
Chris, Rafael dan Mama Chris ditemani sopir menuju pusat perbelanjaan di sebuah Mall.
"Kenapa sih Chris Mam ga boleh ajak Hania. Padahal ini kan hari libur. Pasti kalau Mam telpon Hania mau ikut." Mama Chris yang sedang kesal karena Chris menolak bahkan melarang Mamanya menghubungi Hania.
"Ya Hania kan cuma pegawai Aku Mam. Lagi pula ini hari libur. Dia juga pasti punya keperluan sendiri. Lagi pula kita kan biasa pergi bertiga. Iya kan anak ganteng Papa." Chris menggendong Rafael berjalan bersama sang Mama di Mall.
Saat sedang asik menemani Mamanya Chris melihat pemandangan tang tak enak di depan matanya.
"Hania? Dan itu bukankah Tuan Andreas?" sambil menggendong Rafael Chris perlahan mendekat ke arah Hania dan Tuan Andreas.
"Tuan Chris? Ini putra Tuan? Halo siapa namanya?" Andreas menyapa Chris dan mengajak Rafael ngobrol.
"Uncle." sosok anak laki-laki yang kini dituntun oleh Andreas mengguncang tangan Andreas.
Tentu saja Chris menatap kepada ketiganya dengan seribu tanya terlintas di kepalanya.
"Pak. Hai Rafael." Hania menyapa Chris dan Rafael.
"Ma,Ma,Ma." Rafael malah memanggil Hania dengan sebutan Ma,Ma,Ma.
"Chris. Loh ada Hania juga. Dan," Mama Chris menghampiri mereka yang kini dalam suasana kikuk.
"Oh Iya Mam. Perkrnalkan ini Tuan Andreas. Rekan bisnisku. Tuan Andreas ini Ibu Saya. Dan ini Rafael putraku." Chris bersikap biasa saja, kehadiran Mamanya sedikit membuat suasana mencair.
"Perkenalkan Nyonya, Saya Andreas rekan bisnis Tuan Chris. Ini keponakan Saya, Darren beri salam pada Uncle Chris dan Oma." perintah Andreas pada keponakan.
"Halo Uncle, Halo Oma. Aku Darren. Hai Rafael." rupanya Darren tipikal pribadi ceria dan mudah bergaul.
"Oh begitu. Hania kok bisa disini? Euhm maksud Mam, Hania dengan Tuan Andreas," Mam penasaran langsung bertanya.
"Oh Nyonya, Saya tadi kebetulan bertemu dengan Pak Andreas di sini." Hania menjelaskan.
"Saya memang mengenal Hania sudah lama Nyonya. Begitupan dengan Darren keponakan Saya." Andreas menjelaskan dan menegaskan.
"Oh Oma pikir Tuan Andreas sudah menikah. Maaf ya." Mama Chris dengan gaya khas emak-emak bertanya namun sekaligus investigasi.
"Tidak apa-apa Nyonya. Mungkin karena Saya dekat sekali dengan Darren, dan Darren memang sering ikut dengan Saya. Semoga menjadi doa untuk Saya agar bisa segera menikah Nyonya." Andreas dengan humble menimpali Mama Chris.
"Aamiin. Tuan Andreas tampan dan sukses, selain itu ramah. Pasti banyak perempuan yang mau jadi istri. Ya kan Chris?" Mama Chris sepertinya memiliki maksud terselubung.
"Nyonya sangat berlebihan, Saya jadi malu dipuji sedemikian rupa." Andreas benar malu-malu kucing dipuji oleh Ibu rekan bisnisnya.
"Loh memang betul. Coba saja tanya Hania." Mama Chris membuat Hania dan Chris menoleh bersamaan.
"Nyonya, bagaimana kalau kita makan siang bersama. Sungguh moment yang sangat bagus. Bagaimana?" Andreas mengajak mereka makan siang.
__ADS_1
"Tuan Andreas sepertinya Kami," ucapan Chris terhenti karena diselak oleh sang Ibu yang justru senang menerima ajakan Andreas.
"Wah Oma senang sekali. Baiklah. Dengan senang hati." Mama Chris melirik ke arah Chris dengan tatapan sulit diartikan.
Mereka akhirnya memilih untuk ke sebuah resto yang menyediakan arena bermain untuk anak-anak.
Tentu saja, baik Rafael dan Darren senang berada disana.
Saat makan mereka sesekali berbincang meski tatapan mata Chris tak lepas melihat interaksi antara Hania dengan Darren yang terlihat sangat dekat.
Entah hati Chris tak bisa menampik ada perasaan yang tak terdefinisikan.
"Aunty, Darren mau ke toilet," Darren mengguncang lengan Hania.
"Darren sama Uncle saja ya." Andress tak enak hati tentu merepotkan Hania.
"Aku maunya diantar Aunty Hania Uncle." Darren merengek.
"Tak apa Pak Andreas. Ayo Aunty antar. Mari Pak Andreas, Nyonya, Pak Chris." Hania ijin meninggalkan table sambil tangannya digandeng oleh Darren.
Tiba-tiba saja tak lama Hania pergi Rafael menangis.
Memang sejak melihat Hania Rafael seakan ingin digendong oleh Hania namun Chris bersikeras mengalihkan.
Sesaat berlalu Hania dan Darren kembali ke table.
"Rafael, sini digendong Oma." Mama Chris melihat Rafael masih merajuk padahal Chris sudah mengajak Rafael berputar agar berhenti menangis.
Hania tidak tega melihatnya. Ia pun berinisiatif untuk membantu.
Hania bangkit dari kursi menghampiri Chris yang tengah menggendong Rafael.
"Pak boleh Saya menggendong Rafael?" Hania bertanya hati-hati.
Hania sadar sejak tadi Chris tak ramah padanya.
Anggukan Chris memberanikan Hania mengambil Rafael dari gendongannya.
"Sayang, sini ganteng. Kenapa ngantuk ya? Atau haus?"
Hania membawa Rafael dalam dekapannya.
Rafael perlahan berhenti menangis namun ia mendusel-dusel pada dada Hania.
Tentu saja melihat hal itu tiba-tiba Chris salah tingkah sendiri.
__ADS_1
Dipikiran Chris mengapa ia memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Pak, Bapak!" Suara Hania menyadarkan Chris.
"Sial! Kenapa otak Gw jadi traveling. Mau ditaruh mana muka Gw!" batin Chris.
"Ga usah teriak. Saya ga tuli!" jawab Chris.
"Saya panggil Bapak minta tolong ambilkan botol susu Rafael. Bapak bawa kan? Soalnya Rafael haus dan ngantuk." Hania menjelaskan.
"Oh. Tunggu." Chris mengambil botol susu Rafael memberikannya pada Hania.
Sementara pemandangan itu tak luput dari penglihatan Andreas.
"Oh iya Pak Andreas, lain waktu Kami akan mengundang Pak Andreas dan Darren ke rumah Kami." Mama Chris melihat Andreas memperhatikan Hania dan Chris langsung mengalihkan pandangannya.
"Terima kasih Nyonya. Saya akan datang." Andreas menanggapi meski ekor matanya masih setia dan hatinya tak baik-baik saja melihat Hania bersama Chris dan putranya.
Chris menatap Rafael dan Hania bergantian.
Chris melihat Rafael begitu nyaman dalam timang-timang Hania.
Hati Chris seakan menghangat. Namun apakah ada rasa dalam hati Chris pada Hania.
Entahlah. Chris tak mau secepat itu menyimpulkan.
Chris masih beranggapan bahwa apa yang ia rasakan sebatas karena Rafael bukan karena dorongan perasaannya.
Rafael tertidur nyaman dalam gendingan Hania.
"Kalau begitu Saya pamit dulu ya Tuan Chris, Nyonya." Andreas memilih untuk balik.
"Aunty Hania kapan-kapan maen sama Aku ya." Darren merasakan kini ada rivalnya seorang balita kecil dalam dekapan Hania.
"Iya Sayang. Darren yang rajin sekolahnya. Nurut sama Oma dan Uncle." Hania mengusap lembut rambut Darren.
"Hania, Mas pamit ya. Lain waktu semiga bisa bermain bersama Darren. Pak Chris, Nyonya Saya permisi." Andres pergi bersama Darren meninggalkan Mama Chris, Chris, Hania dan Rafael yang masih dalam gendongan Hania.
"Hania, Kamu ikut Kami oulang ya. Oma takut kalau Rafsel terbangun lagi. Nanti pulangnya diantar oleh Chris." Mama Chris bergerak cepat entah, ia merasakan ada aroma-aroma perebutan dan kesalnya Chris masih dengan wajah lempengnya.
Hania tak bisa menolak, ia pun akhirnya menuruti Ibu dari Bossnya.
"Hania Kami duduk di depan saja sebelah Chris."
Mama Chris bahkan sudah memikirkan hal ini hingga sopir yang semula mengantar mereka diminta balik duluan dengan alasan ada keperluan keluarga.
__ADS_1