
Hari segera berlalu dalam sekejap, namun apapun yang Carmila coba lakukan, dia masih akan tetap bertemu dengan Tuan Mudanya.
Pagi itu, ketika Carmila bertemu Glen di kamar Glen ketika mengantarkan minuman, Carmila dapat melihat lingkaran hitam bawah mata Tuan Mudanya itu, sepertinya Tuan Mudanya semalam tidak cukup tidur, dan ada apa dengan mata yang terlihat bengkak itu?
Tidak mungkin Tuan Mudanya itu menagis?
Tidak!!
Carmila mencoba menggelengkan kepalanya, merasa tidak ada gunanya jika dirinya menghawatirkan Tuan Mudanya itu.
Ini adalah sebuah kelemahan yang dirinya miliki, yang malah dimanfaatkan oleh Tuan Mudanya untuk mempermainkan dirinya.
Carmila, jelas masih marah dan sedih setelah tau semuanya, namun karena tuntutan pekerjaan, walaupun dirinya tidak ingin menatap wajah itu namun dirinya mau tidak mau tetap menatap wajah itu.
Sejujurnya, Carmila tidak tahu harus bagaimana jika Tuan Mudanya masih akan bersikap begitu agresif seperti kemarin.
Bagaimana cara dirinya menolaknya?
Tepat ketika Carmila merasa bangga sendiri itu, tatapan mereka bertemu sesaat, jujur Carmila sebenarnya tidak tahan untuk menatap mata Tuan Mudanya itu, masih tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan.
"Ini minuman untuk Tuan Muda,"
Ada nada keraguan ketika Carmila mengatakan itu.
"Letakan di meja, kamu bisa pergi,"
Mendengar nada datar yang terlihat dingin itu, tentu saja Carmila menjadi kaget sampai terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
Nada dingin, yang baru pertama kali dirinya dengar dari Tuan Mudanya, ah tidak sebenarnya Tuan Mudanya memang selalu bersikap seperti itu, pada semua orang kecuali pada dirinya atau beberapa anggota Keluarganya.
Carmila awalnya tidak memperhatikan dan mengangkat perilaku ini biasa, namun sekarang setelah dirinya menerima perlakuan dingin seperti itu, rasanya ada yang jangal dan terasa aneh.
"Kenapa? Kamu tidak pergi?" Kata Glen masih sama dengan nada yang cukup dingin.
Carmila masih dia masih terpaku karena perubahan sikap Glen yang tiba-tiba.
Glen segera menghela nafas panjang, lalu segera berkata,
"Bukankah ini yang kamu mau? Aku akan mengakhiri semuanya, sekarang hubungan kita tidak lebih dari Tuan Muda dan Pengasuhnya,"
Kata-kata itu di katakan dengan tanpa keraguan sedikitpun, dengan nada datar yang terlihat cukup dingin, namun ada sedikit nada kemarahan dibalik kata-kata itu.
Ya, Carmila mendengar itu cukup kaget juga, dirinya tidak pernah mengira jika Tuan Mudanya akan menyerah secepat itu.
Tunggu, apa yang dirinya pikirkan?
Bukankah ini memang apa yang dirinya mau?
Carmila bukbernya menetralkan emosi yang ada di dalam dirinya dan berkata,
"Ya, hubungan kita tidak lebih dari Tuan Muda dan Pengasuhnya. Kalau begitu, Aku permisi dulu,"
"Hmm,"
__ADS_1
Setelah mendengar persetujuan itu, Carmila segera melangkah keluar dari kamar itu.
Namun memang, tiba-tiba Carmila merasakan sedikit kehampaan yang tiba-tiba muncul dari hatinya.
Namum sekali lagi dirinya mencoba mengabaikan perasaan aneh itu dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang lain.
Sampai kira-kira sekitar pukul tujuh pagi, Carmila memasuki kamar Glen, dan mulai menyiapkan pakaian yang akan Glen pakai, seperti biasanya.
Tepat ketika Carmila melakukan itu, pintu kamar mandi terbuka.
"Besok, kamu tidak perlu menyiapkan pakaianku, kamu hanya perlu mencucinya, dan meletakkannya di lemari," kata Glen dengan ekpersi dinginnya itu.
Sepintas, Carmila kaget ketika mendengar nada dingin itu, dan segera memalingkan wajahnya menatap orang yang berbicara.
Namun, Carmila cukup kaget ketika melihat sosok Glen, yang hanya mengenakan handuk dibagian bawah, tangannya yang satu lagi, sedang mengeringkan rambutnya.
Dari sana, Carmila bisa melihat otot-otot tubuh yang cukup terawat disana, terlihat masih sedikit basah, terlihat sangat indah dan memukau mata, dan lagi aroma semerbak wangi yang dari sabun Tuan Mudanya itu.
Dan lagi, dengan wajah tampan itu.
Ya, dari sana Carmila jelas melihat pesona itu, pesona seorang pria muda yang rupawan, dan mengairahkan.
Juga, itu mungkin karena Tuan Mudanya memang masih di usia dua puluh, usia segar-segarnya, usia yang dikatakan sudah melewati masa remaja, namun belum benar-benar dewasa.
Biasanya, Tuan Mudanya akan bersikap lebih sopan padanya, dan tidak akan keluar dari kamar mandi seperti itu, biasanya memakai baju handuknya.
"Apa yang kamu lihat?"
Carmila segara memalingkan wajahnya lagi, merasa pikirannya menjadi bodoh karena bisa-bisanya terpesona oleh pesona bocah didepannya itu.
Astaga, Carmila ingat umur, ingat umur, apa yang barusan kamu pikirkan?
Pesona seorang pria muda yang rupawan, dan mengairahkan?
Dasar pikiran gila!!!
Carmila mengutuk pikirannya sendiri.
Ini mungkin, karena dirinya tidak benar-benar menatap atau memperhatikan Tuan Mudanya sebelumnya, dan lagi perubahan sikap Tuan Mudanya yang membuatnya gugup.
Carmila, menarik nafas dalam-dalam dan segera berdiri dan berkata,
"Aku... Aku tidak menatap apapun. Baik kalau begitu, lain kali Aku tidak perlu menyiapkan Pakaian? Kalau begitu Aku permisi dulu,"
Jelas, Carmila segera pergi dan melarikan diri dari hadapan Glen, seperti dikejar setan.
Butuh cukup waktu, sampai Carmila menetralkan kembali emosi yang ada di hatinya itu.
####
Hari-hari berikutnya, berjalan sama tentang bagaimana Glen bersikap cukup dingin pada Carmila.
"Air hangatnya sudah siap, Tuan Muda,"
__ADS_1
"Ya, kamu bisa pergi,"
Carmila tentu saja merasa tidak biasa tentang hal ini.
Sekarang, Tuan Mudanya tidak begitu banyak berbicara padanya, hanya berkata seperlunya saja.
Tidak lebih dan tidak kurang, tidak ada lagi percakapan percakapan atau lelucon seperti sebelumnya.
Tidak ada penyataan cinta, yang aneh dan menyebalkan seperti sebelumnya.
Ini adalah apa yang dirinya mau, namun kenapa dirinya tidak puas dengan itu?
Ini harusnya hal-hal yang wajar, apalagi setelah dirinya menolak cinta Tuan Muda Glen dengan buruk, Tuan Mudanya mungkin juga mengalami masa-masa sulit dan saat ini dalam fase untuk mencoba menghapus perasaannya.
Jadi wajah jika saat ini, Tuan Mudanya mencoba menjaga jarak dengan dirinya.
Hubungan mereka tidak akan bisa kembali seperti sebelumnya.
Ini benar-benar menyakitkan jika Carmila memikirkannya.
Dirinya tidak bisa melihat senyuman Tuan Mudanya lagi, karena saat ini hanya wajah dingin Tuan Mudanya itu yang dirinya lihat.
Hah...
"Carmila, kamu ini kenapa? Lihat kamu menuang air sampai luber begitu," kata salah satu Pelayan, yang saat ini berada di dapur bersama Carmila yang sibuk melamun dari tadi, sampai-sampai ketika menuang air malah kebanyakan.
"Astaga, Meli ambilkan Lap, aku hanya sedikit kebanyakan pikiran saja,"
Meli lalu segera mengambil kan lap, dan bertanya lagi,
"Hah, pantas aja belakangan kamu terlihat aneh. Sebenarnya ada masalah apa?"
Carmila jelas saja bingung ingin bercerita, nya tidak mungkin bercerita tentang hal sebenarnya.
"Hanya, bagainmana menurutmu soal Tuan Muda Glen?"
"Dia sangat tampan, namun ekpersi dan siakpnya sangat dingin,"
Ya, Carmila juga tahu, ini adalah jawaban wajar jika menanyakan pendapat semua pelayan rata-rata di Rumah ini.
Sebenarnya, sikap dingin itu memang sikap Tuan Muda Glen yang biasanya.
Hanya...
Biasanya, Tuan Mudanya memang bersikap sedikit berbeda padanya, sedikit lebih hangat.
Namun, sekarang Tuan Mudanya memperlakukan dirinya sama seperti dia memperlakukan semua orang.
Ya, harusnya ini tidak apa-apa...
Namun apa-apa dengan perasaan hampa dalam dirinya ini?
Ada perasaan sedih entah kenapa yang Carmila rasakan.
__ADS_1