
Pagi itu, Carmila sarapan pagi dengan masakan buatan Glen, yang juga mendapatkan pujian dari Nenek dan Kakek Carmila, bahkan adik laki-laki Carmila juga memuji Glen.
"Wow, Kak Glen benar-benar hebat dalam memasak, selain pintar juga hebat memasak," kata Tio, adik Carmila.
"Ini bukan apa-apa," kata Glen dengan santai, setelah menerima begitu banyak pujian itu.
Tio yang begitu bersemangat lalu segera berkata lagi,
"Aku dengar, Kak Glen juga sudah lulus dari Universitas lebih cepat bukan? Wow, itu sangat hebat, Aku baru tahun ini mulai masuk Universitas, namun hal-hal di Universitas benar-benar membuat aku pusing, Aku ingin tips dari kakak agar bisa cepat lulus juga,"
Carmila yang mendengar omong kosong dari adiknya itu segera berkata,
"Hah, kamu itu Tio, kalau ingin cepat lulus banyak belajar jangan hanya bermain game terus,"
"Ah, Kak Carmila membosankan,"
Pagi itu, suasana meja makan benar-benar terlihat sangat ramai dan damai, berkat kedatangan Glen.
Namun dari awal kedatangan Glen, Carmila tidak bisa berhenti bertanya-tanya tentang apa maksud Tuan Mudanya itu untuk datang kesini.
Carmila benar-benar tidak mengerti bagaimana cara berpikir Tuan Mudanya itu, bukankah seharusnya Tuan Mudanya itu bersenang-senang dengan Cecilia itu?
Kenapa malah, jauh-jauh pergi ke pedesaan tidak jelas seperti ini.
Sampai akhirnya, sarapan selesai, dan Carmila mengajak Glen untuk pergi, mencoba untuk berbicara dengannya.
"Tuan Muda, kenapa tuan muda bisa berada di sini?"
Glen yang ditanya itu memutuskan untuk tidak menjawab dan hanya berkata,
"Bukankah aku sudah bilang jika aku ke sini untuk berlibur?"
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, tidak mungkin Tuan Muda hanya untuk berlibur ke sini bukan?" Tanya Carmila dengan ekspresi penuh curiga.
"Selalu menurutmu aku ke sini kenapa?"
Namun, belum sempat Carmila menjawab, Glen udah pergi dari sana dan sekarang pergi ketempat Paman Carmila yang saat ini sedang di perkebunan dan memetik buah terlihat sedang membantu untuk memetik beberapa buah.
Sampai seharian berlalu, Glen sepertinya hanya menikmati hari hari itu melakukan kegiatan dan hal-hal yang ada di pedesaan.
__ADS_1
Memetik buah, memasak, berjalan-jalan di tengah sawah, dan bermain-main dengan adik laki-lakinya Tio.
Carmila menatap dua pemuda itu dengan ekspresi rumit.
Jika diperhatikan saat ini, Tuan Mudanya, sebenarnya hanya bertingkah seperti seorang pemuda seumurannya.
Pergi liburan di pedesaan untuk bermain-main dan mencari udara segar.
Benar-benar sosok pemuda yang masih penuh energi dan begitu mudah.
Semakin Carmila memikirkan soal betapa mudahnya Glen, perasaan Carmila menjadi semakin rumit.
Sampai, ketika sore hari tiba, akhirnya ada giliran Carmila youtube bisa berbicara berdua dengan Glen.
Glen yang diajak Carmila pergi itu, lalu malah mengajak Carmila pergi lebih jauh.
Sampai saat ini, mereka berkeliling menuju ujung desa, untuk melihat matahari terbenam ditengah persawahan.
"Carmila, lihat ini bukankah matahari yang terpendam itu sangat indah?"
Carmila lalu mulai memalingkan wajahnya dari Glen, dan mulai menatap kearah yang di tatap Tuan Mudanya itu.
Cahaya matahari yang hampir tenggelam hanya memperlihatkan langit yang berwarna merah, oranye dan kekuningan, gradasi warna yang terlihat sangat memukau mata, ditemani oleh hamparan sawah yang begitu luas.
"Ya, ini sangat indah,"
Keduanya tenggelam dalam pemandangan itu, tidak berkata apa-apa.
Sampai tangan Carmila tiba-tiba merasakan genggaman tangan hangat.
Carmila lalu segera menoleh dan menatap ke arah Tuan Mudanya yang ini tersenyum ke arahnya.
"Carmila, kamu tadi bertanya padaku bukan? Alasan kenapa aku pergi ke sini?"
"Ya, kenapa?"
"Namun aku pikir kamu sebenarnya sudah tahu jawabannya,"
"Aku tidak tahu,"
__ADS_1
Glen lalu negara mengambil kedua tangan Carmila, untuk digenggam dihadapan mereka.
"Carmila, sekarang aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya,"
Ketika Carmila mendengar itu entah kenapa jantungnya merasa berdebar.
Namun di sisi lain dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Carmila ... Aku sebenarnya sangat mencintaimu, bahkan sampai saat ini, Aku masih mencintai mu. Aku dan Cecilia dak memiliki hubungan apapun selain hanya teman lama, ku kebetulan dekat dengannya, hanya ingin melihat kamu cemburu, dan lihat aku pikir kamu pergi ke sini karena kamu cemburu, bukan? Sebenarnya kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku bukan?"
Ketika mendengar itu, Carmila sedikit gugup, masih belum tahu untuk berkata apa, edinya tidak pernah mengira jika Tuan Mudanya hanya ingin membuatnya pembentukan ternyata hal itu benar-benar terjadi.
Dirinya benar-benar cemburu ketika melihat Tuan Mudanya bersama orang lain.
"Carmila, jujurlah pada perasaanmu sendiri,"
"Tapi Aku..."
"Carmila... Aku tahu apa yang kamu inginkan,"
Glen lalu mengeluarkan sebuah kotak dari bajunya, dan membuka kotak itu di hadapan Carmila.
"Carmila, kamu mungkin berpikir aku hanya bermain-main, dan bahwa umur kita jauh berbeda, dan yang kamu inginkan tidak hanya sebuah hubungan seperti sepasang kekasih, namun menuju ke Pernikahan. Itulah kenapa aku ingin menunjukkan padamu keseriusan ku, Aku serius, mencintaimu, dan ingin menikah denganmu. Aku mungkin bohong bisa menjadi sosok dewasa seperti yang kamu mau, namun aku akan mencoba sebisaku untuk memenuhi keinginanmu. Jadi tolong pertimbangkan sekali lagi keputusanmu. Aku akan memberikan kamu waktu untuk memikirkannya lagi, namun jika...."
Sebelum Glen menyelesaikan ucapannya, itu terhenti, terhenti karena tindakan Carmila.
Ya, karena Carmila tiba-tiba menarik Glen dan segera mencium bibirnya.
Itu hanya tindakan refleks, dalam sekejap.
Ya, sejujurnya Carmila merasa sangat tersentuh dengan semua kata-kata itu, sampai-sampai dirinya tidak tahu tentang bagaimana cara menolaknya.
Bahwa, jika memikirkan dengan jujur dirinya sangat menginginkan sosok pemuda yang ada didepannya itu...
Dan sekarang, ketika tatapan mereka bertemu, Carmila memberanikan diri untuk berkata,
"Ya... Aku juga mencintaimu... Glen..."
Ini juga adalah pertama kalinya, Glen mendegar namanya disebut tanpa embel-embel Tuan Muda, dari Carmila.
__ADS_1
Dan rasanya itu sangat luar biasa.