
Ini adalah pagi yang lain, saat ini di Perusahaan milik Keluarga Raymond, telah diadakan rapat direksi mendadak, semua karena adanya salah satu Investor Perusahan yang akan segera mengambil Investasinya.
Tentu saja jika hanya hal ini, ini tidak akan menjadi masalah besar, yang paling membuat masalah adalah dibatalkan nya secara mendadak beberapa proyek, yang bekerja sama dengan Investor tersebut, juga beberapa orang yang memiliki ikatan dengan Investor tersebut, juga berniat menarik dananya juga ada yang berniat membatalkan proyeknya.
Hal satu datang dengan hal yang lainnya.
Sekarang, di ruang rapat itu tengah terjadi sebuah keheningan panjang setelah CEO Perusahaan, Brian Raymond menjelaskan tentang semua yang terjadi ini.
Beberapa anggota Direksi, tengah mendiskusikan tentang masalah-masalah ini.
Namun, disisi lainnya, jelas ada seseorang yang memanfaatkan masalah ini.
Seseorang itu, segera angkat bicara,
"Bagaimanapun juga, masalah ini semua berasal dari Direktur Proyek dan Perencanaan, Glen Raymond, Dia yang lebih dulu membuat masalah dengan Keluarga Connelly, Aku pikir Dia harus mempertanggungjawabkan semua hal ini, misalnya saja dia harus diturunkan dari posisi nya,"
Ya, itu adalah kata-kata dari Roy Hills Suami Tasya, Paman dari Glen, jang memang dari awal tidak menyukai keponakannya itu.
Sudah cukup lama, Roy mengincar posisi yang bagus di Perusahaan milik Keluarga Istrinya itu, namun dirinya selalu cukup kesulitan untuk mendapatkan posisi yang bagus, itu semua berkat Keponakannya ini memasuki perusahaan lebih cepat dari yang seharusnya, dan lagi karena keponakannya itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata membuat keponakannya itu mendapatkan posisi yang sangat bagus di Perusahaan dan mendapatkan kepercayaan semua orang.
Sedangkan dirinya, yang sudah lebih dulu memasuki perusahaan malah hanya tetap mendapatkan jabatan yang tidak singnifikan.
Ini benar-benar terasa tidak adil dan menyebalkan.
Dan yang paling Roy benci dari Glen, tentang kejadian tempo hari, yang memukulinya saat menangkap basah dirinya di gudang kala itu, yang membuat dirinya merasa malu dan juga harus menerima berbagai kemarahan dari Istrinya itu.
Belum lagi, sejak kejadian itu, Kakak Iparnya menjadi tidak begitu menyukai dirinya.
Dan sekarang, makin sulit untuk mendapatkan posisi di Permukaan.
Namun sekarang ada sebuah kesempatan, yah keponakaanya memang masih muda dan cukup bodoh, karena tidak mengerti betapa pentingnya sebuah hubungan antar Keluarga dalam Bisnis, dia yang berani bermain-main dengan wanita, sekarang terkena imbas nya.
Walaupun, Roy udah sangat tidak menyukai tentang bagaimana Glen menikah dengan Carmila.
Beberapa anggota Direksi, tentu saja ada yang berada disisi Roy yang ikut mendukungnya.
"Itu benar, Pak Presdir, tolong pertimbangkan untuk mencopot jabatan Direktur Proyek dan Perencanaan, dari Tuan Muda Glen, walaupun dia putra anda namun kesalahan yang dia buat saat ini cukup fatal,"
"Saya setuju untuk itu Pak Presdir. Mungkin dengan kita mencopot jabatannya dari perusahaan ini, ini bisa membuat Keluarga Connelly menjadi lebih tenang, dan mungkin tidak akan membuat begitu banyak kesulitan pada perusahaan kita,"
"Benar, Turunkan saja Jabatan Tuan Muda Glen, demi menenangkan Kemarahan Keluarga Connelly,"
Brian, saat ini terdiam mendengar suara-suara dari pada Anggota Direksi ini.
Jujur, dirinya juga belum menemukan solusi soal hal hal ini.
Namun, tentu saja menurunkan Putranya dari jabatannya sekarang bukan merupakan sebuah solusi.
Glen, yang ada di ruangan itu, hanya terdiam, jurus aja dirinya tidak pernah mengira jika masalah yang dirinya buat akan berakibat besar pada Perusahaan.
Dan, Glen tidak tahu juga bagaimana cara bertanggung jawab soal hal ini, jadi sekarang dirinya menatap kepada Ayahnya, menunggu keputusan yang akan Ayahnya buat.
Apapun keputusannya nanti dirinya akan menerimanya dengan lapang dada.
"Tidak. Aku tidak akan menurunkan Posisi Direktur Proyek dan Perencanaan. Aku merasa itu bukan keputusan yang baik apalagi di saat kritis seperti ini, Perusahaan masih membutuhkan Direktur Proyek dan Perencanaan, untuk bisa menghadapi solusi ini aku yakin dia ke depannya akan bisa menemukan proyek-proyek yang bahkan bisa lebih baik daripada project project yang telah hilang,"
Mendengar keputusan Brian, seberapa orang tentu masih tidak senang dan mencoba protes.
__ADS_1
Terutama Roy, yang tadi awal mengusulkan ide ini.
"Pak Presdir, mohon pertimbangkan rencana itu lagi ini semua demi kebaikan perusahaan," kata Roy lagi.
Brian lalu menatap adik ipar nya itu dengan ekspresi marah, karena adik ipar hanyalah yang paling pertama mengusulkan ide tidak masuk akal itu.
"Diam kamu! Semua orang mohon hargai keputusan yang aku buat, aku rusak rapat saat ini sebaiknya segera dibubarkan, soal solusi, aku meminta kepada semua orang untuk bekerjasama mencari solusinya dan kita akan mengadakan rapat lagi seminggu dari sekarang, Terimakasih,"
Dan begitulah, akhirnya rapat itu segera berakhir.
Semua orang segera pergi dari Ruangan Rapat itu satu demi satu, hanya tinggal beberapa orang saja sekarang.
Tepat ketika Roy melewati Kursi, Glen, dia segera berbisik di telinga Glen.
"Ini semua jelas salahmu, jika saja kamu itu menuruti ucapkan Nenek dan Tante mu, Perusahaan tidak akan mengalami hal semacam ini. Dan lagi, kamu malah menikah dengan wanita murahan seperti Carmila itu? Astaga, trik murahan apa yang dia gunakan untuk memperdaya diri mu?"
Mendengar kata-kata Pamannya itu, Glen segera tersulut emosi, apalagi ketika dirinya mengingat kejadian hari itu di mana Pamannya ini, mencoba melecehkan Carmila, dan mungkin di masa lalu, Pamannya ini telah melakukan hal-hal tercela lainnya.
Sesuatu hal yang sangat tidak bisa dirinya terima.
Namun, jelas, Glen tidak menunjukkan kemarahan nya ini secara terang-terangan ataupun memukul Pria didepannya karena hal itu malah akan jatuhkan reputasi dirinya dan itulah apa yang Pamannya ini incar.
"Terima kasih atas nasehat Paman, namun sebelum menasehati orang, bukankah Paman sebaiknya berkaca diri? Tolong, jaga perilaku Paman jangan sampai suka melecehkan wanita seperti tempo hari, sudah seperti tidak punya moral saja, dan selama ini sudah berapa orang yang telah Paman lecehkan? Apakah Tante Tasya tahu, soal perbuatan tercela Paman? Aku akan memastikan, bahwa Tante Tasya, akan tahu semua perbuatan tercela Paman di masa lalu,"
Roy yang mendengar ancaman dan hinaan dari keponakannya itu jelas aja menjadi emosi dan langsung menarik kerah baju Glen.
"Kamu!! Kamu berani sekali sampai mengancam ku! Dasar tidak tahu malu! Itu tidak bisa menghormati orang yang lebih tua!"
Brian yang kebetulan masih berada di ruangan itu masih membicarakan sesuatu dengan salah satu anggota Direksi, belas mendengar keributan itu.
Ekspresi Brian segera menjadi guru ketika melihat bagaimana Adik Iparnya itu menarik kerah baju Putranya, seolah hendak memukul Putranya.
"Cukup, Roy! Jangan kamu membuat masalah pada Putraku, apa kamu akan tahu akibatnya. Sekarang kamu segera kembali ke Ruanganmu,"
Roy yang melihat Brian, segera menjadi gugup dan berkata,
"Kak Brian bicara apa? Aku tidak melakukan apapun kepada keponakanku, hanya, Aku melihat bahwa kerah bajunya ada serangga, dan ingin menghilangkan serangga yang ada disana," kata Roy sambil berpura-pura menepuk-nepuk kerah baju Glen, seolah benar-benar ingin menghilangkan sesuatu dari sangat lalu segera menurunkan tangannya.
Glen segera memasang ekspresi, tersemyumnya dan berkata,
"Paman tidak perlu repot-repot,"
Dan Roy, langsung segera pergi dari ruangan itu dengan ekspresi kemarahan.
Awas saja mereka berdua, tunggu saja tanggal mainnya ketika aku berhasil menguasai Perusahaan ini!!
Dan sekarang, di Ruangan itu hanya ada Glen dan Ayahnya.
Glen yang paling pertama bicara,
"Papa, aku benar-benar minta maaf tentang semua kejadian yang aku sebabkan,"
"Glen, itu semua bukan salahmu kita juga tidak benar-benar tahu kalau hal-hal semacam ini bisa terjadi, kamu tidak perlu terlalu cemas kita pasti akan segera menemukan jalan untuk solusi nya, mengerti?"
Glen yang mendengar kata-kata penenang dari Ayahnya itu, segera mengangguk.
Setelah beberapa kata, Glen segera keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Rapat barusan, walaupun hanya sebentar namun itu begitu melelahkan dan menguras tenaga.
Setelah kembali ke Ruangannya, dengan ekpersi lelah itu, Glen segera memiliki sebuah ide.
Glen duduk kursi di sofa ruangannya, lalu segera mengambil ponselnya untuk menekan nomor tertentu.
Tentu saja nomor yang dia tekan adalah nomor Istrinya, Carmila.
Mungkin dengan mendengar suara wanita yang dirinya cintai itu bisa sedikit merilekskan pikirannya.
"Hallo, sayang," kata Glen dengan ceria setelah teleponnya diangkat oleh Istrinya itu.
Namun, yang Glen dengar bukan nada ceria dan senang dari Istrinya, namun hanya nada terlihat lelah.
'Huh? Tumben menelepon,'
"Kenapa memang? Aku hanya ingin mendengar suara Istriku yang cantik ini, kenapa suaramu terlihat lelah begitu? Apakah terjadi sesuatu di rumah?"
'Tidak ada apa-apa, hanya Aku sedikit lelah saja, hah kamu juga semalam keterlaluan,'
Tentu saja, itu hanya alasan Carmila, Carmila memiliki mood tidak baik karena perlakuan Nenek dan Tante Glen, namun dirinya jelas tidak ingin merepotkan Glen untuk semua masalahnya, lagipula Glen pasti sudah begitu sibuk mengurusi urusan yang ada di kantor.
Namun Glen yang mendengar alasan Carmila itu tentu saja percata-percaya saja, karena memang mereka berdua melakukan hal semacam itu semalam, terutama karena Glen agresif semalam.
"Lain kali, aku akan bersikap lebih lembut,"
'Ukh, kamu itu, masih siang tapi sudah membicarakan hal semacam itu, sungguh tidak tahu malu!"
Glen yang mendengar suara malu-malu dari Istrinya itu, segera berkata,
"Pfff... Habis kamu bersikap begitu lucu, ternyata benar dugaan ku mendengarkan suara mu membuatmu moodku menjadi baik,"
Carmila yang mendengar itu, jelas menjadi penasaran kenapa mood Suaminya buruk?
Apakah karena masalah di kantor?
Mungkin ini saatnya dirinya bertanya,
'Memangnya ada apa di Kantor?'
"Yah, hanya beberapa masalah kecil kamu tidak perlu terlalu memikirkannya aku pasti bisa mengurus segalanya,"
Carmila merasa sedikit kecewa tentang Suaminya itu, yang ternyata tidak mau jujur padanya.
'Kamu yakin tidak apa-apa?'
"Sungguh, semuanya baik-baik saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, namun aku benar-benar senang tentang bagaimana kamu mengkhawatirkan ku, Aku memang tidak pernah salah untuk memilihmu, kamu adalah pembawa keberuntungan ku,"
Kata-kata itu begitu hangat dan menghangatkan hati Carmila yang masih merasa sedih soal kata-kata dari Nenek dan Tantenya Glen itu.
'Ya, Aku juga berharap semua masalah segera selesai, terimakasih telah memilihku,'
"Carmila, kenapa kamu tidak bisa mengucapkan terima kasih? Kamu sungguh aneh,"
'Tidak apa,'
setelah itu keduanya hanya mulai bercakap-cakap tentang hal-hal keseharian, dan lainnya, itu berlangsung tidak terlalu lama karena Glen masih harus mengerjakan beberapa pekerjaannya yang menumpuk efek dari cuti dari kantor.
__ADS_1
"Hmm, selamat siang sayangku. Baik-baik kamu di rumah, kan terjadi sesuatu kamu bisa bicara padaku, I Love you...."
'I Love you too,'