
Carmila masih memalingkan wajahnya, bunga citra tidak mengerti kenapa dirinya memalingkan wajahnya seperti ini dan tidak menatap ke arah Tuan Mudanya.
"Carmila.... Jawab pertanyaan ku,"
Kali ini, Glen mengambil langkah agresif, untuk membuat Carmila menatap kearahnya.
Glen sepintas bisa melihat ekspresi ragu di wajah itu.
Carmila segera mendorong Tuan Mudanya itu, dan berkata,
"Ini bukan urusanku untuk mengatur kehidupan pribadi Tuan Muda Glen. Itu memang terserah tuan muda kapan ingin menikah, Aku hanya memberikan beberapa nasihat. Aku juga sudah selesai dengan pekerjaanku jadi aku permisi dulu Tuan Muda,"
Glen menatap kepergian Carmila itu dengan ekspresi kesal dan kecewa.
Ya, Carmila jelas langsung melarikan diri karena tidak tahu harus berbuat apa.
Hal-hal seperti ini tidak bisa dibiarkan.
Tipu lah kenapa dirinya malah menjadi kepikiran soal Tuan Mudanya di jodohkan itu?
Sini semua bukan urusannya dan harusnya dirinya tidak terpengaruh dengan hal-hal ini, namun kenapa dirinya merasa terganggu?
Jelas ini karena dirinya mengagap Glen seperti Putranya sendiri bukan?
Ya, sebagai seseorang yang merawat Tuan Muda Glen, jelas dirinya terpengaruh karena Tuan Mudanya itu, akhirnya tumbuh dewasa dan mulai memikirkan soal jodoh dan Pernikahan.
Ya, ini jelas hanya perasaan semacam itu tidak lebih dan tidak kurang.
Carmila mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
####
Akhir pekan akhirnya datang, selama beberapa hari belakangan, Carmila tidak melihat Tuan Mudanya, karena Tuan Mudanya itu ada urusan di luar kota.
Saat ini, Carmila ada di kamar Glen, sedang membereskan kamar itu, menata dan membersihan meja disana.
Sampai, Carmila menatap sebuah foto dimeja, ya Foto Tuan Mudanya ketika masih kecil terpajang disana.
"Hah, rasanya aku cukup merindukan Tuan Muda yang seperti ini, masih sangat lucu dan menggemaskan," guma Carmila sendiri.
Lalu segera, dirinya meletakkan foto itu, kemudian mengambil foto di sebelahnya, itu adalah foto Glen ketika sudah dewasa, yang diambil belum lama ini, saat kelulusannya di Universitas.
Ketika menatap foto itu, Carmila tiba-tiba memiliki beberapa perasaan rindu.
Ya, rasanya sangat sepi tidak melihat Tuan Mudanya selama beberapa hari ini.
Apalagi tentang perlakuan dingin selama hari-hari sebelumnya.
Carmila hanya ingin hubungan antara dirinya dan Tuan Mudanya bisa kembali seperti sebelumnya.
Dimana, Tuan Mudanya tidak pernah mengabaikan dirinya, dan selalu bersikap hangat padanya.
Hari-hari itu terasa menyenangkan, kalau Carmila memikirannya lagi, Tuan Mudanya juga selalu ada bersamanya ketika dirinya memiliki hari-hari yang sulit.
Misal ketika Ayahnya jatuh sakit dulu, Tuan Mudanya itu walaupun masih kecil, ikut menghiburnya di Rumah Sakit, mencoba menenangkannya.
'Carmila, kamu tenang saja semuanya akan baik-baik saja,'
Kata-kata lembut dari seorang bocah kecil, sederhana namun tetap memberikan beberapa kekuatan untuknya.
Carmila juga paham seberang berharganya Tuan Mudanya itu, dalam hatinya.
Kebaikan-kebaikan kecil, yang sekarang mulai dirinya rindukan.
Tuan Mudanya, yang diam-diam ingat makanan yang dirinya sukai atau tidak, Tuan Mudanya terkadang akan pergi dan memesan makanan yang dirinya sukai, untuk mereka makan bersama.
Walaupun dirinya hanya pengasuh, Tuan Mudanya selalu memperlakukan dirinya dengan hangat dan sangat baik.
Sekarang menatap foto itu, Carmila jadi merasa bersalah.
Bersalah tentang kata-kata kejam yang dirinya keluarkan.
__ADS_1
Namun, itu jika salah Tuan Mudanya, bagaimana bisa Tuan Mudanya bisa bersikap seperti itu padanya?
Kenapa Tuan Muda sampai berbuat sejauh itu, sampai membuat semua kencan dan hubungannya dimasalalu berantakan?
Bahkan, sampai menyakiti dirinya sendiri hanya untuk berpura-pura sakit dan mendapatkan perhatian dari dirinya?
Ini benar-benar mempermainkan dirinya.
Carmila masih merasa ini semua terlalu berlebihan dan dirinya merasa dipermainkan.
Tepat ketika Carmila sedang berpikir sendiri itu, seseorang masuk kekamar itu.
Tentu saja, itu adalah sang pemilik kamar itu, sepertinya baru saja pulang dari perjalanan panjangnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan fotoku?"
Mendengar suara itu, jelas Carmila menjadi terkejut, benar saat ini dirinya kenapa malah memeluk foto itu?
Dan terlebih ini malah ketahuan orangnya langsung.
"Aku... Aku hanya membersihkannya,"
Carmila benar-benar merasa ini sangat memalukan, segera berniat mengembalikan foto itu ke tempatnya, namun karena perasaan gugup bingkai foto itu malah jatuh ke lantai.
Terdengar suara bingkai jatuh yang memenuhi ruangan itu.
Jelas, Carmila jadi semakin panik dan segera menunduk berminyak untuk membersihkan kekacauan yang dirinya buat.
Glen juga melihat sikap panik Carmila itu.
Carmila yang panik, jelas menjadi bertambah panik sampai tangannya terkenal beling dan berdarah.
Glen jelas terasa tidak paham dengan sikap konyol gadis di depannya itu.
Glen segera mendekat, dan mengambil tangan Carmila, membersihkan darah di tangan Carmila dengan sapu tangannya dengan sigap.
"Carmila, kenapa kamu masih seperti ini, kamu masih selalu ceroboh jika kamu menjadi panik. Sebenarnya apa yang membuatmu panik?"
Tidak hanya kepergok memeluk foto, bahkan bersikap bodoh sampai harus menjauhkan bingkai foto, dan yang lebih parah itu malah melukai tangannya sendiri ketika dirinya hendak membersihkannya.
Ini terlalu memalukan, membuat Carmila hampir tidak bisa berkata-kata pada dirinya sendiri.
"Maaf, atas tindakanku yang ceroboh,"
Glen yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas dan berkata,
"Hah, baiklah. Lain kali kamu hanya perlu hati-hati, jangan mudah menjadi panik dan melukai dirimu sendiri,"
Kata-kata hangat itu, adalah sesuatu yang Carmila rindukan.
Carmila segera berdiri dan berkata,
"Ah, tentu saja Tuan Muda. Merepotkanmu sampai melihat sikap memalukanku,"
"Ya, sekarang kamu bisa kembali ke kamarmu dan istirahat, jangan lupa membersihkan lukamu dan diobati dengan baik. Urus ini nanti lagipula aku juga sibuk,"
"Tentu, Aku akan mengurus luka ini. Namun, Tuan Muda mau kemana lagi? Bukankah baru saja pulang?"
Glen segara merubah ekspresinya dan berkata,
"Aku baru saja ingat jika hari ini aku ada janji bertemu dengan Cucu kenalan Nenek itu. Nenek menjadi begitu cerewet menyuruh Aku segera pulang, hingga akhirnya akui terpaksa mengambil penerbangan paling pagi hari ini. Dan sekarang butuh istirahat sejenak jadi kamu kembalilah, berhenti membuat masalah,"
Ah, mendengar kata-kata itu yang kembali dingin itu, Carmila merasa sedikit kecewa.
Dan lagi, Tuan Mudanya benar-benar berniat mengikuti perjodohan itu?
Bagaimana jika Tuan Muda nanti jatuh cinta pada gadis yang akan ditemukannya itu?
Sial.
Carmila laki-laki merasa pikirannya menjadi aneh.
__ADS_1
"Ya, selamat beristirahat dan semoga nanti semua urusan Tuan Muda lancar. Aku permisi dulu,"
Segera Carmila pergi setelah mengatakan itu.
Kemudian, Carmila memutuskan untuk pergi ke halaman belakang melihat bunga untuk menghibur hatinya.
Ya, Carmila masih sangat terganggu dengan acara Pertemuan Tuan Mudanya itu dengan gadis bernama Cecilia itu.
Astaga...
Kenapa dengan pikiran tidak jelas ini?
Tepat ketika Carmila sedang melamun itu seseorang menepuk pundaknya.
Saking kagetnya, Carmila sampai hampir tergelincir di tanah yang licin ku.
Namun untungnya, Carmila bisa menjaga keseimbangan nya dengan baik, dan tidak benar-benar tergelincir.
"Upsss, maaf jika Aku mengagetkan mu,"
"Tidak... Tuan Brian sama sekali tidak mengagetkan ku. Ngomong-ngomong ada apa Tuan Brian menemuiku?"
"Hmm, Aku hanya ingin bertanya beberapa hal,"
"Jika saya bisa menjawabnya saya akan menjawabnya,"
"Apakah kamu memiliki masalah dengan Putraku? Apakah Glen membuat masalah padamu?"
Carmila yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan itu jelas aja menjadi heran,
"Kenapa Tuan Brian bisa berpikir seperti itu?"
"Bukankah ini terlihat jelas tentang bagaimana kalian berdua bersikap? Astaga, kalian terlihat saling mengabaikan satu sama lain belakangan, seperti sepasang Kekasih yang sedang bertengkar,"
"Ke... Kekasih apa, ini tidak seperti itu," kata Carmila dengan panik.
Ya, Carmila mulai khawatir jika Tuan Brian tahu soal perasaan Tuan Muda Glen!?
Atau jangan bilang jika Tuan Brian sudah tahu?
"Aku hanya bercanda soal itu. hanya saja aku merasa kalian sepertinya dalam hubungan yang buruk seperti bertengkar atau sesuatu, lihat Glen sekarang bekerja di kantor seperti orang gila kerja, benar-benar memfokuskan pekerjaan dan melupakan segalanya, sampai dia bahkan repot-repot mengambil pekerjaan di luar kota,"
"Eh? Tuan Muda Glen seperti itu?"
"Ya, aku merasa sikapnya belakangan ini aneh, dan aku merasa ingin ada hubungannya dengan kamu,"
"Ini... Tuan Brian pasti salah, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ku,"
"Yah, mungkin ini memang masalah kalian berdua jadi kamu tidak ingin bercerita. Aku hanya sedikit menghawatirkan Glen, itu saja. Mungkin dia yang membuatmu marah dan membuat masalah. Namun Aku harap kamu mau memaafkan nya, kamu tahu, emosi Putraku sedikit tidak terkontrol dalam beberapa aspek, yah bagaimana menyebutnya? Apakah ini cacat emosi?"
"Huh? Maksud Tuan Brian?"
"Seperti yang kamu tahu, Glen memang terlahir sedikit berbeda dengan anak-anak yang lain. Dia terlahir dengan IQ yang lebih tinggi, yahhh bisa dibilang dia terlahir menjadi Jenius, namun hanya karena dia memiliki otak yang pintar, bukan berati dia sosok yang sempurna. Kamu tahu sendiri, sejak kecil dia sudah kehilangan sosok Ibunya, dan lagi, sejak muda dia memang tidak terlalu bisa mengeluarkan emosinya, karena pikirannya mungkin tumbuh lebih dewasa dari anak-anak seusianya, dia sering menahan perasaannya, kamu tahu juga dia tidak pernah menagis bukan dari dulu?"
"Sepertinya begitu,"
Ketika Carmila memikirannya, memang iya, sejak dirinya kenal Tuan Mudanya itu, Carmila selalu melihat betapa hebatnya Tuan Mudanya itu, yang bahkan ketika ada saat-saat yang menyedihkan, yang harusnya membuat anak seusianya menangis, namun dia tidak pernah menagis.
Ya, Carmila tidak pernah melihat Tuan Mudanya menagis, bahkan di hari peringatan kematian Ibunya.
Dirinya tidak melihat tanda-tanda juga tentang Tuan Mudanya menagis.
Namun jika memikiran soal Tuan Mudanya menagis...
Tunggu belakangan ini...
"Yah, begitulah. Selalu ada bayaran untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, itu mungkin konsekuensinya. Namun sejujurnya, Aku senang Glen bertemu denganmu,"
"Maksud Tuan Brian?"
"Owh? Tidakkah Glen menjadi terlihat lebih manusiawi setelahnya? Dia bisa marah, kesal, dan juga tersenyum lebih tulus?"
__ADS_1