
Ini adalah hari yang baru, pagi itu Carmila yang saat ini tinggal di rumah Neneknya di Pedesaan, bangun cukup pagi seperti biasanya.
Namun, ketika Carmila bangun pagi, kemudian menemukan bahwa dirinya tidak perlu lagi bekerja dan mempersiapkan keperluan Tuan Muda Glen di pagi hari, rasanya benar-benar ada yang aneh.
Itu benar, dalam tiga belas tahun dalam hidupnya, dirinya sudah terbiasa untuk menyiapkan keperluan untuk Tuan Muda Glen, mendedikasikan hidupnya untuk semua itu.
Jadi, ketika tiba-tiba selama beberapa hari tidak melakukannya, segalanya terasa menjadi aneh.
Carmila mulai melihat ke arah jam di ponselnya, jam enam kurang.
Biasanya jam 6 pagi Tuan Mudanya sudah bangun pagi jadi dirinya, jam segini sudah mulai menyiapkan jus atau minuman pagi untuk menyambut Tuan Mudanya itu.
Ini kebiasaan sejak Tuan Mudanya masih kecil, dari bocah kecil lucu dan manis, yang memanggilnya dengan arogan,
'Kak Carmila...'
Lalu, beranjak dewasa, menjadi remaja dan mulai hanya memanggil namanya,
'Carmila...'
Rasanya, ada rasa kerinduan tertentu ketika tidak mendengar namanya dipanggil oleh suara maskulin itu.
Awalnya, itu hanya suara kecil dari bocah kecil, hingga menjadi suara yang orang dewasa, yang merdu di telinga, ketika menyebut namanya.
Senyuman Tuan Muda Glen, yang selalu diberikan padanya setiap pagi...
'Selamat Pagi, Carmila...'
Sungguh, Carmila merasa dirinya bodoh.
Sekarang, begitu dirinya memutuskan untuk pergi, malah dirinya sendiri yang merasakan betapa dirinya sangat merindukan Tuan Muda Glen.
Mungkin memang iya, karena dirinya selama ini menghabiskan lebih banyak waktunya dengan Tuan Mudanya itu, jadi kurang lebih keberadaan Tuan Mudanya itu, hampir separuh hidupnya.
Sungguh, semakin ke sini pikiran Carmila menjadi semakin tidak karuan.
Sial...
Carmila tidak mengira, mungkin keberadaan Tuan Muda Glen untuknya, sudah terlalu dalam, hingga begitu sulit untuk dihapus.
Apalagi, setelah Carmila menyadari perasaannya ini pada Tuan Mudanya, bahwa hal-hal ini, sudah tumbuh dari kasih sayang menjadi cinta, cinta anatara perempuan pada seorang pria.
Carmila lalu segera bangun dari tempat tidurnya, mencoba agar dirinya bisa melupakan perasaannya yang tidak karuan ini.
Karena masih cukup pagi, Carmila segera memutuskan untuk membantu Neneknya di dapur.
Namun, Carmila malah di suguhi oleh pemandangan yang mengejutkan.
Sebuah wajah yang familir, yang seharusnya tidak ada di sini, terlihat di dapur bersama Neneknya, terlihat sedang mengobrol akrab.
Wajah Familir, yang sebelumnya sangat Carmila rindukan, seolah-olah dirinya ketika melihat wajah itu, ingin langsung ke sana dan memeluknya.
__ADS_1
Namun jelas sekali bahwa hal itu tidak boleh.
"Tu... Tuan Muda Glen? Kenapa Anda di sini?"
Bukannya Glen tidak menjawab, namun malah Nenek Carmila yang menjawab,
"Nak Glen ini, dia bilang dia ingin menghabiskan liburan di desa jadi dia ke sini, menyusulmu, dia bilang sepertinya asik bisa pergi dan melihat-lihat daerah pedesaan sesekali, sangat membosankan berada di kota, jadi Nenek menerimanya menginap tadi malam,"
"Ta.... Tadi malam?" Tanya Carmila terkejut.
"Ya, itu karena kamu tidur lebih awal. Dan adikmu mengenali Nak Glen ini, sebagai majikanmu tempat kamu bekerja, jadi Nenek menerimanya,"
"Itu benar, Nenek sangat baik hati," kata Glen memuji Nenek Carmila itu, dan Sang Nenek segera sangat senang.
Sejujurnya, Carmila tidak tahu harus merespon seperti apa.
Hanya saja, dirinya berniat melupakan Pemuda itu, itulah alasan kenapa dirinya di sini namun kenapa malah, Tuan Mudanya itu sekarang berada di sini?
Bukankah seharusnya, Tuan Mudanya itu, saat ini bersama dengan Cecilia itu?
Diri nya sempat mendengar jika mereka berdua sepertinya ingin pergi berlibur atau sesuatu?
Jangan bilang mereka berdua datang ke tempat ini?
Ketika Carmila memikirkan ini bahwa dirinya akan melihat mereka berdua lagi ber mesra-mesraan hatinya terasa sakit.
Lalu, Carmila dengan gugup segera bertanya,
Glen ketika mendengar pertanyaan itu cukup merasa bingung juga, dan entah kenapa ada sedikit perasaan kecewa.
Apakah Carmila menghadapkan dirinya datang dengan Ayahnya?
Apakah sebenarnya Carmila merindukan Ayahnya?
"Aku datang ke sini sendiri menurutmu dengan siapa aku datang?"
Carmila yang mendengar jika Glen ternyata datang sendiri merasa sedikit lega dan secara refleks langsung menjawab,
"Aku kira dengan Nona Cecilia,"
Tepat setelah mendengar perkataan itu, Glen lalu segera tersenyum karena akhirnya dirinya mengerti alasan kegelisahan dari wanita yang ada di depannya itu.
Jadi sebenarnya alasan kenapa, Carmila pergi, bukan hal-hal aneh seperti membencinya atau kejadian dengan Pamannya Roy itu.
Ini adalah alasan yang paling masuk akal dan mudah dimengerti..
Carmila sebenarnya merasa tidak tahan dan cemburu karena dirinya belakangan dekat dengan Cecilia?
Namun, Glen masih sedikit kurang yakin jadi dirinya segera berkata,
"Hmm, awalnya aku ingin mengajaknya ke sini, namun... Yah... Dia ada acara lainnya dengan teman-temannya,"
__ADS_1
Dan sekarang, ekpersi Carmila negara menunjukkan wajah tidak enak dilihat.
Dan dari sini, Glen mulai yakin dengan hipotesisnya.
Namun, sepertinya masih sangat susah untuk, gadis di depannya itu mengatakan apa yang ada di hatinya itu.
Carmila selalu menjadi seseorang yang sangat keras kepala terutama pada perasaannya sendiri.
Sekarang, Glen sedang mulai memikirkan kira-kira rencana semacam apa yang bisa membuat Carmila akhirnya bisa mengakui perasaannya?
"Kamu percaya? Sungguh, Aku hanya bercanda, mana mungkin aku mengajaknya ke sini, aku sengaja ke sini untuk mencarimu, lari kita membicarakan nanti setelah, Aku membantu Nenek membuat sarapan," kata Glen lagi, dengan nada hangat.
Nenek Carmila lihat senang dengan perilaku ramah itu, dan ini membuat Carmila heran.
Carmila yang melihat Glen di dapur itu, benar-benar melihat suatu pemandangan baru.
Tuan Muda sepertinya belum pernah menyentuh Dapur?
Tidak, dulu ketika masih SMA, ada Tugas Kelompok untuk Acara Lomba Masak antar kelas atau sesuatu, dan sebagai salah satu andalan di kelasnya, Tuan Mudanya itu, juga mulai belajar memasak, dan namanya orang jenius, apapun yang dia buat akan terasa sangat enak.
Jika Carmila pikir lagi, pasti wanita yang akan bersanding dengan Tuan Mudanya itu akan menjadi wanita yang sangat beruntung, hmm bisa merasakan masakan spesial dari Tuan Mudanya itu.
Semakin memikirkan ini, hati Carmila merasa tidak nyaman.
"Carmila, sini kamu juga membantu Nenek, masak kita menyuruh tamu saja yang membantu," kata Nenek Carmila.
"Tidak apa-apa, Nenek. Didi begini-begini aku sebenarnya juga bisa memasak, mari aku akan membuatkan kalian masakan spesial dari Tuan Muda Glen ini," kata Glen lagi dengan ekpersi bangga.
"Astaga, Nak Glen ini benar-benar adalah seorang Pria idaman, selain Tampan, dan baik hati, ternyata juga bisa memasak, pasti sangat beruntung calon Istrimu nanti,"
"Nenek bisa saja,"
"Ah, coba saja Aku memiliki cucu perempuan yang seumuran, pasti akan coba aku Jodohkan dengan mu, Nak Glen, sayang sekali Cucuku semuanya laki-laki, dan cucu perempuan ku, hanya Carmila,"
Carmila yang mendengar omong kosong dari neneknya itu, merasa malu dan segera berkata,
"Nenek jangan bicara omong kosong, Keluarga kita tidak pantas dengan Keluarga Tuan Muda Glen, Nenek harusnya mengerti,"
Nenek Carmila itu lalu segera tertawa,
"Astaga, Carmila kenapa kamu menjadi sensitif seperti itu? Nenek hanya sekedar berbicara, lagipula Nenek tidak punya Cucu Perempuan yang seumuran Nak Glen pula, kamu sudah terlalu Tua untuknya, sebentar lagi kamu bahkan akan 32 tahun bukan?"
Dan sekarang ketika umur mulai di sebut, rasanya ada sambaran petir yang menghujani, Carmila.
Itu benar, masalah utama yang saat ini Carmila hadapi adalah karena memang dirinya terlalu Tua untuk Tuan Mudanya itu, yang baru menginjak 20 tahunan, hah...
Dan dirinya 32 Tahun...
Bagaimana bisa, dirinya memiliki perasaan tidak senonoh semacam ini, pada Tuan Mudanya yang hampir berumur 12 tahun lebih muda itu?
Astaga....
__ADS_1