TRIO DUDA

TRIO DUDA
Perjalanan Bisnis


__ADS_3

Hania dibuat tak percaya dihari pertamanya magang banyak hal yang terjadi seperti saat ini ia tak menyangka memiliki kesempatan merasakan naik privat jet milik si Boss kaku bagai kanebo kering.


Layaknya orang yang baru kali pertama merasakan naik privat jet tentu saja sikap Hania tak bisa tertutupi rasa kagum sekaligus norak melihat betapa bagus dan mewahnya moda transportasi yang biasa Hania lihat di instagram para selebriti tanah air yang gemar posting dengan moda transportasi yang begitu prestisius ini.


Chris melihat sikap Hania tersenyum sedikit mencibir dengan tingkah yang menurut Chris norak.


Asisten Chris, Dika yang ikut serta dalam perjalanan tertawa melihat tingkah Hania.


Sadar ia menjadi bahan tertawaan kedua pria tampan beda status dihadapannya Hania menjadi malu sendiri.


"Hania kamu mau Saya fotoin?" Dika menawarkan pada Hania.


Dika paham betul keinginan naluri wanita yang senang selfie dan mengabadikan moment yang dianggapnya bagus.


"Wah boleh Pak Dika kalau tidak merepotkan." Hania sangat senang dengan tawaran Dika lalu memberikan ponselnya.


Dika mengambil pose Hania beberapa kali dan menyerahkan kembali pada Hania untuk dilihat hasilnya.


"Bagaimana?" Dika bertanya.


"Wah bagus Pak Dika. Terima kasih. Oh iya Pak Dika kita foto yuk, Hania ingin punya foto dengan rekan kerja Hania." ajak Hania.


"Oke."


Kini Dika dan Hania berpose bagai teman dengan beberapa pose lucu.


Chris yang melihat keduanya hanya bisa geleng kepala.


"Ketularan norak begitu Dika!" Chris komentar dengan enteng.


"Maaf Pak." Dika segan dengan celetukan Boss nya.


"Dan kamu, kita disini untuk kerja, bukan liburan!" Chris dengan kata-kata nyelekitnya membuat Hania memilih kembali diam.


"Maaf Pak. Soalnya baru kali pertama Saya naik privat jet." Hania polos jujur mengakui.


"Pantes norak!" Chris dengan mulut pedasnya membuat Hania harus banyak sabar dan tebal kuping magang diperusahaan Chris.


Beruntung setelah melewati meeting yang sedikit lama akhirnya klien dari Tiongkok itu sepakat untuk bekerja sama dengan perusahaan Chris.


Ternyata Hania sangat piawai sebagai penterjemah dan pembawaan Hania yang supel menyenangkan bagi klien dari Tiongkok.


"Hāní yǎ xiǎojiě, nǐ yǒuqíng rén ma?"


"Nona hania apakah sudah memiliki kekasih?"


"Bùshì. Nǐ yǒu yīgè shuàiqì de érzi ma, wǒ xiǎng zuò tā de qíngrén."


"Tidak. Apakah tuan punya putra yang tampan, saya mau bila menjadi kekasihnya."


"Hāhāhā hā. Jiù wǒ yīgè zěnme yàng. Wǒ tài lǎole ma?"


"Hahahaha. Bagaimana kalau dengan saya saja. Apakah saya terlalu tua?"


"Bù, xiānshēng. Zhǐshì kàn dào shīfu, wǒ jiù xiǎngqǐle wǒ de fùqīn. Xiānshēng jiù xiàng wǒ yōumò de fùqīn."


"Tidak tuan. Hanya saja melihat tuan saya teringat ayah saya. tuan seperti ayah saya yang humoris."


"Kàn qǐlái nǐ hé kè lǐsī xiānshēng hěn xiāngpèi.

__ADS_1


"Sepertinya kamu cocok dengan tuan Chris."


"Xiānshēng ài kāiwánxiào. Kè lǐsī xiānshēng shì wǒ de lǐngdǎo."


"Tuan senang bercanda. Tuan Chris adalah pimpinan saya."


"Hania, apa yang disampaikan oleh Mr. Zang? Mengapa kamu tidak terjemahkan." Chris berbisik pada Hania.


Tentu saja Hania tidak mengatakan yang sejujurnya perkataan Mr. Zang.


"Mr. Zang mengatakan senang berbisnis dengan Bapak." Hania berbohong untuk kali ini.


"Ah kalimatnya panjang begitu masa artinya singkat sekali?" Chris tak percaya.


"Kalau Bapak tidak percaya tanya saja sendiri!" Hania kesal karena ia takut ketahuan bohong.


Sukses meeting dan berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak maka selesai sudah urusan pekerjaan Chris di Bali.


Waktu sudah menunjukkan sore hari.


Chris yang baru saja selesai dari toilet mendengar Hania sedang berbicara di telpon.


"Makasi ya Rud, kamu mau gantiin aku shift malam. Iya soalnya aku masih ada urusan dikantor. Iya aku bakal gantiin shift kamu pas weekend. Ok. Thanks Rud!" Hania menutup telp nya.


Hania segera menuju tempat Boss dan Dika sesang ada disana.


Padahal Chris sejak tadi mendengarkan percakapan Hania di telpon.


"Dia wanita pekerja keras." ada seutas senyum di wajah Chris menatap langkah riang Hania.


"Pak, kita langsung kembali saja ke Jakarta. Pesawat sudah siap!" Dika melaporkan pada Chris.


"Tunda hingga malam. Aku ingin membeli oleh-oleh dulu." Chris memasang kacamatanya ia bangkit meninggalkan lounge.


"Ada apa Pak Dika?" Hania melihat wajah Dika yang tampak berpikir.


"Biasanya Pak Chris langsung pulang jika ada perjalanan bisnis seperti ini. Ga biasanya bilang mau beli oleh-oleh." Dika menjelaskan.


"Bagus dong Pak Dika. Mungkin Pak Chris butuh healing kali!" Hania sebagaimana cewek korban toktok yang apa-apa dikaitkan dengan healing.


"Kamu itu lucu sekali Hania! Ya sudah ikuti saja Pak Chris!" Dika tertawa melihat sikap Hania yang apa adanya.


Sebenarnya Chris tidak berniat membeli apapun hanya alasannya saja.


Entah mengapa Chris senang saja kali ini suasana perjalanan dinasnya terasa ramai dengan keberadaan Hania.


Ketiganya kini ke pusat oleh-oleh yang cukup terkenal di Bali apalagi kalau bukan The Keranjang.



Hania senang sekali akhirnya ia bisa mengunjungi salah satu pusat oleh-oleh yang biasanya hanya bisa ia lihat di sosial media.


Hania takjud banyak turis lokal maupun mancanegara yang berbelanja disana.


Chris yang tak pernah beli oleh-oleh mana tahu ia urusan seperti itu.


Sedangkan Dika sudah sibuk memilih oleh-oleh untuk kekasihnya yang pasti akan senang.


"Hania sini!" panggil Chris.

__ADS_1


Hania yang sedang melihat-libat sekeliling mau tak mau menghampiri Chris yang memanggilnya.


"Tolong pilihkan baju untuk anak laki-laki usia 9 bulan."


Hania memilih beberapa pasang pakaian bayi usia 9 bulan.


Chris melihat Hania yang sedang memilih pakaian yang akan Chris berikan untuk Rafael.


"Sekalian pilihkan Tas perempuan." Chris teringat Mamanya ia juga akan membawakan Mamanya oleh-oleh.


"Istri Bapak suka warna apa? Terus senang tas kecil atau besar Pak?" Hania pikir Tas yang dimaksud Chris untuk istrinya.


"Untuk Mama Saya. Saya tidak tahu seperti apa selera wanita berusia 70 tahunan." jawab Chris.


Hania tak banyak bertanya, ia fokus memilik Tas yang sekiranya cocok untuk wanita paruh baya.


"Ini bagus Pak. Semoga ibunya Bapak suka."


Hania hendak pergi melihat lihat ditempat lain sebelum Chris menahan Hania.


"Kamu pilih apa yang kamu mau, Saya belikan!" Chris menatap wajah Hania.


"Tidak usah Pak. Saya tidak perlu apapun." Hania merasa sungkan ia baru hari pertama magang dan belum merasa layak.


"Saya tidak suka penolakan! Cepat pilih. Kita harus segera kembali!"


"Kalau begitu Saya pilihkan untuk Bapak saja ya!"


Hania bergerak ke arah pakaian dewasa dan ia memilihkan pakaian yang cocok untuk boss nya.


"Nah ini Pak, bagus untuk Bapak! Silahkan Pak dicoba." Hania menyerahkan Pakaian dewasa untuk pria.


"Mbak tolong berikan pasangan baju ini, Hania size kamu berapa biar sekalian dicarikan!"


"Saya tidak usah Pak, sa," Ucapan Hania terhenti melihat mata Chris yang sudah membulat sempurna.


"Jadi Mas dan Mbaknya pakai size apa?" tanya pramuniaga.


"L dan kamu apa Hania?" Chris dengan wajah seriusnya.


"M Mbak." Hania memalingkan wajahnya ngeri melihat tatapan horor Chris seperti akan menelan Hania hidul-hidup.



Chris memilih set couple kutubaru yang seperti tampak di manekin.


Sementara Hania sebenarnya menolak mengapa harus couple dengan Boss setelan kanebo kering.


"Wah Pak, couple nih sama Hania?" Dika datang menghampiri keduanya dengan keranjang penuh hasil buruan untuk ia dan kekasihnya.


"Bukan couple! Tapi buy 1 get 1! Kamu beli apa saja Dika?" Chris tak mempermasalahkan banyaknya apalagi harganya hanya heran Dika membeli untuk pacarnya sebanyak itu.


"Ah ini Pak Saya beli untuk pacar saya, calon mertua saya dan ibu saya." Dika menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Chris membolakan matanya.


"Ya sudah kamu urus bayar ini semua, Saya tunggu di mobil." Chris menyerahkan black card miliknya sebelum ia memilih menunggu dimobil.


"Loh kamu ngapain disitu Hania?"

__ADS_1


"Saya mau bantuin Pak Dika Pak bawa belanjaan ini." jelas Hania.


"Terserah kamu saja!" Chris segera meninggalkan keduanya.


__ADS_2