
"Tasya!"
Bara melihat Tasya yang sepertinya kebingungan.
Bara menghampiri Tasya hendak mengajak bicara mengenai permintaan Pak Taka, Papa Tasya untuk menikah.
Tasya duduk di kursi taman Rumah Sakit, Bara mengikuti dengan memilih duduk di hadapan Tasya.
"Kamu bisa menolak permintaan Om Taka. Aku tahu Kamu tadi menyetujui hanya untuk menyenangkan hati Papamu." Bara buka suara.
"Betul. Memang Aku menjawab untuk menyenangkan hati Papa. Tapi soal menikah Aku serius menyetujuinya." Tasya dengan nada bicara yang serius kali ini.
"Lalu?" Bara mengernyitkan dahi tak mengerti jalan pikiran Tasya.
"Kita tetap menikah. Tapi Aku mau pernikahan ini hanya sebatas hitam diatas putih. Om pasti lebih paham karena Om seorang pengacara." Tasya menatap datar pada Bara.
Bara menghela nafas. Bara tahu gadis di hadapannya tak mungkin serta merta menyetujui permintaan Om Taka terkait pernikahan.
Bara secara pribadi enggan sebenarnya kembali memashki gerbang pernikahan terlebih hanya sebatas perjanjian belaka.
Namun Bara tak sampai hati menolak permintaan Om Taka yang dalam kondisi seperti sekarang.
"Lantas apa maumu?" Bara bersidekap sambil menatap Tasya.
"Aku akan membuat poin-poin penting selama Kita menikah dan Kita akan tanda tangani surat perjanjian itu. Aku bersedia mebikah dengan Om sebatas ingin membuat Papa senang. " Tasya terang-terangan.
"Ok. Silahkan Kamu buat surat dan poin-poin apa tang harus Aku ikuti. Nanti Kita akan urus dikantorku." Bara menjawab.
"Terima kasih Om mau membantuku. Maaf Aku bertindak seperti ini. Aku tidak mau Kita saling menyakiti untuk itu Aku menginginkan hal ini." Tasya merasa sedikit lega sekalifus berhutang budi.
"Ga masalah. Aku tulus membantu Om Taka. Bagaimanaoun beliau adalah sahabat almarhum kedua orang tuaku." jawab Bara lebih lanjut.
"Sebaiknya Kita kembali Om, Papa pasti menunggu."
Tasya bangkit dari kursi, begitupun Bara mengikuti Tasya kembali ke ruang perawatan Pak Taka.
Rasanya lelah bekerja membuat Bara ingin melepas penat bersama para sohib ter the bestnya siapa lagi kalau bukan Al dan Chris.
Setelah mengirim pesan di group Trio Duda Bara memejamkan mata di ruangan pribadinya di kantor.
Bara enggan balik ke apartemen.
Terlalu banyak yang ia lewati seminggu belakangan.
Besok waktunya bersantai dengan sahabatnya.
Pagi menjelang bahkan sebelum ayam berkokok Bara sudah membuka matanya.
__ADS_1
Lebih telatnya Bara tak tidur semalaman hanya memejamkan mata saja.
Niat Bara mengajak kedua sahabatnya untuk sekedar kumpul malah Al mengajak Bara dan Chris pagi ini golf bersama.
Semalaman tidak tidur tentu saja Bara misuh-misuh, karena tubuhnya masih lelah dan kini sepagi ini sudah berada di lapangan golf bersama dua sahabatnya.
Tanpa di duga Bara bertemu mantan kliennya yang pernah ia tangani dan menanfkan kasusnya.
Davin Hermawan. CEO. Sekaligus Ketua Club Lamborgini yang memang terkenal cassanova dan digandrungi para kaum hawa.
Tentu saja sebagai pengacara kondang, circle pertemanan Bara sangat luas.
Bara yang memang selama welcome person langsung asik berbincang dengan mantan kliennya.
Sementara Chris sejak tadi sibuk dengan ponselnya dan beberapa kali terlihat menghubungi seseorang yang Bara tak tahu.
Bara melihat Al dekat dengan perempuan yang datang bersama dengan Davin.
Bara baru ingat, peremoyan tersebut adalah Koas di Rumah Sakit Al.
Namun Bara melihat tatapan Al berbeda terhadap kedekatan Davin dan perempuan yang bernama Bianca itu.
Bara tak ambil pusing. Ia sendiri sudah cukup pusing dengan pekerjaan dan persoalannya dengan Tasya.
Bara memang belum memberitahukan persoalan mengenai ia dan Tasya yang akan menikah.
Sesi gofl tipis-tipis berakhir. Bara pamit dengan mantan kliennya.
Bara juga sempat berbincang dengan dua jendral yang sering ia lihat namun belum pernah ia dapat kesempatan berkenalan langsung dengan Jendral Broto dan Jendral Sigit.
Bara melihat wajah Al yang jutek, galak dan bagai kanebo kering senang sekali menjadikan bahan ledekan.
Tebak tebak buah manggis, Bara berasumsi Al ada sesuatu dengan perempuan bernama Bianca.
Hingga Bara mengaitkan dengan lebam-lebam di wajah Al yang diakui Al ia jatuh saat naik motor.
Bara tahu Al memang punya motor sport tapi sudah lama Al menggunakannya.
Bara tahu itu hanya alasan Al saja.
"Gw mau ngomong serius sama Lo berdua!" Bara berhasil mencuri perhatian Chris dan Al.
Al dan Chris saling pandang kemudian kini melihat pada Bara.
"Gw mau nikah!"
Al reflek mengeplak kepala Bara.
__ADS_1
"Aw! Sakit Nyet!" Bara mengusap kepalanya yang menjadi korban KDHP (Kekerasan Dalam Hubungan Persohiban).
"Lo becanda jangan asal Nyet! Lo mau nikah sama siapa? Kambing dibedakin!" Al membolakan matanya.
"Gw serius. 2 Minggu lagi Gw nikah sama Tasya. Lo berdua dateng buat jadi saksi." Bara menjelaskan.
"Tasya itu anak dari sahabat ortu Lo kan Bar. Pak Taka? Bener Bar?" kali ini Chris menambahkan.
"Yup! 100 buat Lo Chris!" Bara santai.
"Ah Gila! Ga nyangka Nyet akhirnya tuh burung lepas sangkar juga! Pecah telor dong Kita!" Al tertawa.
"Gw juga mau ngomong sama Kalian berdua." kini Giliran Chris.
"Lo larah mau nikah juga?" Bara asal.
"Ah ga seru nih!" Al masih menganggap bercanda.
"Gw serius Al, Bar, Gw juga akan nikah!" kini Al dan Bara menatap Chris.
"Asli? Ah kenapa jadi Gw jadi duda sendirian!" Al kesal sendiri.
"Makanya kalo suka jangan gengsi Nyet! Lo suka kan sama tuh cewek tadi?" tebak Bara.
"Gw lihat Lo akrab Al sama Dokter Bianca?" Chris ikut mencecar.
"Ah muka Lo ga bisa nyimoen rahasia Nyet! Jujur sama Kita, Lo suka sama Bianca kan?" Bara menimpali.
"Emang awalnya berat Bro, tapi jujur lebih tenang, lebih plong!" Chris belajar dari pengalaman sendiri.
"Wait, kayaknya Lo beneran falling in love nih Chris? Siapa cewek yang bakal Lo ajak nikah?" Al malah kepo dengan urusan Chris.
"Ho oh Gw kepo juga, ngaku Lo!" Bara ikut nimbrung.
"Gw bakal nikahin Hania." Chris jawab jujur.
"Anjrit si Duda dapet mahasiswi, gila Bro! Diem-diem sohib Kita slebew!" Bara meniru gaya bicara Jeje selebtok yang ramai diperbincangkan kaum citayem fashion week yang bertengger di stasiun BNI Sudirman.
"Ya hati kan ga bisa milih Bro!" Chris malah senyum.
"Anjay! Ah Gw demen nih. Ah ga asik Lo bedua nikah. Trus Gw sendirian dong duda!" Al masih kesal karena sebentar lagi ditinggal nikah dua sahabatnya.
"Makanya jangan kebanyakan gengsi. Lawan Lo berat si Davin! Doi pemain handal. Bisa kalah tikung kalo ga cepet!" Bara memanasi.
Al tampak ya memikirkan perkataan Bara dan mempertimbangkan setelah apa yang ia lihat selama di lapangan golf.
Sepertinya Al harus gerak cepat kalau tidak mau kena tikungan tajam Davin.
__ADS_1