dan Hania berlangsung.
Sebagai sahabat dekat Al memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Tentu saja di jawab dan didoakan hal yang sama bahkan segera menyusul oleh Chris untuk Al dan Bianca.
Al sih bahagia banget didoakan begitu bahkan aamiin paling kenceng agar terkabul.
Sedangkan Bianca tak menjawab mau menjawab, menyangkalpun tak sopan.
Setelah menikmati dan bertegur sapa di resepsi Chris dan Hania akhirnya Al mengantar Bianca pulang.
"Loh, Dokter ngapain lagi ikut?" Bianca memang tak basa basi menawarkan mampir.
__ADS_1
Nyatanya Pak Broto dan istri tahu Al dan Bianca sudah pulang menyambut keduanya.
"Maaf lama Pak, Bu." Al tentu tahu diri ia seharian mengajak anak gadis orang.
"Gapapa. Mari ngobrol dulu." ajak Pak Broto.
Sedangkan Bianca sudah jalan lebih dulu bersama sang Mama.
Al duduk bersama Bianca dan kedua orang tuanya sambil menikmati secangkir teh yang disuguhkan.
"Pak, Bu sebetulnya ada yang ingin Saya sampaikan. Mohon maaf apabila perkataan Saya tidak sopan dan tidak tepat waktu dan situasinya. Saya berniat untuk serius dengan Bianca. Saya ingin meminang putri Bapak dan Ibu untuk menjadi istri Saya." akhirnya sekian purnama Al beranikan diri meminta Bianca secara langsung dihadapan kedua orang tuanya.
Tentu saja Bianca yang sedang asik makan cookies buatan sang Mama seketika menyembur, tersedak, terkejut dengan apa yang diutarakan Al.
"Sayang, pelan-pelan. Ga sopan. Masa nyembur gitu." Mama Bianca mengambilkan minum untuk putinya yang batuk-batuk.
"Om sendiri secara pribadi memberikan kebebasan kepada Bianca untuk menjawab hal ini. Karena Bianca dan pasangannya kelak yang akan menjalani. Kami sebagai orang tua tentu akan memberikan restu selama putri Kami bahagia."
"Mama juga setuju dan semua terserah Bianca, Bia Kamu bagaimana?" Mama Bianca diikuti Pak Broto dan Al kini semua menatap pada Bianca menunggu jawaban.
"Tapi Bia belum selesai koas loh Pa, Ma. Belum selesai juga." Bianca mencari alasan.
"Saya tidak akan menghalangi Kamu menyelesaikan pendidikan dan koas Kamu. Saya pun memahami betul apa yang saat ini sedang Kamu lalui. Saya akan mendukung." jawab Al.
"Kalau Papa sih setuju saja, Apalagi Dokter Al pembimbing Kamu, Papa jadi semakin tenang, karena tidak lagi pusing dengan Kamu yang seenaknya sendiri Bia." Pak Broto tahu betul Bia yang keras kepala namun sebagai orang tua terkadang ia dan istri hanya bisa menuruti saja keinginan putrinya.
"Mama juga senang, ga harus ngurusin Kamu yang setiap hari sibuk aja sama drakor. Kalau Kamu nikah, Apalagi kalian di profesi yang sama, Dokter Al bisa selalu mengawasi Kamu yang minim disiplin ini!"
Bianca tak percaya bisa-bisanya kedua Papa dan Mamanya seakan langsung menyetujui.
Bianca memang keras kepala namun ia bukal anak yang pembangkang.
Beberapa kali memang Papa dan Mamanya menanyakan hubungan Bianca dan Al.
Tapi karena Bianca cuek ia tak mengambil pusing.
"Bia, apa jawaban Kamu?" tanya Pak Broto.
"Oke. Bia setuju!"
__ADS_1