Tuan Muda Posesif Dan Pengasuh Cantiknya

Tuan Muda Posesif Dan Pengasuh Cantiknya
Episode 9: Sisi Keren


__ADS_3

Saat itu, jam menjelang siang ketika Carmila dibangunkan oleh suara ponselnya.


Ya, Carmila yang diminta untuk menjaga Glen itu, ikut tertidur ketika Tuan Mudanya tertidur.


Karena Carmila bagusan untuk menunggu seseorang yang tertidur.


Dan dengan suara ponsel itu, Carmila menjadi kaget.


"Astaga.... Jam berapa ini?"


Namun segera dirinya membungkam mulutnya, karena melihat jika Glen saat ini masih tertidur cukup pulas.


Memang sudah seseorang sakit akan bisa tidur lebih lama untuk pemulihan, apalagi juga ada efek obat yang membuat mengantuk.


Camila mulai memegang dahi Tuan Mudanya itu, yang sekarang suhunya sudah sedikit menurun, namun tetap saja itu masih panas.


Setelah itu, Carmila segera menatap kearah ponselnya, yang ternyata ada pesan dari Ayahnya cukup banyak, juga barusan ada panggilan telepon.


Salah satu pesan itu Carmila buka, yang berisi tentang Ayahnya yang menanyakan tentang bagaimana untuk pertemuan nanti.


Dan sekarang Carmila dimana?


Ketika membaca pesan-pesan ini, Carmila akhirnya ingat jika dirinya nanti akan ada Acara kencan buta, dengan seseorang yang akan Ayahnya perkenalkan!!!


Astaga bagaimana dirinya bisa melupakan hal sepenting ini?


Lalu, segera Carmila menatap lagu Tuan Mudanya yang saat ini masih tertidur dan juga tangan Tuan Mudanya yang masih mengegam erat tangan Carmila.


Mengingatkan nya tentang janji yang juga dirinya buat dengan Tuan Itu.


Disaat seperti ini dirinya jelas tidak boleh pergi kemana-mana.


Tepat ketika Carmila memikirkan itu, sekali lagi, ponselnya berbunyi, itu adalah panggilan dari Ayahnya.


Mau tidak mau dirinya memutuskan untuk mengangkat ponsel itu.


"Hallo, Ayah," sapa Carmila dengan nada cukup ramah.


'Kamu akhirnya mengangkat teleponku jika. Kamu ini sebenarnya di mana? Apa kamu pergi tidak bilang bilang?' tanya Ayah Carmila dengan panik dari ujung telepon.


"Ah, aku tadi buru-buru jadi tidak sempat bilang jika aku pergi ke Rumah Keluarga Raymond,"


'Kamu pergi ke sana? Bukankah kamu bilang kamu sedang cuti?'


"Ya, aku memang sedang cuti namun tiba-tiba ada keadaan mendesak,"


'Keadaan mendesak apa?'


"Tuan Muda Glen tiba-tiba jatuh sakit, jadi aku harus merawatnya,"


'Astaga, Carmila lalu bagaimana dengan pertemuan mu nanti siang?'


"Mungkin aku akan batal untuk pertemuan nanti siang,"


'Kamu ini bagaimana, Ayah susah repot-repot mengatur kan acara itu untuk kamu kenapa kamu tiba-tiba membatalkan seperti ini?'


"Hah, mau bagaimana lagi, Tuan Muda Glen tiba-tiba sakit jadi aku harus menjaganya dan tidak bisa ke mana-mana,"


'Dia kan sudah Dewasa, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri, ya sudah bukan anak kecil lagi yang perlu kamu rawat 24 jam ketika sakit seperti itu, lagipula bukankah di rumah itu memiliki banyak Pelayan? Kenapa kamu harus ke sana disaat kamu itu sedang cuti?'


Carmila mulai mendengar ayahnya itu sepertinya marah-marah.


"Ayah, jangan begitu. Aku memang harus ada di sini untuk melakukan tugas ku,"


'Kamu itu, dari dulu seperti itu, selalu lebih mementingkan soal pekerjaanmu daripada soal urusan pribadimu. Dulu Ayah cukup paham, ketika kamu menjadi seorang pengasuh dan Tuan Mudamu itu masih kecil, tapi sekarang dia sudah besar ayah pikir kamu tidak perlu terlalu mementingkan pekerjaanmu, dia sudah bisa merawat dirinya sendiri,'


"Kumohon Ayah mengertilah,"


'Lalu, setidaknya datanglah untuk acara nanti, harusnya kamu tinggal satu sampai dua jam tidak masalah bukan?'


"Maaf Ayah, saat ini pikiranku sedang tidak fokus aku sepertinya akan membatalkan janji itu,"


'Kamu itu bagaimana padahal kamu sendiri yang minta untuk dibuatkan janji, ini hanya akan membuatku malu,'


"Aku benar-benar minta maaf padamu. Di masa depan biar aku saja yang mengurus semuanya, Aku sungguh minta maaf, Ayah,"


'Hpmh, masa depan ayah tidak akan terlalu peduli lagi soal kamu yang mengeluh tidak punya pacar itu, sana urus saja Tuan Mudamu itu, kamu ini mengurus nya udah seperti mengurus suami saja pakai tidak bisa ditinggal tinggal segara,'

__ADS_1


Mendengar keluhan Ayahnya itu, Carmila menjadi cukup syok.


Suami apa?


Ini karena memang kewajibannya untuk merawat Tuan Mudanya sebagai pengasuhnya sejak kecil.


Bahkan sekarang dia sudah dewasa namun masih tetap membutuhkan perhatian.


Ini benar-benar perhatian tidak lebih dari seorang pengasuh pada anak yang di asuhnya?


Tidak lebih dari itu.


Carmila mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Ukhhh...


Namun ketika dirinya menatap wajah itu yang saat ini tertidur tentang dan terlihat sangat tampan, hati Carmila tiba-tiba memasuki sebuah dilema.


Tidak!!!


Dirinya jelas tidak boleh memiliki pemikiran macam-macam.


"Ayah, aku benar-benar minta maaf karena membuatmu malu, aku saat ini tidak bisa pergi ke manapun aku harap Ayah mengerti. Aku Tutup dulu teleponnya,"


Begitu telepon itu ditutup, ekpersi Carmila terangkan rasa lega karena dirinya sudah tidak perlu lagi mendengarkan kemarahan dari Ayahnya.


Namun memang ada sedikit rasa kekecewaan di dalam hatinya, pernah lagi lagi kencan buta yang dirinya rencana gagal.


Jika seperti ini terus bagaimana dirinya bisa mendapatkan pacar?


Carmila benar-benar begitu sedih ketika memikirkan tentang hal-hal ini, hah dirinya benar-benar bisa menjadi Perawan Tua kalau begini, ini semua benar-benar karena Tuan Mudanya ini!!


"Huh, Tuan Muda kamu jelas harus bertanggung jawab soal ini,"


Tepat ketika Carmila mengatakan omong kosong itu, Glen segera membuka matanya dan berkata,


"Tentu saja, Carmila. Kamu tidak usah khawatir, Aku akan bertanggung jawab soal hidupmu di masa depan,"


"Sudahlah, berhenti Bicara omong kosong!!"


Glen diam-diam tersemyum, sebenarnya dirinya sudah bangun sejak beberapa saat yang lalu, dan mendengarkan percakapan Carmila dengan Ayahnya.


Dia jelas merasa sangat senang karena dirinya menjadi salah satu Prioritas utama untuk Carmila, bahwa dirinya menjadi salah satu orang yang cukup berharga di hati Carmila.


Walaupun saat ini perasaan dirinya pada Carmila belum terbalas, Glen masih cukup optimis jika dirinya bisa mendapatkan hati Carmila.


Yang dirinya lakukan berikutnya, mungkin dengan cara dirinya menunjukkan sisi kerennya di depan Carmila?


Namun bagaimana?


Pikirkan saja itu nanti.


####


Hari-hari segera berlalu, dan Glen akhirnya sudah kembali sembuh.


Carmila juga merasa lega karena Tuan Mudanya itu, Akhirnya sembuh dan bisa kembali beraktivitas.


Sekarang, Carmila mengantar Glen menuju mobilnya untuk pergi ke kantor.


Jika memikirkan soal Kantor, Carmila sebenarnya belum pernah melihat Tuan Mudanya itu pergi bekerja.


Dirinya sebenarnya cukup penasaran soal hal-hal yang dilakukan Tuan Mudanya itu di kantor.


Walaupun itu Kantor Ayahnya, namun Tuan Mudanya tetap saja masih tergolong terllau muda, yang bahkan belum genap dua puluh tahun.


Apakah orang-orang di kantor akan memperlakukan Tuan Mudanya dengan cukup tidak baik?


Ya semacam suka bergosip atau membicarakan nya di belakang karena Tuan Mudanya begitu muda?


Dan memang belum lama sejak Tuan Mudanya bekerja pula.


"Carmila, nanti siang kirimkan makan siang ke kantor,"


Perintah tiba-tiba itu mengagetkan Carmila.


"Eh? Tuan Muda butuh bekal? Kenapa tidak bilang dari tadi kan aku bisa membawanya,"

__ADS_1


"Aku ingin sekali yang sangat jadi kamu harus membawakanya nanti,"


"Baik-baik. Nanti saat mendekati jam makan siang, Aku akan mengantarkan bekal makan siang ke sana,"


"Ya, nanti kamu bisa hanya bagian Resepsionis dan langsung menyuruh dia untuk mengantarkan mu kepadaku, ingat kamu jangan hanya meninggalkan bekal itu kita harus bertemu nanti di kantor,"


"Hah, baiklah-baiklah,"


Setelah mengatakan itu segera, Glen masuk mobil dan mulai pergi ke kantor.


####


Siang segera datang, dan ini adalah saatnya Carmila mengantarkan makan siang untuk Tuan Mudanya itu, dia diantar oleh sopir rumah.


Ketika menatap gedung besar itu, Carmila tetap saja masih merasa kagum.


Ini mungkin memang bukan pertama kalinya dirinya menginjak gedung itu, namun tetap saja kemegahan dari gedung itu masih lah sesuatu.


Keluarga Raymond memang merupakan Keluarga Kaya Raya, yang tidak perlu diragukan lagi kekayaannya.


"Carmila, nanti aku akan menunggu di parkiran. Ini tidak akan lama bukan?"


Kata-kata supir itu, membuyarkan lamunan Carmila.


"Ya, tunggu aku di sana ini tidak akan lama aku hanya mengantarkan bekal makan siang ini,"


Carmila segera turun dari mobil dan memasuki gedung itu, sesuai anjuran dari Glen, ya segera menemui resepsionis untuk mengantarkan nya ke Ruangan Glen.


Disana, dirinya di pandu ke lantai tertentu, dan segera tiba di salah satu ruangan, kan bertemu dengan Sekertaris Glen.


"Ah? Apakan kamu Nona Carmila?" Tanya Sekertaris itu dengan ramah.


"Ya, itu benar. Saya ingin bertemu dengan Tuan Muda Glen,"


"Tentu saja, Tuan Muda Glen sudah memberitahukan soal kedatangan anda, silahkan anda menunggu di ruangan Tuan Muda dulu,"


"Memangnya Tuan Muda kemana?"


"Saat ini Tuan Muda masih rapat di sebelah Ruangan ini, nanti anda akan menunggu di dalam, ada pintu masuk langsung menuju Ruang Rapat disana, nanti jika Tuan Muda selesai, iya pasti akan segera menemui Nona,"


"Ah, begitu. Baiklah aku akan segera masuk dan menunggu,"


Sesuai arahan Sekertaris, Carmila segera memasuki ruangan Glen.


Ya, Carmila mematap ruangan itu dengan kagum, ruangan Tuan Muda nya ternyata cukup besar.


Carmila lalu mulai melihat-lihat di sana, di meja kerja Tuan Mudanya, mana di sana ada begitu banyak dokumen.


Astaga, Tuan Mudanya mengerjakan begitu banyak disini?


Lalu tahapan Carmila mematap kearah tulisan di meja itu, yang bertuliskan


'Manager Proyek Glen Raymond'


Ini memang posisi yang cukup penting di Perusahaan.


Namun apakah tuan mudahnya benar-benar bisa melakukan tanggung jawab sebesar ini?


Tidakkah ini terlalu berlebihan?


Merasa penasaran, Carmila gue menatap pintu menuju ruang rapat.


Dirinya jelas cukup penasaran tentang rapat itu.


Carmila segera, berjalan menuju pintu, diam-diam mengintip ke dalam ruangan rapat.


Hal yang dilihatnya cukup mengejutkan, itu adalah Tuan Mudanya yang saat ini memimpin Rapat, dan wulan menjelaskan kepada orang-orang tentang rencana yang dibuatnya.


Ya, ketika menata pemandangan itu, orang tidak akan pernah mengira jika yang berbicara itu adalah seseorang yang bahkan belum genap dua puluh tahun.


Namun di usia semudah itu sudah bisa menanggung tanggung jawab yang besar dan lagi, bisa memimpin banyak orang seperti itu.


Carmila juga melihat bagaimana orang-orang disana juga mendegarkan penjelasan Tuan Mudanya itu dengan baik, dan ketika ada seseorang bertanya, Tuan Mudanya benar-benar bisa menjawab semuanya dengan baik.


Itu memang benar-benar cukup keren.


Diam-diam, Carmila yang memata-matai itu, tidak bisa berpaling dari Pria muda itu.

__ADS_1


__ADS_2