Tuan Muda Posesif Dan Pengasuh Cantiknya

Tuan Muda Posesif Dan Pengasuh Cantiknya
Episode 20: Terbongkar


__ADS_3

Sore itu, Carmila sedang pergi berbelanja bersama salah satu pelayan di Rumah Keluarga Raymond, yang juga merupakan temannya yaitu Meli.


Meli yang awalnya niat berbelanja sendiri itu tentu saja kaget melihat tiba-tiba Carmila ingin ikut dengannya.


Manfaat ini ketika mereka berdua pergi belanja, yang Meli lihat, Carmila tidak fokus seolah-olah pikirannya pergi entah kemana.


"Carmila, kamu seharian ini kenapa sih? Melihat sepertinya kamu menghindari bertemu dengan Tuan Muda Glen, apakah sesuatu terjadi?"


Carmila yang mendengarkan perkataan temannya itu jelas menjadi kaget, apakah yang dirinya lakukan ini terlihat sekali?


"Apakah ini terlihat jelas?"


"Tentu saja ini terlihat jelas, kamu tidak tahu sih, Mood Tuan Muda Glen hari ini buruk, aku merasa jelas ada sesuatu yang terjadi, Apakah Tuan Muda Glen membuat masalah padamu?"


"Tidak, tidak. Tidak ada apa-apa yang terjadi diantara kami hanya saja aku tidak ingin Tuan Muda Glen terlalu bergantung pada ku, kamu lihat sekarang dia sudah dewasa,"


"Ah, benar. Sebentar lagi Ulang Tahun Tuan Muda Glen yang ke dua puluh, benar-benar tidak terasa bukan? Tuan Muda kecil yang lucu itu sekarang sudah tunggu dewasa,"


Itu benar, tidak hanya Carmila yang bekerja cukup lama di Rumah Keluarga Raymond, temannya ini juga, yah walaupun tidak selama dirinya.


Memang, waktu sangat cepat berlalu, ketika dirinya masuk ke rumah ini, Tuan Muda Glen baru berusia tujuh tahun, dan sekarang sudah hampir 20 tahun.


Namun, bedakan mencolok dari usia itu adalah soal alasan kenapa Tuan Mudanya itu, bisa memiliki perasaan semacam itu padanya?


Sejak kapan perasaan itu muncul?


Terlalu pusing ketika memikirkannya.


"Astaga, Carmila!! Aku baru ingat jika dompet ketinggalan,"


Carmila lalu memeriksa Tasnya, dan ternyata dirinya juga tidak membawa tapinya termasuk ponselnya sepertinya karena dirinya buru-buru ke sini, jadi tidak membawa apa-apa.


"Sepertinya kita harus pulang dulu, aku juga lupa membawa dompetku,"


"Hah, kamu itu ya, sangat beruntung supermarket ini tidak jauh dari Rumah Keluarga Raymond,"


"Memang, hanya berjalan kaki dan sampai di sini,"


Begitulah Carmila akhirnya memutuskan kembali ke rumah.


Tepat ketika dirinya sedang melewati dapur, salah seorang Pelayan disana terlihat cemas dan gugup, berkata ke Carmila.


"Carmila, untunglah kamu di sini,"


"Ada apa memang?"


"Sebenarnya tidak ada apa-apa, hanya kamu tahu, mood Tuan Muda Glen sedang buruk, aku sedikit takut untuk mengantarkan minum ini padanya kenapa tidak kamu saja yang mengantarkan nya mumpung kamu di sini?"


Carmila menatap kearah gelas dan camilah yang ada di situ.

__ADS_1


"Ada tamu datang?"


"Biasa, Tuan Vano datang, mereka sedang mengobrol di teras belakang. Jadi apakah kamu mau mengantarkan ini?"


Carmila terdiam sebentar dan berpikir, mulai memikirkan bahwa sepertinya menghindari Tuan Mudanya bukan merupakan solusi yang baik.


"Baik, aku saja yang mengantarkan nya. Sekarang, kamu sebaiknya pergi ke Swalayan dekat Kompleks, Meli disana lupa membawa dompet, ini antar saja kepada dia," kata Carmila menyerahkan sebuah Tas.


"Tentu, kan saja itu padaku, dan urusan Tuan Muda Glen, biar kamu saja yang mengurus. Tahu sendiri semua pelayan di rumah ini takut padanya,"


Carmila hanya bisa menghela nafas panjang, dan berkata,


"Ya, ya, biar dia aku yang urus,"


Memang, Carmila tahu, Tuan Mudanya itu memang tidak ramah, lebih banyak memasang ekpersi dingin yang membuat orang-orang takut untuk mendekatinya.


Namun di balik sikap dingin itu, Carmila hanya bisa merasa heran kenapa jika ada di depannya, Tuan Mudanya itu bersikap manja?


Hah...


Dulu dirinya sempat bertanya tanya soal hal itu namun sekarang sepertinya jawabannya sudah jelas.


Ketika Carmila menuju ke teras belakang, dari jarak itu dirinya sekilas mendengar tentang apa yang Tuan Mudanya itu bicarakan.


Huh?


Karena merasa penasaran, Carmila bersembunyi di balik pintu dan mendengarkan isi percakapan mereka.


Ini mungkin sedikit tidak sopan namun dirinya benar-benar ingin tahu apa yang mereka berdua bicarakan terlebih ini menyebut nyebut namanya.


"Ya, bagimana? Carmila kan memang selalu memperlakukanmu seperti anak angkatnya, terlihat sekali bagaimana dia memanjakan mu seperti anaknya sendiri, na mungkin dia memiliki perasaan semacam itu padamu," kata Vano menjawab pertanyaan Glen itu.


"Hah, tapi aku menyukainya,"


"Glen, aku bilang padamu perasaan cintamu itu tidak benar, berapa banyak hal yang telah kamu lakukan selama ini? Kamu bahkan telah membuat Carmila putus dengan pada Kekasihnya dimasalalu, karena rasa cemburumu itu,"


"Vano, kamu tidak mengerti. Apa itu aku belum berani untuk katakan perasaanku karena aku masih cukup mudah, apakah sekitar 14 atau 15 tahun? Jelas hanya itu satu-satunya cara, membuat Carmila tidak dekat dengan laki-laki manapun menunggu sampai aku tumbuh dewasa dan bisa mengatakan perasaanku ini,"


"Tapi, sungguh obsesimu padanya itu, tidak benar,"


"Aku mencintainya, Aku bahkan melakukan banyak hal agar dia tidak pernah berkencan dengan siapapun, mencoba membuat pria pria yang mendekatinya menjauh, termasuk dengan mengagalkan Acara kencan Butanya sebelumnya, dan juga ketika dia di jodohkan, Aku bahkan sempat berpura-pura sakit, agar dia tidak pergi ke tempat Perjodohan,"


"Itulah kenapa aku bilang cintamu itu tidak sehat, kamu bahkan merendam diri semalam agar sakit kan? Sungguh, Glen, bagaimana jika dia sampai tahu tentang apa yang kamu lakukan selama ini? Kamu menjadi tidak lebih seperti seorang Stalker,"


Glen mendengar kata-kata temannya itu jelas marah.


"Vano, diam jangan katakan itu lagi. Aku sudah bilang, ini semua karena Aku mencintainya,"


"Lalu apa? Bukankah kamu ditolak juga pada akhirnya?"

__ADS_1


"Ya, Aku di tolak. Paling parah apakah kamu tahu tentang Pria macam apa yang Carmila suka?"


"Siapa itu?"


"Ayahku!!"


Ekpersi Vano juga menjadi pucat, itu bukan karena dirinya kaget soal fakta Carmila menyukai Ayah Glen, namun fakta jika saat ini, Carmila ada di belakang Glen, memiliki ekspresi kekecewaan dan marah.


Glen menatap ekspresi temannya itu yang pucat.


"Benar bukan? Carmila itu, tidak masuk akal sama sekali bagaimana bisa dia menyukai Ayahku, disaat ada aku yang mencintainya seperti ini,"


"Glen, itu...."


Glen jelas menatap temannya itu dengan ekspresi heran.


Namun sebelum dirinya mengerti sesuatu, seseorang menarik dirinya dari belakang.


Lalu, sebuah tamparan tepat di pipi Glen.


Itu adalah tamparan dari Carmila.


Ya, Carmila mendengar segalanya sebelumnya, dirinya tidak akan pernah mengira jika selama ini alasan kenapa laki-laki yang dekat dengannya menjauhi nya dan menatapnya dengan ekspresi aneh karena ulah Tuan Mudanya?


Dan bahkan, saat kencan buta itu, Tuan Mudanya mengatakan omong kosong semacam itu?


Dan lagi, memang di masalalu di berbagai macam kesempatan dirinya sempat gagal bertemu dengan beberapa Pria yang dekat dengannya, karena terjadi sesuatu pada Tuan Mudanya, atau Tuan Mudanya tiba-tiba meminta sesuatu.


Dan bahkan di Acara Perjodohan yang di siapkan Ayahnya itu?


Glen tahu hal itu, dan segaja membuat dirinya sendiri sakit hanya agar, dirinya ini tidak datang ke acara itu?


Karena Glen tahu, dirinya cukup lemah dengan hal-hal semacam itu?


Jadi, semua itu ternyata bukan karena tidak sengaja, namun semuanya direncanakan dengan sempurna.


Dirinya selama ini ditipu dan dibohongi.


Ketika memikirkan semua ini, hanya kemarahan yang muncul, namun juga kesedihan dan rasa sakit hati yang mendalam.


Carmila yang habis menampar Glen itu, mulai meneteskan Air matanya, merasa tidak tahan dengan semua emosi yang dimilikinya.


Hal-hal barusan yang dirinya dengar tentu saja sangat menyakitkan...


Ya...


Kenapa Tuan Muda sampai bisa berbuat sejauh itu?


Ini terlalu tidak masuk akal.

__ADS_1


__ADS_2