
Hari-hari segera berlalu begitu cepat. Dan masih seperti sebelum-sebelumnya, Carmila entah kenapa sering melihat dimana Tuan Muda Glen itu, bersama dengan Cecilia dengan berbagai macam alasan.
Dirinya sendiri juga tidak tahu kenapa bisa menjadi seperti ini.
Kenapa dirinya merasa sangat terganggu dengan kedekatan mereka?
Hal-hal ini, jelas terasa aneh untuk Carmila.
Jadi, hari itu Carmila menjadi terlalu malas untuk bertemu dengan Tuan Mudanya itu.
Terutama karena ini adalah hari Minggu, dan Tuan Mudanya ada di Rumah.
Pasti Tuan Mudanya itu akan mengajar Cecilia atau siapalah itu untuk datang ke rumah.
Dirinya benar-benar sedang tidak mood, jadi sejak pagi, Carmila udah bilang kepada pelayan lain untuk mengurusi urusan Tuan Muda Glen.
Dan sekarang, setelah jam sarapan, Carmila memutuskan untuk datang ke rahasianya di Rumah itu.
Di ujung taman belakang dekat gudang.
Disana, biasanya Carmila menenangkan pikiran dan hatinya.
Karena tempat itu dekat taman, bisa melihat berbagai macam bunga yang ada di taman belakang.
Tempat itu juga cukup tersembunyi, jadi dirinya benar-benar bisa merasa rileks dan menyegarkan pikiran.
"Sial! Kenapa pikiraku penuh dengan Tuan Muda Glen?"
Ya, Carmila merasa kesal ketika memikirkan ini.
Sekarang, Carmila hanya bisa memikirkan apa yang sedang Tuan Mudanya itu lakukan dengan Cecilia.
Karena akhir pekan apakah mungkin mereka berdua akan pergi berolahraga bersama?
Seperti jogging atau sesuatu?
Dirinya dengar, Rumah Cecilia ternyata tidak begitu jauh dengan rumah ini, hanya di kompleks sebelah.
Hah...
Carmila hanya menghela nafas ketika memikirkan semua itu.
Tepat ketika Carmila memejamkan matanya ketika mencoba menenangkan dirinya, tiba-tiba ada seseorang yang datang kesana.
Itu adalah kedatangan dari seseorang yang tidak pernah Carmila duga.
"Tuan Roy? Kenapa Tuan Roy disini?" Kata Carmila dengan gemetar.
Ya, Carmila melihat wajah itu menjadi takut, jelas dirinya tidak ingin lagi berurusan dengan orang itu, terutama sejak insiden terakhir kali di mana Tuan Roy itu sempat melecehkan dirinya.
"Apakah aku ada alasan untuk berjalan-jalan di rumah ini?" Kata Roy sambil berjalan mulai mendekat ke arah Carmila.
Carmila jelas menjadi takut, lalu berjalan mundur, mencoba untuk melarikan diri dari sana.
Melihat tatapan Roy, yang seperti seorang Predator itu menatap mangsanya membuat Carmila takut.
Terutama, karena tempat ini ada di ujung paling jauh dari rumah, tempat yang benar-benar sepi dan tidak dikunjungi orang.
Namun sebelum Carmila bisa melarikan diri, tangannya segera digenggam oleh Roy.
"Le... Lepaskan Aku!!" Kata Carmila sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Roy.
"Hah, kali ini aku akan pastikan kamu tidak akan pernah lolos dariku,"
Roy lalu mencoba menarik Carmila memasuki gudang kosong di dekat tempat itu.
__ADS_1
Tentu Carmila mencoba untuk melawan dan berteriak, namun mulutnya di tutup oleh tangan Roy.
Hal ini membuat Carmila menjadi begitu takut ketika dirinya dilempar masuk ke dalam gudang.
"Lepaskan!! Jika Tuan berbuat berlebihan dari ini, Saya akan pastikan melaporkan ini semua Nyonya Tasya dan Tuan Brian,"
"Hah, Istriku tidak akan percaya apa yang kamu katakan. Ya jelas akan yakin jika kamu yang mulai menggodaku duluan. Sudahlah kamu jangan sok jual mahal seperti itu, kamu itu hanya pelayan miskin!!"
Carmila mencoba bangun dan berniat menuju pintu, namun sekali lagi, dirinya didesak, kearah dinding.
"Le... Lepaskan!!"
Roy lalu langsung menarik Carmila dan mencium Carmila.
Ketika Carmila merasakan bibir Roy di bibirnya, hanya terasa perasaan yang menjijikkan, yang membuat Carmila ingin mutah.
Jika memikirkannya lagi, Tuan Muda Glen pernah menciumnya sebelumnya, namun dirinya tidak pernah merasa jijik dengan ciuman itu, malah merasa itu cukup manis.
Ya, kenapa di saat-saat seperti ini yang dirinya ingat adalah Tuan Mudanya?
Ya, bahkan walaupun Tuan Mudanya bilang cinta padanya, Tuan Mudanya, tidak pernah melakukan hal yang berlebihan padanya, hal-hal masih bisa dibilang di batas wajar.
Disaat seperti ini, Carmila hanya bisa mengigat nama itu, nama Tuan Mudanya, Glen.
Tuan Muda yang sebenarnya selalu peduli padanya, selalu baik padanya, dan selalu sopan padanya.
Sosok yang tiba-tiba sangat dirinya rindukan.
Ketika memikirkannya lagi, sekarang dirinya baru menyadarinya...
Jadi begitu, alasan kenapa dirinya merasa sangat terganggu ketika melihat Tuan Mudanya bersama gadis lain..
Ya, mungkin saja pesona dari tuhan mudahnya itu telah berhasil menjerat dirinya....
Carmila merasa bodoh sekarang.
Yang paling penting sekarang adalah melarikan diri dari tempat ini...
Seandainya ada Tuan Mudanya...
Dia pasti akan menolong dirinya...
Tidak, tapi Tuan Mudanya saat ini sedang bersama dengan orang lain.
Carmila, lalu segera kan mengalihkan pikirannya dan mengigit bibir orang yang memaksanya ini.
Carmila begitu takut, dengan semua ini.
"Kamu!! Begitu kurang ajar! Berani sekali mengigit bibirku!!" Kata Roy marah, lalu mulai menampar Carmila.
"Jauhkan mulut busukmu dariku!!"
Roy jelas marah, dan mulai menarik rambut Carmila.
"Kamu ini benar-benar sok jual mahal sekali!! Benar-benar tidak tahu diri!"
"Akhhh.... Tolong!!!"
"Tidak akan ada orang yang ke sini!! Salah sendiri kamu malah datang ke tempat yang begitu sepi, hanya kebetulan lewat dan mengikutimu, tidak pernah aku kira juga kesempatan buatku seperti ini akan datang,"
Terlihat ada senyuman gila di wajah itu.
Carmila masih mencoba memberontak, namun dirinya hanya Perempuan, tidak terlalu bisa melawan.
Carmila lalu melihat ketika tangan Roy, mulai memegang kearah pahanya.
__ADS_1
Membuat Carmila merinding ketakutan.
"Tidak!! Lepaskan!!"
"Kamu benar-benar memiliki kulit yang bagus,"
Tangan Roy semakin bergerak keatas, membuat Carmila menjadi ketakutan.
Tepat ketika Carmila begitu ketakutan itu, suara pintu terbuka.
Itu adalah wajah yang familiar.
Bahkan Carmila belum sempat merespon, ketika Glen langsung menuju ke mereka dengan kecepatan penuh, dan segera mengarahkan pukulan pada Roy.
Pukulan Glen jelas cukup keras, membuat darah keluar dari sisi wajah Roy.
Carmila terduduk dilantai, merasa lagu ketika melihat sosok itu.
Ya, sosok Tuan Mudanya ada disini...
Namun Carmila tiba-tiba memiliki terasa tidak baik..
Terutama, setelah melihat perkelahian satu arah itu, dimana Roy di pukuli habis-habisan oleh Glen.
Carmila tahu, jika Tuan Mudanya cukup hebat dalam Ilmu bela diri, jadi jika di terapkan ke orang bisa...
Carmila bisa melihat orang yang melecehkannya itu, sekarang berteriak kesakitan di lantai, wajahnya sudah lebam, dan sekarang terlihat kehilangan kesadarannya.
Namun, Carmila melihat jika Tuan Mudanya tidak bermaksud untuk menghentikan pukulan nya hanya seperti memukul kantung pukul latihan.
Tidak....
Jika di biarkan, Tuan Roy bisa mati!
Bukan berati dirinya peduli pada sampah itu, namun Carmila jelas khawatir tentang hal yang mungkin nanti terjadi pada Tuan Muda Glen.
Carmila segera memeluk Glen dari belakang dan berkata,
"Cukup Tuan Muda.... Aku sudah baik-baik saja...."
"Tapi dia berani! Berani untuk mencoba menyentuhmu!! Si Brengsek ini!!"
Carmila jelas melihat nada kemarahan dari sana, wajah marah dan murka yang tidak pernah Carmila lihat sebelumnya.
"Aku... Aku sungguh sudah tidak apa-apa.... Jadi cukup..."
"Kenapa? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku? Apakah si jam segini panah mencoba menyakitimu sebelumnya?"
"Tidak, tidak.... Hanya... Beberapa hal kecil..."
Glen lalu ingat luka bekas tangan di leher Carmila tempo hari.
Kemarahan segera muncul, lagi dan Glen segera memukul Roy lagi.
Kenapa dirinya bisa melupakan hal sepenting itu?
"Cukup Tuan Muda...."
"Namun dia Brengsek tidak bisa dimaafkan!! Dan kenapa... Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku..."
Ya, yang membuat Glen menjadi sakit hati, karena Carmila sebenarnya tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya padanya.
Kemudian, Glen jadi ingat tidakannya yang pernah mencium Carmila secara paksa itu.
Carmila menamparnya.
__ADS_1
Apakah Carmila memandang dirinya sama seperti Laki-laki Brengsek ini?